Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Pecah Ketuban


__ADS_3

HAPPY READING


Hana menatap iba Rina yang demi meyakinkan dirinya harus berdiri hampir setengah jam lamanya. Sekarang setelah ia selesai bicara, perempuan berambut pendek ini nampak duduk lemas sambil mengusap-usap perut besarnya.


“Semua sudah sepakat dengan istri saya, sekarang tinggal Nona Hana. Bagaimana, apakah anda bersedia menerima satu tugas lagi?” tanya Dika dengan wajah seriusnya. Tak hanya Hana yang ia tatap, tapi juga Andre yang Dika sadari mempunyai pengaruh atas apa pun yang akan Hana kerjakan nantinya.


Dasar bos tengil. Katanya kalau sedang kerja profesionalisme harga mati, tapi kalau lihat bibinya kesel langsung seenaknya memutuskan. Untung Bos, kalau bukan udah habis kamu dihajar orang. Gerutu Andre dalam hati.


Tiba-tiba Andre mengangkat tangan membuat Rina yang semula lemas mendadak cemas.


Jangan mengacau Andre ya. Please. Aku maunya Hana pokoknya Hana, racau Rina dalam hati.


“Ada tambahan Pak Andre?” tanya Dika pada sekertarisnya.


“Saya hanya ingin menyumbang suara, boleh kan?”


Kecemasan Rina makin menjadi. Ia tahu jika Andre terlanjur gila, akan sebelas dua belas dengan suaminya yang tak peduli apa pun yang menghadang pasti akan disingkirkan.


Andre sengaja melihat Rina sekilas untuk dapat melihat bagaimana raut wajah teman SMAnya ini. Ia berlagak menyentuh hidung untuk menghalau tawa yang hampir mulutnya seburkan saat itu juga.


“Nona Rina jangan gitu melihatnya. Saya hanya mau bilang, kalau saya mendukung Hana sebagai brand ambassador Happy Ice Cream yang akan kita luncurkan…”


Setelah kalimatnya selesai, Andre sengaja mengunci tatapannya pada Rina dan menggerakkan alisnya dengan jenaka saat Rina menampakkan wajah kesal terhadapnya.


Hana yang semua bimbang mendadak senyumnya mengembang. Jujur tak sepenuh hati ia menerima, namun melihat usaha Rina ia jadi tak tega menolaknya. Sebelum Andre menyatakan persetujuannya, ia sempat ragu apa yang akan terjadi dengan kekasihnya ini jika sampai ia mengambil keputusan yang bertolak belakang dengan yang Andre miliki. Namun kini ternyata Andre sudah sepaham, lantas apa yang perlu ia ragukan?


Tiba-tiba Rina bangkit dan menghampiri Hana. “Hana, kamu mau ya…” ucap Rina penuh harap. Karena Hana sama sekali belum meutuskan hingga sekarang.


“Tapi…”


“Tapi apa lagi, Andre sudah setuju…” Baru juga Hana hendak berbicara, Rina dengan tak sabar sudah memotongnya.


Rina bahkan lupa posisinya sekarang. Sebagai istri CEO tentu ia seharusnya menjaga wibawa, namun ia malah bertingkah seperti anak kecil yang sedang minta permen kepada ibunya saat membujuk Hana.


“Tapi team mungkin harus berjuang ekstra untuk mengajari saya terlebih dahulu hingga akhirnya saya benar-benar bisa membawa Happy Ice Cream bersama diri saya.” Hana tersenyum lebar setelah dapat menucapkan kalimatnya dengan lengkap.


Hana membungkukkan badannya  setelah menyelesaikan ucapannya. Hal ini disambut dengan riuhnya tepuk tangan dari semua orang yang ada di ruang rapat sekarang.

__ADS_1


Dan setelah semua selesai tiba-tiba ponsel Hana berdering kencang. Hana yang sedang bersiap untuk pergi makan siang, harus menjeda langkahnya untuk menemukan ponsel di dalam tasnya.


“Halo…” Dengan cepat Hana menjawab panggilan tersebut setelah dengan jelas nama Rio terpampang sebagai orang yang sedang melakukan pangilan.


“Hana, apa kamu bisa ke tempat saya sekarang?” Rio langsung bertanya dari seberang.


“Kak Rio dimana?” tanya Hana dengan cepat saat kepanikan dengan jelas terdengar dari suara Rio.


“Aku dan Indah sedang menjemput Rida di sekolah, tapi tiba tiba ketuban dia pecah. Bisa nggak kamu menunggu kami di rumah sakit, sekarang aku akan segera ke sana. Nanti di sana kamu bantu jaga Rida sementara aku ngurusin Indah. Gimana?” tanya Rio dengan kepanikan yang masih dominan.


“Bi, bisa…” Mendengar kepanikan dari sang kakak, Hana hingga tergagap.


“Terimakasih Hana…” ujar Rio disusul dengan putusnya panggilan setelahnya.


Hana turut menyimpan ponselnya dan bersiap segera pergi dari sana. “Sayang, kamu makan sendiri ya, aku mau…”


“Aku temani,” potong Andre cepat karena samar-samar ia dapat mendengar apa yang Rio katakan pada Hana..


