
HAPPY READING
“Kalian belum mau pulang?” tanya Edo pada Andre yang terlihat memperhatikan Hana yang sibuk dengan banyak hal yang dikerjakannya.
“Dia belum selesai Pa,” jawab Andre sambil menunjuk Hana.
“Tapi acara sudah selesai, apa tak ada seseorang yang bisa ia pasrahkan untuk membereskan semua ini?” tanya Edo pada sang putra lagi.
“Masalahnya Rina hanya percaya pada Hana Pa, jadi semuanya hanya dia yang paham,” jelas Andre apa adanya. Ia tak ingin membuat cerita karangan hanya untuk menyenangkan orang tuanya. Ia ingin rasa suka itu muncul karena apa adanya Hana.
“Ya kamu bantu lah.”
“Andre juga nggak begitu paham Pa. Tadi aja sudah dibentak karena bikin ribet katanya.” Andre lupa jika ia sedang dalam misi membuat orang tuanya jatuh hati pada hana. Ia justru mengadu pada sang papa tentang perlakukan yang didapatnya dari Hana.
“Kok bisa gitu. Jangan-jangan kamu nggak bisa kerja lagi selama ini?”
“Tck, Papa ngomong apa sih,” jawab Andre yang mulai kesal.
“Ya itu, kamu nggak bisa kerja. Jangan-jangan selama ini kamu masih Dika pertahankan hanya karena kamu anak Papa?” tuduh Edo dengan mata memicing curiga.
Baru saja muncul, Edo sudah berhasil membuatnya jengkel. Bukan masalah hubungan Andre dan Hana lagi yang dipusingkan sekarang, tapi pria paruh baya ini mulai meluber membahas kemana-mana. Mau diacuhkan, tapi Andre takut durhaka.
“Apa kurang jelas gimana Andre bekerja selama ini? Bahkan untuk pulang saja Andre tak sempat.” Andre berusaha membela dirinya dengan mengangkat fakta yang dialaminya.
Edo tertawa kecil melihat anaknya yang terlihat berusaha menghindari perdebatan dengannya. Ia kemudian bergabung dan duduk di samping putranya.
“Papa kenapa nggak pulang?” tanya Andre yang terlihat tak suka meski ditahan.
“Kenapa? Kamu mau ngusir Papa?” sarkas Edo yang benar-benar menguji kesabaran anaknya.
Andre menatap heran. Kenapa tiba-tiba papanya mendadak menyebalkan.
“Ini sudah malam Pa, mama bisa ngamuk kalau nggak cepat-cepat Papa ajak pulang,” ujar Andre berusaha mempengaruhi papanya.
“Tenang, mama kamu sudah Papa pulangkan.” Dengan santai Edo bicara tanpa berhasil terpengaruh oleh ucapan anaknya.
“Kok bisa?” kaget Andre yang tak menyangka papanya seniat itu untuk menganggunya.
“Ya bisa lah. Meski mungkin asset papa tak sebanyak kamu, tapi untuk sekedar membayar sopir saja papa mampu,” ujar Edo dengan sombongnya.
“Lhah. Terus nanti Papa pulangnya gimana?” Andre masih coba mengamati. Barang kali ia bisa menemukan celah untuk membuat papanya pergi.
__ADS_1
“Ya kamu harus mengantar Papa dan menginap malam ini di rumah kita.” Edo cuek dan sama sekali tak menatap anaknya yang ia ajak bicara kini.
Tak hanya karena sikapnya, namun juga ucapan papanya yang membuat matanya terbuka lebar.
“Yah, mana bisa. Besok Andre harus ke kantor Pa.”
“Ke kantor ya ke kantor saja, apa masalahnya? Jangan bilang malam ini kamu mau berbuat curang ya dengan tidak memulangkan Hana?” todong Edo pada anaknya.
Andre mendelik. Tak mungkin lah seperti itu, karena Rio sudah berpesan untuk mengantarkan Hana ke rumahnya. Tapi mungkin iklan sebentar di jalan tak masalah kan ya? Batin Andre yang mulai sengkel otaknya.
“Ya masalahnya jarak rumah Papa ke kantor Andre itu jauh.” Andre masih berusaha mengungkap alasan yang masuk akal.
“Heh bocah, jangan lupa kalau dulu Papa juga bekerja di kantor yang kamu tempati sat ini. Bisa tuh Papa pulang-pergi dari rumah setiap hari. Asal ada niatnya aja. Beda lagi sama kamu yang memang sepertinya tak ada niat untuk pulang, karena mungkin lebih bisa menikmati kebebasan saat tidak ada mama dan papa yang tinggal di tempat yang sama.”
“Andre nggak gitu Papa.” Andre coba membela diri.
“Masa? Bukannya sampai ada janin gara-gara kecebong yang menyerang sebelum waktunya.” Edo berucap dengan santainya namun Andre sudah berhasil dibuat merah membara wajahnya.
