Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Sorry


__ADS_3

Makasih ya buat hampir 2k reader setia.


Okelah, mungkin kalian kayak Senja dulu yang malu buat komen, yang penting sudah setia mengikuti tulisan saya.


Terimakasih banyak.


HAPPY READING


“Sayang, muka kamu kok serius banget sih? Memangnya kamu habis menghubungi siapa?” tanya Rina yang sedang bersantai menikmati hembusan angin laut yang menerpa tubuhnya.


“Biasa, ada yang ingin main-main?” ujar Dika yang masih sibuk dengan ponselnya.


Rina mengangkat tangannya dan menyentuh wajah Dika. Ia menarik-narik alis Dika yang semula mengkerut, kemudian ia bergerak ke bawah untuk menarik kedua sudut bibir suaminya.


“Nah, kalau gini kan ganteng…” ujarnya setelah berhasil menciptakan senyum di wajah suaminya.


“Emang tadi nggak ganteng?” protes Dika tak terima.


“Ya ganteng juga sih, cuma rada serem,” kilah Rina sambil belagak ngeri.


Dika menyingkirkan rambut Rina menutup wajahnya karenatiupan angin. “Maaf ya, aku harus menunjukkan wajah yang seperti ini dihadapanmu.”


“Nggak apa-apa. Aku memang selalu ingin berada di dekatmu, baik saat kamu tampan atau pun menyeramkan. Bukankah itu juga cita-citamu?” tanya Rina masih dengan memegangi wajah suaminya.


“Bagaimana dengan karir yang ingin kamu bangun?” Bukan alasan tiba-tiba Dika bertanya seperti ini. Pasalnya akhir-akhir ini ia selalu mengajak Rina untuk selalu di dekatnya dan istrinya juga tak tampak pernah menyentuh pekerjaannya sama sekali.


“Itu semua tak lebih penting dibanding aku bisa dekat dengan kamu,” ujar Rina tanpa beban.


Rina melepas wajah suaminya dan menegakkan tubuhnya. Ia menatap hamparan laut lepas dengan senyum indah terpatri di wajahnya.


“Aku akan terus berkarya, dan membiarkan mereka mengelola. Dengan melihat karyaku jadi nyata aku sudah merasa puas dan bahagia, untuk selebihnya biar mereka saja yang mengurusnya. Yang wajib aku urus adalah kamu.”


Rina menghela nafas. “Mungkin alasan Allah belum menghadirkan kehidupan dirahimku adalah salah satunya ini. Setelah aku renungkan, ternyata sejak menikah aku belum pernah mengurus kamu dengan baik. Aku selalu menduakanmu dengan berbagai urusan yang sebenarnya


tidak terlalu penting juga. Thinking too much dan mengkhawatirkan banyak hal yang seharusnya tidak perlu. Aku lupa jika Allah merupakan sebaik-baiknya pengatur hidup danbtentu telah menyiap kan sebaik-baiknya takdir untuk hambanya.”


Dika mengangguk setuju. “Aku juga ngerasa ketampar sama omongan Ayah kemaren.”


“Hu’um. Pantes Dedi jadi sekenceng itu sejak akrab sama Ayah. Aku pikir dulu dia deket sama ayah biar bisa makin lancar deket sama Rista, nggak tahunya dia malah mengasingkan diri sampe bertahun-tahun kayak gini.”


“Iya, Dedi itu lebih deket sama ayah dibanding aku, sampai sekarang?”


“Sampai sekarang?!” kaget Rina.


“Hu’um.” Dika mengangguk.

__ADS_1


“Berarti begitu dia balik langsung siap-siap angkut Rista dong?”


“Angkut, angkut. Kamu pikir Rista apaan diangkut…”


Rina tertawa dengan ucapannya. “Ya kan…” alih-alih melanjutkan ucapannya Rina justru meringis sambil menatap suaminya.


“Apa?” tanya Dika sambil mendekatkan wajahnya.


“Ck…” Rina berdecak dan memalingkan wajahnya.


Dika memegang dagu Rina dan menarik ke hadapannya. “A pa?” Dika sengaja menekan setiap suku kata yang diucapkannya.


“Aaa aah… Kamu nggak ngerasa bersalah apa sama yang Dedi dan Rista alami?”


