
Jalan Hana sama Andre sepertinya masih terjal.
Seterjal wajah Senja yang banyak jerawatnya, hahaha
HAPPY READING
Hana sudah sadar dan kini dia sudah berada di ruang rawat. Tak hanya Andre, masih ada Rina, Dika dan Lili juga di sana.
Sejak kesadarannya kembali, Hana terus meminta maaf pada Rina dan Dika tentang semua kesalahan yang sudah diperbuatnya. Hana sudah menjelaskan semua alasannya, dan sepertinya Dika dan Rina tengah berusaha menerima.
Lili yang merupakan pendatang baru dalam drama kehidupan mereka hanya mampu kaget dan terkejut mendengar semua fakta yang terungkap di hadapannya. Semula ia hanya terkejut dengan hubungan Hana dan laki-laki yang akhir-akhir ini menjernihkan matanya saat bekerja, namun ia kembali mendapat kejutan saat ternyata Hana juga tengah mengandung anaknya. Wow bukan. Tak hanya berhenti di situ, ternyata Hana sempat menjadi orang yang membahayakan perusahaan sebesar Surya Group dengan kecerdasan, kelihaian dan kelicinannya. Jika suasananya tak seperti ini, mungkin Lili sudah memberikan standing applaus untuk Hana yang semula dikira lemah ini. Dia tak hanya cantik, tapi juga cerdas dan berbahaya.
“Hana, setelah ini rencana kamu apa?” tanya Rina yang sedang selonjoran di sofa.
Dari atas ranjang Hana nampak berfikir. Tubuhnya memang lemas, namun koneksi otaknya masih secepat biasanya. “Saya akan membantu Bunda, kan Lili sekarang harus menjaga Nona,” jawab Hana akhirnya.
Rina menatap Hana dengan enggan. Ia akui, Hana memang tak pernah meminta dilahirkan di tengah hubungan gelap mamanya dengan Galih Rahardja, namun sisi manusiawinya menuntunnya untuk memandang Hana setengah mata. Terlebih saat melihat Hana yang punya kenampakan fisik yang sangat menarik. Tubuh yang indah, tinggi dan proporsional, wajahnya cantik, kulitnya sungguh putih bersih pembawaannya kalem ditambah dengan kecerdasan dan keuletannya membuat Hana nyaris tanpa cela. Ya hanya itu kekurangannya, ia tak punya keluarga yang jelas yang meskipun ia punya banyak kelebihan tetaplah ia cukup sulit untuk diterima.
Ini lah salah satu alasan Andre untuk memutuskan untuk tetap membiarkan Hana di rawat di sini. Rumah sakit kecil ini cukup jauh dari pusat kota. Tak terkenal dan banyak kekurangan fasilitas. Jadi kecil sekali kemungkinan ada orang kalangan atas yang ke sini, yang mungkin akan mengenalinya dan bisa membocorkan kabar tak enak yang kini berusaha disembunyikannya. Ia belum siap jika hubungannya diketahui papa dan mamanya, terlebih jika sampai tahu Hana mengandung. Hal ini membuat Andre pusing tujuh keliling saat baru saja memikirkannya.
Bukan berarti Andre ingin bersembunyi dan lari dari tanggung jawab, tapi ia tak ingin Hana tertekan yang bisa berpengaruh buruk terhadap kehamilannya.
Pintu terbuka dan muncullah dua pria gagah dengan jas dasi yang tertanggal. Dika dengan rambut sedikit acak-acakan dan Andre dengan dua kancing teratas yang sudah dilepaskan. Terlihat babak belur seperti orang kalah perang, sayangnya jika diperhatikan malah membuat kharisma keduanya keluar tanpa batas.
Ya Tuhan, bening banget dua bapak ini. Masih pada muda tampan, kaya, sayang sudah mau punya anak semua. Batin Lili yang memandang kagum pesona kedua calon papa ini dari pojokan.
“Kamu pengen pulang?” tanya Dika yang menghampiri istrinya. Ia duduk di samping Rina.
“Aku ikut kamu aja,” jawab Rina sambil menyandarkan kepala di pundak suaminya.
Dika membalas sandaran itu dengan elusan sayangnya.
Di pojokan ada yang sedari tadi curi-curi pandang dan mengepalkan jarinya dengan kuat karena ingin sekali ia gigit saat ini. Bunda, Lili lemes Bunda.
