Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Sudah Tahu


__ADS_3

HAPPY READING


“Makasih Kak…,” ujar Hana setelah mendengar kalimat


menenangkan yang Rio dan Indah ucapkan.


“Terimakasih…” Andre meringis dan menggantung ucapannya. Ia ingin turut memanggil Rio dan Indah menggunakan panggilan yang sama dengan Hana, namun sedikit canggung rasanya karena hubungannya dengan Hana belum jelas sampai sekarang.


Sebenarnya apa yang terjadi hingga membuat Andre yang penuh percaya diri bisa menadak canggung seperti ini?


1 jam sebelumnya.


“Kenapa kamu lama sekali sih?” protes Andre karena Hana terlalu lama di kamar mandi.


Hana hanya menatap Andre sekilas sebelum menundukkan kepala. Melihat Hana  yang demikian, Andre juga sempat merasa kesal sebenarnya. Hanya untuk membersihkan wajah saja kenapa harus menghilang begitu lama. Ia sedang berusaha memperjuangkannya, tapi kenapa Hana seakan tak mempersulit langkah Andre bukannya membantunya menghadapi bersama.


“Aku…” Hana ingin menjelaskan, tapi ia juga tak punya penjelasan yang bisa diucapkan.


Andre menghela nafas dengan tangan terpejam. Ia kemudian bangkit dan membawa Hana untuk berdiri di sampingnya.


“Katakan sekarang jika memang kamu ingin berubah pikiran…” ujar Andre sungguh-sungguh terhadap Hana.


Hana kemudian menatap Andre sambil menggelengkan kepala. Andre diam-diam bisa bernafas lega sekarang. Sudut bibirnya bahkan sedikit tertarik meski pun samar.


Jujur Andre takut juga saat menghadapi kelabilan Hana hari ini. Ia takut Hana tiba-tiba berubah pikiran dan mengacaukan semua usahanya. Tapi syukurlah sekarang sepertinya Hana bisa diajak kerja sama demi masa depan mereka.


“Well. Aku rasa akan lebih nyaman jika kita ngobrol di sofa,” ujar Rio yang bangkit dari sisi Indah.


Andre mengangguk menyetujui. Ia kemudian berjalan ke sofa bersama Hana sementara itu Rio membantu Indah menata beberapa bantal untuknya bersandar. Setelah menemukan posisi yang nyaman untuk Indah, Rio lantas bergabung dengan Andre dan Hana.


“Kamu sekarang tinggal di mana?” tanya Rio sambil


sekilas menatap Hana. Tak berlangsung lama, karena ia segera memutus kontak untuk menyodorkan dua kaleng minuman ringan ke hadapan mereka. Sehingga Rio tak dengan intens menatap Hana saat menanyainya.


“Aku tinggal di…”Hana menunduk dalam. Tak lupa bibir pucatnya yang tanpa polesan menjadi pelampiasan.


“Di daerah mana sih kalian tinggal?” ulang Rio mempertegas pertanyaannya.


Mata Andre terbuka lebar saat mendengar pertanyaan Rio dengan nada santai terhadap keduanya. Andre yang merasa masuk jebakan pria yang mungkin sebentar lagi akan menjadi iparnya ini mulai kehilangan ketenangannya perlahan.


Memang Andre akui hubungannya dengan Hana berada jauh dari ambang batas kewajaran, namun tak berarti juga ia akan kehilangan rasa malu saat orang lain membahasa masalah ia yang tinggal bersama pasangan tak sahnya. Apa lagi ini adalah Rio, orang yang ia harap akan membawa hubungannya dengan ke dalam kehalalan.


“Kita sudah tahu…” Belum usai keterkejutan Andre dan Hana, Rio kembali melanjutkan serangannya sambil tersenyum menatap dengan Indah yang berbaring di atas ranjang.


Andre menghela nafas. Mungkin inilah saatnya.

__ADS_1


“Karena kalian sudah tahu, aku ingin langsung saja mengatakannya.”


Rio menggerakkan tangannya untuk mempersilahkan.


“Saya ulangi sekali lagi, saya ingin menikahi Hana,” ujar Andre sungguh-sungguh.


“Ya nikah saja…” cuek Rio yang tanpa beban saat mengucapkannya.


Andre menghela nafas. Kenapa Rio jadi dingin lagi. Padahal sebelumnya aku kira ia sudah bisa menerima Hana.


“Hana ini wanita, dan kita punya keyakin yang sama bahwa Hana butuh wali untuk menikah nanti.” Andre menjelaskan alasannya dengan lugas pada pria dua anak ini.


Rio menghela nafas. “Maaf jika perkataan saya mungkin akan menyinggung kalian…” Andre menggantung ucapannya. “Terlebih kamu Hana,” lanjutnya dengan menatap serius Hana.


Hana menelan ludah. “Katakan…” ujar Hana sebelum Andre sempat mengeluarkan suara.


Andre tahu wanitanya gelisah sekarang, tapi ia ingin menghargai Hana dengan tak menyela. Satu-satunya yang bisa ialakukan adalah dengang menggenggam erat tangan Hana.


“Aku tak pernah tahu pasti hubungan papa dengan ibu kamu dulu,” jujur Rio apa adanya.


“Maksudnya?”