Pikiran Dika berkelana. Ia sejenak kembali pada kehidupan mereka 5 sampai 6 tahun yang lalu dimana Dedi dan adiknya bisa dekat dan saling terikat meski di usia yang belum tepat. Ia dan Rina yang sering lupa tempat membuat Rista sering kali harus melihat apa yang belum semestinya dilihat oleh anak seusianya yang kala itu masih baru menginjak remaja. Terlebih ketika dia dengan gampangnya menitipkan Rista pada Dedi pada saat ada urusan pekerjaan. Ia sejujurnya tak mengira jika Dedi juga akan menaruh hati pada adiknya yang masih


ingusan bahkan hingga berakhir mengikrarkan cinta, meskipun kini keduanya telah dipisahkan jarak yang sangat jauh karena mereka berada dibelahan dunia yang berbeda.


“Ngelamun Tuan? Apakah anda merasa tak enak hati,” sindir Rina.


Dika menghela nafas. “Kalau boleh jujur konflik yang dialami Dedi dan Rista sebenarnya juga gara-gara kita.”


“Gara-gara kamu,” protes Rina tak terima.


“Ka mu…” Rina menunjuk dada Dika dengan telunjuknya dan menekan setiap kata yang diucapkannya.


“Kalau nggak kamu yang pake acara mutusin dadakan waktu itu ya mana mungkin aku sampe kelimpungan nggak tahu arah dan akhirnya harus menyeret Dedi yang nggak tahu apa-apa ke dalam keruwetan hidupku.”


Keduanya kemudian diam merenungkan apa yang telah terjadi di masa lalu. Ada apa,menapa, karena apa, dan untuk apa semua itu terjadi.


“Jadi sekarang gimana?” tanya Rina setelah merasa puas mengunci mulutnya.


Dika menyandarkan punggungnya di samping Rina dan membawa kepala Rina ke dada bidangnya. “Gimana apanya?”


“Kita nggak coba ngelakuin apa gitu buat mereka?”


Dika mengusap lembut lengan Rina. “Kita cuma bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka.”


Keduanya lantas memejamkan mata, membiarkan hembusan angin laut membelai lembut tubuh lelah mereka.


***


“Kamu emang nggak ada kerjaan apa gimana sih Ken?" kesal Dian yang masih sibuk dengan seperangkat alat masak lengkap dengan masakan di atas kompor yang menyala.


“Apa keberadaanku begitu mengganggu?” tanya Ken yang sejak petang hingga malam seperti ini masih mengekori kemana pun Dian pergi.

__ADS_1


“Ya enggak sih, tapi kan kamu juga pasti banyak kerjaan.”


Dian mematikan kompor dan memindahkan makanan itu ke piring saji. Ia melepas celemek dan menggantungnya. Dian mambawa makanan yang baru saja ia ke hadapan Ken.


“Makasih…” Ken mengambil sendok mulai mencicip.


Dian membereskan peralatan yang baru saja ia gunakan sebelum berjalan dan bergabung dengan Ken di meja yang sama.


“Gimana?” tanya Dian saat melihat Ken yang nampak diam saja dan tak segera berkomentar.


“Ketimbang makanan Jepang ini kayaknya lebih kayak makanan China deh rasanya…” ujar Ken. Ia mengambil satu suap dan merasakannya lagi.


Sementara Dian memperhatikan sambil menyangga kedua dagunya. Melihat Ken masih sibuk merasakan detail makanan yang baru saja ia buat. Ia meraih botol minuman bersoda yang tadi smpat ia bawa dan menuangkan pada dua gelas yang


berbeda.


“Fix deh, dish kamu kali ini udah keluar dari konsep makanan


Jepang. Rasanya Chinese abis,” ujar Ken sambil meminum cola yang Dian siapkan untuknya.


“Ya emang itu inspirasinya dari makanan China,” cuek Dian sambil meminum colanya.


“Wah, lidah aku boleh juga,” ujar Ken memuji diri sambil melanjutkan makanannya.


“Rasanya oke nggak?” tanya Dian meminta komentar.


“Emm, seasoning kurang dikit buat aku.”


“Emang sengaja aku kurangin garamnya, takut keasinan dan kamu ledekin.”


Ken tak langsung bereaksi. Ia justru mengaduk-aduk masakan Dian seakan ingin tahu detail apa saja yang ada dalam sajiannya. Setelah menandaskan makanannya, ia segera menenggak habis minuman yang sudah Dian siapkan  untuknya.


“Dua minggu lagi aku ke Beijing…” ujar ken tiba-tiba.


Dian paham maksud Ken. Ia tahu benar ke mana arah perbincangan mereka kali ini.


“This is my last chance. Aku ingin mencoba peruntungan terahirku untuk mengajak kamu.”


“Ken…”


Pandangan keduanya beradu. “I’m sorry…”


Ken nampak sudah siap dengan jawab Dian ini. Karena jawaban ini masih sama seperti sebelumnya. Dian selalu menolak saat Ken ingin mengajaknya ke tengah keluarganya.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2