
HAPPY READING
Tok tok tok
“Masuk,” singkat Andre saat mendengar pintu ruangannya di ketuk. Ia menjawab tanpa menatap pintu dan meneruskan pekerjaannya yang masih belum selesai.
Setelah mendengar Andre mempersilahkannya untuk masuk, Elis berjalan melewati pintu dan berjalan lurus ke tempat Andre berada untuk menyerahkan berkas yang diminta padanya.
"Ini Pak," ujar Elis pada Andre saat meletakkan tumpukan yang ia bawa.
Andre mengangguk masih tanpa mengalihkan pandangannya. Merasa tak ada yang bisa ia lakukan di sana, Elis merasa lebih baik ia segera keluar saja.
"Saya permisi."
“Elis tunggu," sahut Andre cepat.
Elis urung membalik tubuhnya. Ia membalas tatapan Andre yang sudah menarah padanya.
"Bagaimana perkembangan toko di area kampus biru?” tanya Andre akhirnya.
“Sebentar Pak.” Elis membuka-buka file yang baru saja ia letakkan. Ia baru saja menggarapnya namun ia lupa detail isinya.
Elis langsung membuka lebar saat menemukan kertas yang menerangkan tempat yang Andre tanyakan barusan. “Secara umum penjualan produk kita di sana minggu ini menempati urutan pertama Pak. Apa perlu saya bacakan detail statistiknya?”
Andre menggeleng. “Tolong atur jadwal saya, kapan saya bisa melakukan kunjungan ke sana,” tanya Andre sebelum kembali memutus kontaknya.
Saat ini memang nampak ada dua kepala di dalam tubuh Surya, yaitu Andre dan Dika. Keduanya memegang peran yang sama pentingnya dalam perusahaan meski kala dihadapkan tetaplah Dika yang pertama. Dika tak ingin Andre memecah diri dengan memegang kekuasaan di anak cabangnya, sehingga yang seperti ini harus terjadi. Dika memperkirakan hal ini tak akan berlangsung lama karena ia seperti ini karena tak ingin meninggalkan Rina bekerja sendiri dalam kondisi hamil seperti sekarang ini.
Hana, apa kamu akan lari jika aku ke sana?
***
“Guys, tolong keruangan saya sekarang…” ujar Nuke dari depan pintu ruangannya. Setelah ia yakin semua karyawannya dengar, ia kembali masuk tanpa menutup pintu
Kelima anak buahnya langsung meletakkan masing-masing pekerjaannya dan mengikuti apa yang bosnya ini katakan.
“Ada apa sih?” tanya Anin pada Eka.
Yang ditanya bukannya menjawab malah menggeleng dan melempar tatapan pada Risma dan Hana yang datang dari arah yang sama. Hana dan Risma yang merasa ditanya pun hanya mampu beradu pandang dan menggelengkan kepala setelahnya.
“Kalian lama sekali sih. Sok sibuk ngapain pada?” sarkas Haning yang sudah terlebih dahulu masuk ke ruang Nuke.
“Silahkan semuanya duduk,” ujar Nuke seolah tak mendengar protes Haning pada keempat bawahannya yang lain.
“Begini, saya mau terimakasih sekali atas kerja keras kalian selama ini. Dan baru saja saya mendapat e-mail dari Surya Group jika kita mendapat undangan untuk jamuan karena prestasi kita. dalam menjual produk mereka.”
“Wah, yyeeeyy.”
__ADS_1
Berbagai ekspresi mereka keluarkan dengan polosnya. Namun ada yang sedikit berbeda diantaranya, yaitu Hana dan Haning yang sepertinya tak turut larut dalam euphoria kebahagiaan karena mereka memperoleh perhatian dari perusahaan besar seperti Surya Group. Haning mengangkat dagunya dan bersedekap dada, sedangkan Hana menunduk memainkan jarinya yang dipangku diatas kedua paha.
“Dan kabar baiknya, ada kemungkinan salah satu dari kalian yang akan direkrut langsung oleh perusahaan,” lanjut Nuke. Mulutnya berkata ini kabar baik tapi yang ada wajahnya nampak sendu.
Nuke menghela nafas. “Jujur saya cukup berat menyampaikan hal ini, karena saya sudah menganggap kalian adalah tim dan partner terbaik saya selama membangun usaha,” lanjut Nuke.
“Ya jangan sedih dong Mbak, kan kalau hilang satu masih ada empat,” ujar Haning yang nampak jelas ketidak naturalan ekspresinya.
“Iya,” ujar Nuke yang masih nampak mellow di kursi kebesarannya.
Setelah sebuah helaan nafas, Nuke berusaha menegakkan wajahnya. “Tapi saya sadar, kalian juga nggak mungkin kan selamanya jadi penjaga toko, menjajakan baju dengan gaji yang tidak seberapa. Jadi ini kesempatan kalian untuk mengambangkan karir dan mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi.”
“Tapi kita nyaman kok kerja sama Mbak Nuke,” ujar Hana.
“Hallah, muna,” lirih Haning yang masih bisa Hana dengar dengan jelas suaranya.
“Bahkan Hana nggak masalah misalnya Hana tak perlu mengikuti jamuan,” lanjut Hana.
