
HAPPY READING
“Balik lagi Han?” tanya Elis yang kebetulan berpapasan dengan Hana yang masuk lagi padahal belum lama ia pergi.
“Ada draft yang ketinggalan,” ujar Hana sambil menepuk bahu mantan rekan kerjanya. Ia ia bicara tanpa menghentikan langkahnya karena waktu sudah begitu mengejarnya.
“Kenapa dia?” tanya Rahma yang baru tiba di samping Elis. Ia sempat melihat Hana menepuk bahu Elis sehingga ia kemudian bertanya pada rekannya ini.
“Ada yang ketinggalan katanya,” jawab Elis seperti yang dikatakan Hana.
“Mereka pasangan sibuk ya…” ujar Rahma.
“Iya…” jawab Elis yang nampak tak minat membahasnya.
Keduanya melanjutkan langkah menuju kantin di kantor mereka. Ini memang waktunya makan siang, sehingga mereka tak sabar untuk segera mengisi perutnya yang lapar.
“Draft, draft, draft. Aduh mana sih. Kok nggak ada, sini juga nggak ada, adduuhhhh…”
Hana mengacak-acak mejanya untuk mencari draft yang susah payah di susunnya.
“Nyari ini…”
Hana menegakkan tubuhnya dan langsung mendapati Andre yang berdiri di depan pintu ruangannya. Pria tampan ini memegang sejumlah kertas yang dijepit di salah satu sudutnya.
Hana memacu langkahnya untuk menghampiri Andre dan langsung mengambil kertas yang kekasihnya tujukkan.
“Iya nih. Kok bisa di kamu?” tanya Hana yang menyadari itu adalah barang yang dicarinya.
“Tadi kamu menerima makanan yang aku berikan tapi meninggalkan kertas ini begitu saja di atas meja.”
“Masa iya?” tanya Hana yang sepertinya benar-benar lupa.
“Iya. Dasar ceroboh,” ujar Andre sambil menyentuh hidung Hana dengan punggung telunjuknya.
Hana nyengir menanggapi Andre. “Ya udah, aku jalan lagi ya.”
“Nggak pengen aku temani?”
“Kamu kan juga masih punya pekerjaan di sini…”
“Tapi ini kan waktunya istirahat.”
“Ya gunakan waktu kamu untuk istirahat, ya…”
“Tapi mana tega aku membiarkan kamu sendiri.”
“Aku nggak setiap hari seperti ini…”
Andre memegang kepala Hana dan mengusap lembut rambut panjang kekasihnya. “Kamu hati-hati ya…”
__ADS_1
“Pasti…” jawab Hana dengan yakin.
Hana segera berlalu setelah mendapat hadiah ciuman hangat di keningnya. Ia juga sempat membalas Andre dengan senyum kilat di bibir kekasihnya.
“Aku pergi,” pamit Hana.
“Hati-hati…” balas Andre sambil melepaskan tangannya.
Andre kini tak menahan Hana. Ia justru menyemangati kekasihnya yang juga sibuk bekerja. Meskipun ia merasa diduakan, namun tak dapat dipungkiri ia juga merasa bangga dengan kemampuan yang dimiliki Hana. Seorang Andre bisa memiliki kekasih yang cantik itu biasa, namun beda cerita kalau ia seperti Hana ini yang punya kemampuan di atas rata-rata. Bukankah ini disebut serasi namanya?
***
Waktu yang ditunggu telah tiba. Kepontang-pantingan Hana berbuah sebuah acara yang megah dengan banyak bintang dan kalangan atas lainnya yang akan dilaksanakan tak lama lagi. Rina juga tampak puas dengan konsep acara yang disusun Hana. Ia pun berharap tak ada kendala hingga semua rangkaian acara dilaksanakan semua.
“Hana…” panggil Rina pada Hana yang nampak sibuk hingga tak menyadari keberadaannya.
“Iya.” Hana nampak celingak-celinguk untuk dapat menemukan siapa yang tadi memanggilnya.
“Astaga Rina. Kan acara belum mulai, kenapa kamu sudah sampai,” ujar Hana setelah tahu siapa yang tadi memanggilnya. Ternyata dia adalah Rina yang kini duduk di kursi roda. Hana tak perlu menanyakan atasannya ini kenapa, karena ia sudah tahu karena semalam ia mengoknya.
Memang undangan belum saatnya datang, namun sudah banyak orang yang berlalu lalang. Hal ini semata karena mereka semua sedang melakukan persiapan agar acara yang megah bisa dilaksanakan.
“Mana tega aku melihat kamu mengerjakan semuanya sendiri sedangkan aku tinggal terima jadi.”
“Tak masalah. Aku senang kalau bisa melakukan semua ini,” ujar Hana sungguh-sungguh dengan ucapannya.
Tiba-tiba Dika muncul dengan dua buah botol minuman.
“Duduk dulu Han,” ujar Dika sambil menyerahkan satu botol untuk Hana. Ia keudian memberikan satu botol lagi untuk istrinya.
