
Yey, muncul satu lagi
Pokoknya tinggalkan jejak yang banyak ya...
Big hug, luv luv luv...
HAPPY READING
“Kamu ragu sama aku?”
Hana menatap datar Andre tanpa ada niat untuk menjawab.
“Apa kamu tak sedikit pun menganggap hubungan kita ini serius?" Andre beringsut agar dapat bertatapan secara langsung dengan Hana. "Now look at me. I'm serious. Kamu pikirin baik-baik. Yang udah kita lakuin itu bukan hal yang main-main Hana.”
Hana membuang wajahnya. Ia menatap ke sembarang arah. Kemana pun asalkan tak menatap Andre yang sejak tadi tak juga mengijinkan ia untuk melepaskan diri.
Aku sangat ingin Ndre. Bersanding denganmu, hidup bersamamu, bahagia denganmu.Tapi aku tahu diri. Aku sadar kita berada di kasta yang jauh berbeda. Jika saja bukan kamu yang menghancurkanku, mungkin saat ini aku sudah bertekuk lutut padamu.
“Baik lah. Kalau aku tak bisa menahanmu dengan cara baik-baik, maka aku akan menahanmu dengan caraku sendiri." Andre mendekatkan wajahnya. Ia kemudian berhenti tepat di samping telinga Hana. "Aku tak akan pernah melepaskanmu sampai kapan pun. Aku akan terus memenjarakanmu seumur hidup.”
Andre perlahan menjauhkan tubuhnya. Ia sempat tersenyum miring sebelum melepas kontak keduanya.
Hana sempat membulatkan mata, namun hanya sedetik sebelum wajahnya nampak biasa lagi.
Mengancam akan mencabut nyawaku saja sudah kamu lakukan berkali-kali, jadi aku sudah tak takut saat kamu menggunakan ancaman seperti ini. Jika memang sudah nasibku menjadi tawananmu seumur hidup, ya sudah jalani saja. Mungkin ini sudah garisnya.
Andre tiba-tiba bangkit dan melepaskan tubuh Hana begitu saja. “Kamu siap-siap, setelah itu ikut aku,” ujar Andre. Ia meninggalkan Hana di kamarnya setelah sempat meraih ponselnya sebelum keluar dari sana.
Hana menghela nafas. Ia menyambar handuk dan ingin segera mandi. Ia sempat berhenti di depan cermin besar yang baru dipasang Andre setelah Hana ada di sana. “Ini baru sore hari dan aku sudah mandi tiga kali. Bisa tipis kulitku lama-lama kalau seperti ini,” gerutu Hana seorang diri.
Di luar Andre sedang sibuk membaca file yang baru saja Melvin berikan. Ia membaca dengan seksama data yang berhasil dihimpun kawannya ini. Melvin tak mau disebut detektif, tapi ia mampu menyelidiki sesuatu dengan cepat dan akurat. Andre mengenalnya dari Dika, karena Melvin ini sudah sering bekerja sama dengan Dika sebelumnya.
“Sepertinya akar masalahnya ada di Galih Rahardja,” gumam Andre dengan mata tetap fokus pada gadgetnya.
“Tapi kenapa aku merasa perlu juga menyelidiki Rio. Aku yakin ia juga pasti tak suka dengan Surya.” Andre kembali bermonolog dengan dahi berkerut.
“Erika. Aku juga harus menemukan makamnya untuk dapat mengungkap kematiannya yang misterius dan penuh tanda tanya.”
Cklek!
Kluthak!
Smartphone yang Andre pegang terlempar begitu saja saat ia dikejutkan dengan kemunculan Hana yang tiba-tiba.
“Hannnaaaa…” Andre tak mampu menahan geram saat Hana hanya berdiri dengan wajah polosnya. Tak ada gurat bersalah sedikit pun di wajahnya saat melihat Andre yang terkejut dengan kemunculannya.
__ADS_1
“Kenapa harus ngagetin sih?!” ketus Andre melihat Hana yang lempeng saja bahkan saat ia sudah mengeluarkan wajah marahnya.
“Ya salah sendiri kamu kagetan, aku kan juga keluarnya biasa aja, nggak ada sedikit pun niat buat ngagetin kamu,” bela Hana.
“Berani nyalahin aku?!”
Hana mendengus. Tak ada gunanya mendebat Andre. Ia kemudian melanjutkan langkahnya mendekati pria ini.
“Ngapain ke sini?”
Hana menghela nafas. “Baju aku habis. Aku harus pake apa?” tanya Hana dengan menggosok rambut basahnya.
“Masa habis?”