“Ha…?” Semua terkejut mendengar penuturan Hana, termasuk Haning yang dalam beberapa detik sebelumnya masih mencibir wanita cantik ini.
“Hana. Memang kamu orang baru, tapi saya nggak buta dan paham sekali kalau kamu sudah menjadi incaran mereka. Karena hanya toko kita yang mendapat undangan seperti ini. Bahkan toko yang dihandle langsung oleh Surya Group saja tidak pernah diperlakukan seperti ini,” ujar Nuke.
Jelas hal ini tak menyenangkan untuk Haning, terlebih ia begitu ingin direkrut oleh Surya Group dan bisa masuk ke dalamnya.
“Mbak, saya sudah pernah bekerja di Surya. Ya nggak enak saja kalau sekarang saya masuk ke sana,” kata Hana.
Hana menatap Haning dan tersenyum setelahnya. “Iya Mbak.’
Jika saja ia tak segan, ia pasti sudah melompat kegirangan karena reaksi Hana benar-benar sesuai dengan yang ia inginkan.
“Tapi kamu punya potensi Han, meskipun kamu mantan karyawannya, kenapa harus menolak untuk masuk sekali lagi jika memang ada kesempatan. Aku pun mau jika sampai terpilih, meskipun sangat kecil kemungkinannya,” ujar Risma.
“Ya kalau gitu good luck saja untuk kalian. Saya akan di sini bersama Mbak Nuke mengembangkan toko ini. Boleh kan Mbak…”
Mata Nuke berkaca-kaca seketika mendengar ucapan Hana. “Nggak salah memang saya sudah merekrut kamu.”
Sementara Haning hanya mencebik di tempatnya. Namun hal ini harus ia syukuri karena saingan terberatnya tak akan mengacaukan impiannya.
***
“Bahagia banget. Emang Hana sudah ketemu?”
Andre langsung meletakkan ponselnya saat tiba-tiba Dika muncul di ruangannya.
“Sebenarnya sudah ketemu, hanya saja belum aku bawa pulang,” cuek Andre sambil memutar kursinya.
“Kenapa emang?” tanya Dika heran.
__ADS_1
“Nggak apa-apa. Aku cuma mau coba melihat permainan takdir terhadap hubungan kami.”
“Tck." Dika menarik kursi dan duduk di depan sekertarisnya ini. "Kerasukan setan mana kamu?” tanya Dika kaena merasa ini tak seperti Andre yang biasanya.
“Aku nggak lagi kerasukan Bos. Yuk sholat. Sudah waktunya Dzuhur ini,” ujar Andre sambil memperlihatkan jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Dika tersenum lebar mendengar ucapan sekertarisnya. Kemudian ia bangkit dan berjalan bersama Andre untuk melakukan sholat dzuhur bersama.
Mereka berjalan beriringan melewati staf sekertaris yang berjajar di depan ruangan. Tak ayal hal ini menjadi perhatian ketiga orang yang cukup banyak berinteraksi dengan dua orang ini.
“Sst, stt…”
Kepala Elis menoleh begitu saja kala mendengan kode suara yang Rahma berikan.
“Apa?” tanya Elis tanpa suara.
Rahma membawa kursinya bergeser ke arah Elis.
“Nyadar nggak, karisma pak Andre dan pak Restu sudah kembali,” ujar Rahma dengan nada rendahnya.
Tangan Elis bergerak begitu saja, meletakkan apa pun yang semula di pegang dan berganti menyangga kepalanya. “Iya banget,” ucapnya kemudian dengan mata menerawang. Ia tengah mengingat bayangan kebersamaannya dengan Andre beberapa waktu terakhir saat keduanya terlibat dalam pekerjaan bersama.
“Eh, kok gitu muka kamu. Nggak lagi naksir kan?” heran Rahma.
“Naksir juga boleh kan?” Elis balik mengumpankan tanya dengan santainya.
“Ya boleh sih. Eh tapi kalian sering dinas berdua ya.”
“Sayang belum pernah keluar kota,” lanjut Hana.
“Lu makin ngaco ah. Tapi jujur au penasaran, masa iya pak Andre nggak punya pacar?”
Elis langsung menegakkan kembali kepalanya kala ingat ia pernah berebut daun papaya dengan Andre waktu itu. Katanya itu buat istrinya, tapi sampai sekarang dia kok belum mengakui kalau sudah punya pasangan? batin Elis.
“Eh, bengong…”
Elis menghembuskan nafasnya kasar. Ia kembali membawa jemarinya ke atas tombol-tombol keyboard di depan monitornya. “Udah ah. Aku laper tapi kerjaan belum kelar.”
“Apa hubungannya coba,” protes Rahma.
“Ya jangan gangguin Rahma,” jelas Elis.
“Aku cuma nanya oncom,” kesal Rahma.
“Ya udah sekarang stop, titik.” Elis melanjutkan pekerjaannya tanpa memperdulikan Rahma yang masih melongok di tempatnya. Dan Rahma pun akhirnya menggeser kursinya mundur untuk kembali ke tempatnya.
Bersambung…
__ADS_1