Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Solutip


__ADS_3

...*HAPPY READING* ...


"Selamat ya, Dika Rina..."


"Terimakasih banyak Ndre. Kamu juga banyak berjasa dalam hidup kita," ujar Dika.


"Dan kamu yang membawa banyak perubahan dalam hidup saya," balas Andre.


Saat ini Andre sedang makan malam bersama Dika dan Istrinya disebuah restoran Jepang yang belum lama buka tapi sudah ramai pengunjungnya.


"Gimana Ndre, makanannya enak nggak?" tanya Rina.


"Enak Rin. Tadi sempet takut pas kalian bawa ke sini, takut kalau harus daging mentah, untung kalian pesennya yang mateng semua," jawab Andre dengan cengirannya.


"Tu Dika yang pesen tuna sashimi, aku juga nggak doyan," imbuh Rina.


Tak berselang lama seorang wanita cantik datang dan bergabung dengan mereka.


"Rriinnnaaaaaa...."


"Hhaaaii..."


Rina bangkit dan memeluk wanita ini.


"Ya ampun kangen," ujar Rina di tengah pelukannya.


Wanita cantik itu mendorong tubuh Rina dan memegangi bahunya.


"Ciiee, yang udah go public, bakalan famous nih sebentar lagi."


"Loh, ada Andre," kaget wanita ini sat baru menyadari ada orang lain selain Dika dan Rina.


"Iya. Masa segini gede nggak kelihatan sih Di."


"He he he, maafkan saya Sekertaris Andre," ujar Dian sambil menangkupkan tangan diatas kepala.


Keempat orang ini tertawa bersama.


"Gimana kabar kamu?" tanya Andre pada Dian.


"Baik. Kamu sendiri gimana?" Dian balik bertanya.


"Alhamdulillah, bapak Restu Andika masih memberi saya waktu untuk tidur, makan, mandi, dan buang air."


"Buruk sekali saya sepertinya..." Dika berkata dengan wajah dibuat sendu.


Mereka melanjutkan obrolan bersama, sangat santai dan tanpa membahas sedikitpun urusan kerja. Mereka kini sedang menjadi sahabat bukan bos karyawan ataupun rekan kerja.


"Kalian pada masih betah jomblo aja, belum ada niatan buat memulai hubungan baru?" tanya Rina pada Dian dan Andre.


"Masih nyaman sendiri kayaknya," jawab Andre.


"Usaha yang gue rintis nggak mau diduain Rin, he he he."


Rina memicingkan mata. "Bukan berarti gagal move on kan?"


"Enggak lah!" kompak Dian dan Andre.

__ADS_1


"Ha ha ha, iya percaya," timpal Rina.


"Eh tapi kamu sempat deket sama bule, gimana kabar terkini, jadian nggak?" tanya Andre pada Dian.


"Gue belom siap mental jalan sama bule," jawab Dian yang juga ikut makan.


"Lha kenapa?" tanya Rina yang penasaran.


"Mereka terlalu bebas, dan gue nggak mau."


"Kenapa nggak balikan aja?"


Semua menatap Dika yang berbicara tanpa melihat lawannya.


"Eh, kok pada ngeliatin aku? Kan niatnya cuma ngasih solusi," bela Dika saat dirinya ditatap tajam oleh mereka yang ada di sana.


"Solusi bukan, solutip iya," ketus Andre.


"Bu Tejo dong," sahut Dian.


Andre hanya mendengus. Sayangnya kita terlalu banyak perbedaan Di, kalau enggak mungkin aku nggak akan ragu untuk mengejarmu kembali.


Dian yang mendadak hilang selera makan hanya mengaduk dan mengobrak-abrik makanan yang semula sudah ditata dengan cantik. Kita terpisah oleh jurang yang dalam dan tebing yang tinggi. Semoga kita lekas menemukan pasangan yang berasal dari daratan yang sama.


***


Pagi ini Rina sudah bersiap menghadapi harinya, pergi ke galery dan bekerja di sana. Saat ini mereka tak harus berangkat sendiri-sendiri. Dika mengantarnya sebelum ia sendiri ke kantornya.


"Hati-hati sayang. Jangan terlalu rajin kerjanya. Suamimu ini sudah menghasilkan terlalu banyak uang dan sayang jika tak dibelanjakan."


Rina tersenyum dengan candaan suaminya.


"Tenang aja, aku bakalan tetep cinta," balas Dika.


"Tapi aku bisa insecure jadi istri seorang Restu Andika."


Dika tersenyum dan mencium puncak kepala Rina.


"Hati-hati ya. Tuh udah ditungguin..."


