
HAPPY READING
“Aku kesel…” ujar Rina setelah selesai dengan kegiatan koreksi wajahnya.
Dika meraih tangan Rina dan menggenggamnya. “Cerita..,” pintanya lembut.
Rina merarik nafas dan membalas tatapan suaminya. “Ini nggak boleh itu nggak boleh. Iya tahu aku memang ibu baru. Belum ngerti apa-apa belum bisa apa-apa, tapi…” ucapan Rina diakhiri hembusan nafas lelah.
Dika mengeratkan genggamannya kala Rina menjeda ucapannya. Ia ingin Rina bisa merasakan kehadirannya sebagai kekuatan.
“Aku tuh butuh bimbingan, aku tuh butuh diarahkan, bukan terus dihadapkan dengan larangan atau pantangan, kan jadinya capek...,” lanjutnya. Ia terus mencurahkan apa yang jadi penyebab nyeri di hatinya. Satu-persatu ia ungkapkan, hingga akhirnya Dika paham apa yang tengah istrinya rasakan.
Ternyata yang menjadi akar masalah adalah Santi dan Ririn. Sebenarnya Dika tahu ada alasan dibalik semua hal yang Rina keluhkan, tapi kembali lagi. Rina sedang dalam kondisi tak stabil. Baik dari segi hormon maupun mental. Gendis memang anak yang mereka harapkan, namun bagi wanita yang baru saja melahirkan, tetap saja ada shock yang terjadi pasca melahirkan. Dimana sebelumnya mereka hanya perlu aware terhadap dirinya sendiri, sekarang harus ada makhluk kecil yang merebut prioritas diri. Jadi tak mudah memang.
Dika membiarkan Rina menumpahkan semua, hingga tenang akhirnya datang juga.
“Bukankah acara aqiqahnya harus ada Gendis?” tanya Rina tiba-tiba setelah beberapa saat kediamannya. “Itu, rambutnya dipotong sedikit kan?” lanjut Rina masih mengumpan tanya.
Dika menatap dengan seksama istrinya sebelum selanjutnya menaikkan jilbab panjang semula luruh di pundak.
“Iya sih. Emang kamu sudah siap?” tanya Dika.
“Hmm,” gumam Rina dengan kepala terangguk. “Tapi aku rapi rapi dikit ya.”
Rina langsung bangkit tanpa menunggu persetujuan Dika. Sementara menunggu Rina bersiap, Dika pun beranjak untuk mengambil Gendis yang semula masih bersama susternya.
“Sayang, ini udah?”
Rina memutar tubuhnya perlahan agar Dika bisa melihat penampilannya secara keseluruhan.
“Cantik,” puji Dika.
“Bohong.”
“Serius Sayang…”
Keduanya lantas berjalan beriringan meninggalkan kamar menuju ruang utama sambil sesekali berbincang. Di sanalah acara aqiqah akan dilangsungkan.
Kemunculan Rina bersama Gendis di gendongan Dika disambut bahagia semua yang ada di sana. tak terkecuali keluarga besar dan sahabat dekat yang datang. Doa pun dipanjatkan, dan diaminkan kepada Tuhan. Tradisi potong rambut pun dilakukan dan Gendis pun sepertinya begitu menikmati acara. Jangankan menangis atau rewel. Ia justru terlelap begitu nyaman dalam gendongan. Hingga akhirnya Rina ajak kembali ke dalam.
Di tempat itu, tak hanya Dika dan keluarga kecilnya yang berbahagia. Andre yang disiagakan di depan pun menemukan cahaya terang dari kesuraman yang akhir-akhir ini ia rasakan.
Andre dan dan Hana secara berdampingan mengambil makanan. Mereka ingin mengobrol dan berbincang sambil mengurai rindu yang dirasakan.
__ADS_1
Andre menyodorkan beberapa makanan yang khusus ia ambilkan untuk Hana. “Buat kamu…”
Hana meletakkan tempat di tangannya yang memang masih kosong, selanjutnya menerima yang Andre ulurkan. “Makasih Sayang.”
“Sama-sama...”
Andre tak peduli apakah Dika tadi berbohong padanya atau hanya ingin bercanda saja saat ia menanyakan tentang Hana. yang jelas ia akhirnya bisa bertemu dengan kekasihnya. Sekarang waktunya ia menikmati acara, karena tugas menyapa tamu sudah dikembalikan pada Dika sebagai pemilik acara.
