Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Dejavu


__ADS_3

Hi dear.


Maaf ya Senja lama nggak nyapa.


Makasih buat kalian yang setia nungguin cerita ini.


HAPPY READING


“Kamu mau cari yang gimana sih Ndre…”


Hana merasa dejavu dengan apa yang ia alami kini. Beberapa waktu lalu Andre juga bertingkah seperti ini di tempat kerjanya. Dan berakhir dengan Andre membali banyak sekali baju untuknya. Sekarang kekasihnya sudah mulai mengobrak-abrik pakaian dan meminta Hana untuk mencobanya.


“Kamu nggak niat buat ngeborong semua ini kan?” tanya Hana pada Andre yang sejak tadi terus memandangi dirinya yang sibuk mencoba berbagai jenis pakaian yang entah sudah berapa banyak jumlahnya.


“Nggak tahu,” jawab Andre dengan santai.


Hana langsung berkacak pinggang dan menolak untuk terus mencoba baju-baju yang Andre pilihkan. Ada yang bingung mereka di mana?


Hana dan Andre sekarang berada di sebuah pusat fashion brand ternama. Awalnya mereka tak sengaja mampir karena bingung mau apa. Kalau Andre sudah jelas maunya pulang dan menghabiskan waktu berdua dengan Hana, tapi Hana masih waras sehingga ia mencari ide untuk melakukan apa pun agar tak segera pulang sekarang.


“Kalau kamu kebanyakan uang kan bisa disumbangin buat yang membutuhkan, bukan malah dihambur-hamburkan semacam ini,” protes Hana yang kini sudah duduk di samping kekasihnya.


“Aku nggak lagi mengambur-hamburkan uang Hana. Aku cuma mau buat orang yang aku cintai bahagia…”


“Siapa orang itu? Aku…” tunjuk Hana pada dirinya.


“Sure. Siapa lagi?”


“Ngebahagiain aku bukan dengan cara seperti ini Andre…”


"Lantas apa? Pehiasan?"


Hana menggeleng.


"Mobil?"


Hana menggeleng lagi.


"Ruma..."


Hana segera meletakkan telunjukkan tepat di depan bibir Andre, agar pria ini tak terus menerka hal yang tidak-tidak hal-hal yang sedikitpun tak Hana inginkan.


“Kalau kamu memang mau beliin aku, jangan beliin ini…” ujar Hana sambil mengamit lengan Andre.


“Terus kamu mau apa, tas, sepatu?” baru saja Hana menurunkan tangan Andre sudah kembali meracau.


“E, em…” Hana menggeleng.


“Terus apa?”


Hana menarik Andre untuk ikut berdiri bersamanya. “Kita pergi dulu ya dari sini ya…” lirih Hana tepat di dekat telingan Andre.


Tanpa lebih lama membuang waktu, Andre menarik lengannya agar segera terlepas dan segera ia gunakan untuk menarik pinggang Hana.


“Kenapa buru-buru,” ujar Andre pada Hana dengan jarak dekat sekali.


“Tck…” Hana mendorong Andre namun pria ini ternyata lebih kuat menahannya. “Ndreeee…” desis Hana dengan nada memelas saat ia merasa Andre mulai lupa tempat.


Andre tersenyum licik. Dengan sengaja ia justru segera mencium pipi Hana, membuat wajah wanita ini merah seketika.


Andre memberi sedikit jarak dan menatap Hana yang menangkup pipinya yang memerah tanpa maksud.


Apa mungkin Andre merasa bersalah?

__ADS_1


Tentu tidak. Ia bahkan begitu puas melihat kondisi Hana sekarang. Dengan bibir yang tersenyum lebar, ia segera menegakkan tubuh dan menarik wanitanya agar Hana bisa menyembunyikan wajah merahnya di dada bidang Andre.


“Kenapa kamu harus malu, bukankah tadi kamu yang mulai…” goda Andre yang nampak belum puas melihat Hana seperti ini.


Hana hanya mampu mendengus dengan wajah yang masih disembunyikan.


“Niatku kan…” Hana menggigit bibirnya. Ia memang ingin bersikap sedikit manis, karena salama ini ia merasa sering keterlaluan pada Andre. Tapi tak bebarti begitu juga reaksi yang diinginkannya.


“Masih betah meluk ya…”


Hana segera mendorong tubuh Andre agar terlepas darinya. Dengan wajah cemberut dan bibir mengerucut membuat Andre tak tahan untuk tak meraup candu yang sejak tadi berusaha dihindarinya.


“Ha ha ha…” Andre pecah lagi tawanya saat Hana justru memukulnya. Sejak tadi keduanya sudah mencuri perhatian dengan parasnya yang rupawan. Terlebih dengan banyaknya adegan manis yang mereka peragakan, membuat orang tak hanya berhenti memandang, namun juga ada yang nampak mengabadikan.


Hingga keduanya berjalan meninggalkan tempat, masih banyak mata yang memperhatikan kemana arah mereka berjalan. Andre dan Hana memang tak sebening bintang Korea, namun semua kenampakan yang mereka miliki memang layak menjadikan keduanya kriteria pasangan idaman.


“Mbak, saya ambil yang warna putih ya...”


“Yang mana Tuan?” tanya seorang pramuniaga yang langsung tanggap kala Andre berbicara.


“Semua yang tadi dicoba pacar saya.”


