Zona Berondong

Zona Berondong
Misteri Box


__ADS_3

^^^-Happy reading-^^^


Dika menghentikan mobilnya di depan rumah Rina.


"Mampir?" tanya Rina saat melepas seat beltnya.


"Iya, bentar."


Dika keluar dari pintu masing-masing.


"Jasnya pake dong."


"Biar apa?" tanya Dika yang kini sudah berdiri di sisi Rina.


"Biar ganteng."


"Gini kurang?" Dika merapikan gulungan kemejanya di lengan.


"Nggak sih. Tapi kan..."


"Tapi apa?"


"Ck..., dah yuk masuk." Maksudnya kan biar kelihatan lebih dewasa, kok nggak ngerti juga sih. Gerutu Rina dalam hati.


"Nggak jadi?" tanya Dika yang melihat Rina berjalan dengan tergesa.


"Nggak. Buruan masuk!" jawab Rina yang sudah berjalan terlebih dahulu.


Rina memandang punggung gadisnya. Aku pengen kamu menerima apa adanya aku Rin. Perlahan ia ikut berjalan menyusul Rina.


"Assalamualaikum." Ucap Dika saat diambang pintu.


"Wa'alaikum salam." Rina yang terlebih dahulu masuk menjawab salam Dika. "Bentar ya, aku panggilin Mama."


Dika segera duduk sembari mengecek WA di ponselnya. Tiba-tiba ia teringat obrolannya dengan Rina tentang Rio beberapa waktu lalu. Rio, Rio, Rio. Kamu sebenarnya siapa sih? Harus mulai darimana aku cari tahu tentang kamu.


"Habis jalan-jalan dari mana ini tadi?" tanya Santi yang tengah menuruni tangga bersama Reno di sampingnya.


Dika tersenyum berdiri kemudian menyalami keduanya secara bergantian.


"Tadi nggak sengaja ketemu Tan pas Dika lagi sama Rista dan Dedi."


Ketiganya kembali duduk. Ririn menatap penampilan Dika yang dirasa tak biasa. "Kamu rapi bener?"


Dika sadar dirinya sungguh berbeda. Jika biasanya dia suka tampil sporty dan casual, kini ia tampak begitu formal. "Biar beda aja Tan..." Dika menjawab sekenanya, karena ia tak ingin dikasihani karena harus berjuang manafkahi diri sendiri.


"Tadi lebih keren tahu nggak, pake dasi dan jas juga." Rina yang datang dengan nampan berisi minuman langsung ikut nyambung dalam obrolan.


Ririn dan Reno kembali menatap Dika. Keduanya tak bersuara dan sibuk menelisik penampilan pemuda di hadapannya.


Dika sadar akan hal itu, namun ia masih ragu untuk mengungkap bagaimana kehidupan yang dialaminya.


"Kalian sekarang gimana?" suara berat Reno memecah lamunan Dika.

__ADS_1


Ririn mengisyaratkan putrinya untuk segera duduk bergabung dengan mereka.


"Emm, kita..." Dika bingung harus menjawab apa.


"Ehm..." Reno berdehem sebagai sinyal menantikan jawaban.


"Rina, Dika. Kalian masih remaja tapi bisa dikatakan berada diambang dewasa."


Rina dan Dika yang belum paham dengan maksud Reno hanya bisa memperhatikan tanpa berani bertanya.


"Papa yakin Rina dan Dika tak mau jika terlalu di pantau seperti anak kecil. Bukan begitu?"


Keduanya mengangguk.


"Untuk itu Papa hanya bisa yakin dan percaya sama kalian, dengan satu syarat."


Dika menelan ludah. Jangan-jangan disuruh nikah? Nggak apa-apa sih, cuma kok mendadak aku nggak siap ya.


"Rina nggak lupa kan apa yang selalu menjadi pesan Papa dan Mama."


Rina menghela nafas. "Jujur." Kata itu keluar begitu saja dari mulut Rina.


Oksigen berhasil menembus paru-paru Dika yang sempat nyaris tersumbat. Dika mendesah lega hingga Reno tertawa saat melihatnya.


"Mikirin apa kamu?" tanya Reno pada Dika lengkap dengan senyum geli dari wajahnya. "Itu minumnya jangan dianggurin."


Dika segera meraih gelas di hadapannya dan kembali diletakkan setelah tinggal setengah.


"Haus banget kayaknya," bisik Rina yang kini berada di samping Dika.


