Zona Berondong

Zona Berondong
Jejak Masa Lalu


__ADS_3

^^^Apa yang kalian lihat jika ada selembar kertas putih dengan sebuah titik hitam?^^^


^^^-Happy reading-^^^


Brugh!


"Rinaaa!!" Dian berteriak saat tubuh Rina yang ditarik Nita tiba-tiba hilang keseimbangan dan ambruk.


"Kok bisa pingsan sih Di?" Nita syok melihat Rina yang tiba-tiba pingsan.


"Elu sih nariknya nggak kira-kira!" Dian berjongkok untuk mengecek keadaan Rina. "Bantuin dong, jangan diem doang!" Dian meneriaki Nita karena dia hanya diam bahkan masih dalam posisi berdiri di samping tubuh Rina.


"Dia kenapa?" tanya seorang murid putra yang baru saja tiba di sekolah.


"Nggak lihat ini lagi pingsan," ketus Dian.


"Kok bisa?" tanya anak itu lagi.


"Sekali lagi lu nanya dan nggak mau bantu kita, gue kasih nih." Dian mengacungkan kelalan tangannya.


"I, iya." Anak itu segera berlari menjauh dari pandangan Dian.


"Yah, sompret emang, gue kira iya mau bantuin, ternyata malah iya kabur."


"Ya elu galaknya overdosis sih."


"Jangan seenak jidat kalau ngomong. Gue kayak gini gara-gara elu, Rina kayak gini juga gara-gara elu, jadi di sini biang masalahnya ya elu."


"Kok aku doang sih," lirih Nita.


"Rin kenapa?" tanya Rio yang tiba-tiba muncul dan hendak mengambil alih Rina dari Dian dan Nita.


"Singkirin tangan elu," ucap Dian ketus sambil menghempas tangan Rio.


"Kalian jangan kurang ajar sama saya."


"Cih," Nita berdecih sambil tersenyum remeh. "Dari pada ngurusin kita, noh urusin kelakuan kamu sendiri yang bejat itu."


" Kalian... "


" Rio, ikut saya ke kantor. "


Rio terpaksa menghentikan ucapannya. Pak Kemal, kepala sekolah Karya Bangsa tiba-tiba datang dan menyuruh Rio mengikutinya. Melihat wajah Omnya yang tak ramah, Rio berhasil dibuat tak membantah.


"Rin, Rin, hey sadar..." Dian menepuk pipi Rina untuk mengembalikan keaadarannya.


Perlahan Rina membuka mata. "Di..." kirih Rina dengan suara lemah.


"Iya, gue di sini," jawab Dian.


"Anterin gue pulang, please," pinta Rina.


"Kenapa?" kini Nita yang berjongkok ikut bertanya.


"Gue malu."

__ADS_1


"Kenapa kamu yang malu? Harusnya Rio yang malu sama kelakuannya," protes Nita.


"Tapi Nit, gue... " Rina tak sanggup melanjutkan ucapannya.


"Ngomongin apa sih kamu, mending cepet ikut aku, biar pikirkan kamu nggak ngaco lagi." Nita kemudian membantu Rina untuk berdiri.


"Emang penting banget ya?" tanya Dian yang menahan kedua sahabatnya. "Nggak bisa gitu diceritain di sini aja?"


Akhirnya Nita mengajak kedua sahabatnya untuk berbelok ke kantin. Masih sepi sih, karena ini masih begitu pagi, ditambah sebagian besar murid sekolah ini yang kini menyerbu mading karena adanya berita yang menggemparkan sekolah.


"Nih minum." Nita menyodorkan teh hangat pada Rina.


"Sebenarnya ada apa sih Nit?" tanya Dian penasaran.


"Itu ada beberapa foto Rio yang lagi clubbing, terus ada juga foto dia sama cewek lagi ML deh kayaknya, tapi nggak jelas. Yang kelihatan nelas itu mereka lagi di kamar dengan kondisi acak-acakan."


Rina merasa ada pasokan oksigen masuk ke paru-parunya, perlahan mengelus dadanya lega.


Nita melihat dengan jelas bagaimana perubahan wajah Rina. "Tadi mikirin apa lu sampe pingsan gitu?" tanya Nita dengan mata memicing.


"Mbak Indah," gumam Rina begitu ia ingat sesuatu. Spontan ia berdiri dan berlari menuju mading.


Dian dan Nita hanya beradu pandang melihat reaksi Rina yang tiba-tiba berlari.


"Indah siapa sih?" tanya Nita.


Dian hanya menggidikkan bahu. Kemudian keduanya segera berlari mengejar Rina.


***


"Jelaskan semua ini sama Om."


Rio terbelalak menatap potret dirinya sedang ber**nta dengan Indah. Dia sendiri yang mengabadikan momen itu sesaat setelah Indah nyaris diper**sa oleh mantannya.


Flashback On


"Kamu hati-hati ya."


Rio mematikan sambungan telfon dengan Indah, gadis cantik yang sejak akhir SMA berhasil memenuhi seluruh ruang di hatinya.


