Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Hutang Penjelasan


__ADS_3

HAPPY READING


“Itu Hana kenapa?”


Andre menoleh ke arah suara. Ternyata di belakang punggungnya sudah ada Dika yang berdiri bersama Rudi di sampingnya.


Andre menyugar rambutnya dan menghembuskan nafas kasar. Setalah itu ia mengangkat wajahnya yang langsung bertemu pandang dengan Dika. Ia kemudian menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan bosnya.


“Ada Pak Edo?” kaget Dika saat melihat ada Edo yang muncul dari belakang.


“Iya Mas Restu.” Edo menundukkan kepala sebagai tanda hormat pada Dika yang merupakan atasannya meski faktanya pria ini lebih muda dari pada anaknya.


“Barengan sama Andre ke sininya?” tanya Dika lagi.


“Iya. Itu tadi saya parkir mobil dulu,” jelas Edo. Ia kemudian menyalami Rudi yang juga ada bersama Dika ini.


Dika terlihat cukup terkejut dengan pemandangan ini. Apa om Edo sudah setuju dengan hubungan Andre dengan Hana. Wow, ternyata semua di luar espektasi. Semua yang disangka sulit ternyata begitu mudah teratasi.


Tiba-tiba pintu terbuka dan Andre langsung mendekat mengacuhkan situasi tak nyaman yang sedang menjebaknya.


“Keluarganya pasien Hana?” tanya seorang perawat dengan wajah tertutup masker dan tangan mengenakan sarungan tangan lateks.


“Saya,” jawab Andre mengklaim Hana sebagai keluarganya.


Tiga pria ini menatap Andre serempak tanpa aba-aba.


“Anda siapanya?” tanya perawat itu lagi.


“Saya suaminya.”


Degh!


Dengan ekpresi yang berbeda-beda ketida laki-laki di sana sama terkejutnya dengan apa yang baru saja Andre katakan. Dika dengan mata membola, Edo dengan memegangi dada dan Rudi dengan wajah biasa meski jantungnya juga berdisko ria.


“Pasien mengalami pendarahan, dan harus segera mendapatkan transfusi. Golongan darah pasien O, sementara persediaan stok darah tersebut di rumah sakit ini kosong,” jelas perawat itu lagi.


“Jadi apa yang harus saya lakukan?” tanya Andre disela kepanikannya.


“Tolong anda dapatkan golongan terbut sesegera mungkin karena kondisi pasien cukup mengkhawatirkan.”


“Itu saja?”


Saat perawat itu hendak kembali menutup pintu, tiba-tiba Andre menahannya.


“Bagaimana kondisi anak saya?”


Degh!


Bak dihamtam batu berukuran besar tapat di dada, Edo tak mampu mempertahankan tubuh tegaknya. Rudi yang berada di sampingnya segera memegangi pundak Edo untuk membawanya duduk di kursi yang tak jauh dari mereka. Namun Edo menggerakkan pundaknya seakan meminta Rudi untuk membiarkannya berdiri dengan kemampuannya.


Andre yang hendak pergi dari sana, merasa bahunya tertahan tiba-tiba. Reflex ia menoleh dan…


Bugh!!!


Tak sampai tersungkur, namun Andre cukup terkejut saat rahangnya mendapat serangan yang sangat mengejutkan. Ia masih dapat berdiri tegak dan justru yang memukulnya lah yang nyaris jatuh jika saja Rudi tak segera memeganginya.

__ADS_1


“Sekarang katakan sama Papa, apa yang sudah kamu lakukan selama ini.”


Edo tak bisa menahan amarahnya meski nampaknya sekarang kondisinya tak baik-baik saja.


“Sabar Pak Edo, sabar…” lirih Rudi sambil memegangi tubuh Edo yang tak mampu berdiri dengan baik.


“Pa, maaf Pa. Andre salah. Andre tahu Andre salah dan Andre janji akan segera menjelaskan sama Papa. tapi sekarang Andre harus segera pergi.”


“Kamu…” Edo terus memegangi dadanya.


“Pa maaf Pa. Mereka kritis Pa. Anak Andre terancam Pa…” Andre terlihat kacau balau, pergi tak mungkin, bertahan bisa. Papanya dan Hana sama-sama orang yang penting untuknya.


Edo terhuyung. Dika segera membantu Rudi memegangi Edo yang benar-benar tak mampu berdiri.


“Go Andre. Om Edo biar sama kita.”


Setelah mendengar ucapan Dika, Andre memutuskan untuk segera pergi dari sana. Namun sebelum itu, ia terlebih dahulu menghampiri papanya.


“Pa, Andre janji akan menjelaskan semua sama Papa setelah Andre yakin anak dan wanita yang Andre cintai baik-baik saja.”


Andre benar-benar pergi dari sana meskipun samar-samar ia melihat papanya limbung bersama Rudi dan Dika.


