
^^^Hai, hai...^^^
^^^Udah siapkah mengupas misteri kehidupan para berondong, ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤^^^
^^^Siap-siap ya.^^^
^^^-Happy reading-^^^
"Rin, ini bener nggak sih ninggalin mereka berdua?" tanya Dika yang kini berjalan bersama Rina di depan villa.
"Kamu percaya sama mereka ya..." kata Rina yang dengan susah payah memegang dua sisi wajah Dika.
Melihat Rina yang kesusahan, akhirnya Dika mengakat tubuh kecil gadisnya dan berjalan membawanya menuju sebuah kursi santai dari rotan yang terletak tak jauh dari mereka. "Tapi Rista masih kecil sayang..." kata Dika kemudian.
"Emang 17 tahun udah bisa dibilang dewasa?" tanya Rina yang masih bermain di wajah Dika.
Dika memperhatikan dengan seksama gadis mungil yang kini dipangkunya. "Dan yang 18 tahun bentuknya masih kayak bocah, kecuali..." Dika menghentikan pandangannya pada sebuah objek yang nampak menonjol di hadapannya.
Rina mengernyit tak paham sebelum akhir mencoba mengikuti arah pandang Dika.
"Dika!"
Sebuah teriakan terdengar melengking menyusup ke gendang telinga. "Apa, hmm?" tanya Dika setelah Rina meredakan teriakannya.
Rina hanya mendengus dan memalingkan wajahnya.
Dika terkekeh melihat Rina yang cemberut dengan tangan menyilang di depan dada. "Makin imut tahu nggak..." Dika meraih dagu Rina dan membawa wajah cantik itu agar menatap wajahnya.
Rina menghela nafas. "Aku dulu paling sebel dikatain imut..."
"Kenapa, hmm?" Dika menyingkirkan anak rambut Rina yang tertiup angin hingga menutupi sebagian wajah cantiknya.
"Aku..." aku dulu benci terus-terusan dideketin berondong, lanjut Rina dalam hati.
"Aku apa?" Dika melingkarkan sebelah tangannya di pinggang ramping Rina dan perlahan menyusupkan kepalanya di ceruk leher jenjang di hadapannya.
Rina memejamkan mata saat merasa hembusan nafas Dika menyapu lehernya dengan lembut. Sedikit menggelitik, namun tak ada niat untuk meminta Dika menghentikannya.
Dika juga tengah menikmati aroma yang menguar dari tubuh Rina. Campuran aroma shampo, sabun mandi, lotion, entahlah tak dapat Dika temukan secara persis penyusunnya, yang jelas ia sangat suka menghirupnya.
"Rin..." Suara Dika terdengar berat dan begitu rendah saat memanggil nama Rina.
Dengan perlahan Rina membuka mata yang sebelumnya ia pejamkan. Ia perlahan menolehkan wajahnya dan langsung disambut wajah tampan Dika yang menatapnya dengan mata sayu. Jarak mereka yang begitu dekat, membuat pipi Rina bahkan bergesekan dengan hidung mancung Dika. Tangan yang semula memeluk pinggang itu pun, perlahan merambat naik. Dan entah siapa yang memulai, kedua remaja itu saling memagut hasrat.
"Kayaknya udah pada balik tuh," gumam Dian setelah sempat mendengar samar-samar orang berbincang di depan sana. Dia berjalan cepat karena ingin segera pamit kepada mereka. Bukan, dia bukannya merasa terasingkan hanya saja ternyata Ana, saudara jauh yang sudah lama tak ditemuinya ternyata sedang berada tak jauh dari lokasi mereka berada. Dia tahu hal ini setelah melihat feed di instagram Ana pagi ini.
Mendadak langkahnya terhenti saat melihat adegan 18+ dihadapkannya. Tepat di saat yang sama dari arah berlawanan, ia melihat Dedi memutar tubuh Rista dan mendekap tubuh gadis itu agar tak melihat adegan yang diperankan oleh Rina dan Dika.
__ADS_1
"Ehm, Ehm!!"
Sementara Dian salah tingkah sendiri, Dedi justru berdehem dengan cukup keras, berharap kedua orang yang sedang dimabuk asmara itu sadar jika mereka tidak hanya berdua.
Dan benar saja, Dika dan Rina langsung menjauhkan tubuh keduanya. Namun saat melihat keberadaan ketiga orang itu, Rina tak jadi bangkit namun justru menenggelamkan wajahnya di dada bidang Dika. Perlahan Dika menepuk pelan punggung atas Rina yang kini berada di pelukannya.
"Dian mau ke mana?" tanya Dika yang melihat Rina sudah rapi dengan menenteng ransel berisi barang-barangnya.