Rina meringis sedangkan Dika menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Jadi kalian sekarang gimana? Papa nggak ngelarang Rina pacaran, tapi Papa nggak pernah ngajarin Rina untuk jadi cewek yang gampangan."


Degh!


Rasa bersalah kembali menyelimuti hati Rina. Aku harus ngomong apa kalau Papa mempertanyakan aku yang bertahan dengan Rio yang tempramen dan kasar?


Tak hanya Rina, Dika pun terkejut dengan penuturan Reno. Ia tahu Rina salah, tapi Rina pun sudah sadar dan kini menyesali kecerobohannya.


Aku tak boleh diam. "Maafin Dika Om, itu semua karena Dika," kata Dika tiba-tiba.


Reno dan Ririn menatap Dika tak percaya.


"Dik, aku yang salah..." lirih Rina.


Dika tak menghiraukan ucapan Rina. "Om, Tante, Rina nggak mutusin Rio karena..."


"Dika udah!" cepat-cepat Rina memotong ucapan Dika. Rina menggeleng dan menatap nanar Dika. Aku nggak siap papa mama tahu yang udah terjadi antara aku dan Rio.


"Rin, aku cuma mau bilang...."


Kembali ingin Rina menahan Dika, namun hanya dengan di tatap Reno, Rina sudah kehilangan suara. Astaga, gimana reaksi papa mama kalau tahu yang telah aku lakukan.

__ADS_1


"Lanjutkan Nak," ucap Reno mempersilahkan Dika untuk terus bicara.


"Rio sebenernya ngincar Dika Om, dia sengaja mendekati Rina untuk menghancurkan Dika?"


Rina menghela nafas lega. Ya ampun, mikir apa sih aku tadi. Mana mungkin dia menceritakan apa yang Rio lakukan padaku, yang bahkan dia dan aku sudah melakukan yang lebih jauh.


"Maksud kamu?" Reno dan Ririn sama-sama terkejut, namun hanya Reno yang bertanya pada Dika.


"Saya juga nggak tahu Om, tapi baru hari ini Rina cerita sama saya."


"Bisa kamu jelaskan Rin. Ini udah nggak bener setelah Papa tahu sikap Rio sama kamu tadi siang."


"Tadi siang ada apa Om?" tanya Dika kaget.


"Dia nyaris nampar Rina, tapi sempat saya cegah."


Dika menatap Rina sejenak sebelum kembali menatap kedua orangtua Rina.


"Saya sebenarnya sudah nggak respect sejak pertemuan pertama waktu itu, tapi saya berusaha percaya sama Rina." Reno menatap lekat putrinya.


"Maafin Rina Pa."


"Saya harap untuk hal seperti ini kalian jangan menutupinya dari kami."


Dika mengusap wajahnya kasar. "Saya benar-benar belum tahu Rio ini siapa Om."


"Memangnya Rio bilang apa sih sama kamu Nak?" tanya Ririn.


"Emm, Rina sempat memohon untuk putus, tapi Rio menolak. Saat Rina terus mendesak apa alasannya, dia bilang karena Rina pacar Dika." Rina menghela nafas. "Dan dia menyebutkan Dika dengan nama yang bahkan belum Rina ketahui selama ini."


Reno dan Ririn saling mengumpan tatapan bertanya. "Nama Dika siapa?"


Dika di dera ragu, pasalnya dia lebih nyaman dikenal sebagai Dika, bukan sebagai pewaris tunggal perusahaan besar Surya Group yang kemungkinan akan di ketahui Reno.


"Apa kamu ingin menutupi sesuatu dari kami?" tanya Reno sekali lagi.


Dika pasrah. "Nama saya Restu Andika Putra Surya."


Reno mengernyit. "Kamu anak almarhum Hendro?"


Dika mengangguk lemah. "Om kenal papa saya?"


Reno mengangguk seakan sebuah misteri kini telah terpecahkan.


"Sebenarnya, saya tak seberapa mengenal Hendro Eka Surya secara pribadi, tapi saya mengenal dengan baik Rudi Andika."


Degh!


Dika tiba-tiba merasa tak nyaman. Orang yang dicintainya adalah anak dari orang yang cukup dekat dengan orang yang saat ini sangat di bencinya.


Semua yang di sana menyadari perubahan wajah Dika, terutama Reno yang tahu benar apa penyebabnya, yaitu sebuah misteri box yang mau tidak mau harus segera ditemukan kodenya.


TBC

__ADS_1


Say something dear.


__ADS_2