Zona Berondong

Zona Berondong
Tanpa Kabar


__ADS_3

^^^Kalian kalau lagi berantem sama pasangan suka adu mulut apa perang dingin, 🤭^^^


...*H A P P Y R E A D I N G*...


Sudah 3 hari setelah pertemuannya dengan Awan, Dika tak berkomunikasi dengan Rina sama sekali. Rina juga merasa sepi, namun ia tak berani untuk terlebih dahulu memulai komunikasi. Dia merasa Dika adalah sosok yang berada di dimensi yang berbeda dengannya kini. Dika punya segalanya, fisik yang rupawan, dan kepribadian yang cukup menyenangkan. Rina yakin jika tak akan ada wanita yang akan menolak jika Dika sudah menginginkannya. Bahkan kalau boleh jujur, Rina juga menyesal telah mempermasalahkan hal yang sebenarnya tak begitu penting untuk diperdebatkan.


Orang tua sudah tahu semua, dan tak ada yang melarang hubungan keduanya. Tapi kenapa Rina mendadak mempermasalahkan status yang sebenarnya tak penting lagi karena sudah ada ikrar saling cinta dan restu dari orang tua.


Rina masih memejamkan mata. Mengingat dan merenungi kebodohannya. Aku kemarin hanya marah, merasa tertangkap basah seolah bertemu diam-diam dengan Awan padahal kenyataannya kami benar-benar tak sengaja.


"Rin, kayaknya bakal kosong nih sampai pulang. Mau balik sekarang atau entaran?" tanya Nita yang melihat Rina sejak tadi hanya diam dengan wajah yang tenggelam dilipatan tangan di atas meja.


"Bentar lagi deh. Gue bt juga kalau di rumah," jawab Rina tanpa mengangkat muka.


Nita mengangguk. "Gue haus, mau beli minum ke kantin bentar. Mau ngikut?"


Rina menggeleng. "Nitip cola aja."


Nita bangkit dan menepuk bahu Rina, ia berjalan keluar setelahnya.


Tak berselang lama Dian datang. Memang saat ini seluruh kelas XII sedang jam kosong.


"Nita ke mana Rin?" tanya Dian.


"Kantin," jawab Rina masih dalam posisi yang sama.


"Tumben lu nggak ngikut?"


"Males..."


"Eh, kok Dika jarang kelihatan anter jemput elu, ketemunya setelah doi pulang ngantor ya?"


"Tahu deh."


"Ih kok tahu. Lagi marahan ya?"


Spontan Rina menegakkan tubuhnya. "Di, bisa nggak sih nggak usah bahas Dika dulu, gue lagi nggak pengen, lagian nggak ada urusannya juga kan sama kamu!"


Dian menatap Rina tak percaya. "Lu kok gitu sih. Kan wajar gue nanya, gue kan temen elu."


"Temen ya temen, tapi nggak kudu ngerti semua urusan gua juga!" Rina yang sejak tadi ogah-ogahan bahkan untuk sekedar bersuara kini nampak emosinya meluap-luap bahkan tak segan untuk sedikit berteriak. Untungnya suasana kelas sedang ramai, jadi tak ada yang protes akan kelakuannya.


"Sumpah, lu nggak asik." Dian bangkit dan meninggalkan Rina begitu saja.


Rina ingin mencegah, namun ia urungkan. "Ah, bukan salah gue juga. Siapa suruh nyampurin urusan orang." Rina kembali melipat lengannya dan bersembunyi di sana.


Saat Dian hendak keluar kelas, tiba-tiba Nita datang dengan dua botol softdrink di tangannya. "Di, mau kemana kamu?"


"Temen lu nggak asik." Dian meninggalkan Nita begitu saja setelahnya.


"Di, Dian. Tunggu deh..."


Dian tak menghiraukan panggilan Nita. Dia terus saja melangkah menjauhi kelas mereka.


Nita menghela nafas, ia kemudian berjalan menuju bangkunya.

__ADS_1


"Nih..." Nita menyodorkan pesanan Rina.


Rina menegakkan tubuhnya dan menerima uluran Nita. "Thanks ya." Rina segera membuka botol itu dan meminumnya.


"Tadi Dian kenapa?" tanya Nita.


Rina menghela nafas. "Apa gue salah kalau gue nggak mau bahas sesuatu yang lagi jadi masalah gue?"


"Emangnya apa masalah kamu?"


"Tentang Dika." Rina menghela nafas. "Apa aku salah kalau nggak ngebahas semua masalahku sama kalian. Apa kalau teman itu nggak boleh punya ruang untuk menyimpan privasinya?"


"Emm, emang tadi kamu sama Dian kenapa?" Nita tak ingin segera berkomentar, ia terlebih dahulu ingin tahu apa yang sedang terjadi antara kedua sahabatnya sebelum ia dapat menyimpulkan bagaimana sebaiknya.


