Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Ingin Curhat


__ADS_3

HAPPY READING


Menjelang sore hari, Hana kembali ke tempat kerjanya. Kali ini ia hanya berdua dengan Lili karena Rina masih ada meeting dengan client. Meski demikian, Rina tak mengijinkan Hana kembali sendiri dan meminta Lili untuk mengantarkan. Tidak apa-apa untuk sementara ia sendiri, karena tempat kerja Hana tak jauh dari lokasi pertemuannya.


Sebenarnya Rina tak benar-benar sendiri karena selain bersama Lili, selalu ada bodyguard yang Dika siagakan untuk menjamin kemanan Rina dimana pun ia berada, sehingga Lili merasa tak perlu ngotot menolak saat Rina memintanya untuk mengantarkan Hana.


“Thanks ya Li,” ujar Hana saat Lili menepikan mobil yang ia kendarai.


“Sama-sama. Kamu hati-hati.”


“Iya…”


Hana segera menarik handle pintu dan keluar. Sesaat setepah ia menutup pintu dari luar, Lili tampak membuka kaca jendela. Ia sempat melambaikan tangan sebelum pergi meninggalkan Hana.


Hana tak ingin diam terlalu lama di luar. Ia segera masuk dan siap melanjutkan pekerjaannya.


“Enak ya yang habis diajak jalan-jalan. Aku juga pengen sesekali bawa teman ke sini biar bisa diajak pergi-pergi dan mangkir dari pekerjaan.”


Sudah bisa ditebak kan siapa yang berbicara barusan. Ia adalah Haning yang langsung stand by di depan pintu sejak tahu Hana sudah kembali.


Hana berusaha mempertahankan wajah datarnya. Sedatar mungkin agar Haning tak sadar jika sebenarnya Hana sudah cukup lelah bersabar menghadapinya.


“Tapi sering-sering saja deh mengkir dari pekerjaan, kalau bisa pas jamuan malam minggu nanti kamu tidak perlu datang, dari pada malu sendiri karena performa kerja yang jauh dari kata baik,” lanjut Haning yang sepertinya belum puas mengatai Hana.


Hana sangat lelah sepertinya. Ia menghentikan langkahnya dan balik badan ke arah Haning yang nampak senang karena berhasil memancing Hana. “Mbak, itu ada pelanggan datang. Mau Mbak yang layanin atau saya saja…”


Ternyata sekarang memang ada dua orang wanita muda di luar yang tengah berjalan ke arah pintu masuk.


Spontan Haning menoleh. “Kamu saja. Saya sudah sangat bekerja keras selama kamu jalan-jalan tadi,” lanjut Haning. Dari tampilannya, mereka bukan golongan orang berdompet tebal yang bisa Haning provokasi untuk belanja banyak di sini. Haning berjalan melewati Hana yang masih berdiri di tempatnya


“Hana sudah kembali Mbak?” tanya Risma setelah melihat Haning meninggalkan area yang paling digemarinya, yaitu di barisan depan dimana dia bisa memilih dulu customer mana yang ingin ia layani.


"Tuh..." ujar Haning dengan nada enggan sambil menunjuk  Hana yang tengah melayani pembeli. Haning melanjutkan langkahnya tanpa peduli Risma yang mengucapkan terimakasih.


Risma sudah biasa dengan Haning yang menyebalkan dan sok berkuasa, namun menurutnya Haning sekarang benar-benar keterlaluan. Apa sebegitu irinya kah Haning pada Hana, karena hanya Hana yang bisa menyaingi kemampuan Haning dan berhasil membuat Nuke suka padanya dalam waktu singkat.


“Mau kemana?” tanya Risma pada Hana yang hendak meninggalkan pelanggannya.

__ADS_1


“Mau ambil stok baju ini yang ukuran L,” jawab Hana sambil memperlihatkan pakaian yang ia bawa.


“Sini biar aku saja.” Risma mengambil alih pekerjaan Hana dan membiarkan Hana melanjutkan aktifitasnya melayani pelanggan.


“Makasih Ma…” ujar Hana setelah menyerahkan pakaian yang ia pegang.


Risma berjalan ke arah gudang meninggalkan Hana untuk kembali melayani 2 customer muda itu.


Waktu pun berjalan dengan cepat. Lagi-lagi Nuke memerintahkan anak buahnya untuk segera menutup toko meski ini baru jam setengah delapan malam. Toko benar-benar ramai seharian tadi, membuat toko ini kehilangan banyak stok dagangan dan juga tenaga dari semua yang bekerja di sana.


“Maaf teman-teman, nanti kalau sudah beres semua tolong ke ruangan saya ya,” ujar Nuke saat para karyawannya sedang beres-beres dan membersihkan toko.


“Baik Mbak…” serempak kelima karyawannya.


Kelima orang ini dengan cekatan melanjutkan masing-masing pekerjaan mereka. Memang kebiasaan di toko ini adalah bersih-bersih saat tutup di malam dan pagi saat buka. Dengan begitu kebersihan toko akan lebih mudah dijaga.


“Wah, kok banyak makanan?” tanya Eka yang berada paling depan saat masuk ke ruangan Nuke.


