Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Identitas Palsu


__ADS_3

HAPPY READING


Tak sampai setengah jam setelah Nuke meminta Risma untuk mendatangkan Hana, kini Hana sudah tiba di tempat kerja Risma dengan diantar oleh Lutfi. Semula Risma ingin meminta  tolong Bayu untuk mengantarkan Hana, tapi ternyata Bayu shift pagi. Beruntung Lutfi hari ini tidak ke kampus sehingga ia bisa mengantar Hana menggantikan Bayu.


Di toko Hana langsung disambut oleh Risma dan Nuke, dan setelah Nuke persilahkan, ia mulai melayani pelanggan yang datang untuknya.


“Terimakasih banyak ya, kami sangat puas dengan pelayanan di toko ini. Kalau semua pramuniaga seperti Hana ini, saya yakin toko kalian akan berkembang pesat…” ujar pelanggan muda ini.


“Terimakasih banyak. Kami akan menampung masukan anda,” ujar Nuke saat mengantar serombongan pelanggan ini keluar meninggalkan toko mereka.


Di dalam toko Hana sedang bersama Risma dan tiga pramuniaga lainnya. Perasaan keempat pramuniaga ini campur aduk melihat bagaimana Hana bisa mengauasai dengan lebih baik apa yang menjadi pekerjaan mereka.


“Han, sekarang kamu cerita deh, sebenernya kamu itu siapa datang dari mana, terus gimana kehidupan kamu sebelumnya?” tanya Risma tiba-tiba


Kompak ketiga rekan Risma menatap heran pada gadis bertubuh mungil ini.


“Lu sehat kan Ris?” tanya Haning.


“Iya, pertanyaan lu aneh,” imbuh Eka.


Saat Anin ingin ikut melayangkan protes, tiba-tiba Nuke datang.


“Nah sekalian  nih Mbak Nuke juga ada, sekarang kamu kasih tahu sama kita,” ujar Risma masih dengan wajah penasarannya.


Hana merasa terpojok. Ia tak mungkin menceritakan semua pada mereka, tapi ia tak boleh juga mengarang cerita yang tak masuk akal tentang dirinya.


“Ayo Han, keburu ada pelanggan. Aku nggak mau terus-terusan penasaran,” desak Risma.


Hana menyerah. “Oke aku cerita,” ucapnya akhirnya.


Hana nampak beberapa kali kembali menghela nafas. Sementara kelima orang di sana sudah siap mendengar ceritanya.


“Aku tak ada orang tua, dan aku tuna wisma.” Maaf Pa. aku nggak bilang yatim piatu, tapi aku bilang tak ada orang tua, karena aku memang sendiri, lanjut Hana dalam hati.


“Aku sempat bekerja di Surya group saat RR ini masih dalam proses perencanaan, dan belum sampai launching,” ujar Hana mengawali cerita.


Hana menjeda ucapannya sejenak. Yang kelihatan ia tengah menyiapkan mental untuk mengungkap jati dirinya, namun sebenarnya ia tengah memikirkan cerita lanjutan yang hendak ia ungkapkan.


“Aku berhenti karena ada tawaran kerja dengan gaji lebih tinggi, tak tahunya aku malah tertipu sindikat perdagangan manusia. Tapi aku kabur tanpa berhasil membawa identitasku sama sekali.” Acting Hana benar-benar meyakinkan. Buktinya kelima orang di sana benar-benar berhasil ia geret ke dalam kisahnya.

__ADS_1


“Lalu bagaimana kamu bisa muncul dengan pakaian rumah sakit?” tanya Risma yang masih bingung dengan pertemuan pertama mereka.


Hana tak langsung menjawab. Ia masih menimbang kelanjutan cerita semacam apa yang tepat untuk ia ungkapkan. “Aku sempat tertangkap saat kabur, dan aku terluka makanya dilarikan ke rumah sakit.”


“Setelah kamu di rumah sakit kamu kabur lagi?” tanya Anin yang nampaknya sudah baper dengan cerita Hana.


Hana hanya mengangguk sebagai jawabannya.


“Oke Hana, ceritanya bisa dilanjut lain waktu."


Hana benar-benar bersyukur saat Nuke tiba-tiba menyela dalam obrolannya. Ia sebenarnya masih belum ada ide lanjutan untuk ceritanya.


"Langsung saja, apa kamu mau kerja di sini?”


Risma dan kawan-kawannya serempak menoleh pasa Nuke. Hana pun nampak terkejut mendengar tawaran Nuke ini. Jujur ia senang, tapi keterkejutannya tetap terasa paling dominan.


Setelah cukup dengan keterkejutannya Risma kemudian tersenyum lebar. “Udah mau aja,” desak Risma pada Hana.


“Tapi saya nggak punya identitas apa-apa,” ujar Hana.


“Kamu tenang saja, saya yang akan menangung kamu,” jawab Nuke yakin.


Hana sejenak menatap Risma sebelum perlahan menganggukkan kepala.