Dika menunjuk segerombolan orang yang menunggu Rina di depan galery dengan membawa kamera dan tanda pengenal yang dikalungkan di dada. Tak salah lagi, mereka adalah para awak media.


Rina menghela nafas. "Menghadapi mereka lebih capek timbang bekerja."


"Kamu sabar ya," ucap Dika sambil membelai wajah Rina.


Pintu otomatis terbuka dan Dika terlebih dahulu keluar sebelum Rina. Ia mengantarkan istrinya ini untuk masuk ke galerynya.


"Selamat pagi Pak Restu," sapa para reporter di sana.


"Pagi."


"Pak Restu bersedia untuk wawancara bersama Ibu Rina?"


"Maaf, saya harus ke kantor karena terlalu banyak pekerjaan menanti saya."


"Yah, sayang sekali ya."

__ADS_1


Dika hanya tersenyum menanggapi kekecewaan para awak media.


"Nanti kalau ngasih pertanyaan jangan susah-susah. Kasihan kalau istri saya jadi memilih bersembunyi lagi dari kalian."


Dika segera mencium kening Rina, dan Rina balas dengan mencium tangan suaminya.


"Wah, auto lost fokus kalau gini ceritanya," celetuk seorang kameramen yang berhasil mengundang tawa semua yang ada di sana.


Akhirnya Dika melanjutkan perjalanan ke kantor dan meninggalkan Rina bersama awak media. Diakui atau tidak, popularitas Dika berhasil mendongkrak penjualan produk Rina dan dengan cepat melambungkan namanya. Selain itu karya Rina memang layak untuk disukai, karena perhiasan hasil desainnya yang apik dan memiliki ciri khas saat disandingkan perhiasan lainnya.


"Mari silahkan ikut saya," ajak Rina pada empat orang di sana.


Rina membawanya berkeliling dan memperkenalkan beberapa hasil karyanya. Ia juga menjelaskan filosofi dari setiap desain yang dibuatnya serta hal apa yang menjadi inspirasinya.


"Kenapa Mbak Rina mau capek-capek kerja seperti ini, padahal saya yakin Pak Restu pasti sudah mencukupi segala kebutuhan anda."


"Ini bukan semata masalah uang, tapi passion dan hal yang memang saya inginkan?"


"Apa pak Restu mendukung anda."


"Dia memberi dukungan penuh pada saya."


"Satu hal yang mungkin banyak orang ingin tahu, bagaimana rasanya menjadi istri seorang Restu Andika?"


"Luar biasa. Bahkan kalian semua juga tahu kalau saya cukup lama bersembunyi karena merasa insecure menjadi istri seorang Restu Andika."


"Apakah anda kesulitan untuk menyesuaikan diri?"


"Tentu. Saya sebenarnya tak suka seperti ini, tapi ini sudah jadi resiko saya."


"Bukankah seharusnya anda sudah mempertimbangkan ini dari awal, begitu anda memutuskan berhubungan dengan pak Restu?"


Rina diam. Ia mendadak ragu. Haruskah ia menceritakan hal ini tanpa minta izin pada Dika terlebih dahulu.


"Maaf ya, untuk detail saya rasa baru bisa diceritakan kalau ada suami saya di sini. Saya hanya bisa bilang kalau awal saya mengenal beliau keadaannya bukan seperti ini. Jauh, jauh dari kondisi yang sekarang kami jalani. Bukan masalah siapa yang mengejar dan dikejar, namun seberapa kuat kami bertahan? "


" Maaf, bisa anda perjelas maksudnya? "


Rina menghela nafas.


" Apakah kalian percaya kalau saya bilang saya mengenal beliau sebelum menjadi CEO seperti sekarang? "


Keempat orang itu saling beradu pandang.


" Sulit dipercaya memang, tapi tak ada yang tak mungkin. "


" Ya itu faktanya, dan terlalu panjang untuk menceritakannya. "


" Apakah anda benar-benar tak ingin membagi cerita ini dengan kami? "


Rina menghela nafas dan mengulas senyum di bibirnya.


"Ada saatnya nanti, tapi belum sekarang. Saya masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri."


"Saya rasa cukup ya. Terimakasih waktunya, mohon maaf jika banyak kesalahan dan kekhilafan dari perilaku dan perkataan saya."


Rina mencukupkan sesi wawancaranya. Ia tahu jika akan begini akhirnya. Orang di luar sana lebih tertarik membahas hubungannya ketimbang bisnis yang tengah dirintisnya. Namun tak apa, ia sadar jika ini bagian dari resikonya menjadi istri seorang Restu Andika.

__ADS_1


TBC


__ADS_2