Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Gendis


__ADS_3

HAPPY READING


“Kok nggak mirip aku sih…”


“Ya mirip lah. Kamu kan Tantenya.”


Rista kembali memperhatikan bayi yang kakak iparnya pangku. Namun ******* menjadi akhir masa pengamatan.


“Nggak ada. Ih nggak ada. Kesel deh…” kembali Rista menggerutu.


Rista duduk dengan wajah cemberut. Ia kesal karena anak Dika sama sekali tak mirip dengan dia. Padahal seharusnya kan mirip mengingat ia adalah anak kakaknya.


“Mirip kok. Setidaknya kalian sama-sama wanita, ya kan Ded…”


Dedi gelagapan karena Dika menyadari kemunculannya di depan pintu ruang rawat Rina. Padahal ia baru saja ancang-ancang untuk mundur ke belakang karena tak ingin berada di situasi yang sama dengan Rista.


Tanpa sempat otaknya bekerja, Rista sudah memastikan keberadaan pria yang namanya baru disebutkan Dika. Dan saat netranya melihat sosok tinggi menjulang yang tak sedikitpun memperdulikan keberadaanya, dengan segera wajahnya ia buang.


“Kak, aku pamit ya,” cepat-cepat Rista berpamitan kemudian.


“Mau kemana?” serempak Dika dan Rina.


“Ada kuliah,” jawab Rista singkat.


“Tadi kata kamu…”


“Aku permisi,” potong Rista cepat hingga membuat Rina menghentikan ucapannya. Ia bicara sembari bangkit dan beranjak dari tempatnya. Ia sempat melambaikan tangan pada Dika sebelum terus berjalan melewati pintu seakan tak ada orang di sana.


Dika menghela nafas menyaksikan hal ini. Namun ia tak bisa banyak berbuat karena ini urusan hati. Ia kemudian mempersilahkan Dedi untuk masuk karena tak ada lagi alasan Dedi untuk mengurungkan niatnya untuk masuk ke ruangan ini.


“Udah lama kamu tadi?” tanya Dika basa-basi.


“Belum.”


Dika menaikkan alisnya. “Iya deh,” lanjutnya.


Beberapa saat berbincang, Dedi akhirnya undur diri. Dedi memang bukan pengangguran di sini. Ia bekerja dan jamnya cukup padat. Ia benar-benar harus menyempatkan waktu untuk membesuk Rina. Dan sekarang pun ia harus beranjak sebelum mengobrol banyak.


“Anak Papa lagi ngapain?” tanya Dika pada sang anak yang terlihat menggerakkan mulutnya. Ia juga memegang tangan kecil yang terbalut sarung tangan itu sambil terus mengajaknya bicara.


Rina juga tak hanya diam saja. Ia ikut bicara dengan anaknya Keduanya lantas mengajak ngobrol bayi yang bahkan belum sempat mereka berikan nama. Mereka bertanya dan menjawab sendiri pertanyaannya. Sekilas keduanya persis orang gila. Tapi percayalah, mereka bukan sedang depresi tapi tengah bahagia.

__ADS_1


“Assalamu alaikum…”


Mendengar ucapan salam dengan begitu jelasnya, Rina dan Dika kompak menoleh ke arah sumber suara.


“Waalaikum salam…” serempak Dika dan Rina saat tahu siapa yang muncul di depan pintu. Senyum sapa juga tak lupa mereka berikan sebagai sambutan terhadap mereka yang bertamu.


“Ya ampun cantik sekali…” ujar Indah yang baru saja berhenti di dekat Rina.


“Makasih Tante,” jawab Rina.


Dika sendiri mundur untuk memberi ruang pada Indah dan Hana yang baru saja tiba.


“Iya kan, cewek kan?” tanya Indah memastikan.


“Iya,” jawab Rina dengan senyum yang tak luntur dari wajah ayunya.


“Syukur deh Hana nggak salah info,” ujar Indah lagi sambil melirik Hana.


Setelah mendapat ijin dari Rina, Indah perlahan mengangkat tubuh mungil bayi Rina dan menggendongnya. Hana sendiri hanya melihat karena ia belum berani untuk coba menggendong bayi yang belum berusia 24 jam ini.


“Maafin kita ya, acara kamu jadi berantakan semalam,” ujar Rina begitu mengingat kejadian malam tadi.


“Nggak apa-apa kok. Aku sama Andre malah jadi bisa meloloskan diri dari jamuan bisnis berkedok tunangan papaku dan papa Andre,” ujar Hana beralasan.


Hana menggeleng. “Ini juga istimewa. Bisa turut menjadi bagian dari kelahiran anak kamu itu sebuah kehormatan,” lanjut Hana sungguh-sungguh.


“Apa dia sudah di kasih nama?” tanya Indah tiba-tiba.


“Emm… Lengkapnya sih belum cuma aku mau ada nama Gendisnya…” jawab Rina sambil meminum teh pelancar ASI yang telah disiapkan sebelumnya.