Menyukai olahraga dan merasa begitu bersemangat saat pelajaran, membuatnya bermimpi untuk menjadi seorang guru olahraga. Namun sayang, cita-cita itu tak sejalan dengan takdir yang harus ia jalani. Menjadi anak tunggal seorang pengusaha membuatnya harus siap untuk memimpin perusahaan menggantikan papanya suatu saat nanti. Akhirnya setelah lulus SMA, bisnis menjadi disiplin ilmu yang ia tekuni.


Menginjak tahun ketiga, ternyata Indah yang merupakan kekasihnya yang terpaut usia 2 tahun lebih muda masuk kuliah dan mengambil disiplin ilmu ekonomi pendidikan. Hasrat Rio tak lagi dapat di bendung. Ia mendaftar sebagai mahasiswa baru di kampus yang sama dengan Indah hanya saja pendidikan jasmani dan olahraga yang menjadi pilihannya.


Awalnya tak ada masalah karena pada dasarnya Rio memang berotak cerdas, namun memasuki tahap akhir jurusan bisnisnya, ia mulai sibuk dan waktu untuk bersama Indah jauh berkurang. Dan hari ini, janji yang sudah dibuat untuk bertemu harus batal karena Rio ada jadwal konsultasi dadakan dengan dosen pembimbingnya.


Kecewa pasti, meskipun Indah sudah berusaha keras untuk mengerti.


Indah terpaksa nonton sendiri karena selain tiket sudah terlanjur dibeli, ia juga sudah berada dibioskop saat ini.


Film romantis yang harusnya di saksikan bersama Rio harus ia nikmati sendiri. Tepat saat ia hendak masuk, tak sengaja ia bertemu dengan Fajar, orang yang lama saling sayang, tapi tak jadi jadian, karena Rio yang lebih dulu datang membawa kepastian.


"Sendiri?" tanya Fajar pada Indah.


"As you see... Kamu sendiri?" Indah balik bertanya.

__ADS_1


"Mau nonton kehabisan tiket," jawab Fajar sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Aku ada satu, barangkali kamu mau?" Indah menunjukkan sebuah tiket yang seharusnya untuk Rio.


Fajar menerimanya kemudian bersama Indah menonton yang sama. Film yang begitu apik memaksa Indah dan Fajar terbawa suasana. Yang semula rencananya hanya nonton bersama berlanjut menjadi pulang bersama.


Di kos Indah, bahkan Fajar pun sempat singgah. Dalam hati, Fajar masih menyimpan rasa terhadapnya. Melihat Indah yang hanya berdua dengannya, hasrat yang belum sempurna sirna tiba-tiba menggelora.


"Fajar, kamu jangan kurang ajar!" Indah menampar Fajar yang berusaha menciumnya.


"Kamu jangan sok suci Ndah, aku yakin Rio bahkan sudah sering menidurimu." Bukannya gentar, Fajar justru kian mendesak Indah.


"Aku bukan wanita macam itu, dan Rio sangat menghormatiku!"


"Aku yakin kamu cuma mengincar kekayaannya, aku juga yakin kamu bersedia melakukan apa saja agar terus berada di sisinya. Ndah, aku ingin mencicimu sekali saja."


Kreiiyyytt


Tepat saat itu, pintu kamar Indah terbuka menampakkan Rio yang terkejut dengan apa yang terjadi di depan matanya.


Indah berusaha melepaskan diri dari Fajar yang kini menindihnya.


"Bre**sek!!" umpat Rio sebelum menarik paksa tubuh Fajar dan menghajarnya membabi buta.


Indah menahan tubuh Rio agar berhenti mengjajar Fajar. Ia tak ingin membuat seluruh penghuni kosan geger karena kejadian di kamarnya. Setelah Fajar menyelamatkan diri dari amukan Rio, Indah harus merasakan tubuhnya terhempas ke atas ranjang.


"Yo," Indah takut, pasalnya ini kali pertama ia melihat Rio semarah ini.


"Kamu kenapa ngelindungi dia? Kamu selama ini ada main dibelakang ya?!"


"Yo, nggak pernah..."


"Jangan-jangan kamu juga udah diperawanin sama dia!"


"Yo, cuma kamu Yo, ini semua aku jaga buat kamu. Ciuman pun aku cuma sama kamu."


"Apa aku bisa percaya setelah terjadi apa yang baru saja aku lihat."


"Yo, please Yo, kamu percaya sama aku." Indah memohon dengan derai air mata.


"Apa kamu bisa menjamin kalau tubuh dan cintamu hanya buat aku?"


Indah mengangguk.


"Kalau begitu aku ingin mengambilnya sekarang."


"Yo," Indah menahan tubuh Rio yang sudah menindihnya.


"Jangan cegah aku atau aku tak akan pernah memaafkanmu."


Indah merasa tak ada pilihan lain, di satu sisi ia merasa bersalah karena telah bermain api dengan Fajar, namun ia juga ingin mempertahankan kesuciannya sampai waktunya tiba.


Semua berjalan dengan cepat. Indah bahkan sama sekali tak mendapat kesempatan untuk berfikir.


Ia memejamkan mata dan meremat spreinya untuk meredakan gugup dan ngilu yang menjalar di dadanya. Membiarkan Rio mengambil mahkota yang selama ini ia jaga.

__ADS_1


Flashback off.


TBC


__ADS_2