Zona Berondong

Zona Berondong
Cidera


__ADS_3

...*HAPPY READING *...


"Dedi! Jangan kenceng-kenceng larinya, an**r!"


Dedi langsung berlari saat Dika menyusulnya yang tengah mencuci muka. Alih-alih hilang air matanya, malah justru semakin deras setelahnya. Alhasil ia merasa perlu untuk melarikan diri segera sebelum kehilangan harga diri di depan sahabatnya.


"Gue mau jogging!" teriak Dedi di tengah larinya.


"Gue bukan kayak jogging, tapi kayak ngejar maling! Anj**g lu! Berhenti nggak!" Dika juga kembali meneruakkan umpatan pada sahabatnya.


Bukannya berhenti, Dedi justru lebih kencang berlari. Keduanya lari kencang sekali. Selain karena masih muda, mereka juga gemar olahraga. Terlebih Dedi, ia begitu menggemari kegiatan ini termasuk olahraga dorong motor saat kehabisan bensin atau ban bocor. Tentunya itu dulu sebelum ia tahu bahwa Dika kaya raya bahkan kini ia juga bekerja untuknya.


"Berhenti lu sekarang, atau gue lempar!"


Gimana mau lempar kalau ngejar aja nggak bisa. Bahkan kini Dika merasa sudah menipis nafasnya. Kaki boleh sama panjang tapi stamina sepertinya masih Dedi yang jadi pemenang.


"Deddiiiiii.....!"


Dedi memelankan langkah saat merasa Dika tertinggal cukup jauh darinya.


"Ngapain lu?!" teriak Dedi yang samar-samar melihat Dika yang tak dalam posisi berdiri.


"Gue kekilir s**an!"


Dedi menghentikan larinya dan terkekeh di sana. Dia masih memperhatikan Dika, takut-takut kalau dia hanya dikerjai sahabatnya.


"Bantuin, an**r!"


Kembali Dika mengumpat saat Dedi tak juga kembali dan menolongnya.


Dedi yang ngos-ngosan akhirnya kembali ke tempat Dika berada.


"Nggak lagi ngeprank gua kan?"


"An**r. Lu pikir gue Baim Wong. Ketuaan. Apa lagi Atta, kerenan gue. Ah bodo, cepet bantuin!"


Dedi tak lagi menggubris teriakan Dika. Ia masih sibuk mengatur nafasnya.


"Heran deh. Minta tolong tu kudunya baik-baik, bukannya nyambi ngata-ngatain."


Dedi baru sadar kalau medan yang mereka gunakan sebagai trek lari adalah jalan dengan batuan terjal. Entah bagaimana tadi saat berlari rasanya mulus-mulus saja.


"Kenapa lu?" Dedi berjongkok di depan Dika.


"Batunya gerak pas gue injek," kata Dika sambil memegangi kakinya.


"Anj**t. Udah kayak Rista aja manja ya." Dedi tertawa saat coba memegang kaki Dika.


Sekian detik, Dedi baru sadar kalau dia hanya tertawa sendiri. Dika hanya diam bahkan ketika Dedi dengan sengaja memencet kakinya.


"Maafin gue."


Tiba-tiba Dika bicara tanpa ditanya dan tanpa bertanya.


Dedi hanya diam. Takut jika ternyata Dika bukan bicara padanya.


"Lu nggak mau maafin gua?!"


Kembali Dika bersuara, dengan nada meninggi dan jelas kalau kali ini yang diajak bicara adalah Dedi.


"Ngajak ngomong gue ya?"

__ADS_1


"Astaga! Emang di sini ada siapa selain kita? Setan lepas subuh juga pada ngumpet kali."


Memang mereka saat ini berada di area kebun yang sangat minim pencahayaan. Dimana hanya ada satu lampu jalan, itu pun jauh letaknya. Untuk saja rembulan bersinar terang, jadi meskipun samar mereka masih bisa melihat sekitar.


"Balik yuk. Keburu adik lu heboh nyari abangnya."


"Nggak ada nyari abangnya, yang ada nyari elu dianya."


Dedi membantu Dika untuk berdiri.


"Gila! Lu sakit beneran?" tanya Dedi yang merasa kesulitan membantu Dika berdiri.


"Ck." Dika hanya berdecak dan berusaha menahan sakit saat berdiri.


Dedi memapah tubuh Dika dengan susah payah. Meskipun mereka sama-sama punya tubuh yang tinggi, tapi Dika selisih beberapa cm lebih tinggi dari Dedi dan tubuhnya pun lebih berisi.


"Lu tunggu sini aja gimana?"


Dedi mendudukkan Dika di sebuah tempat mirip kursi yang terbuat dari bambu di pinggir jalan.


"Nggak sanggup lu bawa gue balik."


