
HAPPY READING
“Ternyata enak ya punya istri, pantesan kamu dulu ngebet banget nikah muda Bos…” celoteh Andre saat Hana dengan telaten menyiapkan makanan untuknya.
Pletak!!
Andre meringis kala sebuah berda yang terasa keras menyentuh batok kepalanya. “Apa sih Bu Bos. Jangan sensi sensi dong jadi orang. Lagi hamil juga…” kesal Andre pada pelaku yang ia tahu itu adalah Rina.
Rina yang jadi pelaku hanya mampu mendengus sambil memakan rendang paru yang tadi dibawanya. Sementara Hana memang tengah menyiapkan makanan yang ia bawa bersama Rina. Namun tak hanya untuk Andre, melainkan Dedi dan Dika juga yang memang tak sempat keluar untuk mencari makan siang.
“Ya Rina nggak salah sih,” bela Dika.
“Dasar kalian. Pasutri dzolim. Awas aja kena, aawww…!!!” Andre mendelik menatap Hana. “Kamu kok jadi ikut-ikutan dzolim sih sayang. Kuwalat ya sama suami, eeee!!!! Iya, iya, iya…” Andre memilih untuk menyerah saat melihat Han bersiap menerkamnya.
“Suami, suami! Kawinin dulu baru bisa jadi suami!” ketus Dika.
“Kan udah Bos…” jawab Andre sebelum memasukkan sebutir telur puyuh ke dalam mulutnya.
Andre langsung melompat dari kursinya. Dan keputusannya ternyata memang tepat, karena Hana nyaris mendaratkan subuah cubitan lagi di tubuhnya.
“Amit-amit jabang bayi, amit-amit jabang bayi…” Dika mengusap-usap perut Rina sambil terus merapalkan mantra Sementara Rina juga turut merapalkan mantra yang sama dengan Dika ucapkan sambari memukul-mukul kepalanya.
Melihat kekacauan orang-orang di sana, Dedi hanya menatap tanpa minat sembari sesekali menggelengkan kepalanya.
“Bos, jangan mesra-mesraan terus lah. Kasihan noh pak dokter. Ganteng, gagah, kaya, masih jomblo saja, ha ha ha…” goda Andre disertai tawa renyahnya.
Hana memilih untuk pura-pura tak mendengar saja semua ocehan kekasihnya yang tak bermutu itu. Ia tahu perut tiga pria ini lapar, tapi ia heran kenapa Andre seperti punya banyak cadangan energy sehingga masih tampak energik seperti ini.
“Sudah…” ujar Hana yang telah menyelesaikan tugasnya. “Aku pamit ya,” lirihnya pada Andre kemudian.
“Ya jangan dong. Tinggal beberapa jam lagi aku pulang. Kamu tunggu ya…” cegah Andre.
“Tapi aku nggak enak Andre…” tolak Hana.
“Iya Han, kamu di sini saja. Aku juga sudah nggak ada kerjaan. Kita nonton ya…” tiba-tiba ada suara lain yang ikut nimbrung diantara pasangan kekasih ini.
“Tapi…” Hana masih merasa tak enak.
“Nggak ada tapi,” putus Rina dengan nada tak ingin dibahas.
“Denger kan. Nggak ada tapi,” ujar Andre mempertegas ucapan Rina sambil mencolek ujung hidung Hana yang terihat mancung ujungnya.
Hana menghela nafas.
“Kamu bawa Hana deh sayang. Andre nggak akan stabil kondisinya selama masih ada Hana di sini,” ujar Dika.
“Kamu pikir aku sakit apa? Stabil, stabi, habhh…” Lagi-lagi Andre mendelik saat Hana dengan lancangnya memasukkan sepotong besar daging rendang. Karena terasa penuh namun sayang mau dilepeh, akhirnya Andre menelan suara bersama makanan yang masih dikunyahnya.
“Ayo Han…” Rina membawa Hana pergi dari hadapan para pria dan menghilang dibalik pintu ruang istirahat Dika yang belum lama ini dilengkapi home teather.
“Akhirnya bisa juga tenang…” ujar Dedi yang baru saja menelan makanan di dalam mulutnya.
“Yang lu maksud siapa?” tanya Andre dengan gaya tengilnya.
__ADS_1
“Orang gila,” singkat Dedi dengan nada susah ditebak
“Eh, padok. Jangan kurang ajar ya.” Andre langsung protes karena tak terima dengan cara Dedi menganggap dirinya.
“Kenapa sewot?” tanya Dedi dengan santainya.
“Ya situ ngatain gua orang gila!” jelas Andre pada rekannya ini.
“Emang ngerasa?” sarkas Dedi dari tempanya.
“T*i lu…” umpat Andre.
Dika tertawa kecil melihat Andre yang berhasil Dedi jinakkan. Sahabatnya ini sejak dulu memang cukup bijak. Bicara seperlunya di saat yang tepat. Dika bahkan kadang merasa Dedi ini jauh lebih pola pikirnya jauh lebih dewasa dari pada ia saat menyikapi masalah.
