Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Dia Anak Saya


__ADS_3

HAPPY READING


Sejak Andre muncul bersama Hana tadi, belum pernah sekali pun Galih mengeluarkan suara untuk keduanya. Padahal dibanding Mustika atau kedua orang tua Indah, seharusnya ia yang menjadi satu-satunya orang dekat Hana di sana. Namun nyatanya justru ketiga orang ini yang lebih banyak berkomunikasi dengan Hana daripada ia sendiri.


Saat semua sedang sibuk dengan masing-masing isi kepalanya, tiba-tiba pintu terbuka dengan seorang suster mendorong box berisi bayi yang baru saja Indah lahirkan. Spontan semua menghampiri dengan tak sabar untuk melihat lebih bayi yang baru saja Indah lahirkan ini.


“Yah, cowok ya, kok cowok sih…” celetuk Rida yang nampak kecewa dengan kelahiran adik laki-lakinya ini.


“Cowok cewek sama aja Rida, yang penting sehat,” ujar Hana menghibur keponakannya.


“Pasti sama aja kayak Rangga, yang sama mama nggak boleh diajakin main boneka.” Kesal dan kecewa yang Rida rasa justru mendapat reaksi sebaliknya oleh para orang tua yang melihatnya. Pasalnya Rida mempunyai wajah yang terlalu imut dan lucu sehingga saat seperti ini pun ia gagal menyeramkan namun justru terlihat kian menggemaskan,


“Tenang saja, masalah adik perempuan serahin saja sama tante Hana,” ujar Andre yang menghampiri Rida dengan Rangga di dalam gendongannya.


Semua menyambut tawa candaan Andre, dan suster pun melanjutkan langkahnya membawa bayi Rio dan Indah ke dalam ruangan.


“Perlu ikut nggak, nanti kalau ketuker gimana?” panic Mustika saat melihat cucunya dibawa menjauh dari mereka.


“Yang seperti itu hanya ada di drama Tante, insya Allah ayah saya sudah mempersiapkan yang terbaik untuk pasien,” ujar Dika yang nampak sekali mendukung ayahnya.


Ucapan Dika di sambul lega para nenek di sana. Namun di sisi lain Galih masih membeku meski Rudi sudah berusaha mencairkannya sejak tadi.


“Pak Galih, apa tidak ada keinginan dari anda untuk mengantar mereka ke jenjang pernikahan?” tanya Rudia tanpa basa-basi.


Glek!


Galih menelan ludah. Rasa-rasanya ia sudah tak mampu lebih lama bertahan untuk mengacuhkan dokter yang punya kesabaran berlapis ini.


“Punya hak apa saya?” Galih balik bertanya seoalah ia tak peduli dengan masalah ini.


“Hak sebagai papa terhadap anaknya,” ujar Rudi yang masih terdengar begitu santai terhadap rival abadi sejak almarhum Hendro hingga kini kepemimpinan sudah beralih pada Dika, anaknya.


“Dia tidak pernah ada dalam kartu keluarga saya,” ujar Galih yang masih berusaha menampakkan sikap tak pedulinya.

__ADS_1


Rudi menghela nafas. Sepertinya umpan yang ia pasang mendapat mangsa. Samar-sama sudut bibirnya tertarik, dan ia tahan agar nampak biasa saja.


“Itu yang ingin saya tahu. Bagaimana hubungan kalian sebenarnya?” Rudi kembai bertanya dengan nada datarnya.


“Anda sudah tahu, kenapa harus bertanya,” sarkas Galih yang nampaknya tak mau gegabah dalam berbicara.


“Kalau memang Hana tak ada sangkut pautnya dengan Anda, mungkin saya akan segera mengatur pernikahannya dengan Andre karena salah satu hal yang menjadi halangan keduanya untuk melangsungkan pernikahan adalah keberadaan Anda. Jika anda memang papa Hana, maka restu Anda sangat dibutuhkan dan kehadiran anda sebagai wali nikah juga diperlukan. Jika tidak, ya sudah...”


Galih kembali diam. Tangannya terkepal menahan kesal terhadap dokter yang berhasil mengaduk-aduk emosinya namun dengan gaya tang sangat santai.


“Salah satu syarat sah pernikahan adalah adanya wali dari pihak perempuan. Namun melihat kondisi Hana yang sebatang kara, ia bisa naik pelaminan dengan wali hakim saja. Dan semua yang haram akan berubah jadi halal seketika.”


Galih mengeratkan kepalan tangannya. Saat dia hendak jual mahal, kenapa dokter ini masih saja bisa menemukan celah untuk melemahkan posisinya.


“Dia anak saya,” ujar Galih akhirnya.


Kembali sudut bibir Rudi tertarik. Namun sebisa mungkin ia tak mengeluarkan ekspresi yang berlebihan.