Nuke hanya tersenyum lebar sambil mempersilahkan masuk  kelima anak buahnya.


“Dalam rangka apa nih Mbak Nuke ngajakin kita makan besar. Apa karena toko kita dapat bonus penjualan yang tinggi?” tanya Haning dengan wajah cerahnya.


“Enggak. Ini tadi ada kiriman, katanya dari teman Hana lagi. Makasih lho Hana. Hari ini kita dapat makanan gratis dua kali.”


Wajah Haning masam seketika, nampak cukup kontras dengan wajah ketiga rekannya dimana mereka memasang senyum lebar dan tak segan mengucap terimakasih untuk Hana.


“Hana hebat. Belum gajian saja sudah traktir kita-kita,” ujar Anin setelah memeluk Hana sekilas.


“Iya. Terus abis diculik HPnya langsung Iphone seri terbaru pula,” imbuh Eka yang langsung dihadiahi tatapan mencari oleh semua yang ada di sana.


“Iya kah?” kaget Anin.


Respon Risma ternyata sedikit berbeda dengan Anin. Tanpa suara, ia kemudian mencari-cari ponsel yang Eka maksud dan membuktikan kebenaran ucapan rekannya ini. “Wah iya…” ujarnya kemudian setelah berhasil menarik ponsel dari saku rok Hana. Selanjutnya ia mengangkat ponsel mahal yang berhasil dia temukan dan menunjukkannya pada semua yang ada di sana.


Eka dan Anin mengerubungi Risma untuk melihat ponsel Hana yang selama ini hanya bisa mereka lihat dari kejauhan tanpa pernah bisa memegang dengan jarak sedekat ini. Sekarang meskipun belum bisa memiliki, setidaknya ketiganya sudah bisa menyentuh benda mahal ini di dunia nyata.


“Dasar kalian. Lihat HP doang sampai sebegitunya,” cibir Haning sambil membuang muka. Karena sejujurnya ia juga kaget pegawai baru seperti Hana tiba-tiba membawa benda mahal bersamanya.

__ADS_1


“Kita cuma berusaha nggak muna Mbak, lagaknya nggak peduli padahal pengen juga,” sarkan Anin tanpa menggunakan otot dan nada tinggi.


Satu lagi yang membuat Haning makin kesal, yaitu Anin yang biasanya hanya fasih bilang iya, sekarang sudah berani bersuara. Dan dari jarangnya ia berbicara, sering kali berhasil membuat Haning kesal. “Makin pinter ya Nin kamu…”


“Ehm…”


Mendengar deheman Nuke, Haning tak jadi meluapkan kekesalannya pada Anin. Ia hanya bisa menggerutu dalam hati dengan kepala tertunduk.


“Silahkan semua menikmati makan malamnya, setelah selesai ada yang mau saya sampaikan,” ujar Nuke menengahi perang dingin para karyawan di tokonya.


Kelima wanita ini mengambil posisi masing-masing dan segera memulai makan malam dengan tenang. Namun ketengan ini hanya bertahan tak lebih dari lima menit, karena empat diantara mereka merapat dan mulai bicara dengan suara rendah.


“Han jujur deh, kamu anak Sultan yang lagi nyamar ya?” tanya Eka yang paling pertama bersuara. Matanye memicing menatap Hana penuh selidik.


“Sultan apa sih Ka. Mana ada anak sultan yang makan pake tangan kaya gini.” Hana mengangkat tangannya yang berminyak karena baru digunakan untuk menyuapkan makanan.


“Terus kalau gitu coba kamu cerita, gimana semua bisa kayak gini?” tanya Risma yang tak kalah penasaran.


Anin mengangguk berulang kali sebegai tanda dukungannya pada pertanyaan Risma. Hana menatap satu persatu rekan kerja yang sejak awal sangat baik padanya ini. Mereka sangat baik padanya bahkan ketika tak seorang pun tahu siapa ia yang sebenarnya. Bagaimana jika sampai mereka tahu Hana ini anak seorang perempuan malam dengan pria yang berstatus suami orang? Apakah sikap mereka akan berubah?


“Han!”


Hana tersentak ketika Risma mencubitnya tiba-tiba.


“Jangan bengong aja,” lanjut Risma kala melihat Hana bengong menatapnya.


“Katanya kamu yatim piatu, kok kemaren dijemput paksa dan katanya mau diajak pulang?” sahut Haning dari kejauhan.


Hana yang sudah tak mampu makan lebih banyak segera menutup boxnya. Ia yang semula terus menghindari konflik dengan Haning kini merasa sudah waktunya ia sedikit memberikan reaksi terhadap perlakuan wanita ini.


“Maaf ya. Sebenarnya saya tidak mau curhat di sini, tapi dulu sejak lahir yang saya tahu hanya mama. Apa Mbak Haning mau tahu cerita langkapnya?” tantang Hana.


“Cerita saja. Semua yang ada di sini saya yakin pasti pada penasaran,” jawab Haning atas tantangan Hana.


“Okey. Saya harus cerita dari mana?”


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2