Zona Berondong

Zona Berondong
Adzan


__ADS_3

^^^Part sensitif menurut author, karena lagi-lagi nyinggung keyakinan. ^^^


^^^Semoga suka ya. ^^^


^^^-Happy reading-^^^


"Kenapa? Aku kan sekarang udah bisa ciuman. Bukannya Kak Restu dan kak Rina pacaran dan mereka sering ciuman?"


Dedi menatap tak percaya setelah mendengar apa yang baru saja Rista katakan. Ini bukan salah gue. Dika yang salah. Rista kayak gini itu akibat kecerobohan kamu, b**o. Dedi terus merutuki kecerobohan Dika dalam hati.


"Intinya sayang, aku masih harus berusaha keras memantaskan diri agar bisa jadi pendamping yang baik untuk kamu..." Dedi berusaha membuat Rista mengerti.


Dedi sangat berhati-hati saat berbicara dengan Rista. Ia takut Rista kembali melakukan hal bodoh ketika kecewa padanya.


"Tapi aku pengennya jadi pacar kakak..." Rista mengeratkan pelukannya pada tubuh Dedi yang masih terbaring. Posisi yang sesungguhnya membuat Dedi begitu tersiksa karena seluruh aset Rista menempel padanya.


"Kak..." tiba-tiba Rista melepas pelukannya dan sedikit menjauh. "Peliharaan Kakak yang gampang ngamuk itu di bawa ke sini ya?"


Dedi mengernyit.


"Itu, keras-keras di kantong celana Kakak."


Dedi mengacak rambutnya dan segera bangkit.


"Mau ke mana Kak?"


"Mau jinakin piaraan." Jawab Dedi sebelum menghilang di balik pintu.


***


Makan siang yang tak terlupakan, itulah yang Rudi rasa sekarang. Jika saja Santi ada di sana, lengkap sudah bahagia yang ia rasa.


Sejak tadi Dika merasa Rina begitu berbeda, namun ia harus menahan hasrat untuk bertanya, karena terlalu banyak orang di sana.


"Rista kok makannya cuma diaduk-aduk Nak?" tanya Rudi dengan lembut.


"Iya, Om..." jawab Rista dengan segan.


"Rista, sekarang jangan panggil Om lagi ya, panggil beliau Ayah..."


"Tapi Kak..." Rista hendak protes saat melihat senyum tulus dari Rudi.


"Nggak apa-apa kok kalau Rista lebih suka manggil Om."


Dedi menatap interaksi Dika dan Rudi. Mereka kenapa bisa mendadak akrab seperti ini? Sebelumnya ia bahkan begitu khawatir jika Dika akan kecewa padanya karena selama ini ia selalu melaporkan semua pada Rudi.

__ADS_1


Merasa tak mampu menemukan clue, akhirnya Dedi menatap Rista. "Rista makan ya..." ia mengambilkan makanan yang ia yakini Rista akan suka.


Bukannya segera makan, Rista justru mendorong piring dihadapannya dan bangkit dari sana.


Dika dan Dedi hendak bangkit dan mengejarnya, namun dicegah oleh Rina. "Aku coba ngomong ya..."


"Iya, siapa tahu kalau sesama perempuan yang ngomong Rista akan lebih mudah mengerti," timpal Rudi. "Nak Rina tapi selesaikan dulu makannya."


"Saya sudah kenyang Om..."


Rina segera menghampiri Rista setelah dipersilahkan oleh Rudi. Perlahan ia berjalan menghampiri Rista yang duduk di tepi kolam renang.


"Kenapa sih Kak Dedi nggak mau jadi pacar Rista?" ucap Rista saat Rina sudah duduk di sampingnya.


Rina tak langsung menjawab. Apa Dedi juga menolak karena alasan kasta? Kami hanya orang biasa yang terjebak cinta dengan pangeran dan putri yang punya segalanya. Dalam novel mungkin akan mudah dan berakhir kehidupan yang bahagia tapi bagaimana dengan kami.


"Kak, kenapa dia nggak bisa seperti Kak Restu dan Kak Rina. Apa karena dia bohong soal mencintaiku?"


Rina mengelus punggung Rista.


"Kenapa baru sekali jatuh cinta saja aku langsung di paksa patah hati?" Rista mulai menitikkan air mata.


Rina menarik kepala Rista dan menyadarkan di pundaknya. "Dedi pasti punya alasan. Kamu udah coba tanya?"