Masih dari pelukan Dika, Rina mencoba mengintip.
"Aku mau ke Ana. Dia saudara jauh aku, dan kebetulan lagi ada di deket sini. Nggak apa-apa kan?" pamit Dian dengan senyum dipaksakan karena momen akward yang baru saja ia saksikan secara langsung.
"Yahhh, kamu ngambek ya? Maafin deh aku tadi ninggalin kamu..." kata Rina yang merasa tak enak dengan Dian.
Dian menggeleng cepat. "Enggak, enggak. Aku cuma udah lama nggak ketemu dia, jadi emang pas aja."
"Beneran?" tanya Rina sekali lagi.
"Beneran." Dian berusaha meyakinkan Rina. Ya memang sih dia sedikit merasa tak enak dengan kejadian pagi ini, namun terkait keberadaan Ana, Dian sama sekali tidak berbohong. "Ya udah, aku ke Ana dulu ya..."
"Kamu perginya gimana?" tanya Dika.
"Aku anterin aja..." kata Dedi tiba-tiba.
Dika mengangguk.
"Ikut aku bentar..." kata Dedi sambil berlalu. Tak ada nama yang disebut, namun semua tahu yang dimaksud adalah Dika.
Kemudian Dian mendekat dan duduk di sebelahnya. "Lu bisa nggak sih kalau mau mesra-mesraan lihat tempat. Itu tadi kalau Rista lihat gimana, dia kan masih kecil..." bisik Dian tepat di telinga Rina. Meskipun ia juga kaget tadi, setidaknya dia sudah lebih berumur daripada adik Dika.
Rina hanya menunduk tak enak. Kemudian dia menoleh untuk memanggil Rista agar bergabung bersama mereka.
" Lhoh, tadi dia masih di situ kan?" kaget Rina karena tak mendapati Rista di tempat semula.
Dian turut celingukan. "Mungkin dia di kamar."
Rina mengangguk.
"Kamu selalu gitu sama Dika?"
Rina menggeleng.
"Syukur deh. Sebaik-baiknya cowok bisa bikin jebol juga kalau ceweknya nggak bisa ngerem."
Kembali Rina mengangguk.
"Lah, ngganngguk lagi. Jangan-jangan..."
__ADS_1
Rina mengela nafas. "Jangan mikir macem-macem deh. Masih V, tenang aja..."
Dian mengela nafas lega. "Syukur deh..."
"Napa muka kamu gitu?" tanya Rina saat melihat perubahan air muka Dian.
Dian tersenyum. "Cuma lagi kepikiran Ana."
"Dia kenapa?"
Dian menghembuskan nafas kasar. "Dia nggak jelas banget hidupnya. Dia masih kelas 2 SMK, tapi udah ada yang gol sejak baru masuk SMK."
"Maksudnya?" tanya Rina yang tak paham maksudnya.
"She has lost her virginity. Sayang banget, padahal dia nggak hanya cantik tapi cerdas."
Rina menunduk, mengingat saat-saat ia juga nyaris kehilangan mahkotanya.
"Napa lu juga ikut sedih?" tanya Dian yang melihat Rina jauh lebih terluka daripada dirinya.
Rina menggeleng. Saat itu Dedi dan Dika muncul dari ruang belakang.
"Jalan?" tanya Dedi pada Dian.
Dian kemudian bangkit dan berpamitan pada Dika dan Rina. Dika juga sempat mengungkapkan permintaan maaf ya atas kejadian pagi ini pada Dian. Dan Dian pun pergi dengan diantarkan Dedi.
"Mereka cocok," gumam Rina tiba-tiba.
Dika menoleh pada gadis mungil di sampingnya. "Mereka juga seiman."
"Yah..., tapi tahu sendiri kan di hati Dedi ada siapa?"
Dika mengangguk dan mengajak Rina berjalan ke bagian belakang villa. "Aku lebih suka lihat laut dari sini."
"Bukannya asik ke sana bisa main pasir juga."
Dika mengajak Rina untuk duduk di tepi kolam. "Tapi kalau di sini aku bisa main-main sama kamu..."
Rina mendorong tubuh Dika sebelum benar-benar merapat pada tubuhnya. "Kalau Rista lihat bahaya."
"Iya, Dedi tadi juga sempet bilang gitu sama aku."
"Terus?" tanya Rina sambil berusaha menahan tubuh Dika.
"Aku janji bakal lebih hati-hati...." jawab Dika sambil mendaratkan bibirnya di leher Rina.
"Mana hati-hati, ini udah nyosor lagi aja..." ketus Rina yang tak lagi bisa menahan Dika.
__ADS_1
"Nggak akan lebih dari ini..."
TBC