
HAPPY READING
Jika tadi Hana menunduk karena menahan air mata, kini ia masih menunduk dengan menahan senyum yang dengan kurang ajarnya tak mau dikulum. Ia kembali ke tempatnya dan sempat bertemu tatap dengan Rista yang masih nampak mengobrol serius dengan keempat rekan kerja Hana.
Dan terakhir, Andre pun masuk melewati semuanya dan kembali sibuk dengan pekerjaannya.
“Bagaimana Nona…” tanya Andre pada Rista yang dirasa telah menghabiskan banyak waktu untuk mempertimbangkan keputusannya.
Rista yang merasa dipanggil segera menoleh dan mendapati Andre yang siap berbicara padanya.
“Bagaimana?” tanya Andre lagi.
“Bisa kita keluar sebentar…” ujar Rista dengan nada serius.
Tanpa basa-basi, Andre pun setuju. Keduanya segera beranjak dari tempat masing-masing dan bersama-sama meninggalkan ruangan.
“Akhirnya…”
Hanya Eka yang bersuara, namun dilihat dari wajahnya nampak sekali kalau tiga yang lainnya juga merasakan lega yang sama.
“Ngobrolin apa tadi?” tanya Hana penasaran.
“Buanyaaaaaaaakkkk. Sampai kita bingung saking takut salah jawab,” jawab Anin.
“Hillihh. Dasar kaliannya saja yang nggak tahu apa-apa, makanya diajak ngobrol sedikit sudah kelimpungan” cibir Haning karena memang dia yang mendominasi dalam obrolan tadi.
Risma mengusap bahu Anin yang kini bersungut-sungut karena kesal.
“Ya udah, ya udah. Kalian yang terbaik pokoknya,” ujar Hana sambil merangkul ketiga rekannya. Sementara Haning nampak sibuk membenahi riasan.
Dan setelah beberapa waktu menunggu, akhirnya Andre dan Rista kembali ke dalam ruangan.
“Saya ucapkan terimakasih banyak terutama kepada Ibu Nuke yang bersedia bekerja sama dengan perusahaan kami dan juga berperan aktif dalam penjualan langsung produk kami,” ujar Andre membuka pembicaraan lagi.
“Untuk selanjutnya, saya serahkan pada Nona Rista untuk menyampaikan penilaiannya terhadap keempat kandidat dan siapa yang akan terpilih untuk bergabung dengan perusahaan kami,” lanjut Andre memberikan ruang pada adik bosnya ini.
“Well, baiklah…”
Rista mulai memberikan ulasan terkait pengamatannya terhadap keempat karyawan yang ada dimana dari keempatnya memang Haning lah yang paling menguasai strategi pemasaran dengan baik, namun soal fashion Anin lah yang berhasil membuat Rista terpaku karena selera fashionnya cukup mirip dengan dirinya. Sehingga ia akan merasa senang jika dalam timnya akan ada seseorang yang seperti Anin ini.
“Dan setelah mempertimbangkan kebutuhan perusahaan, ternyata saudari Anin lah yang paling cocok dan bisa lolos untuk bergabung dalam Surya Group di departemen desain. Bagaimana saudari Anin, apakan anda bersedia untuk bergabung bersama kami?”
Anin melongo tak percaya dengan apa yang baru saja Rista sampaikan. Selain Anin, Haning pun tak kalah terkejut karena saat nama Hana tidak disebut, ia sudah yakin dia menjadi satu-satunya yang akan terpilih.
__ADS_1
“Apa tidak salah?” protes Haning tak terima.
“Tidak. Apa kamu meragukan kemampuan analisa saya?” ujar Rista menimpali.
“Ya tapi kan…”
“Keputusan saya sudah final, dan tidak ada perankingan. Jadi jika saudara Anin tak berkenan mengambil kesempatan ini, maka tidak ada kandidat lain yang bisa maju untuk menggantikan,” putus Rista dengan nada tak terbantahkan.
Alis Andre sempat tertaut, sebelum kemudian kembali ke posisi semula. Bisa tegas juga anak ini. Batin Andre kemudian.
Sebenarnya Andre tak pernah menyiapkan scenario semacam ini dengan Rista sebelumnya. Ia hanya mengajak adik dari atasannya ini untuk ikut acara makan malam dan memberikan undangan secara terpisah pada Dedi. Sayangnya Dedi tak datang sehingga ia mengubah acaranya semacam ini. Sehingga gagal lah rencana double date setelah makan malam usai.
“Saya rasa acara malam ini kita cukupkan sampai di sini. Dan silahkan jika kalian masih ingin menghabiskan waktu di sini. Bill sudah atas nama saya, jadi kalian tak perlu sungkan kalau
mau pesan lagi. Selamat malam…” Dengan penuh rasa kecewa, Andre mengakhiri acara malam ini.