“Baik…”


“Tapi aku kan nggak pengen Andre…”


“Tapi aku yang mau Hana…”


“Tap…”


Andre kembali mendaratkan kecupan di pipi Hana, dan wanita ini langsung diam seketika. Cara jitu seperti ini sepertinya akan sering Andre gunakan saat ingin membuat Hana diam.


“Tolong ya,” ujar Andre pada pramuniaga tadi sambil menyerahkan sebuah katu berwarna hitam. Selembar kartu yang bisa dengan gampangnya memastikan kemampuan finansial seseorang.


“Aku sudah bilang nggak mau kenapa masih di beli sih…”


“Ya karena aku mau, apa masih kurang jelas?”


Hana menangkup kedua pipinya saat merasa Andre kembali mendekatkan wajahnya. Namun bukan Andre namanya kalau sudah menyerah begitu saja. Tak bisa mendapat pipi Hana, ia justru berhasil menyambar benda lain yang menjadi salah satu favoritnya. Andre pun berhasil menang banyak karena kesembronoan Hana.


Mata yang membulat menjadi reaksi tunggal Hana, yang langsung di sambut dengan pelukan oleh Andre. Ia pasrah saja, karena menyembunyikan wajah malunya dengan cara ini ia rasa adalah yang terbaik yang bisa ia lakukan saat ini. Sementara Andre kini nampak tengah menerima telefon dari seseorang di seberang sana. Setelah semua selesai dikemas, Andre pun segera bergegas meninggalkan toko bersama Hana.


“Sini aku aja…” Hana ingin membawa belanjaan yang baru saja Andre bayar untuknya.


“Nggak usah…” tolak Andre.


“Nggak usah gimana sih?”


“Ya aku aja yang bawa…”


“Nggak pantes dilihatnya Andre.”


“Aku nggak mau tangan kamu kasar gara-gara bawa gini Hana…”


Hana mendengus. “Ya udah. Terserah kamu….”


“Ya memang harus gitu…”


Andre dan Hana terus berjalan dengan tangan saling tertaut. Dan orang-orang yang tanpa sengaja menyaksikan langsung romantisme keduanya kini tak bisa menahan lagi histerianya.


“Ya Tuhan, aku mau yang kaya gitu satu ya Tuhan…”


“Ngaco kamu. Mana ada yang bening kaya gitu mau sama modelan kaya kita. Btw dia itu artis apa gimana sih, sudah tajir, bening lagi…”

__ADS_1


“Kalau lihat modelannya sih dia pengusaha atau kalau enggak esmud lah. Nggak lihat itu tadi yang cewe megangin jas sama dasinya.”


“Kok bisa?”


“Kok bisa gimana maksudnya?”


“Kamu tadi nggak lihat otot lengannya. Dia kayak biasa olahraga deh. Mana ada eksekutif muda yang punya waktu  untuk olahraga.”


"Itu mah nggak penting. Kalian tadi dengar nggak, itu pacarnya loh, pacar. Baru pacar aja udah dimanjain kaya gitu, gimana kalau jadi istri coba."


"Kalau istri udah bosen kali..."


"Ha ha ha ha..."


Dan mereka pun kembali melanjutkan apa yang sebelumnya mereka lakukan.


Sementara itu Andre masih dibuat kebingungan dengan benda yang kini Hana minta.


“Buat apa sih Han, buat ngegame?”


“Enak aja.”


“Ya buat apa, bilang?”


“Ya intinya aku ingin lebih produktif Andre. Setelah aku memutuskan keluar dari spark shop, aku jadi kepikiran untuk membuat pekerjaan sendiri.”


“Emang kamu mau kerja apa?”


“Rahasia dong.”


“Sama aku masih main rahasia-rahasiaan.”


“Emang kamu siapa?” tanya Hana dengan wajah menggoda.


“Hmmm, mau main-main ya…”


“Ih…” Hana menahan Andre dengan mendorong wajah pria ini menjauh darinya. “Niat beliin nggak sih kamu itu sebenarnya…”


Mendengar Hana yang mulai meragukannya, Andre dengan sukarela melepaskan Hana.


“Oke, sekarang bilang jenis laptop apa yang kamu butuhkan.”


“Bener?” tanya Hana dengan mata berbinar.


“Apa aku terlihat bercanda?”


“Kamu marah?” tanya Hana saat melihat wajah Andre yang mulai berubah auranya.


“Ehm… Aku tak ingin lama-lama di sini. Aku tak mau jam makan malamku tertunda.”


Hana membuang muka. Ia mencebik mendengar ucapan kekasihnya. Terlalu nampak sedang tak biasa. Karena seorang Andre tiba-tiba khawatir jam makan malamnya tertunda. Racau Hana dalam hati.


“Hana. Jangan buat saya memborong seluruh isi toko ini ya…”


“Bisanya ngancam…” cibir Hana.


“Mas…” dengan sekali memanggil, seorang pria langsung datang menghampiri Andre.


“Kamu mau apa?” mata Hana memicing curiga.


“Total semua barang di sini berapa?” tanya Andre saat pria muda itu tiba di dekatnya.


“Eh, eh. Mas laptop yang cocok buat desain apa…” cepat-cepat Hana berbicara sebelum Andre benar-benar membeli seluruh isi toko ini untuknya. Hana belum siap bekerja sebagai pemilik toko ini jika Andre memberikan untuknya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2