Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Ayah, Terimakasih


__ADS_3

Bimsalabim spam komen, prok, prok, prok...


HAPPY READING


Lepas isya’ Dika baru muncul di ruang rawat istrinya. Ia datang dengan membawa paperbag yang berisi baju ganti untuk dia dan Rina.


“Ma…”


Dika mencium tangan Mama dan mertuanya sebelum berjalan menghampiri istrinya yang tengah berbaring di atas ranjang dengan pakaian rumah sakitnya.


“Udah enakan?” tanya Dika setelah sempat mencium kening istrinya.


Rina mengangguk. “Belum ilang total, tapi udah nggak sesakit tadi.”


“Aku bawa coklat hangat, mau nggak?” tawar Dika pada istrinya.


“Mau,” jawab Rina.


Dika membawa kantong di tangannya ke atas meja kemudian membukanya. Ia membantu istrinya untuk duduk dan menyerahkan 1 cup coklat untuknya.


“Makasih sayang…” ujar Rina sambil menerima coklat yang Dika berikan.


“Sama-sama.”


Dika kemudian menatap mama dan mertuanya bergantian. “Ini aku beliin buat mama juga,” ujarnya.


“Makasih Nak, kamu taruh situ aja,” jawab Ririn.


“Aku ke Mas Rudi dulu ya…” pamit Santi karena Dika sudah di sana.


“Aku juga mau kesana Ma,” cegah Dika.


“Ya udah sekalian aja,” usul Santi.


“Ya jangan. Udah Dika dulu aja.” Dika menoleh menatap istrinya. “Aku tinggal sebentar ya,” pamit Dika pada Rina.


Dika bangkit setelah mendapat anggukan dari Rina.


“Saya nggak akan lama kok,”ujar Dika pada mamanya.


Dika berjalan lurus menuju pintu. Belum juga handle di pegang tiba-tiba pintu terbuka. Di sana muncul dua orang dengan jubah putih khas dokter dengan berhias senyum di wajahnya.


“Pas banget…” ujar Dika menyadari siapa yang muncul di sana.


Mendengar ucapan Dika, semua kompak menatap ke arah pintu. Semua tersenyum menyambut dua orang dokter yang datang untuk melihat keadaan Rina, yaitu dokter Halima dan dokter Rudi yang juga merupakan ayah dari pasangan muda ini.

__ADS_1


Namun ada satu orang yang terlihat tak suka saat melihat dokter Rudi berjalan dengan dokter Halima yang mengekor sedikit di belakangnya.


Nggak enak banget dilihatnya kalau cuma berdua. Batin Santi.


Sebenarnya tak ada yang salah, hanya saja dia tak suka melihat suaminya dekat dengan wanita, terlebih saat wanita itu terlihat lebih baik darinya, baik segi penampilan dan juga caranya membawa diri. Ia masih trauma dengan kegagalan yang pernah dialaminya dengan almarhum papa Dika.


Rudi berhenti di dekat Santi. Ia paham betul jika istrinya pasti tak suka melihat ia berjalan dengan wanita. Memang terdengar berlebihan, tapi Rudi tak masalah. Selama tidak keterlaluan, ia akan berusaha menjaga dengan baik perasaan istrinya. Sementara itu dokter Halima berdiri di dekat Rina setelah sebelumnya sempat menyalami Santi dan Ririn.


“Perkenalkan, saya dokter Halima, yang saat ini sedang menangani Nona Rina,” ujar dokter Halima memperkenalkan diri.


“Saya Ririn, Mamanya Rina.”


Dokter Halima membalasnya dengan senyum. “Ibu Santi apa kabar. Apa Ibu mengenal saya? Saya beberapa kali tak sengaja melihat ibu saat sedang berkunjung ke rumah sakit ini.”


Melihat bagaimana keramahan dokter Halima, membuat Santi memaksa diri untuk tersenyum dengan baik. “Maafkan saya, kemampuan mengingat saya kurang baik,” ujar Santi tak enak hati.


“Tak masalah Ibu, karena di rumah sakit memang ada banyak orang yang mengenakan jubah putih seperti saya,” balas dokter Halima.


“Bagaimana kondisi anda Nona, apakah kram di perut sudah berkurang?” tanya dokter Halima pada Rina saat merasa sesi basa-basinya sudah cukup.


“Masih terasa Dok, tapi tak sesakit tadi,” jawab Rina.


“Permisi ya, saya periksa dulu…”


Ini sebenarnya bukan waktunya dokter visit, tapi karena Rina adalah menantu pemilik rumah sakit ini, maka tak susah jika hanya untuk mendapat perlakuan semacam ini.


“Apa di sini sakit?” tanya Dokter Halima saat menekan lebih keras di tempat yang sama.


“Iya…” jawab Rina sambil meringis.


“Jadi gimana Dok?” tanya Dika saat dokter Halima  menegakkan tubuhnya.


