Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Tak Bisa Lanjut


__ADS_3

Yey,**uploadkedua hari ini.


Semoga siboyyang habis khitan nggak rewel ya, jadi bisa nambah part lagi nanti, xexexe**


HAPPY READING


“Ya ampun Non, akhirnya pulang juga. Bibi seneng banget pas Aden telfon minta di masakin…” ujar Bibi yang muncul dari belakang untuk menyambut Hana.


Hana hanya tersenyum menanggapi ucapan bibi. Ia masih bingung bagaimana harus bersikap. Semua serba tak pantas, semua serba tak baik tapi ini lah jalan hidup yang harus ia lalui. Makanya ia berusaha untuk berubah menjadi baik sejak ia sadar hingga seterusnya.


Hana yang masih deg-degan sejak masuk rumah tadi, kini celingak-celinguk bak penguntit yang takut ada yang menangkap basah kelakuannya. “Bi, Andre tinggal di sini ya selama nggak ada?” tanya Hana dengan suara lirih agar Andre yang berada di kamar mandi tak mendengar hal yang ia tanyakan ini.


“Tidak Non. Saya juga kurang tahu Aden tinggal dimana, yang jelas tadi telfon dan minta bibi masak dan beres-beres,” ujar Bibi.


“Oh…” Hana hanya ber-oh ria sebagai jawabannya.


“Memangnya Non kemana selama ini? Bibi tahu musibah yang Non alami tapi jangan lama-lama ya sedihnya.” Perempuan ini selain rajin juga sabar. Hana sebenarnya merasa senang ketika selama beberapa waktu tinggal di sini.


Hana kembali mengulas senyum. “Iya Bi, makasih…”


Setelah terdengar suara pintu, Andre muncul dengan kemeja dan celana bahan berwarna hitam yang di tekuk hingga sebatas lengan.


“Lagi ngobrolin apa kalian?” tanya Andre sebelum duduk dan bergabung dengan Hana.


“Kita nggak lagi bicarain kamu kok,” ujar Hana.


Andre menyentuh hidungnya untuk menyamarkan kedua sudut bibirnya yang tertarik tiba-tiba. “Aku cuma tanya lagi ngobrolin apa?” ulangnya dengan nada kalem yang jelas sekali dibuat-buat.


Hana menyadari kecerobohannya dan membuang wajahnya ke sembarang arah dengan segera. Ia sangat malu karena secara tak langsung justru mengakui sesuatu yang ingin disembunyikannya.


“Sudah siap makanannya, Bibi permisi…” ujar bibi meninggal dua sejoli yang nampak kaku ini.


“Makasih Bi…”


Bahkan ucapan Bibi saja tak mampu Hana jawab. Yang baru saja berbicara adalah Andre, sementara Hana hanya diam dan sibuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Hana tak akan berani mengangkat wajahnya sebelum rasa panas dan dingin yang menyerang wajahnya ini hilang.


“Ayo makan…” ajak Andre saat melihat Hana tak juga menyentuh makanan.


Hana tak menjawab. Namun tangannya dengan cepat mengambil piring dan mengambil makanan secara random. Ia bahkan lupa jika ia kurang suka makanan manis dan memasukkan begitu saja semur daging ke dalam piringnya.


Andre tak banyak berkomentar. Meskipun ini lucu, biarlah Hana makan dengan porsi sebanyak itu. Ia yakin rumput liarnya ini pasti kekurangan makan saat tak bersamanya beberapa waktu terakhir.


***


“Untung banget ya tadi kita lewat sana…” ujar Rina saat melihat Dika yang keluar dari kamar ganti dengan jemari memasang satu-persatu kancingnya.


“Sebenarnya Andre sendiri saja tak akan kesulitan hanya untuk menghadapi keempat orang tadi,” jawab Dika.


“Ya tapi kan kalau kamu nggak ikut bantu, aku jadi nggak bisa lihat suamiku yang keren ini menghajar orang-orang yang mau bawa Hana pergi,” lanjut Rina dengan wajah sumringahnya.

__ADS_1


Dika hanya mampu geleng-geleng. Meskipun ini bukan kelakuan aneh Rina yang pertama, tapi masih saja Dika terkejut setiap kali Rina memunculkannya. “Jadi kamu seneng? Nggak khawatir kalau aku sampai kenapa-kenapa?”


Rina menggeleng dengan senyum yang belum pudar.


“Tega kamu ya.”


Bukannya sedih, Rina justru kian melebarkan senyumnya. “Karena aku yakin kamu nggak bakal ngebiarin orang-orang tadi membuat kamu kenapa-kenapa,” ucak Rino kemudian.


Setelah selesai mengancingkan piyama, Dika segera menyibak selimut yang istrinya gunakan dan menyembunyikan tubuhnya di sana juga.


“Apa kabar anak Papa, baik-baik saja kan?” tanya Dika sambil mengusap lembut perut Rina.


“Baik papa…” jawab Rina dengan mengecilkan suaranya.


Dika merendahkan tubuhnya dan mencium perut Rina yang masih rata. Hanya beberapa detik Dika bertahan di posisi ini sebelum tubuhnya ia tegakkan kembali. Keduanya kini bersandar dengan tangan saling menggenggam.


“Emang nggak apa-apa ya kalau kamu cuma fokus ke es krim dan menyerahkan semua pada Andre sekarang. Apa nggak khawatir semua berantakan?” tanya Rina pada suaminya.


