Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Aura Pembunuh


__ADS_3

Buat para single female kalau sering di hadapkan pada yang handsome-handsome kira-kira bisa baper nggak?


xexexe


HAPPY READING


Setelah peristiwa kecelakaan, sebagai wujud pertanggung jawaban Andre mengantarkan orang yang ia tabrak ke klinik untuk berobat dan memberikan kompensasi untuk motornya yang rusak. Sebenarnya bapak-bapak yang ia tabrak itu tak menuntut Andre memberikan ganti rugi sebanyak yang Andre berikan terlebih saat melihat Andre yang tak emosi saat disalahkan oleh orang-orang di tempat kejadian. Selain itu Andre juga terus minta maaf dan mengakui jika memang semua ini semata karena kecerobohannya.


“Bapak terimakasih untuk bantuan kamu Nak,” ujar bapak itu saat baru saja ia sampai di rumahnya.


“Ini juga karena saya yang salah Pak, jika saya tak menabrak Bapak, mungkin bapak bisa mengantar orderan dan tak harus menderita kerugian bahkan harus dikomplain pelanggan.”


Yang baru saja Andre tabrak adalah seorang kurir pengantar makanan.


“Ini musibah Nak. Sebagai manusia kita hanya bisa pasrah dan menjalani sebaik-baiknya.”


“Terimakasih Pak. Sekali lagi maafkan saya.”


“Sama-sama. Lain kali hati-hati.”


“Sekali lagi terimakasih Pak, saya harus pamit sekarang.”


Andre segera meninggalkan korbannya setelah mengantarnya sampai rumah. Ia harus segera menyusul Dika karena bosnya ini sudah beberapa kali menghubunginya. Ia ingin sekali cepat sampai tapi kali ini ia lebih berhati-hati dengan tak ngebut sembarangan seperti saat ia tergesa biasanya.


Ponselnya kembali bergetar, namun ia acuhkan karena ia ingin konsentrasi dengan jalannya. Terlebih saat tahu Dika adalah dalangnya, tak masalah rasanya jika harus mengabaikannya saat ini, toh tujuan akhirnya adalah menghampiri ke tempat dimana bosnya ini berada.


Hana, kamu bersabarlah. Aku janji akan segera menemukanmu dan membawamu kembali kepadaku.


Andre bisa mengacuhkan Dika, namun ia tak sedikitpun melupakan Hana. Meskipun mereka belum lama berhubungan, bahkan belum ada saling percaya sepenuhnya diantara keduanya, namun Andre tak bisa menampik bahwa Hana sudah bertahta di bagian hatinya yang paling dalam.


***


“Sayang, es krimnya di makan dong…” ujar Rina saat melihat suaminya kusut dengan wajah cemberut.


“Ih, mukanya jangan gitu dong, gemes tau…” lanjut wanita ini sambil memegang kedua pipi Dika.

__ADS_1


Lili hanya mampu menggigit sendok es krimnya. Sepertinya ada yang salah dengan nonanya ini. Bagaimana mungkin ia bisa mengatakan wajah suaminya menggemaskan, padahal ia yang hanya melihat ingin bernafas saja rasanya segan.


“Sayang es krimnya dimakan dong…” Rina menyuapkan es krimnya pada Dika.


“Kamu kok curang," ujar Dika sambil menolak suapan Rina.


“Curang?” ulang Rina.


“Iya curang. Strawberrynya kamu makan semua sedangkan aku kamu kasih rasa lainnya.”


Ha???!! Ini… Astaga.


Bahkan di dalam hati pun Lili tak mampu berkata-kata.


“Maaf Nona, Tuan. Apakah saya boleh permisi ke belakang?” pamit Lili pada kedua bosnya.


“Tentu,” jawab Rina dengan senyum cantiknya.


Lili sempat membungkukkan badan sebelum berbalik dan berjalan menuju kamar mandi.


Brugh!


“Ma’af.”


Meskipun tak sampai membuat Lili jatuh, tapi tubrukan itu terasa begitu keras. Ia langsung membungkuk di depan orang yang baru ditabraknya. Namun ia kembali menegakkan tubuhnya saat sadar pria yang baru ditabraknya melanjutkan jalannya dengan tergesa seakan tak ada tabrakan yang baru saja terjadi. Ia meninggalkan Lili tanpa berkata sepatah katapun dan tanpa celingak-celinguk kesana-kemari untuk menemukan sesuatu.


Keren. Tapi sayang dia aneh juga. Batin Lili sebelum melanjutkan langkahnya.


