
HAPPY READING
Seminggu pasca masuknya Hana ke toko Nuke, penjualan meningkat pesat. Terlebih Hana mampu berinovasi dengan tak hanya mengandalkan penjualan secara offline saja tapi secara online juga, melalui market place dan siaran langsung. Dan hanya dalam waktu seminggu, Hana tak hanya memainkan peran sebagai pramuniaga juga sebagai penanggung jawab pemasaran, bahkan Nuke pun turun tangan menjalankan strategi yang Hana susun untuk toko mereka.
“Mbak Nuke kok bisa percaya banget sih sama Hana, memangnya dia siapa? Heran gue,” ujar Haning begitu menghampiri Anin yang sibuk dengan ponsel dan catatannya.
Anin hanya menghela nafas tanpa ada niat untuk menanggapi Haning yang sedang mengajaknya bicara. Ia masih fokus merekap pesanan online yang masuk yang kini menjadi tanggungjawabnya.
“Kamu kok diem doang sih Nin,” kesal Haning karena sejak tadi dia hanya dibiarkan bicara sendiri oleh Anin.
“Ini masih banyak Mbak, aku nggak mau sampai salah catat dan nanti kacau packingnya…”
“Jangan bilang kamu mau belain Hana,” tuduh Haning.
“Aku cuma mau kerja Mbak, nggak ada tuh niatan belain atau menyerang salah satu diantara kita di sini…”
“Tapi kita kan lebih dulu ada di sini. Kamu ngerasa nggak adil nggak sih kalau kita harus nuruti perintah dia? Apa-apa Hana, dengerin Hana, bantuin Hana. Hana, Hana, Hanaaa terus yang disebutin Mbak Nuke.”
Anin meletakkan pekerjaannya dan menatap Haning yang dirasa sangat menganggunya. “Aku cuma mau kerja Mbak, kalau kerjaan Mbak beres, aku siap dikasih bantuan,” ujar Anin yang nampak sekali berusaha bersabar dalam menghadapi rekan kerjanya ini.
Setelahnya, Anin pergi begitu saja meninggalkan Haning. Ia harus segera mempacking barang yang sudah masuk list orderan. Haning yang kesal segera berjalan ke depan berjaga jika ada pelanggan yang bisa ia layani.
Saat melewati spot yang hanya berisi Hana yang tengah melakukan siaran langsung, tiba-tiba Haning menghentikan langkahnya. Yang lain sibuk kerja, si Hana ini malah cuma enak-enakan gonta-ganti baju sama eksis di social media. Nggak adil banget. Gerutu Haning dalam hati.
“Ehm..."
Hana langsung sadar ada Haning di dekatnya. ia menghentikan sejenak aktifitasnya dan menatap Haning yang nampak tak suka padanya.
"Enak banget ya, baru masuk langsung dapat tempat istimewa…” ujar Haning lengkap dengan tatapan sinisnya.
Bukannya gentar, Hana justru tersenyum dan meletakkan pakaian yang baru saja customer tanyakan. Ia segera menghampiri Haning dan menarik tangannya.
"Mau ngapain?"
Ternyata Hana membawa Haning ke depan kamera yang sedang terhubung dengan social media. “Hai Dear, ada Mbak Haning nih. Gimana kalau untuk baju model ini Mbak Haning saja yang coba buat kalian,” ujar Hana dengan santainya.
Haning yang namanya disebut spontan membulatkan mata. Ia mengibaskan kedua tangannya sebagai tanda bahwa ia ingin menolak keinginan Hana.
__ADS_1
Hana tersenyum melihat reaksi Haning. Ia justru meninggalkan Haning bersama kameranya yang masih stand by.
Haning hanya mampu melotot dan tersenyum kaku kemudian.
“Please Mbak. Biar aku bisa belajar dari Mbak Haning dalam menjelaskan detail pokaian,” lirih Hana nyaris tanpa suara.
Sekali lagi Haning hanya mampu tersenyum kaku. Kurang ajar Hana. Pasti dia sengaja ini. Batin Haning dalam hati.
“Silahkan...” lirih Hana sambilmembiarkan Haning bersama pekerjaan yang semula dilakukannya.
Dengan sedikit berat Haning mengangkat tangannya dan perlahan ia lambaikan. “Hai semua…”
Tiba-tiba Hana kembali ke depan kamera. Ia memegang kedua pundak Haning yang badannya tak setinggi dia.
“Kalian harus tahu, Mbak Haning ini yang banyak ngajarin aku tentang menjelaskan detail pakaian. Mbak Haning ini juga yang selalu jadi top scorer dalam penjualan di toko kita. So, is time for her to show you our product. Enjoy…”
Hana menyingkir lagi dari depan kemera. Kali ini ia benar-benar pergi untuk meninggalkan Haning untuk melanjutkan pekerjaanya.
Sementara Haning yang sudah kepalang tanggung hanya bisa tersenyum karena ia tak mungkin marah atau mengumpati Hana di depan kamera seperti ini. Jika samai ia lakukan, ia pasti akan membuat geger dan membuat Hana makin terkenal saja nanti.