Rista juga ikut pamitan setelah Andre terlebih dahulu meninggalkan ruangan. Namun baru saja keluar ia sudah masuk lagi.
“Maaf, Hana bisa ikut saya…” ujar Rista yang berada tak jauh dari pintu.
“Saya?” tunjuk Hana pada dirinya.
“Iya. Di sini tidak ada yang namanya Hana selain kamu,” tegas Rista.
Tanpa lebih lama menunggu, Hana segera bangkit dan ikut bersama Rista. Di luar ternyata sudah ada Andre yang menunggu dengan senyum liciknya.
“Nggak apa-apa panggil nama saja,” jawab Hana tak enak.
“Ya aku yang nggak nyaman,” kekeh Rista.
Andre melepaskan lipatan tangannya dan merangkul pundak Hana. “Terserah bagaimana kalian saling memanggil, yang jelas sekarang ayo pulang.”
“Eeeehhh…”
“Kenapa Han.”
“Risma masih di dalam,” ujar Hana bermaksud menolak untuk pulang sekarang.
“Kak, sekertaris Andre ini tak mau mengantarku pulang kalau kamu nggak ikut pulang, jadi please ya pulang sekarang bareng kita,” pinta Rista dengan sungguh-sungguh.
Andre langsung membuang muka saat Hana menatapnya tajam. Tanpa berkata apa-apa, ia segera menarik Hana untuk berjalan bersamanya meninggalkan restoran. Ia sama sekali tak peduli pada Hana yang berusaha melepaskan diri, karena faktanya tenaga wanita ini tak sebanding dengan yang ia miliki.
“Andreeee…” Akhirnya Hana berhasil melepaskan diri saat Andre hendak membuka pintu mobilnya. “Ini aku masa kabur kabur gitu aja. Setidaknya ijinkan aku pamit dulu lah sama mereka.”
__ADS_1
“Paling Risma juga tahu kamu kamana?” cuen Andre sambil mendorong Hana untuk masuk ke mobilnya.
“Ya tapi kan…”
Rista mengatubkan bibirnya dan menggenggam jemari di sisi kanan dan kiri tubuhnya. “Kakak, ini sudah malam. Dan ada anak di bawah umur yang harus segera pulang…”
“Tuh kan…” Mata Hana mendelik tajam.
“Kok jadi nyalahin aku,” ujar Andre tak terima.
“Ya ini semua kan gara-gara kamu yang pakai mengajukan syarat aneh-aneh untuk mengantar Rista pulang,” kesal Hana.
Andre mendengus. “Ada HP kan sekarang. Cepet hubungi Risma dan bilang kalau kamu sama aku,” putus Andre
“Tapi…”
Andre segera menutup pintu untuk Hana dan ia sendiri juga segera masuk melalui pintu yang berbeda. Sekali lagi Hana pasrah saat Andre membawanya.
Tanpa ada yang tahu, seseorang nampak memperhatikan dari kejauhan. “Syukurlah kamu pulang…” gumam seseorang yang nampak berdiri di balik dinding.
Seseorang yang Andre nantikan tak benar-benar berhalangan untuk datang sebenarnya. Namun Dedi urung bergabung
karena ia tahu ada Rista di dalam, sehingga ia memilih untuk menunggui sampai mereka bubar. Ia sudah memeriksa bahwa tak ada pengawal yang datang bersama Rista, jadi ia ingin memastikan kalau wanita yang masih sangat diingininya ini bisa pulang dengan selamat.
Setelah ia memastikan mobil Andre berjalan, Dedi kemudian juga ingin segera pulang karena besok ia masih banyak pekerjaan.
“Pak Dedi belum pulang…”
Dedi cukup terkejut karena sapaan itu mampir seketika ia membalik badan. “Kenapa kamu masih di sini?” alih-alih menjawab Dedi justru balik bertanya.
“Saya kembali karena saya ingin memastikan bahwa anda sudah pulang.”
“Itu bukan tugas kamu bahkan bukan bagian dari urusan kamu,” kata Dedi mengingatkan.
“Tapi saya peduli dengan anda.”
“Dan saya tidak pernah minta.”
Dedi pun segera pergi, meninggalkan wanita yang dengan beraninya menyatakan ketertarikan padanya beberapa saat lalu.
“Pak, anda memang berhak tak peduli pada saya, tapi anda tak bisa mematikan perasaan saya.”
Dedi sempat berhenti mendengar ucapan wanita ini. Namun sedetik kemudian ia kembali berjalan dan segera masuk ke dalam mobilnya. Mobil itu pun melesat meninggalkan area parkiran.
__ADS_1
“Kalau karirku di Surya Group segera berakhir, setidaknya aku sudah berani mengngkapkan perasaan pada pria yang aku kagumi sejak masih menjadi karyawan magang 6 tahun lalu…” gumam Rahma sebelum membawa kakinya turut meninggalkan tempat itu.
Bersambung…