
HAPPY READING
Dering ponsel yang nyaring mengusik dua manusia yang masih terlelap dalamtidurnya. Mereka bahkan tak peduli jika matahari sudah tinggi dan memilih untuk terus memejamkan mata dengan menyerah pada lelah.
“Andre, Andre…”
Hana menepuk pelan pria yang kini memeluknya dengan mata terpejam.
“Mmmm…” Andre menggeliat. Ia enggan membuka mulut apa lagi matanya.
“Pak Restu calling,” ujar Hana yang juga baru saja membuka mata karena mendengar dering dari ponsel Andre.
Andre mengucek kedua matanya. “Tolong ambilin,” ujar Andre dengan suara seraknya.
Perlahan Hana menyingkirkan lengan Andre yang melingkar di perutnya dan mengambilkan apa yang Andre minta. Hana sempat menggeser tombol hijau sebelum menyerahkannya pada Andre.
Hana mengunci mulut rapat-rapat begitu Andre menempelkan ponsel di telinganya.
Kenapa belek di matamu tak bisa sedikitpun melunturkan tajamnya pandanganmu? Batin Hana saat sadar di mata pria ini ada beleknya. Tangannya pun bergerak dengan cepat untuk membersihkan kalau-kalau ada belek juga di mata sipitnya.
“Ehm…” Andre berdehem untuk menjernihkan suaranya yang serak. “Halo Bos?”
“Kamu sedang dimana Ndre?” tanya Dika di seberang sana.
“Saya masih di rumah.” Andre menutup mulutnya yang menguap tiba-tiba.
“Nggak ada rencana ke kantor?” tanya Dika dengan nada menyindir.
Sontak mata Andre terbuka. “Jam berapa?” tanyanya pada Hana tanpa suara.
Hana menjawab dengan menunjukkan kesembilan jarinya.
Andre langsung duduk dan menepuk jidatnya. “Maaf Bos, saya baru bangun. Saya benar-benar tidak sadar kalau sudah sesiang ini. Sekarang saya akan siap-siap. Sekali lagi maafkan saya,” terang Andre bertubi-tubi.
Andre terpaku saat mendengar gelak tawa dari seberang sana. Kok malah tertawa, bukankah seharusnya marah ya?
Andre menelan ludah, ia benar-benar harus siap-siap kalau bosnya ini akan segera memberi kejutan padanya. Melihat perubahan Andre yang tiba-tiba membuat Hana ikut gugup juga.
“Andre, kamu dengar saya,” panggil Dika saat Andre diam saja.
“Iya Pak.”
“Hari ini saya beri kamu libur. Kamu mau berapa hari?”
“Ha?” Andre mengecek sejenak nomor siapa yang kini sedang menghubunginya. Apakah ini benar nomor Dika atau nomor
orang lain yang sengaja ingin mengerjainya.
“Andre.”
“Iya Pak.”
“Saya tanya sekali lagi, kamu ingin minta libur berapa hari. jarang-jarang loh saya bisa baik begini?”
“Pak Restu belum ingin memecat saya kan?”
__ADS_1
Hana menggigit bibirnya. Entah mengapa ia bisa ikut khawatir tentang nasib pria di hadapannya.
Kembali terdengar gelegar tawa di seberang sana. Andre benar-benar merasa ngeri saat ini.
“Saya hanya merasa kalau hidup saya jauh lebih tertata setelah menikah, apa kamu tidak ingin mencari pendamping
agar ada yang membangunkanmu di pagi hari dan menyiapkan perlengkapanmu sebelum pergi. Bukan maksudku menjadikan wanita sebagai pembantu, tapi menjadi ratu di mana bisa membuat hidupmu lebih mirip manusia karena punya teman untuk berbagi dalam hal apa saja. Menyenangkan bukan?”
Mendengar Dika berbicara, Andre terus menatap Hana yang terlihat cemas di sampingnya.
“Eh…” Hana langsung menutup mulutnya saat dengan lancang mengeluarkan suara. Bagaimana ia tak keget jika tanpa aba-aba Andre tiba-tiba menarik pinganggangnya.
“Saya sudah punya,” celetuk Andre tiba-tiba.
Hana menggigit bibirnya yang nyaris memekik kencang saat baru saja mendengar ucapan Andre. Ya Tuhan, kenapa aku
harus sepercaya diri ini. Bagaimana kalau maksud Andre bukan aku?
“Ha? Maksud kamu?” ganti Dika yang kini dibuat terkejut.
Andre langsung gelagapan. Ia baru ingat jika yang dimaksud adalah Hana. Jika saja dia bukan Hana, bukan masalah jika
dia harus membawanya di hadapan Dika.
