Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Takut


__ADS_3

HAPPY READING


Hana nampak fokus memberikan sentuhan akhir pada wajah Anin. “Oke perfect…” ujar Hana sembari menjauhkan kedua tangannya.


Anin langsung meraih cermin untuk melihat penampilan wajahnya pasca mendapat sentuhan Hana.


“Ya ampun Han…” pekik Anin.


“Kenapa Nin? Kamu nggak suka ya?” tanya Hana khawatir.


“Suka. Suka banget. Tapi... tapi apa bukan penipuan ini namanya?” tanya Anin sambil meletakkan cerminnya.


“Penipuan apa sih?” tanya Hana tak mengerti.


“Ini terlalu cantik untuk jadi Anin Han. Jangan-jangan kalau aku ke kantor tanpa kamu make up terebih dahulu jadinya nggak akan ada yang mengenali…”


Hana tertawa kecil dengan ucapan rekannya. “Nggak mungkin Nin. Aku pakai no make up look. Jadi nggak merubah apa pun. Hanya menyempurnakan kekurangan-kekurangan kecil di beberapa sisi saja,” jelas Hana.


“Tapi…”


“Udah lah. Sudah nggak ada waktu untuk kembali mengubah penampilan. Kita berangkat sekarang ya...”


Hana membiarkan Anin yang masih heboh karena hasil make up Hana dirasa teralu cantik. Ia menjalankan mobilnya untuk mengantarkan Anin ke tempat kerja. Ini adalah hari pertamanya bekerja meski hanya datang untuk melapor. Meski begitu, ia tak boleh dibiarkan telat atau tampil berntakan demi mendapatkan kesan yang baik dari rekan dan atasannya.


“Hana, makasih banyak ya…” ujar Anin begitu Hana berhenti tepat di depan kantor ini.”


“Jiayo… udah masuk sana…” Hana mendorong Anin agar segera masuk ke dalam kantor.


“Makasih…” ujar Anin sekali lagi.


Anin keluar dan berjalan masuk dengan segera. Hana pun tak ingin berlama-lama di sana. Ia harus segera pergi dan memikirkan bagaimana menjalani hidup esok hari.


Mobil mewah Andre memang sudah di kenali di kantor ini. Tak ayal saat Hana membawa mobil ini memasuki area kantor, banyak mata yang menatap heran karena jelas sekali Andre sudah di dalam sejak pagi.


“Itu mobil pak Andre bukan ya?” Rahma yang kebetulan ada keperluan keluar pun tak sengaja melihat mobil Andre yang dikendarai Hana. “Pak Andre mau kemana ya? Bukannya sedang menunggu dokumen ini…” lanjut Rahma sambil memandangi dokumen yang ada di tangannya.


Rahma sempat menggidikkan bahu sebelum berjalan masuk untuk kembali ke ruangannya.


Tiba di perempatan, Hana dikejutkan dengan suara ponsel yang berdering di dalam mobil yang ia bawa. Namun ia yakin itu bukan suara ponselnya. Akhirnya ia mencari kesana-kemari untuk menemukan sumber suara.


“Ya ampun…” pekik Hana seorang diri.

__ADS_1


Hana segera meraih ponsel yang terselip di jok sampingnya. Saat baru saja memegangnya, ia langsung bisa mengenali itu ponsel siapa.


“Kenapa bisa ketinggalakn sih. Teruss, aaaahhhh…..” Hana berteriak kesal. Ia masih takut jika harus masuk ke kantor itu lagi. Ia merasa semua orang akan mengenalinya dan menghujat seketika karena kejahatan yang pernah dilakukannya di sana. Tapi di satu sisi, ia yakin Anin sangat membutuhkan benda ini.


“Gimana dong….”


Mau tanya seribu kali pun pasti tak akan ada orang yang menjawab atau sekedar menyahutnya. Karena faktanya ia tengah sendiri di mobil ini.


“Minta tolong Andre saja kali ya…” gumamnya lagi.


Hana segera meraih ponselnya dan mendial nomor Andre saat itu juga. Namun sayang, hingga beberapa kali panggilan, tetap saja Andre acuhkan.


“Astaga…” kesal Hana.


Hana kembali dibuat terkejut saat ponsel Anin berdering lagi. Karena merasa tak ada pilihan, ia segera mencari jalan untuk putar haluan.


“Ya Allah, jangan sampai ada yang mengenali Hana ya Allah…” ujar Hana meminta. Akhirnya Hana bisa juga ingat Tuhan untuk minta pertolongan.


“Jangan sampai begitu aku masuk langsung dilempari telur busuk,” gumam Hana lagi sambil memutar setirnya karena ia sudah mendapatkan akses untuk putar arah.


Hana menginjak pedal gasnya dan menambah kecepatan agar bisa segera sampai di kantor yang meninggalkan kenangan buruk di ingatannya itu. Ia terus merapalkan berbagai doa agar lebih tenang dan tak terjadi sesuatu yang tak ia harapkan di sana.