Dengan membawa makanan di tangan, Hana dan Andre mencari tempat untuk berbincang. Keduanya memang sudah saling bertegur sapa, tapi karena ada di tengah masing-masing keluarga sehingga untuk bertanya yang lebih personal mereka tak leluasa.
“You know what. Aku sudah hampir gila karena kamu mendadak hilang,” ujar Andre begitu pantat di daratkan.
“Sorry…” sahut Hana penuh sesal.
“Ada apa sebenarnya. Apa kamu sebegitu sibuknya sampai lupa kalau punya calon suami?”
Hana meletakkan piring yang belum ia sentuh isinya sama sekali dan menautkan kedua tangannya.
Its so complicated.
Hana nampak ragu menjelaskan. Namun Andre terus mendesak dengan tatapannya. “What's going on Sayang. Apa aku membuat kesalahan?”
Hana menghela nafas. Ia lantas mengeluarkan ponselnya.
Hana menggeleng. Andre lantas meletakkan makanan yang juga belum disentuhnya itu dan meraih HP Hana. “Rusak ya?” tanyanya.
Hana menghela nafas. “I don’t know. Tapi aku tidak bisa mengubungi kamu. Dan pikirku kamu juga sibuk karena kamu juga sama sekali tak menghubungiku.”
Alis Andre mengkerut. Dan ia mulai memeriksa. Tak butuh waktu lama, sebelum ia menghela nafas. Nampaknya ia tahu apa yang terjadi sekarang.
“Siapa yang pernah pegang ponsel kamu?” tanya Andre sungguh-sungguh.
“Emmm….”
Hana nampak berfikir.
“Sepertinya tidak ada. Hanya saat rapat di kantor Kak Rio waktu itu, dia memintaku untuk meninggalkan ponsel di ruangan,” terang Hana kemudian.
Andre kembali menghela nafas. “Ada yang menyabotase ponselmu.”
Hana membelalakkan mata.
“Siapa?” tanya Hana terkejut mendengarnya.
__ADS_1
Andre menggeleng.
“Tapi siapa?” gumam Hana. sedetik kemudian ia nampak menerawang, mencoba mengingat siapa saja yang mungkin memegang ponselnya. Mencari kemungkinan sosok yang mungkin dicurigai.
Tapi di sisi lain tanpa Hana sadari, Andre sudah mengumpulkan hipotesa tentang siapa-siapa yang mungkin menjadi pelaku sabotase ponsel Hana. Ia juga mulai memutar otak tentang motif apa yang mungkin mendasarinya.
“Eh, Rina mana ya. Mau lihat Gendis dong,” ujar Hana yang tanpa sadar sekarang Andre acuhkan.
Andre seketika sadar dari lamunannya. Dia yang tadi meraung-raung rindu, tapi sekarang begitu Hana datang malah diacuhkan. Andre pun melepas semua yang ia pikirkan, dan berjanji sekarang yang penting ia bisa menikmati waktu dengan Hana.
Andre pun mengurai senyum dan menatap wajah ayu kekasihnya.
“Gimana?” tanya Andre sambil menggenggam tangan Hana.
“Gendis sama Rina. Pengen deh ketemu mereka,” ulang Hana.
“Mereka tadi di sini, tapi nggak lama,” jawab Andre apa adanya.
“Mungkin kondisinya belum fit ya?” tanya Hana.
“May be…”
“Ehm…”
Baru saja Andre hendak melanjutkan obrolan dengan kekasihnya, namun suara deheman yang sangat tak ia harapkan justru muncul dan sekarang.
“Rio…” sapa Andre pada calon kakak iparnya.
Andre bangkit dan segera mengulurkan tangannya.
“Mama tadi mencari kamu.” Bukannya menyambut uluran, Rio justru menghirdar dengan mengajak Hana bicara.
“Ada apa Kak?” tanya Hana yang sepertinya tak sempat melihat kekasihnya yang berniat menyalami kakak tirinya ini.
“Kurang tahu, lebih baik kita segera ke sana,” ujar Rio dengan lugasnya.
Hana langsung dan mengikuti kakaknya. Ia sempat melambaikan tangan pada Andre namun tak sempat menerjemahkan gelagat calon suaminya yang ingin ia bertahan.
Tak banyak yang bisa Andre lakukan selain membalas tangan Hana yang dilambaikan. Jangankan untuk menahan, hanya bertanya ada apa saja ia tak diberi kesempatan.
Sebenarnya kenapa dengan Rio, apa yang membuat dia mendadak seperti menjauhkan ku dengan Hana seperti ini?
Apa mungkin dia juga yang…
__ADS_1
Bersambung...