“Ya aku nggak mengelak jika ternyata kita punya papa yang sama. It has meaning secara biologis kita memang saudara dengan ayah sama…” Rio sengaja menjeda ucapannya untuk dapat terlebih dahulu melihat reaksi Hana sebelum  memutuskan apakah ia memang harus menjeda ucapannya atau sebaiknya menyimpan kembalinya saja.


“Lalu…”


Andre mengeratkan genggamannya. Ia tahu kalimat sederhana ini bagi Hana tak sesederhana ucapannya. “Oke. Tell us the truth. Please…”


Rio membuka satu kaleng minuman dengan merk yang sama dengan yang diberikan kepada Andre dan Hana. Ia meminumnya sebagian kemudian meletakannya.


“Sorry Han. Aku memang menutup mata, menutup hati, menutup semuanya dari kamu. Aku membencimu dengan membabi buta hingga tak pernah sekalipu n aku berusaha mencari tahu tentang kamu.”


Rio menjeda ucapannya. Wajah Hana terlihat mengenaskan tapi ia sadar adik tirinya ini pura-pura tegar.


“Tapi akhirnya aku mulai iba sama kamu saat waktu itu kamu kehilangan calon anak kamu,” lanjut Rio.


Calon anakku juga, protes Andre dalam hati. Namun ia tak mau menyela dengan ucapan ini karena tak ingin merusak momen saat ini.


“Tapi sayang, saat aku ingin mengetahui semua, terlanjur tidak ada orang yang bisa menjadi clue untuk menjelaskan tentang masa lalu papa dan ibu kamu.”


“Kenapa?” tiba-tiba Hana bertanya. Entah kenapa untuk apa, yang jelas tatapannya lurus pada Rio.


“Karena aku juga pernah merasakan apa yang kamu rasakan Hana.”


Bukan Rio yang berkata demikian melainkan Indah. Tak hanya Hana, Andre pun nampak terkejut dengan apa yang baru saja Indah katakan.  Dari wajahnya, sejoli ini nampak ruwet dengan isi kepalanya. Mereka maunya menarik kesimpulan, tapi takutnya salah paham.

__ADS_1


“Twice time Hana. Hanya saja aku bukan wanita sebaik kamu yang kehilangan buah cinta karena sebuah ketidak sengajaan. Aku jahat Han, aku dengan sadar melakukannya.”


Makin bingun lah Hana. Mulutnya hingga menganga. Tanpa Andre dan Hana sadar, sekarang Rio tengah menyatukan kedua tangannya dengan jemari saling meremat satu sama lain.


“That ways, aku yakin untuk memperjuangkan kamu di depan Mas Rio. Kamu baik, bahkan I believe that you are better than me. Kenapa Mas Rio tidak bisa menerima yang seperti ini di saat hidup kami tak mulus juga.”


Andre menghela nafas. Ia lelah untuk menduga karena ia takut salah mengira.


“Ini gimana sih, kenapa otakku jadi lambat gini?” lirih Andre agar Indah tak membuatnya over thinking lagi.


Rio berdecak.“Astaga. Aku cabut penilaian tentang kamu yang cerdas selama ini,” cibir Rio yang kesal karena merasa Andre merusak momen mereka.


“Hadduh malu juga sih bilangnya,” sela Indah dari tempatnya.


“Twice time yang saya maksud itu adalah twice time hamil dan digugurkan. Dan please jangan tanya gimana ceritanya.”


Andre meringis sementara Hana nampak menelan ludah membuat mulut menganganya tertutup segera.


“Makanya, kalau kalian mau menikah ya sok…” lanjut Rio tak membiarkan Hana dan Andre canggung terlalu lama.


“Masalah wali?” tanya Andre mengingatkan lagi.


Rio menghela nafas. Kembali ia meminum minumannya sebelum mulai bicara. “We never know, kamu ada sebelum papa menikah atau sesudah menikahi mama kamu, atau bahkan mungkin tak pernah ada pernikahan. Hanya papa yang bisa jawab ini.”


“Sekarang berarti aku harus segera menemui Om Galih?” tanya Andre meminta saran.


“Ya,” jawab Rio singkat. “Kenapa sepertinya kamu buru-buru sekali, apa Hana sekarang…” Rio menggantung ucapannya.


Andre dan Hana sempat beradu tatap sebelum keduanya menggeleng dengan paniknya.


“Jadi intinya ini tadi direstuin nggak Mas…” Indah membuka suara untuk membreak out suasana akward yang tercipta di sana.


“Ya saya nggak ada hak untuk memberikan restu atau melarang hubungan kalian, jado go on,” jawab Rio dengan senyum tulusnya.


“Ini benar?” tanya Andre meyakinkan.


“Iya…” jawab Rio mantab.


“Terus kalau…” Hana menahan ucapannya dan ganti menunjuk dirinya.


“Kamu kenapa?” tanya Rio sengaja menggoda adiknya yang nampak gelisah lagi sekarang.


Hana menunduk lagi. Tiba-tiba Rio bangkit membuat wajah Hana turut terangkat karena mengikuti Rio yang bangkit dari tempatnya.


“Ini kan?” Rio merentangkan kedua lengannya.

__ADS_1


Tanpa menjawab lagi, Hana segera bangkit menghambur ke pelukan Rio.


Bersambung…


__ADS_2