Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Calon Orang Tua


__ADS_3

Senja kangen Dedi Rista, tapi kalau mau nyemplung kesan takut**feelHana Andre sama Rina Dika menguap gitu aja.


Jadi yang udah nunggu kelanjutan kisah mereka sabar dulu ya.


Senja sebenarnya juga pengen bisa nulis banyak sekali waktu kaya temen penulis yang hebat banget bisa ngehandel 4 judul berbeda dalam satu waktu, tapi ternyata Senja belum sehebat itu.**


HAPPY READING


Sejak turun dari mobil Dika tak sedikitpun melepas genggamannya dari tangan Rina. Selain terus menggenggam sepanjang jalan, satu hal lagi yang tampak sedikit berbeda dari pasutri ini adalah Rina yang tak lagi mengenakan hak tinggi sebagai penyempurna penampilannya. Hal ini karena Dika melarangnya dengan keras karena ia tengah hamil muda.


“Nak, kalian baik-baik saja kan?”


Di lobi rumah sakit ternyata Santi sudah menunggu kedatangan anak dan menantunya dengan wajah gelisah. Setelah tahu Dika dan Rina mendadak membuat janji untuk general cek up, dia langsung datang ke sini. Dan dengan ditemani Rudi, Santi menunggu kedatangan anak dan menantunya di lobi.


“Kita baik-baik saja Ma,” jawab Rina setelah mencium tangan kedua mertuanya.


“Jangan bohong deh, cerita sama Mama. Percuma kalian punya ayah dokter kalau anaknya kenapa-napa sampai nggak bisa nolongin.” Rudi yang tak tahu apa-apa pun jadi sasaran kekesalan istrinya.


“Ya dokter kan juga manusia, jadi masih kalah sama kuasa Tuhan,” bela Rudi terhadap serangan sang istri.


“Dokter Halima masih sibuk ya?” tanya Dika pada Rudi.


Rudi melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Beliau sedang jadwal visit pasien, mungkin sebentar lagi selesai,” jelas Rudi kemudian. “Mau nunggu di ruangan Ayah dulu?” tawar Rudi pada anak dan menantunya.


Tiba-tiba Rina menyentuh lengan suaminya menggunakan ujung jari yang langsung dihadiahi tatapan bertanya oleh Dika. “Mau es krim strawberry,” ujar Rina sambil menggoyangkan lengan suaminya.


Dika jadi ingat beberapa waktu terakhir Rina yang tiba-tiba gila dengan es krim strawberry. Ternyata alasannya adalah karena ada anaknya di dalam perut Rina.


“Kamu tunggu sini bentar ya,” jawab Dika dengan suara rendah.


“Saya mau ke depan sebentar Yah, Ma. Nitip Rina ya,” pamit Dika kemudian.


Santi dan Rudi sempat beradu pandang sebelum sama-sama mengiyakan dengan anggukan.


“Ini masih pagi Nak, bukannya minta yang anget-anget kok malah minta es krim sih.” Santi baru ingat caranya mengomel setelah Dika hendak melangkah. Sejenak ia lupa dengan sifatnya yang satu ini karena tiba-tiba melihat Dika begitu protektif terhadap istrinya.


“Nggak apa-apa Ma, Rina sudah sarapan tadi,” ujar Dika menanggapi protes mamanya.


“Ya tapi kan nggak baik sayang.”


“Secara medis nggak apa-apa kan Yah?”


Skak matt mama Santi, karena ayah Rudi membalas pertanyaan Dika dengan anggukan. Rina bersorak gembira dalam hati. Ia kemudian duduk di kursi panjang yang berada tak jauh darinya. Sebenarnya ia sudah tak sabar ingin memberitahukan kabar gembira ini pada orang tuanya, namun ia masih ingin memastikan.


Satu hari yang lalu memang ia sudah dinyatakan positif hamil, namun ia belum sempat memeriksa yang lain-lain karena panic dengan kondisi Hana. Setidak sukanya Rina dengan Hana, sebagai wanita ia tetap saja kasihan melihat bagaimana Hana harus berjuang, terlebih ini semua terjadi karena Hana ingin menolongnya.


Jika Hana tak menolongnya, mungkin ia yang akan terbaring dan mungkin mengalami yang Hana rasakan saat ini. Dan yang sakit tak hanya fisik Rina tapi hatinya juga karena faktanya ia sudah sangat menginginkan anak ini sejak lama.

__ADS_1


Setelah beberapa menit berlalu, Dika muncul lagi dengan banyak kantong di tangan kanan dan kirinya.


“Habis belanja Pak?” goda Rina saat melihat kedatangan suaminya.


“Aku tadi minta tolong orang untuk beli semua es krim strawberry di tiga minimarket sekitar sini. Soalnya aku nggak tahu mana yang kamu suka,” jelas Dika sambil mengangkat kantong-kantong belanjaannya. Untung sekarang Santi tak ada di sana, jika ada maka dipastikan ia akan heboh melihat bagaimana putranya tak belanja dengan bijak seperti ini.


