Zona Berondong

Zona Berondong
Menuju Pernikahan


__ADS_3

^^^Dan ternyata double up nya baru terealisasi hari ini.^^^


^^^Author minta maaf ya, 🙏^^^


^^^Jangan lupa buat spam komen. ^^^


...*HAPPY READING*...


"Kami ingin menikah sebelum bulan ramadhan."


"Apa? Bulan ramadhan kan tinggal 20 hari lagi Nak. Astaga." Santi menatap tak percaya putra sulungnya ini.


Sebenarnya 3 orang tua lain juga kaget, namun hanya Santi yang kontrol dirinya buruk sekali.


"Iya Nak Dika, apa nggak abis lebaran aja, biar persiapannya juga lebih mateng," imbuh Ririn.


"Ehm..."


Reno bedehem dan ruangan itu mendadak senyap.


"Katakan saja. Akan kami dengarkan," ujar Reno sambil menatap Dika.


Dika menghela nafas.


"Kami ingin melewatkan ramadhan sebagai suami istri. Kami ingin memperoleh kemudahan dalam beribadah dan itu akan didapat jika kami sudah mengikuti sunnah menyempurnakan agama dengan menikah."


"Tapi Rina ingin pernikahan ini tak dipublikasikan dulu."


"Loh kenapa? Bukannya pernikahan itu akan lebih baik jika lebih banyak orang yang tahu."


Santi memang susah dikasih tahu. Padahal sudah jelas Reno meminta Dika untuk menyampaikan keputusan mereka terlebih dahulu. Tapi Santi tak bisa menahan diri untuk terus menginterupsi.


"Sayang, sabar dulu. Biar anak-anak kita selesai berbicara, ya... "


Reno menghela nafas. Samar ia tersenyum saat tak sengaja bertemu pandang dengan Rudi. Untung pak Rudi sabar. Kalau tidak bisa darah tinggi punya istri kekanakan seperti bu Santi.


Diam-diam Reno bersyukur punya istri seperti Ririn, yang tingkat kengenyelannya tak separah Santi.


"Rina masih ingin mengejar impian Rina dengan usaha Rina sendiri tanpa bayang-bayang Dika. Rina tak ingin banyak orang melihat Rina hanya sebagai istri Dika. Rina ingin terlihat sebagai diri Rina, seseorang yang memang layak berada di samping seorang Restu Andika."


"Selebihnya, Rina akan memainkan peran sebagai seorang istri."


"Nak, Dika itu nggak butuh wanita dengan karir hebat yang justru membuat waktu bersama kalian hilang. Dia butuh wanita yang bisa ia jadikan tempat untuk bersandar saat lelah, dan mensupport saat ia lengah."

__ADS_1


"Ma, Rina sudah mempertimbangkan hal itu, dan Dika setuju."


"Nah terus kalau sampai hamil gimana? Masa iya perut kamu besar terus bapaknya ngumpet saja."


Rudi menghela nafas saat istrinya susah sekali diajak bersabar. Terlebih saat Ririn juga nampak sependapat membuat Santi lebih semangat untuk berbicara.


"Ma, Rina jan juga masih muda. Rahim dia belum cukup kuat untuk hamil. Bahkan terlalu beresiko jika memaksa ingin hamil. Jadi kami akan menunda sampai usianya diatas 20 tahun."


Perjelasan Dika yang masuk akal ini sepertinya cukup bisa diterima. Terbukti dari Santi yang tak lagi menginterupsinya.


"Sebenarnya Rina nggak masalah untuk hamil."


Dika menatap Rina tak percaya. Susah payah ia mencari alasan logis agar kedua mama ini tak menyerang calon istrinya, namun ia malah nampaknya menyingkirkan tameng dan siap menghadapi serangan.


"Ma. Mama bisa kan bantu Rina. Bantu jaga anak Rina jika terpaksa Rina harus keluar karena ada kepentingan."


Krik


Krik


Krik


"Ah, tapi itu kan masih lama," lanjut Rina saat kedua mamanya diam saja.


"Baiklah, kami yakin kalau kalian sudah mempertimbangkan keputusan ini matang-matang. Kalau memang kalian ingin menikah sebelum ramadhan, mari sekarang kita membahas masalah pernikahan. Bagaimana menurut Pak Reno?"