Dedi tak menjawab. Ia masih berusaha mengatur nafas karena harus membantu Dika duduk di posisi yang tepat agar dislokasi di kakinya tak semakin parah.


"Ba**t lu ya, udah ditolongin juga."


"Lu yang b**ot. Kalau bukan karena lu kabur, nggak bakal tuh ada kejadian gini."


"Iya deh iya, maaf."


"Terus, ini ngapain gue diajak ke sini, awas aja lu macem-macem!" Dika mengepalkan tangan tepat di depan wajah Dedi.


Spontan Dedi menoyor Dika.


"Jangan ngerjain gue ya."


"Kagak. Udah lu diem aja di situ."


Dedi mulai berjalan menjauh dari Dika. Beginilah mereka kadang aku kamu, kadang lu gue, kadang manggil pake nama bintang kesayangan, kadang ngeboyong isi kebun binatang. Apalah itu, yang jelas mereka berteman dengan nyaman.


Di villa semua menunggu dengan cemas.


"Kok Dedi doang yang balik, Dika mana?" tanya Rina yang panik begitu melihat Dedi kembali seorang diri.


"Aman. Dia capek lari pagi, minta di jemput pake motor katanya," bohong Dedi karena tak ingin membuat semua yang di sana heboh.


"Di sini kan nggak ada motor Kak."


"Di samping kayaknya ada deh kemarin, punya pak Min kali ya."


"Pak Min pulang Kak, dan jam segini belum datang."


Dedi menggaruk kepalanya yang tak gatal. Gimana cara bawa Dika balik. Mana kuat aku gendong brachiosaurus kayak dia.


"Sebenarnya ada apa sih Nak?" tanya Santi yang merasa ada yang tak beres.


"Anu... ennggh. Dika..."


"Dika kenapa?" tanya Rina tak sabar.


"Dika keseleo, jadi aku tinggal di sana," ucap Dedi akhirnya.

__ADS_1


"Ya ampun!" serempak Rista dan mamanya. "Terus sekarang Kakak di mana?" panik Rista.


Sementara Rista panik, Rina segera nyelonong berjalan keluar villa.


"Rin!"


Dedi belum sempat menjawab Rista kini justru harus sigap menahan Rina.


"Lu mau kemana sih?"


"Aku mau nolongin Dika Ded."


"Nggak usah. Ngebantu kagak nyusahin iya."


"Tapi kan..."


"Tapi apa? Kamu pikir aku lari-larian gini buat apa kalau bukan buat nolongin dia."


"Restu gimana kondisinya?" Suara berat Rudi berhasil membuat yang lain diam seketika.


"Nggak parah sih Om, jatuh doang. Tapi saya mana kuat gendong brachiosaurus."


"Brachiosaurus?" serempak para wanita.


"Maksudnya Dika kan lebih tinggi dan gede dari pada saya, jadi saya nggak kuat kalau harus gendong dia."


Dedi bahkan harus mempertegas detail tubuh keduanya agar para wanita ini tak lagi heboh dan menyangka Dika terluka parah.


"Lha kalau nggak parah kan bisa dipapah?" sahut Rina tak terima.


"Nona Rina, dengerin ya."


"Kamu jangan banyak ales..."


"Gue lakban juga ya Lu!" potong Dedi cepat.


Dedi kemudian nyengir, saat kata-kata kasarnya keluar begitu saja di depan orang tua gadisnya.


"Ehm. Gini ya..., Dika itu cuma kesleo. Meskipun ini cuma cidera ringan, tapi kalau dipaksa jalan tanpa dibenerin dulu ya bakal parah jatuhnya, paham?"


Dedi terlihat geram, hingga Rudi harus menahan tawa melihatnya.


"Sekarang kalian ambil jaket, kita jemput Dika sama-sama," putus Rudi yang disambut helaan nafas lega oleh Dedi.


Para wanita itu segera berlalu meninggalkan dua pria beda usia itu di sana.


"Puyeng saya Om," ucap Dedi saat tahu Rudi sedang menatapnya jenaka.


"Sabar ya. Makanya, meskipun poligami diperbolehkan dalam keyakinan saya, tapi punya Santi saja sudah lebih dari cukup rasanya."


Dedi hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Tolong siapkan mobil ya."


Rudi menyerahkan kunci mobilnya.


"Pakai mobil saya saja, karena mobil kamu tak akan cukup menampung mereka semua."


Dengan ekor matanya, Rudi menunjuk 3 orang wanita yang muncul dan kerepotan dengan bawaannya.


Santi dengan tikar dan termos air panas, Rista dengan sekantong makanan dan kotak p3k, dan yang paling tak masuk akal adalah Rina. Dia membawa selimut tebal dan boneka besarnya.

__ADS_1


Dedi hanya menepuk jidat. Ya Tuhan. Apa yang ada di otak mereka?


TBC


__ADS_2