Zona Berondong

Zona Berondong
Vitamin C


__ADS_3

...*HAPPY READING*...


Siang ini Rista begitu bahagia. Pasalnya ia berhasil meyakinkan Dika untuk mencari makan siang di area pantai tanpa embel-embel privat seperti biasa.


Dan kini bahkan ke kamar mandi pun Rista tak dibiarkan sendiri.


"Kakak masih di sini?" tanya Rista yang baru saja selesai buang air kecil di kamar mandi tempat mereka makan.


"Iya lah, bisa digorok Dika gue ntar."


Rista hanya menaikkan alisnya.


"Yuk Kak."


Keduanya berjalan beriringan.


"Kakak bawa uang?"


"Ada."


"Ke sana bentar ya?" Rista menunjuk penjual lain pantai.


"Pengen beli itu?" Dedi balik bertanya.


Rista mengangguk.


"Langsung pakai ya."


Senyum terbit di wajah cantik Rista. Ia mengangguk setelahnya.


Mereka kemudian berjalan ke stand penjual kain pantai.


"Rista mana sih?" Dika mulai gusar saat adiknya tak kembali juga.


"Kamu tenang ya." Rina coba menenangkan kekasihnya ini.


Dika masih memusatkan pandangan ke arah perginya Rista.


"Tenang lah bro, dia kan sama Dedi, masak iya Dedi mau bawa kabur adik lu," ucap Andre dengan tawa konyolnya.


Reaksi berbeda ditunjukkan Dika. Tangannya mengenggam erat hingga otot-ototnya tercetak jelas.


"Yang macem-macem bakal mati di tangan gua."


Wajah Andre berubah seketika. Ia merasa candaannya keluar di saat yang tak tepat. Ucapan Dika dengan suara tertahan itu membuat yang mendengar merinding seketika.


Rina hanya berusaha mengelus punggung Dika, berharap emosi ya segera mereda.


Dika merogoh ponselnya. Ia nampak bangkit dan segera menghubungi seseorang.


Kelima orang di sana saling beradu pandang. Kelimanya enggan bersuara karena tak ingin salah ucap dan membuat suasana semakin tak nyaman.


"Temukan adik saya sekarang juga!"


Volume suara Dika sedikit meninggi, membuat lima orang itu dapat mendengar kata-kata tak terbantahkannya.


Jika Miko dan Nita berusaha acuh dengan apa yang baru di dengarnya, namun Andre justru terlihat begitu penasaran.


"Orang macam apa sih Dika ini?" bisik Andre pada Dian.


Dian hanya menggidikkan bahunya.


"Gue penasaran sama dia."


Dian mengangguk. Kembali ia hanya menjawab tanpa suara.

__ADS_1


Tak ada suara hingga Dika kembali duduk di samping Rina.


"Sayang, gimana?"


Dika meraih wajah Rina.


"15 menit Rista nggak kembali, aku bakal cari dia dan kalian tolong tunggu di villa."


"Orang-orang kamu...?"


"Mereka udah bergerak."


Rina menghela nafas. Semua serba diawasi. Apakah nyaman hidup seperti ini?


"Hai, hai..."


Semua dapat bernafas lega, bahkan sebagian nampak mengurut dada.


Dika langsung bangkit dan memeluk adiknya.


"Ada apa sih Kak?" tanya Rista yang tak paham dengan apa yang terjadi di sana.


"Kamu tadi kemana Dik?" tanya Dika sesaat setelah melepas pekukannya.


"Beli ini Kak," kata Rista sambil menunjukkan kain pantai yang dililitkan di bagian bawah tubuhnya.


"Kamu kan harusnya bilang dulu."


"Kan aku sama Kak Dedi."


Dika menatap kesal sahabatnya.


"Sorry, gua tadi kesenengan saat bilang Rista nggak nyaman sama celananya yang kependekan, makanya langsung gue anter saat dia bilang pengen beli kain ini."


"Lu kudunya ngomong Ded."


"Bilang sama orang-orang kalau Rista udah balik."


Dika mulai terbiasa bosy bahkan saat tak dikantor seperti ini. Dedi langsung menjalankan apa yang Dika minta.


"Maaf ya udah bikin kalian nggak nyaman. Aku cuma trauma Rista pernah hilang."


"Oh, pantes," sahut Andre.


Ungkapan Andre berhasil mewakili rasa penasaran Miko, Nita, dan Dian kekasihnya.