Meski awalnya tertekan dan terlihat terpaksa Haning mulai berbicara di depan kamera. Ia tak mau melihat Hana menang dengan ia menghancurkan acara karenanya.
“Tu kenapa?” tanya Risma begitu Hana menghampirinya.
“Lagi siaran langsung Ma, lihat kan,” ujar Hana yang kini merubah haluannya. Semula ia ingin ke depan, sekarang bersama Risma berjalan menuju gudang.
“Ya gimana ceritanya Mbak Haning jadi siaran langsung, bukannya harusnya kamu?” tanya Risma.
“Nggak apa-apa. Dia kan punya lebih banyak pengalaman, jadi sekalian aku belajar,” ujar Hana.
“Kamu yakin?”
Hana mengangguk. "Yakin lah," ujar Hana mantab.
“Tck. Yuk ah. Kamu bawa yang itu, aku bawa yang ini,” ujar Risma.
Risma Dan Hana kini membawa baju baju dari gudang untuk mengisi bagian display yang sudah kosong di depan. Sementara di luar sudah ada banyak pelanggan yang memenuhi toko Nuke yang tak seberapa besar ini.
__ADS_1
“Han sini Han," panggil Eka. Saat ini Nuke pun tak bisa hanya duduk diam dan memantau karena toko ini yang tak pernah sepi dari pelanggan.
Hingga maghrib menjelang, akhirnya ke-enam perempuan ini memutuskan untuk menutup saja tokonya. Mereka tak sanggup lebih lama bekerja hingga jam 8 malam seperti biasa.
“Astaga, rasanya aku mau mati.” Eka yang terus di depan melayani pelanggan secara langsung nyaris tak duduk seharian ini. Ia memerosotkan punggungnya di tembok dengan kaki selonjor lurus ke depan.
Nuke yang belum bersuara pun kini sudah selonjoran di atas lantai toko tanpa peduli kalau lantai ini banyak debu dan belum sempat di sapu. “Hana, kita harus gimana…?” gumamnya dengan suara lelah.
Mendengar Nuke yang lagi-lagi meminta pendapat Hana membuat Haning mencebik di tempatnya. Ia juga lelah, ia juga menjual banyak produk lewat siaran langsung hari ini meski tak sebanyak Hana di hari-hari sebelumnya, ia sudah lama bekerja bersama Nuke, tapi kenapa hanya Hana, Hana dan Hana saja yang diminta pendapatnya. Kenapa Nuke tak pernah seperti ini kepadanya.
Sementara Risma, Anin, dan Eka tak ada yang ingin ambil suara. Mereka benar-benar kelelahan sehingga duduk di pojokan dan memegang minuman segar menjadi surga untuk ketiganya.
Hana yang ditanya tanpa segaja melihat raut tak suka dari Haning terhadap dirinya. Sehingga ia berniat mengumpankan pertanyaan Nuke untuk Haning saja. Bukan saja maksudnya memberi pelajaran, tapi juga untuk tahu barang kali Haning punya solusi yang tak pernah ia pikir sebelumnya.
“Coba tanya Mbak Haning,” ujar Hana pada Nuke.
“Kok aku?” kaget Haning yang mendengar namanya tiba-tiba Hana sebut.
“Iya. Soalnya pas aku keteteran siaran langsung kan Mbak Haning yang tadi bantu, jadi aku yakin Mbak Haning punya solusi yang bisa kita gunakan untuk mengatasi masalah ini,” jelas Hana.
“Gimana Haning…?” tanya Nuke.
“Emmm…" Duh, gimana nih. Mana aku nggak ada ide sama sekali, lanjut Haning dalam hati. "Ehm, ya kan biasanya Mbak Nuke tanyanya sama Hana, kenapa sekarang sama saya,” elaknya.
“Ya kali aja kamu punya jalan keluar. Kan bisa kita pakai,” ujar Nuke yang masih duduk tanpa daya.
“Ya Hana saja lah, biasanya kan juga dia,” kekeh Haning. Ia tak boleh terlihat bodoh saat ini.
“Ya gini loh Mbak, saya kan juga masih awam sebenarnya masalah yang seperti ini, tapi berhubung Mbak Nuke minta saran jadi ya saya jawab saja semampu saya. Tapi kan namanya manusia nggak ada yang sempurna, jadi untuk menyempurnakan kekurangan saya, ya barang kali Mbak Haning punya ide, biar nggak mengeluh di belakang lagi seperti akhir-akhir ini dalam menerapkan strategi saya.”
“Jadi maksud kamu saya suka ngatain kamu gitu?” Haning nampak tak terima dengan apa yang baru saja Hana ucapkan. Sehingga ia tak segan mengibarkan bendera perang.
Hana tersenyum. “Emmm, enggak sih. Emang pernah Mbak?”
Skak matt.
“Sudah, sudah. Haning, sekarang saya minta kamu juga berkontribusi dalam menyelesaikan masalah ini. Saya tahu kamu orang lama, makanya saya harap kamu bisa menunjukkan kelebihan kamu dibanding Hana yang masih baru sekali bergabung bersama kita,” lerai Nuke.
__ADS_1
Bersambung…