“Apa Non Rina sempat makan makanan pedas, asam, berminyak, atau junk food dalam jumlah banyak sebelumnya?”


Rina menggeleng. “Bahkan suami saya menyiapkan koki baru di rumah khusus untuk membuatkan makanan sehat untuk kami. Tadi siang pun kami makan siang dari restoran yang berlabel healthy food,” terang Rina kemudian.


Dokter Halima mengangguk paham. “Apa Nona masih mengkonsumsi suplemen yang saya resepkan?”


“Masih Dok. Saya rutin meminumnya dan tak pernah sekali pun ketinggalan.”


Dokter Halima menatap Rudi dan Dika bergantian. Dalam diamnya ia tampak menimbang untuk mengatakan semuanya sekarang atau perlu meminta semuanya keluar meninggalkan ia dan yang bersangkutan saja.


“Apakah ada sesuatu yang serius?” tanya Rina yang sepertinya paham akan kegundahan dokter yang menanganinya.


Dokter Halima masih nampak menimbang.

__ADS_1


“Dokter katakan sekarang saja. Lagi pula semua yang ada di sini adalah keluarga Rina,” ujar Rina lagi.


Dokter Halima menghela nafas. “Ada kabar baik dan kabar kurang baik. Kabar baiknya adalah Nona Rina tak mengalami masalah kesehatan yang serius, kabar kurang baiknya adalah kandungan dari suplemen penyubur kandungan yang saya


berikan tidak dapat bekerja dengan baik pada tubuh Nona, sehingga menimbulkan efek samping diantaranya pusing dan keram perut seperti yang Nona alami,” jelas dokter Halima.


Rina tertawa kecut. “Saya pikir saya hamil.”


Degh!


Ternyata kamu juga punya pikiran yang sama. Jadi pasti kecewa yang saya rasa ini ada di hati kamu juga. Batin Dika.


“Nona harus sabar,” ujar dokter Halima.


“Jadi langkah apa yang selanjutnya dapat kami ambil Dok?” tanya Dika.


“Ada banyak metode yang bisa di tempuh, namun yang paling alami adalah ini. Selebihnya adalah rekayasa manusia yang dari segi agama saya sendiri kurang yakin bagaimana hukumnya.”


“Berarti Rina harus stop minum obat?” tanya Ririn menyela.


“Sebaiknya iya.”


“Ehm…” Rudi berdehem diikuti senyap yang langsung menyelimuti ruangan ini. Rudi sadar saat kini semua menatapnya. Menanti dirinya membuka suara. Tapi ia masih memilih diam, karena ini adalah rumah tangga Dika, anak tirinya.


“Apa saran Ayah untuk kami?” tanya Dika yang sudah hafal jika tak dipersilahkan, Rudi tak mungkin akan berani buka suara.


“Sebenarnya ada satu cara lagi." Rudi sengaja menjeda ucapannya, ia masih ingin melihat reaksi anak dan memantunya.


"Apa itu?" serempak Rina dan Dika.


Rudi menghela nafas. "Cara itu adalah berserah pada Allah, husnudzon pada qodo’ Allah, dan menerima semua qadar Allah.”


Rudi menjeda ucapannya dengan sebuah helaan nafas. “Secara agama hal ini adalah wajib hukumnya, sebagai mana disebutkan dalam rukun iman ke-enam yaitu iman kepada qodo’ dan qodar, iman kepada takdir Allah, yakin jika takdir Allah lah yang terbaik untuk umatnya.”


“Secara teori, dengan adanya keyakinan ini hidup kita akan lebih tenang, Dika dan Rina akan lebih tenang manjalani kehidupan dan tidak stress memikirkan apa yang terjadi pada kehidupan kalian kedepan.”


Rudi kembali menjeda ucapannya. Ia lega saat semua tampak menerima penjelasannya.


“Dan coba kita pikir lagi, bukankan dokter Halima juga sudah


mewanti-wanti jika treatment apa pun tak akan berhasil jika kalian stress, stress karena berharap terlalu tinggi, cemas saat usaha kalian belum juga menemukan hasil. Tapi jika kalian lepas dan memasrahkan semua pada Allah, maka stress itu akan hilang, kalian juga akan menjalani hidup dengan lebih tenang. Ingat, kesehatan jiwa dan raga itu merupakan kesatuan yang tak terpisahkan. Kalian jangan hanya sibuk mengatur pola makan, pola hidup, pola apapun yang tujuannya hanya untuk menjaga kesehatan badan. Kalian juga butuh mengatur pola pikir dan pola hati untuk menjaga kesehatan jiwa kalian.”


“Satu hal lagi yang tak boleh kalian lupa, hidup itu cuma sementara, yang kekal itu diakhirat sana. Nak, lepaskan, ikhlaskan. Insyaallah yang kelian dapat adalah yang terbaik dari Allah.”


“Ayah…” Dika segera memeluk Rudi. “Terimakasih…”

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2