"Ya udah, enaknya ngapain habis ini?" tanya Dika sambil melanjutkan makannya. Memang sudah dingin, tapi ikan bakar ini masih terasa nikmat karena tempat dan suasananya yang nyaman.


"Nyantai sambil nikmatin suasana pantai aja kali ya," usul Rina.


"Mau nikmatin suasana laut atau snorkeling mungkin?"


"Wah seru tuh, apa lagi kalau bisa mancing tengah laut." Andre memang tak bisa terlalu lama diam. Banyolannya sudah kembali bersama dengan kembalinya Rista.


"Bisa."


"Ha? Beneran?"


Bukannya senang Andre justru terkejut karena udenya diiyakan begitu saja. Atau sebenarnya ia terlalu senang hingga tak lagi mampu tertawa.


"Kamu apaan sih."


Andre meringis saat mendapat cubitan tiba-tiba dari Dian.


"Iya beneran. Kapalnya nggak perlu nyewa, tapi dikasih pinjem gratis."

__ADS_1


"Kok bisa?" kaget Dian.


"Bisa lah. Yuk siap-siap." Dika bangkit begitu saja bersama Rin di sampingnya.


"Udah gue bayar," kata Dika saat Miko hendak menuju kasir.


"Gila, dapet sponsor apa ya, gratis terus dari tadi," celetuk Andre.


Kali ini ia berhasil membuat Miko ikut tertawa.


***


Snorkeling, parasailing, banana boat, flying fish, sudah mereka jajal. Tak puas dengan snorkeling, kini mereka menjajal wahana sea walker.


Kedelapan remaja itu sekarang tengah bersiap di atas kapal. Namun hanya enam yang siap menggunakan helm khusus seperti astronot. Helm ini terhubung dengan tabung oksigen di atas kapal sehingga bisa berjalan di kedalaman laut dan memberi makan ikan-ikan selama kurang lebih 30 menit kedepan.


"Kamu yakin nggak ikut?" tanya Rina pada kekasihnya.


"Aku nemenin kamu aja."


Di sinilah mereka. Berpindah ke kapal pesiar pribadi yang dulu dibeli oleh papa Dika. Mereka kini berada bagian kapal paling atas menikmati laut dari permukaan.


"Udah pakai sun block?" tanya Dika sambil menyusuri pundak dan punggung Rina yang terbuka.


"Udah tadi," jawab Rina sambil meminum orange juice di tangannya.


"Perlu tuch up?"


"Emm, boleh deh."


Rina bangkit dan berjalan menuju tasnya. Ia segera menyerahkan sun block SPF tinggi kemasan tube itu pada kekasihnya.


Rina kemudian duduk membelakangi Dika.


Dika membuka kemasan sun block dan mengeluarkan isinya.


"Kamu lebih suka cewek yang kulitnya putih apa gelap?" tanya Rina saat merasa punggungnya di sentuh dengan lembut.


Dika memastikan semua bagian terlindungi dengan baik.


"Aku suka kamu," jawab Dika sambil mengoleskan cream di tangan kanan dan kiri Rina secara bersamaan.ia bergerak lembut ke atas dan kebawah, memastikan creamnya merata.


Rina memiringkan tubuhnya sehingga bisa langsung menatap wajah Dika.


"Bukan gitu. Tapi kalau disuruh milih."


Dika tak langsung menjawab. Ia masih asik mengoleskan cream di bagian depan tubuh Rina yang terekpos.


Dika kemudian bergeser dan menata kaki Rina di atas pahanya.


Berkat kain pantai yang tadi di beli Rista, bagian paha Rina bisa aman, namun kini Dika menyingkapnya sedikit di atas lutut agar lebih leluasa mengoleskan cream di sana.


"Aku suka kamu, sejak awal kenal kamu yang berambut sebahu, hingga kini yang tinggal sepundak saja."


"Ya maksudku kamu lebih suka aku gimana?"


Rina membenahi duduknya dan tanpa sengaja membuat bagian pahanya nampak semua hingga batas hot pant yang semula ingin ditutupinya.


Alih-alih menegur, Dika justru mengoleskan sun block di sana juga.


"Aku suka kamu. Aku suka apa pun yang ada di diri kamu. Aku begitu menyukaimu, sampai aku nggak tahu lagi gimana caranya nahan diri untuk miliki kamu, so..."


"Segera menikahlah denganku."


Dika tak memberi kesempatan pada Rina untuk menjawab. Dia langsung me***at bibir Rina dengan rakusnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2