__ADS_1
Sementara Andre duduk di samping Hana. Ia menggenggam tangan Hana tanpa mengucapkan sepatah kata. Ia terus memandangi wanita cantik yang tengah mengandung anaknya ini.
Kandugan Hana memang berhasil diselamatkan. Namun kondisinya sangat mengkhawatirkan. Sehingga sepulang dari sini pun harus tetap memdapatkan perawatan ekstra.
“Lili…”
Lili yang semula menundukkan kepala kini mendongak saat Andre memanggil namanya. “Iya Pak.”
“Kamu bisa tolong ke sini.”
Lili pun menghampiri Andre di samping Hana.
“Li, maafin aku ya…”
Saat Andre masih bingung dengan kata-kata apa yang sebaiknya ia ucapkan, ternyata Hana sudah lebih dulu berbicara.
“Maaf untuk apa…” Lili menelan ludahnya. “Nona,” sebutnya kemudian.
“Jangan panggil aku seperti itu, nggak enak aku dengernya,” tolak Hana.
“Tapi aku yang nggak enak manggilnya,” lirih Lili sambil menatap Andre dengan ekor matanya.
“Nggak apa-apa, panggil aku seperti biasa,” pinta Hana lagi.
Lili menggeleng takut-takut.
“Duduk Lili…”
Lili tak membantah saat diminta Andre untuk duduk. Di dekat brankar Hana ada dua kursi yaitu kursi yang sedang Andre duduki dan sebuah kursi lagi yang akan jadi tempatnya. Lili, Hana dan Andre kini duduk dan saling bertatapan.
“Aku bingung harus mulai dari mana?” tanya Andre pada Lili dan Hana bergantian.
“Memangnya kamu ingin melakukan apa?” tanya Hana yang masih lemas dengan wajah sedikit pucat.
__ADS_1
“Sebenarnya sejak kapan kamu tahu kalau lagi hamil, hm?” tanya Andre sambil menatap Hana. Ia sempat menatap Lili juga yang langsung disambut dengan gelengan kepala dan kibasan tangan dengan cepat.
Hana menunduk dan memainkan tangannya. Sementara Dika dan Rina hanya menyimak dari jauh.
“Aku juga baru tahu tadi?” ujar Hana dengan wajah tertunduk.
“Tadi?” ulang Andre yang kaget mendengar jawaban Hana.
Hana menghela nafas kemudian menatap Lili. “Li, kamu tadi minta aku antar bunga ke kantor kan, tapi aku nggak nyampe kan?”
“Iya dan aku kesel.” Lili langsung menutup mulutnya dan menunduk seketika karena takut dengan Andre saat ia kelepasan mengungkap kekesalannya tadi siang kepada Hana.
“Maaf, itu tadi aku pingsan.” Ujar Hana.
“Pingsan?!”
Bukan Andre yang baru saja berbicara keras, melainkan Dika yang sedang memperhatikan dari sofa. Semua kini menatap ke arahnya termasuk Rina yang semula bersandar di bahunya.
“Kenapa kamu seterkejut ini?” heran Rina.
Andre pun turut menatap Dika bermaksud untuk bertanya.
“Ehm,” Dika berdehem untuk menetralkan wajahnya. Sejurus kemudian ia menatap Hana yang diam di tempatnya. “Tadi siang aku bertemu Hana di pinggir jalan, dan sepertinya kamu baik-baik saja?”
Dika yang semula sudah mulai simpati terhadap Hana kini melayangkan tatapan tak enaknya. Hana tak menjawab apa-apa, dia lebih memilih untuk menundukkan kepala. Percuma bicara sekarang. Kalau mereka memang tak suka apa pun yang akan aku katakan akan percuma. Batin Hana.
Andre sadar tekanan yang diberikan bosnya ini tak main-main. Banyak yang menganggap Andre kejam, cerdik, menyeramkan, atau apalah. Namun sebenarnya ini belum seberapa dibanding dengan Dika. Karena Dika adalah bosnya, dan semua yang ia lakukan selalu dibawah kendalinya. Jadi kalau Dika sudah bertindak, tak hanya orang lain yang akan tertekan, namun Andre pun bisa dibuat gemetar dan ketakutan saat berhadapan.
Andre berbalik menatap Hana dan meraih tangannya. “Say something Hana," ujar Andre pada kekasihnya.
Lili dan Rina pun perlahan ikut menatap Hana, menantikan apa yang hendak wanita ini ucapkan.
Bersambung…
__ADS_1