“Perut saya mana muat Bapak…” ujar Rina sambil menerima kantong-kantong itu.


“Ya kamu tinggal pilih mana yang kamu suka ya kan?”


“Iya, tapi seharusnya kan satu biji saja setiap varian, bukan diborong semua kayak gini. Ini namanya pemborosan.” Ternyata Dika tak sepenuhnya bebas dari berbagai omelan, karena sang istri sepertinya juga punya keahlian dalam bidang ini.


“Kelamaan. Nanti malah ada yang kelewatan lagi.”


“Tapi nggak segini juga sayang. Ini jelas nggak habis kalau aku makan sendiri, kecuali kamu mau bagi-bagi.”


“Ya udah kamu ambil aja mana yang kamu mau, abis itu kita bagiin.” Seakan mendapat ide, Dika langsung menyetujui celetuk istrinya.


“Yakin bagi-bagi es krim di rumah sakit. Nanti kalau ada yang pilek malah nggak sembuh-sembuh lagi abis makan ini.”


“Ya nggak ke pasien sayang, tapi ke perawat, dokter, sama staf. Ya siapa pun pokoknya yang mau aja lah.”


“Apa boleh?” tanya Rina.


“Siapa yang mau ngelarang. Kita nggak kasih racun juga kan?”


“Tuh lihat, mereka pada seneng kan,” ujar Rina pada Dika sambil menikmati es krimnya.


“Iya bahagia, tapi itu aku mau juga.”


Rina lupa kalau ia tadi tak menawari suaminya setelah ia mengambil untuk dirinya sendiri. Ia kemudian menyuapkan es krim yang sedang ia makan kepada suaminya. Mereka tertawa sambil menikmati es krim bersama.


***


“Hana, kamu sarapan ya…” Andre masih berusaha membujuk Hana untuk makan. Pasalnya sejak tadi perut Hana belum terisi apa pun.


Hana menggeleng sambil menutup mulutnya. “Aku mual Ndre.”


“Terus apa dong. Makanan dari rumah sakit juga sama buburnya.”


“Udah tahu sama kenapa harus beli, aku mual, hoek…”


Hana kembali membekap mulutnya. Akhirnya Andre memanggil orang yang ia siagakan di depan kamar Hana. Ia meminta kedua orang itu untuk menyigkirkan semua bubur yang ada di kamar Hana.


"Ya aku pikir kalau orang sakit kan makannya yang halus-halus, nggak tahunya kamu nggak mau."


"Ya mau, tapi bubur tadi bentuknya kayak makanan bayi, aku jadi mual baru lihat aja." Sebenarnya Hana ingin bilang tai bayi, tapi ia tak enak jika harus menyamakan makanan dengan kotoran.

__ADS_1


Andre menghela nafas dan berusaha memahami kemauan wanita yang mengandung anaknya ini. “Sekarang kamu maunya apa?”


“Aku mau tumis pare.”


“Tumis pare, gimana itu bentuknya?”


“Bentuknya ya kayak pare Andre,” kesal Hana


“Ya Tuhan, carinya dimana coba?”


“Ada Ndre, ada. Aku kemaren baru makan.”


“Kamu makan dimana, biar aku suruh orang buat ke sana dan beli buat kamu.”


Hana menautkan kedua jarinya. “Bunda yang bikin.” Hana kemudian memegang lengan Andre, “Aku mau Ndre…”


Andre mendesah. “Tunggu bentar.” Andre kemudian keluar lagi menemui dua orang di sana.


Begitu Andre muncul dari balik pintu, dua orang yang sedang menikmati kopinya itu segera meletakkannya dan berdiri seketika.


“Kalian ada yang pernah tahu tumis pare nggak?”


“Tumis pare?” serempak keduanya sambil beradu pandang.


“Saya tahu Tuan,” jawab salah seorang diantaranya.


“Kamu tahu belinya dimana?” tanya Andre dengan tak sabar.


“Istri saya biasanya masak Tuan,” jawabnya lagi.


Wajah Andre yang semula kusut cerah seketika. “Nah, bisa tolong buatkan sekarang?”


Pria berbadan dempal itu menunduk seketika. “Tapi istri saya pulang kampung tuan karena sudah hamil besar.”


Wajah Andre berubah seketika. “Kamu mau mempermainkan saya, ha?!!” teriak Andre persis di depan wajah anak buahnya sambil menarik kerah bajunya.


“Ma, maaf Tuan.”


“Saya berikan waktu setengah jam kalian harus kesini dengan tumis pare dan semua pelengkapnya. Kalau tidak jangan harap besok kalian masih bisa bekerja. Paham?”


Andre menghempaskan cekalannya dan masuk lagi ke dalam. Dua orang tersebut langsung kocar-kacir mencari apa yang Andre minta jika besok mereka masih ingin bekerja.


Yang hamil para calon mama yang ribet para calon papa. Apakah semua calon orang tua seperti ini saat menyambut kehadiran kehidupan baru di tengah keluarganya?


Entahlah.


Semuga semua berjalan lancar dan semestinya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2