“Tapi ini masih siang dan nanti kamu masih harus bekerja lagi.”


“Cek ponsel kamu dan sekarang kita langsung ke sana kalau Rio sudah mengirim alamatnya. Nanti kita ijin sama-sama…” putus Andre tanpa meminta persetujuan Hana.Ia segera meraih tangan Hana dan membawa kekasihnya menuju tempat ia memarkirkan mobilnya.


Dalam waktu sekitar dua bulan pasca baikan, Hana makin dekat dengan Indah mau pun Rio. Jika dulu ia harus sembunyi-sembunyi saat bertemu Indah atau mungkin saat ingin bermain dengan keponakannya, kini ia bahkan dapat melakukannya denagn leluasa. Rio sama sekali tak menghalanginya bahkan beberapa kali Hana pernah bermalam di tempat mereka. Hana yang sangat akrab dengan anak Rio terutama Rida membuat Rio yang tengah terdesak seperti sekarang merasa Hana bisa ia andalkan sekarang.


Lantas bagaimana hubungan Hana dengan Galih? Apakah sudah mencair atau masih belum ada perkembangan?


Untuk yang satu ini Hana masih mengalami kendala. Berbagai cara Rio dan Indah gunakan agar tercipta pertemuan antara Galih dan Hana. Namun sayang, meski usia sudah tak lagi muda, Galih selalu tahu siasat putranya. Sehingga ia selalu punya cara untuk tak bertemu dengan Hana.


Dan setibanya di rumah sakit, Rio ternyata belum sampai di sana. Hal ini tentunya membuat Hana cemas dan ingin menyusulnya.


“Kamu mau kemana?” Andre menahan Hana saat kekasihnya ini tiba-tiba balik badan ingin pergi dari sana.


“Mau ngecek di jalan. Siapa tahu kak Rio ada masalah dalam perjalanan,” jawab Hana apa adanya.


“Ya jangan Han. Nanti kalau ternyata Rio tak ada masalah dan kita ngambil jalur yang beda, yang ada malah kita nggak bisa nemu merekadan nanti Rio akan bingung saat tiba di sini kita nggak ada. Dia itu harus mengurus Indah, dan kalau kita nggak ada, Rida nanti sama siapa?”


Andre harus birbicara panjang lebar untuk membuat kekasihnya ini tenang.

__ADS_1


“Terus gimana dong."


Andre terdiam sejenak. Ia harus memikir bagaimana baiknya. “Saya pikir sebaiknya kamu daftarkan saja Indah, sekalian meminta semua keperluan Indah disipakan biar nanti kalau dia sampai di sini bisa langsung ditangani.”


“Gitu ya?”


“Iya. Biar sekarang aku tunggu Rio di sini,” ujar Andre meyakinkan.


“Ya udah, aku tinggal dulu.”


Hana benar-benar melakukan apa yang Andre sarankan. Saat panik seperti ini, saran dengan sedikit alasan akan sangat mudah diterima. Dan tepat saat Hana menyelesaikan semua persiapan, mobil Rio berhenti di depan lobi dan dengan sigap Andre langsung menghampiri. Ia mengajak Rida bersamanya saat Rio harus menemani Indah yang harus segera mendapatkan tindakan.


“Rida. Rida jangan takut ya. Ada Om sama Tante di sini,” ujar Hana yang menghampiri Andre yang tengah menggendong Rida.


“Doain Mama sama dede bayi ya, biar lahirannya lancar dan sehat semua…” lanjut Hana lagi.


Andre tertawa kecil melihat tingkah Hana. Ia terus bicara dan menanyai bocah TK ini, padahal Rida sedang asik memakan sebuah permen besar yang entah kapan Andre siapkan. Hana juga bilang agar Rida tak takut dan panik, tapi kenyataannya dia sendiri sedang gemetar.


“Tante Hana, kalau ngomongnya sudah, lebih baik kita cari makan sekarang, karena ini sudah lewat jam makan siang, Rida sama Om Andre laper…” ujar Andre dengan nada menirukan Rida.


Hana segera duduk saat menyadari kekacauannya. Meski Andre niatnya bercanda, Hana sama sekali tak bisa mengulas tawa. Ia kemudian mendongak menatap Andre yang masih menggendong Rida. Dua orang ini memasang senyum saat membalas tatapan Hana.


Setelah ia merasa lebih tenang dengan degup jantung yang lebih beraturan, Hana kemudian bangkit dari tempatnya.


“Rida mau makan?” tanya Hana kemudian.


Bocah ini segera menganggukkan kepalanya.


“Mau makan apa?” tanya Hana lagi.


Rida menunjuk sebuah restoran fast food yang berada tak jauh dari mereka.


“Mau ke sana?” tanya Hana memastikan.


Kembali Rida mengangguk. Ia bukan gagu atau tak suka bicara, hanya saja karena keberadaan lolypop besar di mulutnya, ia jadi tak bisa bicara.


“Oke, let’s ggooooo!!!”

__ADS_1


Meski sedikit tertahan, ini tetaplah sebuah teriakan. Tiga orang ini kemudian berjalan bersama menuju tempat makan yang ada di seberang jalan.


Bersambung…


__ADS_2