“Ya Tuhan, turun nggak ya…”


Sabuk sudah dilepas, namun Hana masih ragu untuk membuka pintu dan keluar untuk menampakkan diri.


Klatak!!


Ponsel tak bersalah Anin yang Hana pegang harus terlempar karena dengan lancangnya berdering lagi.


“Ya Tuhan…” Cepat-cepat Hana meraih ponsel yang tak sengaja ia jatuhkan.


Hana merasa tak punya pilihan lagi. Ia harus segera keluar dan menemukan keberadaan Anin. Tapi dimana? Kepada siapa ia harus bertanya?


Baru saja keluar dari mobil, ia sudah langsung mencuri perhatian, karena mengendarai mobil mewah yang dikenal milik sekertaris utama perusahaan ini. Penampilan casualnya juga nampak mencolok di tengah hamparan para staf yang lalu-lalang dengan mengenakan pakaian formal.


“Itu siapa keluar dari mobil Pak Andre?” ujar salah seorang yang kebetulan melihat ke arah Hana yang berjalan tak tentu arah.


“Cuma kebetulan sama kali…” ujar salah seorang lainnya.


“Pacar pak Andre kali. Coba deh lihat. Cantik banget…”

__ADS_1


“Neng, neng… Mau ke mana?” panggil satu yang lainnya karena Hana kebetulan lewat tak jauh dari mereka.


Hana memang pernah bekerja di sana. Selain karena penampilannya yang berubah, di kantor ini ada banyak sekali staff yang bekerja, sehingga sangat sulit untuk mengenali semua yang sedang bekerja atau pernah bekerja di sana.


Hana lebih cepat memacu langkahnya untuk meninggalkan tempat ini. Sebenarnya Hana butuh seseorang untuk bertanya, tapi melihat bagaimana reaksi mereka saat melihatnya pun membuat Hana jadi takut sendiri.


Karena benar-benar tak punya arah, akhirnya Hana segera masuk ke kamar mandi. Ia segera masuk ke salah satu bilik karena tak tahu dimana ia harus bersembunyi. Perasaannya tak tenang karena merasa semua orang tetap mengenalinya. Ia khawatir jika dikenali sebagai Hana yang pernah menyusup dalam perusahaan ini dan melakukan aksi criminal yang bisa lepas dari sanksi pidana.


Tak tahukah Hana jika kesempurnaan fisik yang dimilikinya sudah cukup membuat orang yang melihat terpana tanpa tahu siapa dia. Terlebih ketika penampilannya sesantai ini, selain cantik, ia juga nampak begitu muda.


“Aku kudu kemana?” lirihnya seorang diri.


Di tengah kepanikannya, ia kembali mencoba menghubungi Andre. Sepertinya hanya pria ini yang bisa ia harapkan sekarang.


“Dmn it*! Kudu banget ya nggak bisa dihubungin sekarang.” Hana menggerutu karena Andre tak juga menjawab panggilannya padahal jelas sekali jika panggilannya tersambung ke ponsel kekasihnya.


Hana benar-benar takut jika harus masuk ke dalam. Bayang-bayang kelam perilakunya diwaktu lampau benar-benar berhasil menciptakan trauma tersendiri di hatinya.


Hana pun memutuskan untuk keluar dari bilik. Di luar tak ada siapa-siapa, sehingga ia berhenti lagi untuk memandangi pantulan dirinya di dalam cermin. “Kepana aku bisa takut untuk masuk ke kantor sebagus dan sebesar ini?” gumamnya seorang diri.


Hana tertawa miris karena ia sendiri sudah sangat jelas dengan jawabannya. Ia kemudian menepuk pipinya beberapa kali untuk mengumpulkan segenap keberaniannya.


“Ayo Han. Demi Anin….” ujarnya membulatkan tekat.


Hana pun menata rambutnya agar wajahnya bisa sedikit tersamarkan. “Bismillah aja lah…”


Dengan memupuk keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja, akhirnya Hana memberanikan diri untuk berjalan keluar. Ia harus segera menemukan keberadaan Anin untuk menyerahkan ponselnya.


Hana berjalan dengan sangat hati-hati. Ia benar-benar tak ingin membuat masalah saat ini.


“Hana…”


Hana membeku saat mendengar namanya disebut. Baru beberapa langkah meninggalkan toilet, Hana sudah dikenali.


Ya Tuhan, apa namaku sebegitu buruknya sehingga sudah seperti ini pun masih di kenali. Racau Hana dalam hati.


Dengan sedikit tak rela, ia memutar badan dan mendapati sesosok yang tinggi menjulang berada tepat di hadapannya.


Perasaan aku tak pernah bermasalah dengan tinggi badan, tapi kenapa sekarang aku harus mendongak untuk tahu bagaimana rupa orang yang mengenaliku ini.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2