
...*HAPPY READING* ...
"Maafin gue juga."
Kedua sahabat itu saling berpelukan.
"Berantem ternyata bikin kangen ya..." kata Rina saat keduanya sudah melepaskan pelukan.
"Emang lu kangen sama gua?" tanya Dian.
"Kagak," jawab Rina cepat.
"Tapi gue kangen...." kata Dian sambil kembali memeluk erat Rina.
Dan tiga bersahabat itu kembali tertawa bersama.
Canda tawa itu berlanjut ke kantin karena ini memang waktunya istirahat.
Kelimanya saling bercanda ria, dan tanpa disangka Andre lebih gampang akrab dengan teman pacarnya ketimbang Miko yang lebih banyak diam saat bersama.
"Kapan-kapan triple date asik kayaknya."
Iya. Inginnya Rina menjawab demikian, namun apa daya, untuk sekedar bertukar kabar saja sulit sekali untuknya dan Dika saat ini.
"Gimana Rin?" tanya Dian yang berhasil memecah lamunan Rina.
"Aaa..." Rina menghela nafas. "Susah kayaknya. Sampai jam segini aja Dika belum ada kabarnya."
"Cowok kamu kuliah?" tanya Andre.
"Ia nerusin usaha orang tuanya Ndre..." terang Dian.
"Pengusaha muda dong."
Rina hanya meringis menanggapinya. Memang belum ada yang tahu dengan jelas bagaimana dan seperti apa Dika, karena Dika meminta Rina untuk tak perlu membahas hal ini dengan siapapun termasuk kedua sahabatnya. Lambat laun semua akan tahu namun setidaknya sekarang belum dan Dika masih dapat bergerak dengan lebih leluasa.
Ketiganya melanjutkan obrolan dengan diselingi makan hingga akhirnya harus berpisah kembali ke kelasnya.
...***...
"Maaf kan saya, kita belum berhasil kali ini."
Itu adalah kata-kata penutup Dika pada rapat evaluasi siang ini. Ia segera meninggalkan ruang rapat dan bergegas menuju ruangannya.
Begitu memasuki ruang kerja yang dominan warna putih dan silver ini, Dika segera melepas jasnya dan melonggarkan dasinya.
Dika memijat keningnya sesaat setelah membanting tubuhnya di sofa.
Tak berselang lama Dedi masuk menyusulnya.
"Jangan stress gitu lah bos, ini kekalahan pertama dan sebelum-sebelumnya goal semua."
Ucap Dedi sambil menyalakan rokoknya.
"Hallah gaya lu. Situ lagi stress juga kan, makanya main nyalain rokok aja gak peduli lagi di ruang ber-AC."
__ADS_1
Dedi terkekeh, menyadari betapa ia tak mampu menyamarkan perasaannya di hadapan orang lain.
"Gue kangen sama adik lu," ucap Dedi setelah hembusan pertamanya.
Dika bangkit dan meraih benda kotak di dekat sahabatnya. Dan kini mereka tengah asik bergumul dengan asap di ruangan yang sama.
"Sayangnya lu belum boleh kalau punya pikiran pengen nikahin adik gua."
Dedi masih setia memandang ke sembarang arah.
"Gue nyadar belum cukup mampu untuk sekedar punya pikiran itu."
"Lu bener-bener ya!"
Dika menatap garang sahabatnya ini. Namun bukannya takut, Dedi justru balik menatapnya.
"Emang apa yang lu pikirin?" tanya Dika lagi.
"Apa ya..." Dedi mematikan rokoknya yang tak ada setengah itu.
"Lah...."
Dedi mengulas senyum lebarnya. Menertawakan 'ingin' yang seharusnya belum boleh terbayang di benaknya.
"Hoey!"
Dedi menghela nafas.
"Gue sering lupa kalau adik lu masih anak-anak. Bawaannya pengen gue ajak nikah aja. Gue kangen rasanya punya keluarga."
"Gue ngerasa udah bisa memanage kehidupan pribadi gue, so tambah satu orang untuk jadi prioritas kayaknya bukan sesuatu yang berat."
Mendapati keseriusan dalam ucapan sahabatnya, akhirnya Dika memutuskan untuk menonaktifkan mode bercandanya.
