Zona Berondong

Zona Berondong
Restu 2 Keluarga


__ADS_3


Jadi pengen tukeran tempat sama Rina.


...-H A P P Y R E A D I N G-...


Reno dan Ririn tengah bersantai di depan rumah. Mereka tengah menantikan kepulangan putri semata wayangnya. Dika memang sudah mengabarkan bahwa ia akan mengantarkan Rina sedikit malam karena acara dadakan yang dibuat oleh ayahnya.


Dika menghentikan mobil Rudi di pelataran rumah Reno. Rudi segera turun diikuti empat orang yang berada di mobilnya.


"Assalamualaikum...." Rudi segera menghampiri Reno dan menjabat tangannya.


"Waalaikum salam." Kali ini yang menjawab tak hanya Reno, tapi semua yang ada di sana.


"Lama sekali rasanya kita tak bertemu..."


"Iya Pak Rudi," jawab Reno. "Mari silahkan masuk..." ajak Reno setelah mereka saling berjabat tangan.


"Rina temenin Mama ya," kata Ririn kepada putrinya.


"Tante, Rista ikut ya..." Rista nyelonong begitu saja mengikuti Ririn dan Rina menuju dapur.


"Ris...!" Santi ingin mencegah Rista namun sepertinya gadis kecilnya sudah jauh melesat.


"Nggak apa-apa, Bu. Istri saya senang sekali kalau ada Rista di sini, Rina juga nggak kesepian lagi karena dia memang anak tunggal, jadi biasanya selalu sendiri."


"Rista pernah ke sini?!" tanya Santi.


"Pernah Ma, pernah nginep di sini juga pas Restu tinggal beberapa hari ke luar kota," jawab Dika.


Santi mendadak merasa tak enak. "Maaf ya Pak Reno, anak-anak saya sudah merepotkan." Tiba-tiba Santi terdiam seolah sesuatu tiba-tiba hinggap di ingatan. "Restu nggak pernah nginep sini tapi kan?!"


"Enggak Mama..." sangkal Dika yang tak suka melihat raut wajah Santi yang mendadak panik.


"Mas..." Santi menarik ujung kemeja suaminya.


"Kenapa?" tanya Rudi.


"Emm...coba, emm..."


"Apa masalah Nak Dika dan Rina?" terka Reno saat melihat Santi yang tak segera menyelesaikan ucapannya.


"Iya Pak Reno..." sedikit sungkan namun Santi tetap berkata iya.


"Maa....." Dika hendak melayangkan protes, namun Rudi segera meletakkan sebelah tangannya di pundak Dika.


"Mama hanya tak mau kamu salah langkah Nak..."


"Saya benar-benar menyayangi Rina Yah..." bela Dika.

__ADS_1


Kedua sudut di bibir Rina spontan tertarik saat ia mendengar jelas apa yang baru Dika katakan tentangnya.


"Nah kebetulan Rina datang, sini Nak..." Santi menepun tempat duduk di sebelahnya.


Rina meletakkan kue kering yang dibawanya kemudian segera duduk di sana.


"Rista duduk di sini ya Tante," kata Rista yang segera mendudukkan dirinya si sebelah Ririn.


"Rista yang sopan," Santi memperingati.


"Nggak apa-apa Bu.... Silahkan diminum tehnya. Kuenya juga bikinan saya sendiri, monggo dicicipi."


"Terimakasih banyak," kata Rudi setelah meminum tehnya.


"Wah enak banget cookiesnya. Bu Ririn sering bikin beginian?" tanya Santi saat mencicipi kue buatan Ririn.


"Alhamdulillah kalau Bu Santi suka, saya memang suka bikin kue-kue kering."


"Resepnya?" tanya Santi sambil kembali mencomot kue lain dan memasukkan ke dalam mulutnya.


"Resep coba-coba Bu, sama sesuai bahan yang ada saja."


"Wah, nggak sengaja aja enak, apa lagi kalau niat. Nggak ada niat bikin usaha Bu, saya minat loh jadi divisi icip-icip..." kata Santi yang terlihat begitu menikmati kue kering di hadapannya.


"Ehm, ehm. Mama tadi mau ngomong apa ya, ketemu kue kok bisa langsung lupa," ucap Rudi mengingatkan.


"Oh iya..." Santi segera menelan kue terakhir di tangannya. "Maaf habis kuenya enak Mas, di luar kalau beli nggak ada yang rasanya begini," jujur Santi.


"Nak Rina, sebelumnya maaf kalau selama ini saya tak pernah sekalipun muncul di hadapan kamu dan tak tahu sejauh mana hubungan kamu dengan anak Tante. Tapi mumpung ini pada ngumpul semua, Tante mau tanya langsung sama kalian, sejauh mana hubungan kalian, dan apa rencana ke depan untuk hubungan kalian?"


Rina menunduk. Aku harus ngomong apa, bahkan hubunganku dan Dika saja tak jelas bagaimana hingga saat ini.