“Ya meskipun secara biologis dia anak Anda, namun anda tak perlu merasa punya beban berlebihan terlebih karena Hana sudah dewasa. Karena secara Islam, anak yang ada di luar pernikahan itu anak ibu jadi anda tak perlu merasa bertanggung jawab hingga sejauh ini.”


Sepertinya pria paruh baya ini sudah tak dapat membendung emosinya karena terus Rudi permainkan sejak tadi.


Andre hendak mendekat namun sekali lagi Dika menahannya. Hal ini juga membuat orang lain di sana turut memperhatikan Galih yang sejak tadi diam namun tiba-tiba nampak emosi seperti ini.


“Atas dasar apa anda bisa merendahkan saya seperti itu. Saya bahkan tak cukup baik mengenal anda, dan saya juga sama sekali tak pernah membahas Anda yang merebut istri sahabat Anda.”


Andre mengeratkan giginya saat tiba-tiba tangan Dika yang memegang bahunya meremas dengan kuat di sana. Bagaimana tidak panas, saat Rudi di serang otomastis dia juga akan terbawa karena ia adalah bagian di dalamnya.


Rudi tersenyum. Senyum yang ia paksakan hanya untuk membuatnya nampak tenang.


“Saya tidak mau berbalas kata pak Galih, karena menguliti kekurangan manusia yang merupakan tempatnya salah dan dosa itu tak akan ada habisnya. Saya hanya khawatir Hana dan Andre terjebak dalam dosa jika sebagai orang tua kita terus mempersulit hubungan mereka.”


Galih menelan ludah. Tidak mungkin ia memukul Rudi di tempat ini sekarang. Selain karena kalah umur, ia juga kalah postur. Meskipun ia sudah tua, namun ia tak mau nampak konyol di depan keluarga dan besannya.

__ADS_1


“Bagaimana pak Galih…” Rudi benar-benar niat sepertinya.


Tangan Galih terkepal. “Tidak ada yang bisa menikahi Hana tanpa restu saya!”


Hana membeku. Ada lega di hatinya saat Galih peduli padanya, namun ada rasa khawatir bagaimana jika ia tak bisa hidup dengan Andre ke depannya.


Dika dan Andre sama-sama tak bisa menahan diri. Keduanya segera berjalan dan berhenti di samping kanan dan kiri Rudi.


“Kenapa, mau menyerang saya?” sarkas Rudi sambil menatap remeh kedua pemuda ini.


Andre menggeleng. “Saya hanya ingin tahu, apakah restu Anda memang saya perlukan untuk menikahi Hana?” tanya Andre tanpa basa-basi. Ia merasa jalan yang susah payah Rudi ciptakan harus pandai-pandai ia manfaatkan. Jika tidak, ia tak tahu kapan ada kesempatan lagi untuk dapat berbicara dengan Galih.


“Atas dasar apa kamu ingin menikahi Hana?” tanya Galih pada Andre akhirnya.


“Atas dasar rasa cinta yang kami miliki,” ujar Andre jujur apa adanya.


“Bukan karena kamu takut Hana menjadi ancaman untuk perusahaan kalian?” Galih sepertinya ingin menyerang mental anak muda ini. Karena ia tahu, emosi jiwa muda yang ada pada Andre masih mudah ia kendalikan, berbeda dengan Rudi yang sepertinya jstru ia yang berhasil dikendalikan.


Hana yang sempat berbunga-bunga matanya memanas seketika. Ia pikir Galih peduli karena adanya ikatan ayah dan anak antara mereka. Tapi sepertinya ia salah. Galih tak penah menganggapnya lebih dari sekedar alat untuk mencapai tujuan.


“Andre. Kamu tampan dan mapan. Tinggal tunjuk saja wanita yang kamu mau mereka pasti tak menolak. Kenapa harus Hana?” tanya Andre dengan nada meremehkan.


Dika nampak hendak bersuara tak terima dengan tuduhan yang dialamatkan pada sahabatnya, namun dengan sedikit gerakan tangan Rudi, ia berhasil dibuat kembali menelan suaranya.


Anak sudah lahir, tinggal menunggu Indah menyelesaikan semua prosesnya. Semua seharusnya bahagia namun kini justru mendadak tegang karena akibat ulah Galih yang merasa diusik ketenangannya.


“Atas dasar...”


Belum juga Andre menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka. Dari dalam muncul Indah yang di dorong diatas brankar dalam kondisi setengah sadar. Di sampingnya ada Rio yang nampak kehilangan rona wajahnya.


Indah sempat tersenyum sembari terus di dorong oleh seorang perawat yang tertutup masker wajahnya.


Rudi paham situasi yang Andre hadapi, sehingga ia berusaha menenagkan pemuda tampan bertempramen tinggi ini dengan mengusap lembut punggung lebarnya.

__ADS_1


“Lanjutkan, tapi pandai-pandailah membaca situasi…” lirih Rudi sebelum mengucap permisi untuk kembali kepada pekerjaannya.


Bersambung…


__ADS_2