“Maafin Andre Pa...” hanya ini yang mampu Andre ucapkan. Ia memang mencintai Hana tapi kelakuannya tak bisa dibenarkan mau dilihat dari sisi mana saja.
Edo mengangkat tangannya dan menaruhnya di pundak Andre.
Andre mengangkat wajahnya dan membalas tatapan tulus sang papa.
“Papa akan berusaha percaya jika Hana memang baik untuk kamu dan sebaliknya…” ujar Edo yang langsung mendapat hadiah wajah beku oleh anak tunggalnya.
Andre belum dapat mencerna dengan sempurna kalimat pertama papanya yang semula membahas tentang dosa masa lampau yang pernah dia lakukan. Kenapa juga harus membandingkan dosa Andre yang diyakini adalah terkait hubungan terlarangnya dengan Hana. Namun belum jelas juga, karena Edo hanya mengatakannya sekilas.
Namun saat Andre masih berusaha menerka dengan mencoba menafsirkan dari berbagai sisi, Edo sudah kembali memberikan gebrakan dengan kalimat multy tafsir yang ia ucapkan.
Andre menelan ludah. Meski ucapan Edo tak begitu lugas, tapi sudah berhasil membuat air mata Andre ingin tumpah.
“Papa merestui kami?” tanya Andre hati-hati.
“Apa pun itu sebutannya, yang jelas Papa tak mau kalau kamu salah langkah lagi…”
“Maksud Papa?”
“Kamu tinggal terpisah ya dengan Hana?” pinta Edo sungguh-sungguh.
Andre diam lagi. Mungkinkah papa akan memisahkan aku dengan Hana?
__ADS_1
“Sesegera mungkin atur pertemuan keluarga. Sebelum membahas hubungan kalian lebih lanjut, Papa merasa perlu memperbaiki hubungan dengan Galih yang kurang baik selama ini. Meski ia bukan pebisnis yang baik, tapi Papa rasa ia tetaplah seorang Papa yang ingin terbaik untuk putrinya.”
Andre menelan ludah. Ia terlalu senang hingga tak ada kata yang mampu ia ucapkan. Akhirnya luluh juga hati sang papa. Ingin sekali ia menghampiri Hana dan memberitahukan kabar bahagia ini. Memang Edo belum bisa suka, tapi jalan untuk keduanya sudah mulai terbuka..
“Sebelumnya, apa Papa boleh bertanya?” tanya Edo pada putranya yang diam saja.
“Boleh Pa. mau tanya apa?”
“Bagaimana status Hana dalam keluarga Rahardja. Ia anak sah atau ada di luar nikah?” Edo memang tak suka basa-basi sehingga ia terus terang bertanya masalah ini.
Andre menghela nafas. Ini adalah takdir kejam yang harus Hana jalani. Namun sepertinya ia tak bisa menyembunyikan hal ini dari papanya lebih lama lagi.
“Hana anak sah secara agama Pa. Meski hanya nikah siri, tapi pernikahan itu terjadi sebelum ada Hana dalam kandungan,” ujar Andre berdasarkan keterangan yang diperolehnya dari Galih beberapa waktu yang lalu.
“Kamu yakin?”
“Yakin Pa. beberapa hari yang lalu saya bertanya langsung pada Om Galih tentang masalah ini.” Andre menjawab dengan yakin, karena ia mendapat keterangan langsung dari yang bersangkutan, bukan gossip yang beredar bebas di berbagai kalangan.
Dahi Edo sempat mengkerut saat mendengan ucapan anaknya. “Berani sekali kamu.”
Entah ini pujian atau teguran, yang Edo lega dengan keterangan yang di dapatnya.
“Ya harus berani Pa. Andre tahu Tuhan tak membiarkan anak Andre lahir ke dunia karena takut jika Andre tak mampu melindunginya kelak, sehingga Tuhan mengambilnya sebelum Andre buat sengsara. Makanya Andre berusaha bagaimana pun caranya agar Andre bisa menghalalkan Hana dengan cara sebenar-sebanrnya pun tanpa meninggalkan bekas luka.”
Giliran Edo yang sekarang diam. Ia seperti dikuliti mendengar apa yang baru saja Andre tuturkan. Ternyata Anaknya bahkan lebih gentle dari pada ia yang tega sempat membawa heni dalam sengsara.
“Terimakasih Nak…” ujarnya dengan bangga.
“Untuk apa Pa?”
“Untuk kamu yang mau berjuang untuk kehidupan kalian.”
Dua pria beda generasi ini sesaat sama-sama diam.
“Pa…” panggil Andre saat papanya tak lagi meroasting dia.
Edo menghala nafas. Sepertinya ada hal besar yang sangat berat untuk ia katakan sekarang.
“Maafkan Papa.” Edo yang semula mengabaikan panggilan anaknya, tiba-tiba justru minta maaf seperti ini.
Bersambung...
__ADS_1