“Gendiiisss… Dih senyum, Gendhis cantiiikkkk…”


Indah terus mengobrol dengan anak Rina meski banyi ini bahkan belum bersuara. Respon jelas tidak ada, bahkan bayi ini hanya mampu mengedipkan mata. Namun itulah hebatnya bayi, dimana helaan nafasnya saja sudah dimaknai luar biasa oleh orang yang mengajak ngobrolnya.


“Hidungnya aduhhh, kok kayaaa…” suara Indah memelan. Ia merasa kalimatnya tak baik untuk dilanjutkan, terlebih di sampingnya ada Rina. Wanita yang telah melahirkan bayi yang ditimangnya.


“Kenapa? Apa menurut kamu hidungnya mirip seseorang?” tanya Rina segera setelahnya.


Glek!


Maunya bilang iya, tapi Indah masih punya etika.

__ADS_1


“Iya dong. Ini perpaduan hidung papa sama mamanya, makanya bisa cantik begini,” ujar Indah cepat-cepat untuk berkilah. Ia mencari jawaban paling aman, karena hidung yang menjadi pusat perhatiannya kini tak mirip salah satu hidung orang tua Gendis.


“Masa? Tapi aku kok ngerasa mirip Hana ya?” gumam Rina.


Indah meringis. Kalimat ini mati-matian ia tahan, tapi Rina sepertinya dengan legowo mengakui hal ini.


Hana yang merasa namanya disebutkan spontan meraba hidungnya sambil memperhatikan bayi kecil di gendongan kakak iparnya.


“Ya mana mungkin. Hana tak ada hubungan darah dengan kalian, jadi masa iya hidungnya Hana yang dibawa.” Indah berusaha menolak anggapan yang jujur saja juga mampir di benaknya. Namun ia tahu, ada sebagian ibu yang tak terima anaknya dimiripkan dengan orang lain. Hal ini tak lain karena mereka yang bersusah payah melahirkan setelah sebelumnya sembilan bulan melahirkan.


Ya tapi emang mirip hidung Hana sih. Hidungnya begitu mancung dan lancip. Ya memang Hidung Rina juga mancung, tapi bentuknya beda dengan anaknya. Batin Indah.


“Mungkin karena Hana sudah berkorban untuk dia…” lirih Rina.


“Berkorban?” ulang Indah yang tak paham.


Rina mulai menceritakan bagaimana asal mula ia akhirnya dekat dengan Hana. Memaafkan wanita yang pernah berusaha mencelakai ia dan juga menyusup ke Surya. Dan Indah masih sulit untuk percaya meski ia tahu Hana memang pernah menjadi alat Galih untuk menjatuhkan lawannya. Namun ia bersyukur karena sekarang semua sudah baik-baik saja sebagaimana mestinya.


“Kok aku baru tahu cerita yang kayak gitu. Aku kira kamu bisa menerima Hana karena dia kekasih Andre,” jujur Indah tentang perkiraannya selama ini.


“Mungkin kamu juga harus mendengar kisah lengkap bagaimana Andre dan Hana akhirnya jatuh hati.” Kembali Rina berucap bernada provokasi. Ia menutup mulutnya segera setelah kalimat itu selesai diucapkannya. Ia tertawa kecil mengingat masa itu. Banyak hal tak baik yang terjadi saat itu, namun begitu manis saat dikenang seperti ini.


“Kenapa bukan kamu saja yang cerita. Emang gimana ceritanya?” tanya Indah dengan penuh penasaran.


Blush!


Wajah Hana memanas. Wajahnya yang putih bersih seketika memerah. Ia hanya mampu menyembunyikan hal ini dengan menunduk dalam.


Namun hal ini tak bisa menghentikan rasa penasaran Indah. Ibu tiga anak ini justru kian gencar mendesaknya.


“Hana. Jangan bikin aku kesel deh.”


Hana tak bergeming mendengar ancaman iparnya. Ia bahkan makin rapat mengunci mulutnya.


“Ceritanya gimana sih Rin?” Indah beralih bertanya pada pada Rina karena merasa Hana tak bisa dibuat Hana bersuara Rina.


Dengan mulut menahan tawa, Rina coba berbicara. “Karena aku yakin ada banyak bagian yang tak Andre dan Hana ungkapkan padaku, sehingga lebih baik kamu tanya sama mereka kalau ingin tahu.”


“Tck, kalian…”


Karena tak ingin lebih lama berdebat, akhirnya Indah memutuskan untuk ganti topic bahasan. Pengalaman 3 kali melahirkan ia bagikan pada Rina. Parenting yang ia terapkan juga menjadi bagian yang tak lupa ia bahas sekarang. Dengan antusias Rina menyimak. Selain karena Gendis adalah anak pertama, ia juga sama sekali belum punya pengalaman dengan anak kecil sebelumnya. Hana yang belum menikah pun tak mau kalah untuk menyimak cerita, karena nantinya ia juga pasti akan jadi ibu juga.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2