Hana mengangguk. “Coba kamu ada sabun cuci, kan bisa aku kucek baju-baju itu.”
“Dikucek?”
“Iya. Dikucek. Dicuci pakai tangan,” jelas Hana.
“Emang kamu bisa?” kaget Andre tak percaya.
“Bisa,” jawab Hana yakin.
mendekat dan membawa Hana duduk di pangkuannya.
“Ndre aku baru mandi…”
“Memangnya kenapa?” tanya Andre sambil menghirup bau segar campuran aroma shampo dan sabun yang menguar dari tubuh Hana.
“Kulitku bisa tipis kalau keseringan mandi.”
Andre tak berniat menjawab. Ia sedikit menarik bagian atas kimono Hana. Seketika pundak mulus Hana tereskpos sudah. Andre tersenyum puas saat melihat Hana dalam kondisi seperti ini. Ia sangat suka saat melihat Hana dengan bahu terbuka.
Hana sudah mulai terbiasa mendapat perlakuan seenaknya sendiri dari Andre. Ia tak menolak apa lagi melawan. Jujur, sebenarnya ia sendiri terkadang suka diperlakukan Andre seperti ini, namun sayangnya ia tak mungkin jujur tentang perasaan rendahan semacam ini.
Tiba-tiba Andre mengangkat tubuh Hana dan membawanya berjalan.
“Ndreeee…” lirih Hana. Ia tak berani melawan atau pun menolak. Karena kalau hal itu ia lakukan, Andre bukannya akan berhenti namun justru akan menghajarnya habis-habisan.
Di dalam kamar Andre meletakkan tubuh Hana dengan perlahan. Jika biasanya ia akan dibaringkan dan langsung di terkam, kali ini ia justru melepaskan Hana dan berjalan meninggalkannya.
Hana menggigit bibirnya. Kenapa aku harus kecewa? Dasar murahan. Hana mengumpati dirinya dalam hati.
Hana menutup bahunya yang semula Andre buka. Perlahan ia kembali menggosok rambutnya sembari berupaya mengobati rasa kecewanya, tiba-tiba Andre keluar dengan sebuah gaun berwarna hitam di tangannya. Hana tak menyadari hal tersebut karena posisinya yang memunggungi Andre.
__ADS_1
“Eh…”
Hana terkejut saat Andre merebut handuk yang ia gunakan untuk menggosok rambut. Setelah melempar handuk itu, Andre meminta Hana untuk berdiri. Hana diam saja dan menuruti apa yang Andre minta. Bahkan saat Andre menarik tali kimononya dan membuatnya naked seketika ia masih tak bereaksi.
Hana baru terkejut saat Andre memasangkan sebuah gaun berwarna hitam yang ternyata sangat pas ditubuhnya.
Apa maksud Andre sebenarnya. Kenapa ia tiba-tiba memberikan aku gaun sebagus ini.
Andre memutar tubuh Hana dan memandanginya.
“Sudah ku kira. Kamu akan sangat cantik saat mengenakan gaun ini.”
“Ini gaun siapa?” tanya Hana yang mulai berani menatap gaun yang sangat indah ini.
“Apa kamu percaya kalau aku bilang aku membelinya khusus untukmu?” tanya Andre yang masih terbius kecantikan Hana dengan balutan gaun hitamnya.
Aku percaya.
Sayang Hana mengucapkan ini hanya di dalam hati, jadi Andre tak dapat mendengarnya. Dan yang Andre lihat adalah Hana hanya diam dan enggan membalas tatapannya.
“Ya sudah kalau tak percaya.”
Tatapan Andre yang semula lembut perlahan menajam. Hana yang sebelumnya merasa sejuk jadi ngeri seketika. Andre memegang bahu Hana, dan langsung menariknya.
“Kamu mau ngapain?” tanya Hana yang langsung menahan tangan Andre.
“Ingin melepas gaun jelek ini.”
“Jangan…” kembali Hana berusaha mencegahnya.
“Kenapa?” tanya Andre dingin.
“Ini bagus. Kan sayang….”
Srrrkkkk!!!
Terlambar. Hana mendesah kecewa melihat apa yang Andre lakukan. Kenapa harus dirobek sih, kan bisa dilepas baik-baik. Hana menatap penuh sesal gaun indah yang teronggok mengenaskan dibawahnya. Ia ingin mengambil kimononya namun gerakan tangan Andre lebih cepat darinya.
“Ndre,” lirih Hana saat berhadapan langsung dengan mata gelap Andre.
Andre meraih tengkuk Hana dan langsung membungkamnya.
Ya sudah lah, terima saja kalau kulitku lama-lama terkikis habis.
Bersambung…
__ADS_1