“Ya udah, kamu bisa kerja mulai sekarang dan bisa minta tolong salah satu dari kalian untuk membantu Hana mengenali system kerja toko ini,” pinta Nuke.


“Saya saja Mbak.” Risma menawarkan dirinya.


“Silahkan. Yang lain lanjut bekerja.” Nuke segera kembali keruangannya setelah membubarkan karyawannya.


Dan tak lama setelah itu muncul beberapa orang pelanggan yang datang ke toko ini sementara Risma bersama Hana mulai berkeliling mempelajari system di toko ini.


***


Andre sengaja tak memonitor orang-orang yang ia suruh untuk menemukan Hana hari ini. Ia merasa lelah dan kecewa dengan sikap Hana yang pergi begitu saja darinya. Ia tahu Hana pasti punya alasan dibalik sikapnya, tapi tak seharusnya ia pergi tanpa keterangan seperti ini. Andre merasa harusnya ia berbicara baik-baik dengannya jika ada masalah yang tak mampu diselesaikannya. Bukannya malah pergi dan menyiksa Andre seperti ini.


“Elis, kamu siap-siap dan ikut saya meninjau pabrik,” ujar Andre saat berjalan melewati meja kerja Elis. Ia bicara tanpa menghentikan langkah pun tanpa menatap lawannya berbicara.


Di tempatnya, Rahma beringsut untuk mendekat ke arah Elis. “Pak Andre jadi dingin banget ya sekarang,” lirihnya kemudian.

__ADS_1


Elis mengangguk tanpa menjawab dengan kata karena ia ingin menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu sebelum ikut dengan Andre seperti yang bosnya ini minta.


Setelah sempat menghilang di balik pintu ruangannya, Andre muncul kembali dan berjalan ke arah Elis.


“Kita pergi sekarang,” ujar Andre masih dengan gaya yang sama dengan sebelumnya.


“Baik Pak.” Elis langsung menyambar tasnya dan bangkit untuk mengikuti Andre.


Elis sedikit keteteran mengikuti langkah panjang Andre, hingga ia harus berlari kecil sesekali agar tak tertinggal langkah bosnya ini. Mereka berjalan melewati karyawan tanpa memperdulihan tatapan iri dan bisik-bisik yang ditujukan pada Elis, orang yang akhir-akhir ini sering terlihat keluar masuk kantor bersama Andre. Ini karena Dika dan Andre harus menangani dua hal yang berbeda sehingga mereka jarang mengerjakan sesuatu bersama.


Dengan catatan di tangannya, Elis mendengarkan dan menjawab setiap pertanyaan yang Andre ungkapkan. Ia juga langsung mencatat setiap ada point penting yang Andre ucapkan.


“We'll see. Di pabrik kamu akan terus di samping saya, dan pay attention pada pencapaian dan kendala yang nanti terpaparkan. Paham.”


“Paham Pak…”


Andre memacu langkahnya lebih cepat. Dari belakang, diam-diam Elis senang karena ia sering punya waktu bekerja berdua dengan Andre seperti ini. Ya tidak berdua juga sebenarnya, tapi setidaknya nanti ia akan melakukan perjalan menggunakan mobil yang sama dengan Andre. Dan Andre selama ini tak pernah menggunakan sopir jadi dapat dipastikan jika mereka akan berdua selama perjalanan.


“Lis, apa kamu punya data ada berapa toko yang taken kontrak untuk menjadikan produk kita sebagai item utama yang dijual?” tanya Andre di balik kemudi.


“Sebentar Pak…” dengan sigap Elis segera mencari data yang Andre minta.


“Gimana?” tanya Andre saat Elis tak juga memberikan jawaban atas pertanyaannya.


“Sebentar Pak…” Elis masih sibuk mengusap dan menyentuh layar gadgetnya. “Nah ini Pak. Apa perlu saya bacakan?” tawar Elis.


“Ada berapa toko?” tanya Andre.


“Di kota ini ada 4 toko, dan ada 6 lagi yang tersebar di tiga kota tetangga,” jelas Elis.


“Toko mana yang jadi peringkat teratas dan terbawah?” tanya Andre lagi.


“Penjualan tertinggi dipegang toko yang dihandle langsung oleh Surya Pak, karena penjualan tidak hanya dilakukan secara offline tapi juga online. Dan yang terbawah di kota ini juga di… sebentar.” Elis tampak mencermati data yang dia miliki.


“Ah, ini. Toko di jalur perbatasan. Kemungkinan lokasinya kurang strategis dan penjualan hanya mengandalkan offline saja, jadi kurang ada yang mengenal mereka.”


Andre masih fokus dengan jalan, ia tampak berfikir di sela melihat jalan. “Bagaimana data penjualan di toko yang ada di daerah kampus Biru?” tanya Andre tiba-tiba.


Elis mengernyit. “Sepertinya toko ini tidak saya sebutkan sebagai top atau bottom shop Pak?”

__ADS_1


“Tugas kamu hanya menjawab pertanyaan saya.”


Bersambung…


__ADS_2