Pembicaraan serius pun dimulai. Dan seperti dugaan sebelumnya, bahwa yang rempong dan banyak maunya bukan kedua calon mempelai, tapi dua orang ibu-ibu yang susah diajak yang penting sah. Terutama Santi. Ia tak mau momen sekali seumur hidup bagi anak-anaknya ini hanya biasa-biasa saja.


Akhirnya Santi yang memimpin rencana acara dengan sesekali mendapat masukan dan ralat oleh Ririn. Sedangkan para papa hanya mendapat bagian berkata iya dan mencukupi semua biayanya.


"Nah gedung, makanan, undangan dan konsep acara kan udah beres, sekarang tinggal baju sama seserahan. Aksesori juga, astaga jangan sampai kelewatan yang satu ini..."


"Ma, yang ini serahin sama Dika ya."


"Eee..., nggak bisa. Selera Mama yang terbaik pokoknya, takut jelek kalau kamu yang ngurus. Bisa-bisa Rina kamu ajak pake baju item kalau kamu yang nyiapin."


"Ma, dengerin deh."


"Kamu yang dengerin Mama."


Rudi hanya geleng-geleng melihat istrinya. Sementara Dika hanya mendengus.


"Ma, seserahan, gaun sama mahar udah beres Ma, tinggal fitting aja."

__ADS_1


"Tapi kalau nggak cocok, kurang istimewa, terus nggak bagus gimana?"


"Ya kalau Mama ngeliat aja belom bagaimana bisa tahu bagus apa enggak," ketus Dika. Dia tak lagi bisa ramah meskipun di depan calon mertuanya.


"Ayo kita pergi sekarang."


"Ya nggak sekarang juga Mama. Besok kan juga bisa. Lagian fitting kan kudu sekalian nunggu Dedi sama Rista juga. Sedangkan mereka masih belum kelar urusannya."


"Kok bawa-bawa Dedi sama Rista. Mereka nggak mau nikah juga kan?"


Dika mengacak rambutnya frustrasi.


"Ayah ngomong gih sama Mama, Dika capek."


Dika menyambar minuman yang tersedia dihadapannya. Rina tertawa kecil melihat Dika yang frustrasi saat berbicara dengan mamanya. Jujur, dalam hati ia bahagia. Bagaimana tidak, semua kerempongan Santi tujuannya adalah untuk memberikan sesuatu yang istimewa untuk dirinya.


"Rista kan anak kita sayang, dan Dedi sudah tak punya siapa-siapa lagi. Kamu nggak lupa kan kalau saya sudah berikrar untuk menganggap dia seperti anak sendiri terlepas dia akan berjodoh dengan Rista atau tidak."


Santi sepertinya berhasil luluh juga saat ini.


"Jadi Nak, agendakan fitting secepatnya. Untuk masalah ke KUA biar saya yang bantu. Udah paham kan kalau kalian harus sidang terlebih dahulu?"


"Iya Yah..."


Aturannya perempuan maupun laki-laki, baru bisa menikah setelah menginjak 19 tahun.


Namun, terdapat pengecualian bagi calon mempelai yang ingin menikah diusia sebelum itu. Mereka dapat meminta dispensasi kepada Pengadilan atau Pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak pria maupun pihak wanita.


Mekanisme pemberian dispensasi melalui proses melalui tata Pengadilan yang diputuskan oleh hakim atau biasa dikenal dengan sidang.


Sidang ini berisi pemeriksaan saksi, pemeriksaan berkas yang dipimpin majlis hakim pengadilan Agama.


Alasan umum yang dikemukakan rata-rata orang adalah untuk menghindari perzinahan. Jadi pas banget kan?


"Sepertinya kita perlu menyiapkan tenaga ekstra untuk melakukan persiapan pernikahan, karena sesederhana apapun pernikahan, tetap saja akan butuh banyak persiapan."


Semua yang ada di sana mengangguk setuju dengan ucapan Rudi.


"Jadi kami mau pamit dulu."


Dika dan kedua orang tuanya segera meninggalkan kediaman Reno setelah sebelumnya sempat berpamitan.


Dika tak tinggal ataupun pergi bersama Rina karena mereka sadar tak lama lagi mereka akan menikah, jadi mereka tak mau mengambil resiko jika tiba-tiba lost control dan menodai diri sebelum hari H tiba.

__ADS_1


Sebentar lagi, hanya tinggal menghitung hari. Tak masalah rasanya jika mereka harus menahan diri dan bersabar dulu menabung rindu, toh setelah ini mereka akan bebas bertemu dan bersama sepanjang waktu.


TBC


__ADS_2