Ketiganya kemudian melanjutkan makan dengan tenang. Dan setelahnya mereka kembali melanjutkan pekerjaan. Hingga petang menjelang, akhirnya mereka mampu menyelesaikan pekerjaan yang ditargetkan.
Sementara di luar, Elis dan Rahma masih bertahan di tempatnya. Meski sudah waktunya pulang, mereka masih bertahan dengan dalih ingin menyelesaikan lebih banyak pekerjaan.Padahal faktanya, keduanya ingin memata-matai pria pujaan hatinya.
“Kenapa wanita tadi tak keluar juga? Untuk siapa dia ada di sana?” tanya Rahma penasaran.
“Kata kamu dia asisten nona Rina?” tanya Hana untuk menegaskan.
“Itu kan menurut kamu,” ujar rahma mengingatkan.
“Menurut kamu juga…” balas rahma tak terima.
“Menurut kita,” putus Rahma yang diakhiri dengan sebuah helaan nafas.
Keduanya kembali berkutat dengan pekerjaan yang sebenarnya terasa enggan untuk ia kerjakan. Mereka berkali kali melihat jam saat di rasa kondisi langit mulai gelap.
“Santai Rahma. Kenapa panic banget sih. Atau ini tandanya kamu yakin kalau wanita tadi memang ada menunggui pak Dedi,” goda Elis dengan tawa geli di bibirnya.
“Tck, nanti kala ternyata pacarnya pak Andre mampus kamu,” balas Rahma tak terima.
Krrkkk!!!
Rahma mengeretakkan jemarinya dan melipatnya diatas meja. Hana. Masa Hana? Ya ampun, kenapa pake lupa sih aku namanya. Aku yakin dia adalah wanita malam itu. Memang sekarang ia polosan, tapi cantiknya masih sama. Hebat juga dia. Batir Rahma tentang bagaimana membelah semua kepentingan
“Bengong aja…”
Rahma baru sadar jika sekarang Elis sudah duduk di dekatnya.
“Lis, aku yakin pernah ngelihat perempuan tadi,” ujar Rahma.
“Di mana?” tanya Elis penasaran.
“Kamu ingat beberapa hari yang lalu saat pak Andre meminta kamu untuk mengantarkan obat di ruangannya?” bukannya menjelaskan Hana justru kembali bertanya pada rekannya.
Elis mengangguk danmenguap karena lelah seharian bekerja.
“Nah pas aku nganterin itu, pak Andre lagi makan malam…” ujar Rahma sebelum memastikan ingatannya.
“Berdua sama dia?” potong Elis cepat saking terkejutnya.
__ADS_1
“Enggak,” jawab Rahma lengkap dengan gelengan kepala.
“H h h h…” Elis mengurut dadanya lega. “Aku pikir cuma berdua…”
“Makanya kalau ada orang cerita itu dengerin…” sarkas Rahma.
Elis nyengir dikatai seperti itu oleh rekannya. “Terus, terus, terus…” Elis nampak antusias mendengarkan kelanjutan cerita Rahma.
Rahma mengernyit. Sepertinya ia masih berusaha mengumpulkan kepingan ingatannya. Namun sayang. Setelah sekian menit, ia malah menggelengkan kepala.
“Kenapa geleng-geleng? Kamu belum cerita apa-apa loh…”
protes Elis.
“Aku lagi berusaha mengingat-ingat tentang dia, tapi tetap saja aku lupa,” jelas Rahma.
“Emang kamu pernah kenal?” tanya Elis penasaran.
“Belum,” jawab Rahma dengan entengnya.
“Ya udah,” bala Elis.
“Tapi malam itu aku sempat mendengar namanya di sebut.”
“Siapa?”
“Lupa Lis. Kan aku sudah bilang…”
“Seingat kamu saja…” desak Elis.
“Ingatku Hana. Tapi masa Hana?” Setelah menjawab, Rahma segera menggantungkan tanya.
“Ya kalau Hana kenapa?” Elis juga balik bertanya.
“Ya enggak. Aku cuma ngerasa di mirip dengan Hana, tapi masa namanya sama?” jelas Rahma.
“Hana siapa?”
“Raihana. Rekan kerja kita dulu…”
“Ha?” Elis cukup terkejut dengan ucapan Rahma. “Oke dia emang cantik. Tapi Hana itu sudah berumur Rahma. Dan yani dalam, ia cocok kalau jadi teman non Rista. Kamu tadi nggak lupa kan mereka jalan barengan setelah sempat berbincang dengan pak Andre saat tiba,” jelas Elis mengutarakan analisanya.
“Ya…, ya coba deh kamu perhatiin nanti kalau lewat. Dia itu mirip banget sama Hana.”
“Adiknya kali…”
“Ya makanya itu. Kalau misal benar dia adiknya, saudaranya atau apa pun yang mirip dengannya, masa iya namanya Hana juga…”
Cklek!!
“Sstt sstt sstt…”
Mendengar suara pintu dibuka, kedua wanita ini segera kembali ke tempatnya.
__ADS_1
Bersambung…