"I know. I know you so well. Your life journey is harder than me. Thus, no one doubts that you are mature enough than me. Sekali lagi aku tegaskan, jika kamu emang lebih dewasa dari aku."
"Tapi, ini Rista, bocah 13 tahun yang bahkan untuk urusan pembalut aja masih nanya mama. Saat ikut sama aku, aku bahkan harus minta bantuan Rina untuk mengurus kebutuhannya."
"Karena apa? Karena aku sama sekali nggak tahu dan Rista juga nggak paham betul dengan apa yang ia butuhkan."
"Belum lagi kalau dia hamil dan punya anak. Bagaimana..."
"Oke, stop, stop." Cepat-cepat Dedi memotong ucapan Dika. Jika tidak, ia khawatir sahabatnya ini akan tambah stress, karena baru beberapa jam yang lalu mereka kalah tender, dan yang mengalahkan itu adalah Rio.
Dear, masih pada inget Rio kan?
Bagus lah kalau masih pada inget.
"Gue cuma mau bilang, intinya gue sayang sama adik elu, dan I will waiting for her sampai waktunya tiba."
"Dan namanya manusia wajar dong kalau udah siap nunggu lama itu pasti ada harapan besar dibaliknya."
Dika mengangguk.
Tak lama berselang ada seseorang yang mengetuk pintu.
__ADS_1
Dedi berjalan menuju pintu untuk dapat melihat siapa orang itu.
Seorang wanita cantik dengan kisaran usia 25 tahun masuk membawa dua cangkir kopi.
"Mas kopinya..."
Sangat jelas suaranya dibuat-buat. 2 kancing terbatas yang entah sengaja atau tidak terbuka itu membuat isi di dalamnya menyembul keluar.
Jika biasanya laki-laki akan menyukai pemandangan seperti ini entah mengapa dua pemuda ini justru merasa risih, terlebih Dika yang bahkan enggan untuk menatapnya.
"Nama kamu siapa?" tanya Dedi begitu wanita ini selesai meletakkannya dua cangkir kopi di meja Dika.
"Diana Mas..."
Dika tanpa sengaja bergidik mendengar bagaimana wanita itu berbicara.
"Pertama, perbaiki cara bicara kamu. Sejak kapan diperkenankan menanggalkan sebutan pak pada atasan."
"Kedua..."
Dedi tak jadi membuka mulutnya saat mendengar Dika bersuara.
"Saya rasa aturan berpakaian di kantor ini cukup jelas. Jangan pernah bekerja jika kamu belum selesai merapikan pakaian. Saya mendadak hilang selera sama kopi yang saya minta."
"Silahkan keluar dan bawa dua cangkir kopi ini. Lagian tadi saya menyuruh OB yang membuatnya, jadi seharusnya OB saja yang membawanya masuk. Kamu nggak perlu repot-repot mengambil alihnya."
"I, iya Pak..."
Nada suaranya berubah, cepat-cepat ia mengambil kopi itu dan meletakkannya kembali diatas nampan.
"Diana..."
Yang dipanggil pun segera berhenti setelah memegang gagang pintu.
"Perbaiki attitude dan cara berpakaian kamu, jika kamu masih mau bertahan di sini."
Dika memutus kontak begitu saja dan segera memusatkan pandangan pada ponselnya.
Terlihat jelas wanita ini begitu gugup dan ingin segera keluar dari ruangan orang nomor satu di perusahaan ini.
Prok prok prok prok
Tepuk tangan tunggal menggema di ruangan ini setelah hanya tersisa 2 manusia di sana.
"Lu apaan sih," protes Dika atas kebisingan sahabatnya.
Dedi melebarkan senyumnya. "CEO kita ini the best emang. Nggak lihat gimana dia gemeter."
Dika menyugar rambutnya dan menatap keluar jendela.
"Aku hanya ingin belajar dari kesalahan almarhum papa. Menjadi arogan adalah tuntutan. Jika aku dengan posisiku sekarang terlalu baik, maka akan mudah disalah artikan."
"So, stay beside me, and play the good person role. Kita bagi peran dan akan ku jadikan kamu wajah kedua dalam perusahaan ini."
Ini sungguh pencapaian luar biasa untuk Dedi. Tapi entah mengapa ia justru merasa cemas. Apa takdir memang tak mengijinkannya untuk mengejar cita-cita?
__ADS_1
TBC