Aku sayang sama kalian semua. Papa, Mama, Hana, anakku.


***


“Akkhhiirrnnyyyyaaaaaaaa…..!!!!”


Seorang gadis cantik dengan rok hitam di atas lutut dan kemeja putih lengan panjangnya berteriak kencang dan merebahkan tubuhnya di atas hamparan rumput di taman kampusnya kemudian.


Gadis cantik itu menoleh ke arah samping, ke tempat dimana rekan yang baru saja berbicara padanya.


“Iya lah. Kalau ospek kelar kan aku bisa pulang…” jelas gadis ini dengan wajah menengadah.


“Pulang? Rumah kamu mana?”


Gadis ini menatap rekan yang duduk di sampingnya. “Kamu mau ikut?”


“Emang boleh?” tanya rekannya antusias.


“Ya boleh lah.”


Bukannya senang, saat diijinkan untuk ikut gadis manis bertubuh mungil justru menghela nafas. “Sayang kerjaan aku nggak bisa ditinggal.”


“Ijin dong.”


“Kagak ah. Aku nggak mau potong gaji.”


Gadis cantik ini tersenyum. Saat keduanya masih asik menatap langit senja, tiba-tiba ada seorang pemuda yang datang menghampirinya.


“Kamu Rista kan?” tanya pemuda itu saat berdiri di depan kedua gadis ini.


“Iya,” jawab gadis cantik ini yang mengakui dirinya bernama Rista.


“Ini buat kamu…”

__ADS_1


Pemuda itu menyerahkan sebuah bingkisan dengan bentuk kotak memanjang.


“Ini apa?” tanya Rista yang tak kunjung menerima uluran kotak itu.


“Ini dari kak Edwin,” ujar pemuda itu lagi.


“Kak Edwin ketua pelaksana?” kaget Rena yang merupakan gadis mungil di samping Rista.


“Iya…”


Rista menatap tampilan pemuda ini. Nampaknya ia merupakan mahasiswa baru juga melihat kenampakannya yang tampil dengan kemeja putih dan celana bahan berwarna hitam.


“Kamu terima ya, please…” pinta pemuda itu lagi.


“Kalau nggak aku terima kenapa emang?” tanya Rista yang penasaran dengan modus dan gaya apa yang digunakan kakak tingkatnya ini untuk mendekatinya.


Pemuda itu tampak celingak-celinguk sebelum akhirnya menunduk.


“Aku nggak mau terima kalau nggak ada alasan yang membuatku merasa harus menerima ini,” cuek Rista.


“Rista please ya. Kak Edwin bilang nggak akan lepasin aku kalau kamu nggak mau terima ini,” ujar pemuda itu sambil menangkupkan tangan di depan dada.


“Kamu diancam?”


Pemuda ini nampak was-was. Saat dirasa aman, baru ia mengangguk kemudian.


Rista menghela nafas dan meraih bingkisan itu dengan ogah-ogahan kemudian. “See, udah aku terima. Kelar kan?”


“Thanks Rista ya,” ujar pemuda itu.


Rista hanya mengangguk dan membuang pandangannya ke sembarang arah. Pemuda itu pun pergi setelah beberapa kali mengucapkan terimakasih.


“Eh, Kak Edwin loh ini. Belum ada rencana ngelepas masa jomblo,” goda Rena sambil memukul bahu Rista.


“Ck… Cuma ngasih ini nggak berarti ngajak pacaran juga kan?”


“Tapi jelas banget Rista. Buat apa coba ngasih ginian kalau nggak suka.”


“Ya kalau pun suka belum tentu ngajak pacaran juga kan…”


“Ya kalau suka maunya apa, ya pasti jadian kan…”


“Dia nggak bilang tuh.”


“Kalau dia langsung bilang memangnya kamu mau?” tanya Rena penasaran.


Rista memejamkan mata membiarkan semilir angin senja menerpa wajah cantiknya.


Dear pria kepala batu. Apa kamu sekarang sudah menemukan penggantiku? Apakah kuliah kedokteran memang selama itu? Awas saja kalau kembali kamu tak langsung membuat pengakuan bersalah dan memintaku untuk menerimamu kembali. Jika sampai itu terjadi, aku tak akan pernah mau bersamamu lagi.


“Hey, ngelamun aja, balik yuk…” ajak Rena.


Rista hanya memamerkan deretan gigi putihnya. “Ayo…”


Rista dan Rena berjalan beriringan. Tak lama berselang, sebuah mobil berwarna hitam berhenti di dekat nya disusul keluarnya seorang pria yang membukakan pintu untuk Rista. Inilah salah satu alasan mengapa dari sekian banyak pria yang mencoba mendekati Rista tak berani melakukannya secara terang-terangan, yaitu karena Rista selalu dikawal oleh pria-pria berbadan kekar seperti yang nampak sekarang ini.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2