"Dian nanyain Dika. Aku nggak langsung jawab, tapi dia masih nekat nanya. Ya aku bilang aja itu bukan urusan dia. Aku bener-bener nggak lagi pengen ngebahas Dika Nit, lagi nggak enak banget ini." Rina kembali membuka tutup colanya dan meminumnya segera.


"Ya mungkin kamu emang terlalu kasar ngomongnya, tapi aku nggak ngebenerin Dian juga yang terlalu kepo sama urusan orang." Nita berusaha netral, agar tak memperkeruh masalah kedua sahabatnya.


"Udah jangan dipikirin," pungkas Nita sambil membereskan buku-bukunya.


"Aku nanti nebeng ya." kata Rina sambil melakukan hal yang sama.


"Sekalian ke rumah aja gimana, adik gue kan ulang tahun dan mau ada beberapa temen dia yang bakal ngerayain bareng di rumah. Sorry gue bilangnya dadakan, kemaren-kemaren lupa," kata Dian dengan menyengir.


"Ah elu mah." Rina menoyor Nit.


Bukannya marah, keduanya malah tertawa.


"Duh, adik elu ultah, gue belum siap kado lagi."


"Boleh deh boleh. Tapi nanti ke rumah dulu ya ganti baju."


"Sip. Gue kabarin Dian juga ya." kata Nita setelah selesai membereskan bawaannya.


Rina diam.


"Nggak ada niat kan buat berantem lama-lama?"


Rina menggeleng.


"Ya udah yuk."


Keduanya kemudian berjalan menuju kelas Dian. Namun ternyata Dian sudah tak ada di sana.


"Yah, doi udah pulang."


"WA aja gih," saran Rina.


"O iya ya." Nita segera meraih ponselnya dan segera mengetikkan sesuatu di sana. "Dah beres. Cabut yuk..."


"Oke..."


Mereka berjalan beriringan menuju mobil Nita. Mall adalah tujuan pertama untuk mencari hadiah yang cocok untuk Nina. Nina adalah adik Nita satu-satunya yang punya selisih jarak 2 tahun dengannya dan kini dia sedang duduk di bangku kelas 1 SMA namun di sekolah yang berbeda.


"Gue udah lama ya nggak ketemu Nina."

__ADS_1


"Iya lah, lu udah jarang main ke rumah kita."


"Iya sih..."


Mereka asik memilih berbagai pernak-pernik yang nantinya akan di jadikan kado jika dirasa cocok untuk Nina.


"Nina bakal suka nggak sih yang beginian?" tanya Rina sambil mengangkat sebuah bando berwarna pink.



"Ya ampun Rin. Adik gue udah remaja, pasti malu lah kalau suruh pakai yang begituan."


"Ini kan cantik..."


"Iya cantik, Nina juga girly, tapi itu terlalu bocah Rin..."


Rina coba memasangkan bando itu di kepalanya dan menunjukkannya pada Nita. "Bagus kan?"


Nita mengangguk. "Fix lu kayak bocah SMP, makanya yang nyantol berondong melulu."


"Lu kok gitu sih..." Rina merengut dan mengembalikan ke tempatnya.


Mereka lanjut mencari hadiah dan segera membayar ketika merasa telah menemukan yang cocok.


"Langsung ke rumah aja napa, lu bisa pakai dress gua. Acaranya tuh jam setengah 3 Rin."


Rina nampak menimbang. "Oke deh, gue kabarin mama." Rina tampak mengetikkan sesuatu di ponselnya. "Dian bisa dateng?" tanya Rina setelah selesai mengabari mamanya.


"Kayaknya bisa."


Tak berselang lama mereka sudah tiba di rumah Nita. Mereka segera bersiap dan bergabung dalam acara sederhana di taman belakang rumah Nita.


"Ya ampun Rin, kamu cute banget tahu nggak," kata Nita saat Rina selesai dengan riasan dan bajunya.


"Kok cute sih."


"Iya lah. Jadi anak SMP aja masih pantes tahu nggak."


"Ck. Bilang aja lu nyindir tinggi badan gue."


"Hehe, yuk ah, gabung sama mereka."


Baru saja muncul dari balik pintu, seseorang sudah begitu terpukau akan penampilan Rina. Perlahan orang itu mendekat ingin segera menyapa Rina.


Saat ingin menemui Nina, tiba-tiba Nita dipanggil mamanya.


"Mau ke Nina?"


Rina langsung menoleh karena merasa ada yang menanyainya. "Iya..." jawab Rina setelah tahu siapa yang baru saja berbicara padanya.


"Ayo..."


Orang itu segera menggandeng tangan Rina dan berjalan menghampiri Nina untuk mengucapkan selamat ulang tahun padanya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2