"Boleh saya yang jawab." Dika menatap Rudi dan Reno bergantian seolah tengah meminta pendapat keduanya.


Keduanya hanya mengulas senyum dan Reno mengangguk seakan mempersilahkan.


"Sebenarnya saya dan Rina sudah putus beberapa minggu yang lalu..."


Degh!


"Kamu..."


"Maaa....," potong Dika cepat sebelum Santi melayangkan protesnya.


Ririn juga tak kalah shock. Ia bahkan terlihat meremas nampan yang masih dipegangnya.


"Kita emang putus dan kita nggak pacaran lagi."


Santi hendak kembali membuka mulut namun Rudi berhasil mencegahnya.

__ADS_1


Rina pun tak kalah kacau karena merasa hubungannya akan benar-benar berakhir.


"Tapi beberapa hari yang lalu saya melamar Rina dan hingga kini Rina masih menggantung jawabannya."


Spontan Rina mengangkat wajahnya. Pandangannya langsung bertemu dengan Dika. Dika mengulas senyum saat beradu pandang dengan gadis yang dipujanya.


"Seperti kata Mama, mumpung semua ada di sini, saya ingin bertanya pada Om Reno dan Tante Ririn, bolehkah saya menjadikan putri anda sebagai calon istri saya?"


Bahagia. Rina merasa terlalu bahagia dengan apa yang baru saja di dengarnya.


Reno menghela nafas. "Apa kamu yakin dengan anak saya? Selain itu, usia kalian masih begitu belia."


Dika menghela nafas. "Waktu itu, Om hanya memberikan syarat agar saya mengungkap semua misteri box dalam hidup saya, baru setelahnya Om akan memberikan izin menata masa depan dengan putri anda. Dan seperti yang Om lihat, saya sudah bisa ke sini setelah mengungkap semua kebenaran yang sebelumnya masih tersamarkan." Dika tersenyum penuh kemenangan.


Semua yang di sana melayangkan tatapan heran pada Reno dan Dika. Namun hanya Dika yang dengan tegas mengangkat wajahnya.


"Papa nggak aneh-aneh kan?" tanya Ririn dengan mata memicing.


"Enggak Ma, Papa juga masih belum ingat apa yang sudah Papa katakan pada Nak Dika." Reno nampak berusaha keras membongkar ingatan dalam kepalanya.


"Jangan sampai Om lupa dan membatalkan apa yang sudah kita sepakati." Dika mulai menatap geli pada ayah dari gadisnya ini.


"Ada bisnis yang ngelibatin Rina ya Pa?" tanya Rina dengan polosnya.


"Papa jual Rina?!" Spontan Ririn mencubit suaminya.


"Aduh, aduh!" Reno menggenggam tangan Ririn agar tak lagi mencubitnya. "Kok pada ngaco sih...?"


Dika tak mampu menahan tawanya. Meskipun tak terbahak, tapi gigi rapinya hingga nampak semua. "Oke, oke." Dika menghela nafas untuk meredakan tawanya. "Yah, Ma. Om Reno ini yang mendorong saya untuk menanyakan langsung sama Ayah dan Mama terkait kesalah pahaman antara kita. Jika semua sudah jelas baru Om Reno mengizinkan saya untuk memikirkan masa depan dengan Rina..."


Sekian detik mereka hanya menatap Dika tanpa suara. Tak lama kemudian, mereka semua segera mengulum tawa. Menertawakan berbagai praduga yang yang ada di masing-masing kepala mereka.


"Saya juga mau minta maaf sama Tante dan Rina, karena saya udah bohong selama ini. Saya bukan magang di kantor Om, tapi saya adalah pemilik dari perusahaannya."


"Jadi selama ini Rina nggak tahu kamu siapa?" tanya Santi.


Dika menggeleng. "Makanya Ayah, Mama. Saya sayang banget sama Rina, karena Rina mau bertahan sama saya bukan karena warisan yang saya punya." Dika mengucapkan setiap kata dengan penuh percaya diri.


"Kamu itu umur berapa sih Nak?" tanya Rudi yang masih tak percaya ada bocah SMA yang bisa berbicara seperti Dika.


"17 tahun Yah, nggak lupa kan kalau Ayah yang dulu udah nolong Mama saat melahirkan saya?"


"Kamu juga sudah tahu itu!?" tanya Rudi tak percaya. Tak hanya dia yang terkejut, Santi pun tak kalah terkejutnya dengan apa yang baru didengar.


"Apa Ayah pikir saya akan menerima Ayah begitu saja jika hal sepenting itu belum saya ketahui?"


Rudi menghela nafas. "Kamu sepertinya lebih pandai dari Hendro saat berbicara."


Syaraf yang sempat menegang kini sudah mengendur. Kepastian tentang hubungan Dika dan Rina akhirnya tiba juga. Belum membahas pernikahan, tapi restu dari kedua keluarga sudah Rina dan Dika dapatkan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2