"Dia pengen memantaskan diri, dia akan datang dan akan langsung menjadikanku istri. Tapi itu kapan Kak, kapannn?!"


"Aku pengen kayak Kakak, selalu ada Kak Rina yang sayang sama dia." Rista menangis tanpa suara. Air matanya mengalir dengan deras di kedua pipinya.


"Jalan kamu masih panjang Ta, jalan kita masih panjang. Mungkin Dedi hanya takut jika suatu saat kamu menemukan orang yang memang cocok dan sepada denganmu, dan jika saat itu datang kamu akan meninggalkannya."


Rista menggeleng, "Nggak akan Kak, nggak akan."


"Udah ya, udah..." Rina berusaha menenangkan Rista. "Rista sekarang mending mikirin, kalau besar pengen jadi apa. Selain cinta, kita kudu punya cita-cita, ya kan?" Aku juga bakal gitu Ta.


Rista mengangkat wajahnya dan menatap Rina. Rina segera mengangguk seakan berkata semua akan baik-baik saja. "Rista makan ya, abis itu kita pulang..."


Rina dan Rista masuk ke dalam bersama. Tiga pria di sana tampak menunggu dengan raut cemas.


Rina datang dengan senyum di wajahnya. Ada rasa lega dalam hati para pria tersebut terutama Dedi. Aku sayang kamu Rista Andini, tapi posisiku tak mudah, dan aku masih ragu untuk maju.


***


Dika, Dedi, Rista dan Rina sedang dalam perjalanan menuju rumah Rudi. Dika ingin sekali bertemu Mamanya setelah begitu banyak hal mereka lewati tanpa berjumpa.


Sementara itu, Rudi harus kembali ke rumah sakit karena ada pekerjaan yang tak dapat ia tunda atau limpahkan ke orang lain.

__ADS_1


Dika sudah menceritakan pada ketiganya bahwa Rudi tak pernah berselingkuh dengan Lusi, itu semua hanya bagian dari usaha Lusi untuk menyingkirkan orang yang berusaha menghalangi hubungannya dengan Dika.


"Lusi memang cantik, dan ia sepadan dengan kamu..." ujar Rina tiba-tiba.


Dika melayangkan tatapan heran pada gadisnya. "Kamu tega aku didampingin cewek yang udah sering dite***jangi laki-laki?"


Rina hanya meringis. Aku juga udah pernah ditelanjangi.


"Kamu mikir apa sih sayang...? Sayang sama aku nggak..."


Dedi hanya mendengus dari jok belakang. Dika ini gimana sih, mesra-mesraan nggak nyadar sikon. Nggak mikirin perasaan kita apa. Dedi menoleh dan menatap Rista yang nampak melamun dan memandang ke luar jendela.


"Rista udah baikan?"


Rista menatap Dedi sejenak sebelum kembali membuang muka.


"Dik, jangan ngambek terus dong...." Dika mencoba berbicara pada adiknya dari balik kemudi.


Rista masih acuh.


"Udah jangan di paksa..." kata Rina pada Dika. "Kita sholat asyar dulu yuk..."


Dika segera mencari masjid terdekat untuk menunaikan sholat. Adzan tengah berkumandang saat mereka berhenti dan memarkirkan mobil di depan rumah Alloh.


Dedi tiba-tiba tak dapat menahan saat aliran itu mendesak dan keluar dari sudut mata. Tanpa sengaja Dika melihatnya. Ia membiarkan Rina dan Rista berjalan terlebih dahulu meninggalkan keduanya.


"Lu kenapa?" tanya Dika saat melihat Dedi memejamkan mata.


Dedi menggeleng.


"Cerita, kalau lu masih nganggep gua sahabat."


Dedi mendesah. Ia menumpahkan air mata yang tak mampu ditahannya. "Aku nggak ngerti, tapi sering begini kalau dengar adzan."


Kedua sudut bibir Dika tertarik. "Mau ikut masuk?"


"Apa boleh? Aku bukan bagian dari kalian."


"I'm not sure. Tapi asalkan kamu tak ada niat buruk bagi kami, insyaallah tak akan membawa masalah."


Dedi berusaha membersihkan air matanya. "Aku di teras aja."


"Serambi maksudnya," lanjut Dika membenarkan.


Keduanya tertawa dan berjalan bersama.

__ADS_1


TBC


__ADS_2