Kenapa di lingkungan orang kaya ini isinya orang aneh semua? Tadi di dalam pasangan aneh, dan ini tadi nemu pria aneh juga. Ya sewajarnya manusia kalau tabrakan kan sakit, kalau salah ya minta maaf, kalau nggak salah ya marah. Tapi ini malah nyelonong.


Kembali Lili hanya mampu menyuarakan pikirannya dalam hati, karena ia sebenarnya masih belum biasa dengan lingkungan ini. Namun demi bayaran besar yang dijanjikan, ia bertekat tak akan pernah menjadikan hal-hal semacam ini


sebuah masalah dalam hidupnya.


Sesampainya di kamar mandi, tak ada hajat alam yang memaksanya untuk ke kamar mandi sebenarnya. Hanya saja Lili butuh waktu untuk bernafas dan merilekskan pikiran sebelum menghadapi tuan dan nonanya yang ternyata kelakuannya di luar apa yang ia bayangkan.

__ADS_1


Tak ingin membuat Dika dan Rina curiga, Lili segera kembali ke tempatnya. sebelum ia pergi meninggalkan kamar mandi, ia sempat berkaca melihat penampilan dirinya. Lili yang tersemat di namanya memanglah nama bunga, namu kecantikan bunga yang semestinya tak ada di dirinya. Sejak kecil jarang  menganakan rok dan lebih suka berpenampilan seperti laki-laki. Namun satu hal yang tak pernah diijinkan mamanya adalah ia tak boleh memangkas pendek rambutnya apapun pilihan pakaian yang dikenakannya. Dan sekarang saat ia harus berpakaian layaknya wanita, ternyata cukup cocok juga. Apa lagi saat Rina membubuhkan make up tipis seperti yang dikenakannya.


“Nona Rina ini awalnya aku pikir cuma pakai bedak dikit sama lipstick nude. Ternyata printilannya banyak juga,” gumam Lili sambil mengingat kembali bagaimana Rina mendandaninya dan menggerai rambut yang semula selalu dikuncir


kuda olehnya.


Setelah puas bernafas di kamar mandi, Lili segera kembali ke tempat tuan dan nonanya berada. Dari kejauhan, Lili sadar kalau mereka tak hanya berdua. Ada satu lagi pria yang bergabung dengan mereka. Lili merasa tak perlu cari tahu siapa pria itu dan untuk apa ia ada di sana. ia melangkah dengan tenang dan kembal ke tempat duduknya.


“Andre kenalkan. Ini Lili, asistennya Rina,” ujar Dika pada Andre memperkenalkan. Wajahnya sudah tak sekusut tadi dan ada senyum yang walaupun samar terpancar dari wajahnya.


Lili membeku saat tahu siapa yang telah dikenalkan padanya ini. Ini kan pria tampan yang nabrak aku tadi. Meskipun tak setampan tuan Dika, tapi yang ini jauh lebih keren dan berwibawa. Wajahnya lebih berkarakter dan tegas, mirip-mirip lah sama karakter bos mafia dalam cerita.


“Kamu nggak salah milih orang Bos? Mana mungkin dia bisa jagain Rina kalau fokusnya aja sering ilang.”


Lili baru sadar jika Andre tengah mengulurkan tangan padanya. Buru-buru Lili menjabat tangan itu namun Andre lebih cepat menarik tangannya.


“Pantas saja kamu cari aku. Dia memang nggak bisa diandalkan.” Tak ada tatapan meremehkan karena Andre menatapnya saja enggan.


Dika menatap lekat sekertarisnya ini. Andre, apa masalahmu belum selesai. Kenapa kamu harus membawa aura membunuh itu kemari?


Lii hanya mempu mendelik melihat pria ajaib ini. Ya ampun, mulutnya. Abis makan rawit sekilo apa, seenaknya sekali menilai orang hanya dengan sekali pandang. Mesipun kesal, Lili berusaha bersikap biasa saja.


Oke Elisa, setelah ini kamu harus menunjukkan kerja yang bagus, membuktikan kalau tak fokus bukanlah kebiasaanmu.


Itu sih maunya Lili, faktanya hanya dengan melihat keuwuan Dika dan Rina saja sudah membuatnya lemas dan hilang arah.


“Kamu sendirian saja kesininya? Pacar kamu mana?” tanya Rina sambil menyendok es krim dan dimasukkan ke dalam mulutnya.


Andre memasang wajah sedatar mungkin. “Dia lagi sibuk di rumah,” ujar Andre sambil menyalakan rokoknya.


“Bukan lagi marahan kan?” tanya Rina saat melihat wajah Andre yang terasa dingin.


“Sayang, jangan kepo.” Dika menoel hidung Rina sebelum menyuapkan sesendok es krim ke dalam mulutnya.


Seandainya ini double date, ah indahnya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2