“Andre itu sangat hati-hati dan teliti. Ditambah sekarang Dedi sudah kembali, tinggal menunggu ia membereskan semuanya pasti dia tak akan keberatan membantu aku di kantor lagi,” jelas Dika.


“Tapi kan dia dokter, pasti sibuk kan?”


“Masih sempet lah. Pokoknya dia sudah bilang iya.”


“Terserah lah."


Dika meraih kembali tangan Rina dan menciumnya sekilas. “Meskipun sudah cukup aman secara medis, tapi aku masih khawatir kalau kamu pergi-pergi sendiri.”


“Tapi aku nggak akan mungkin membiarkan anakku dalam bahaya, jadi aku akan berhenti jika sudah sampai batasnya.”


Dika melepaskan tautan tangannya dan segera melingkarkan tangannya di tubuh Rina. Istrinya ini memang sangat keras jika sudah punya keinginan. Seperti sekarang ini saat mengerjakan proyek es krim, dan seperti dulu saat ia kekeh untuk menyembunyikan pernikahan.


“Sekarang rencana kamu apa?” tanya Dika setelah sebelumnya sedikit melonggarkan pelukannya.


“Emm, mungkin nggak ya kalau launcingnya sebelum usia kandunganku tujuh bulan?” deang ragu Rina bertanya.


“Mungkin sih, asal kan kamu nggak keberatan kalau kita menambah personl tim, sehingga pekerjaan juga lebih cepat diselesaikan.”


Rina mendongak dan menggeleng saat pandangan keduanya bertemu.


“Terus? Memang kamu ada solusi biar bisa selesai cepat tanpa perlu menambah personil?” Dika coba mengumpankan pertanyaan.


“Ya kalau aku sudah punya solusi ya langsung aku eksekusi nggak stay away aja kayak gini,” kata Rina.


Dika menghela nafas. Ia kemudia memutus kontak dengan istrinya sebelum kembali mengeratkan pelukannya. “Aku coba diskusi sama Andre ya, siapa tahu dia punya salusi untuk hal ini.”


Rina mengangguk dalam pelukan Dika. “Maaf sayang ya…”


“Nggak apa-apa…” jawab Dika sambil membelai lembut rambur istrinya.

__ADS_1


“Aku nggak mau bilang ini ngidam atau apa, yang jelas aku ingin sekali mempersembahkan sesuatu untuk anak kita saat lahir nanti.”


“Sayang, entah itu ngidam atau apa pun, yang jelas apa pun keinginanmu, apa pun yang bisa bikin kamu bahagia, akan berusaha aku wujudkan. Termasuk ngidam. Selama itu ada jalan untuk mewujudkannya, pasti akan aku wujudkan.”tiba tiba Rina menarik tubuhnya dari pelukan Dika.


“Ada apa?” tanya Dika yang terkejut dengan gerakan istrinya yang tiba-tiba.


“Kamu manusia kan?”


“I, iya lah. Kamu lihatnya gimana?” tanya Dika yang sebenarnya bingung dengan pertanyaan istrinya yang lari dari tema.


“Manusia sih, tapi kok bisa seenaknya memastikan sesuatu,” jelas Rina masih dengan ekspresi yang sama.


“Dih…” Kedua bibir Dika tertarik sempurna. “Kamu suka nggak jelas,” lanjutnya sambil menangkup wajah Rina. Ia mencubit gemas pipi Rina, menguyel-uyel, dan menciuminya. Dan yang diperlakukan demikian hanya tertawa karena geli dan bahagia yang datang secara bersama-sama.


***


“Beneran nggak mau di sini saja?” tanya Andre saat ia dan Hana tengah bersantai sambil menonton film di kamar yang pernah mereka tinggali bersama.


“Aku ke Risma ya.”


“Memang kenapa sih Han? Apa tinggal di sana lebih enak dari pada tinggal di sini sama aku?” tanya Andre tak terima.


Hana yang semula menyandarkan kepalanya di dada Andre kini mengangangkatnya dari sana. Ia menatap Andre sejenak sebelum kembali ke posisi semula.


“Aku hanya tak ingin merusak hubungan baik antara kamu dengan kedua orang tuamu.” Cukup berat Hana mengatakan hal ini, karena seburuk apa pun dia, membunuh ego dan mengakui keberadaannya yang bisa merusak hubungan anak dengan orang tua itu bukanlah perkara mudah.


“Mereka sudah setuju Hana. Mereka sudah mengijinkanku menikah denganmu.”


“Tapi mereka belum ikhlas Ndre, dan aku sadar benar hal itu.”


“Tapi aku yakin mereka akan ikhlas dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Aku yakin kebaikan yang kamu akan melunakkan kekerasan hati mereka.”


“Andre. Kamu masih muda. Aku takut ini hanya emosi sesaat saja. Aku takut kamu akan menyesal jika kita sudah benar-benar bersama, tapi kamu kehilangan kedekatan dengan kedua orang tua.”


“Hana…”


“Andre…” Hana sengaja memotong ucapan Andre cepat cepat.


“Kalau kamu memang mencintaiku, ijinkan aku membuktikan diri dulu bahwa aku memang pantas untukmu.”


“Caranya?”


“Sesuatu yang baik akan jadi buruk jika cara yang kita gunakan itu buruk. So aku hanya ingin memperoleh yang baik dengan cara yang baik.”


“Jadi kamu setuju kita melanjutkan hubungan?”


Hana menggeleng.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2