“Kok beda,” protes Rina saat menyadari apa yang ada di tangan Hana berbeda dengan apa yang diterimanya.
Dika berjongkok di samping kursi roda istrinya. “Karena yang di dalam sini nggak suka soda…” ujar Dika sambil mengusap perut besar istrinya.
Tanpa terasa kedua bibir Hana tertarik menyaksikan pasangan yang diam-diam diidolakannya ini. Karena tak ingin dianggap gila, akhirnya Hana segera membuka tutup botol yang baru saja Dika berikan dan segera meminumnya.
“Saya permisi dulu ya. Untuk tata lampu belum fix sepertinya,” ujar Hana yang tak tahan dengan keuwuan pasangan muda yang masih tetap manis meski sudah menikah lama.
“Han, minta bantuan orang lain kalau kamu tak bisa mengurusnya sendiri,” ujar Rina mengingatkan.
“Tenang. Semua aman terkendali. Saya permisi.” Buru-buru Hana pergi atau semua tak akan sempat lagi.
Hana membungkukkan badan sebelum berlalu meninggalkan Rina dan Dika yang datang untuk melihat persiapan acaranya.
Rina yang merasa seharusnya dirinya yang sibuk mulai celingak-celinguk mencari sesuatu kesana-kemari. Merasa tak berhasil menemukan apa yang ia cari, Rina kemudian menarik-narik ujung jas suaminya yang kini berdiri.
“Kenapa?” Dika harus jongkok lagi karena tak nyaman ngobrol dengan posisi ini.
“Andre nggak di sini ya?” tanya Rina kemudian.
__ADS_1
Dika menggeleng sebagai jawaban. “Aku kan ada di sini, jadi tak bisa Andre pergi juga. Bisa kacau urusan kantor nanti kalau tak ada aku atau dia.”
“Begitu ya…”
“Iya. Minum lagi yogurtnya.”
Rina kembali meminum yogurt rasa buah di tangannya. Rasa buah strawberry yang wajib ada dalam menunya setiap hari. Dulu Rina tak begini, namun setelah hamil ia begitu cinta dengan strawberry. Untungnya semakin besar usia kehamilannya, kecintaannya terhadap strawberry semakin bisa dilogika.
Waktu berjalan begitu cepat dan adzan magrib pun kini berkumandang.
“Hana!”
“Iya…”
“Itu kamu taruh saja. Sekarang kita sholat dulu…”
Hana tak perlu mencari siapa yang baru saja menmanggilnya karena kini Rina datang bersama Dika yang mendorongnya di atas kursi roda.
Hana diam beberapa saat lamanya mendengar ajakan Rina.
“Hai, hai…”
Saat Hana masih belum menjawab ajakan Rina, Andre datang dengan jas yang sudah ia tanggalkan. Ia juga muncul tanpa dasi dan lengan kemeja yang ia tekuk sebatas lengan.
“Nah ini pas banget. Kita mau sholat magrib, kamu juga belum kan?” ujar Dika pada sekertarisnya.
Andre menggeleng tanpa suara. Ia lantas menatap Hana yang diam sambil memegangi kain yang ia gunakan untuk dekorasi kursi. Andre tahu apa yang Hana rasa. Untuk hubungan dengan Tuhan, ia pun sama buruknya dengan kekasihnya.
“Hai! Kamu…”
Andre memanggil seseorang yang kebetulan lewat tak jauh darinya. Ia kemudian mengambil kain yang dipegang Hana kemudian menyerahkannya pada wanita yang dipanggilnya tadi.
“Tolong lanjutkan ya,” ujar Andre setelah kainnya berpindah tangan.
“Iya Pak…” jawab wanita tadi.
Andre lantas merangkul Hana setelah wanita tadi pergi.
“Ayo, waktu magrib itu tidak panjang…” ujar Andre yang meski sholat bukan masuk ke dalam agenda hariannya, tapi setidaknya ia pernah belajar tentang agama sebelumnya.
Dika hanya menggerakkan alisnya kemudian mendorong Rina yang ia paksa duduk di kursi roda. Tidak ada masalah sebenarnya dengan Rina, namun ia takut istrinya ini akan kecapekan seperti kemarin yang membuatnya harus mengalami kontraksi palsu yang membuatnya panic beberapa waktu. Meski project ini penting untuk Rina dan perusahaannya, namun keadaan istri dan anak yang dikandungnya tetaplah menjadi prioritas utamanya.
“Mukanya jangan gitu, kamu capek ya?” lirih Andre pada Hana di sela langkahnya.
Hana menggeleng. Ia sepertinya tak ada niat untuk menanggapi pertanyaan kekasihnya.
“Jangan ngerasa kecil ya, nanti kita belajar sama-sama,” bisik Andre sebelum membawa Hana untuk lebih cepat melangkahkan kakinya untuk mengejar Dika yang berjalan terlebih dahulu bersama istrinya.
Bersambung…
__ADS_1