“Ma maksud saya, saya punya cita-cita seperti itu,” ulang Andre menjelaskan.
Hana harus menahan sekuat tenaga untuk tak merintih akibat lengannya yang tiba-tiba merasa sakit. Andre yang semula merangkul Hana tiba-tiba mencengkeram erat lengan kecilnya karena gugup saat harus bermain kata dengan bosnya.
“Oh. Jadi gimana? Jadi mau berapa hari?”
Aku terlanjur melangkah. Mungkin ini saat yang tepat aku menyelidiki dengan baik siapa Hana.
“Wah, tidak masalah sih. Padahal rencana saya ingin memberi waktu seminggu.”
Andre mengepalkan tangannya dan mengumpat dalam hati. Bosnya ini benar-benar lihai mempermainkannya.
“Apakah masih boleh saya memilih yang seminggu?” buru-buru Andre menyahuti.
Kembali terdengar tawa di seberang sana.
“Sekarang saya tunggu di kantor.”
Belum juga Andre manjawab, Dika sudah memutus panggilan seenaknya. Dengan kondisi toplessnya Andre segera
melompat dari atas ranjang. Ia lupa jika tadi matanya sempat terasa melekat. Ia kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi.
Baru sedetik masuk, Andre kembali membuka pintunya. “Hana, siapkan pakaian saya.”
Brak!!!
Pintu kembali tertutup, dan Hana yang semula masih diam di atas kasur segera melakukan apa yang Andre minta. Ia bangkit dan untuk pertama kali membuka lemari pakaian mantan bosnya. Ia mengambil setelan jas dan kemeja. Tinggal
dasi. Ia masih mencari-cari di mana keberadaan benda ini. Setelah ketemu, ia menatanya diatas ranjang Andre. Ia sendiri segera ke dapur untuk membuat apapun yang cepat untuk mengisi perut pria yang katanya menyekapnya ini.
Tak sampai 10 menit, Andre sudah keluar dari kamarnya dengan mengenakan celana dan kemeja. Ia menyampirkan jas di pundak sementara tangannya sibuk mengikat dasi.
__ADS_1
“Kamu ngapain?” tanya Andre saat melihat Hana mengangkat sesuatu dari atas teflon dipindahkan ke piring.
Hana dengan penampilan seadanya membawa omelet yang baru dibuatnya kepada Andre.
“Makan ini nggak apa-apa ya.” Hana mengambil sepotong dan disuapkan pada pria di depannya.
Andre memilih untuk tak menjawab dan segera membuka mulutnya.
Dengan posisi berdiri Hana terus menyuapi Andre yang sedang mengikat dasi dan mengenakan jasnya kemudian.
“Aku pergi dulu.”
Andre sempat mencium puncak kepala Hana sebelum pergi begitu saja. Saat baru saja pintu tertutup, Hana baru sadar jika
Andre meninggalkan kunci mobilnya. Namun ia tak tahu harus berbuat apa saat yakin jika Andre pasti mengunci pintunya apartemennya. Jika demikian, jelas sekali ia tak bisa keluar untuk menyerahkannya.
Entah mendapat dorongan dari mana, Hana begitu ingin mengantarkan kunci itu. Ia segera mengambil kuncinya dan
mencoba membuka pintu.
Cklek!
Hana terkejut saat tahu ternyata kali ini Andre tak mengunci pintunya.
“ANDRE!!!!”
Hana tak ragu untuk berteriak, karena jika Andre belum jauh pasti hanya pria ini yang bisa mendengar suaranya.
Andre yang tak sengaja mendengar suara Hana segera menghalangi pintu lift yang hampir tertutup. Ia segera keluar
untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Ia melihat Hana dengan pakaian yang tak pantas dilihat orang sedang berlari ke arahnya.
“Kunci mobil kamu.” Hana menyerahkan kunci mobil Andre dengan nafas ngos-ngosan.
“Makasih…”
Hana mengangguk dan segera kembali ke apartemen Andre.
“Hana.”
Hana langsung berhenti saat Andre memanggilnya.
“Jangan pernah keluar dengan penampilan seperti ini.”
Hana tak tahan untuk tak berbalik badan.
“Hanya aku yang boleh melihatmu seperti ini.”
Hana tak tahan lagi. Dia berlari dan memeluk Andre.
“Kamu nggak kembali buat ngunci pintu?” tanya Hana yang sebenarnya masih enggan ditinggal pergi.
Perlahan Andre membalas pelukan Hana. “Kalau aku tak mengunci pintu, apa kamu ingin menggunakan kesempatan ini
__ADS_1
untuk lari dariku?”
Bersambung…