
HAPPY READING
Sambil memegang es krim di tangannya, Rina dengan telaten menunggui Hana yang saat ini tengah menjalani treatment dengan dokter. Tak ada Lili di sampingnya karena ia tengan menyuruh asistennya ini untuk mencari makanan. Sekarang ia ingin sekali makan nugget pisang dan itu berarti harga mati bagi Lili untuk mendapatkan apa yang nonanya minta.
“Nona bagaimana kabarnya?” tanya dokter yang sekarang sedang menangani Hana kepada Rina.
“Baik Dok Alhamdulillah…” jawab Rina di sela ia memakan es krimnya.
“Saya turut senang mendengar kabar kehamilan Nona."
"Makasih Dok. Kadang saya juga masih susah percaya kalau di dalam rahim saya sekarang benar-benar ada kehidupan."
"Kabar kehamilan itu merupakan alarm pengingat bagi kami, jika terkadang apa yang menjadi vonis dokter akan dengan mudah patah jika Allah sudah berkehendak.”
“Saya tidak bisa banyak berkomentar Dok, intinya Alhamdulillah saja,” ujar Rina dengan senyum lebar di akhir kalimatnya.
“Nona rendah hati sekali.”
“Saya nggak rendah hati, hanya saja tak mau salah bicara. Mau bicara dari sudut pandang islam pengetahuan masih sangat kurang, mau bicara dari sudut medis, aku nggak ngerti sama sekali. Jadi intinya ya Alhamdulillah karena Allah telah memberikan anugerah terindah dalam kehidupan saya dan suami.”
Diam-diam Hana sangat kagum dengan Rina. Lagi-lagi ia menyesal kenapa dulu ia sangat tega berbuat kejam terhadap wanita sangat pribadinya sangat baik seperti ini.
Hana melihat dokter mengelap area di sisi perutnya yang pernah terkena tusukan. “Makasih Dok,” ujar Hana sambil merapikan kimononya sebelum turun dari ranjang untuk mengganti pakaian. Tak butuh waktu lama, ia sudah muncul lagi dengan balutan dress cantik yang sebenarnya merupakan kemeja Andre ini.
Hana lantas bergabung bersama Rina untuk mendengarkan instruksi dan arahan dari dokter demi mendapatkan hasil terbaik atas treatment yang ia jalani.
“Rin, aku baliknya sendiri saja ya…” ujar Hana setelah keduanya meninggalkan ruangan dokter.
“Loh kenapa?”
“Aku nggak enak banget kalau harus merepotkan kamu lagi.”
“Siapa yang repot, orang aku yang nawarin.”
“Kamu baik sekali. Aku sampai bingung bagaimana cara membalasnya.”
Rina menghentikan langkahnya. “Beneran pengen bales?” tanyanya dengan mata memicing.
Hana menoleh dan sedikit menunduk untuk menatap Rina yang terpaut lebih dari sepuluh senti tingginya. Dengan yakin ia kemudian menganggukkan kepala.
“Yakin nih?” ulang Rina lagi.
“Yakin Rina…”
Rina menarih kedua tangan Hana dan memegang menggunakan tangan kanan dan kirinya. “Mau ya diajakin nikah Andre,” kata Rina yang posisinya kini sudah berhadapan dengan Hana.
Degh!
__ADS_1
Tatapan yakin Hana berubah ragu seketika. Kenapa Rina harus membahas masalah ini? Batinnya dalam hati.
“Takut banget dinikahin. Padahal kalau sudah nikah semuanya jadi mudah loh…” ujar Rina dengan mata mengerling nakal.
Hana menunduk malu. Bagaimana pun juga, wanita cantik di hadapannya ini tahu benar aib yang ada di dirinya.
“Ya tapi masalahnya orang tua Andre belum sudi menerima saya…” jawab Hana malu-malu. Bagaimana pun juga mengakui kalau dirinya masih tertolak itu bukanlah perkara mudah.
“Apa kamu sudah pernah coba ngobrol dengan mereka?”
Hana menggeleng lemah. Saat itu juga dari arah berlawanan, Lili datang dengan membawa kantong di sebelah tangannya.
“Istirahat sini bentar ya…” Rina mengajak Hana untuk beristirahat sejenak di sebuah kursi yang berada tak jauh dari keduanya.
“Ngapain?” tanya Hana saat baru saja mereka mendaratkan pantat di atas kursi panjang.
“Aku mau makan nugget pisang…” jawab Rina dengan riang.
“Nugget pisang?” ulang Hana.
Rina menunjuk Lili dari arah berlawanan.
“Dapat?” tanya Rina begitu Lili menghampirinya.
“Alhamdulillah Nona,” ujar Lili sambil menyerahkan satu kotak nugget pisang yang ia bawa.
“Hana mau?” tawar Rina saat melihat Hana diam saja.
Hana menarik paksa kedua sudut di bibirnya. Ia kemudian menggeleng sebagai jawaban.
“Ini enak loh Han,” ujar Lili yang juga sedang makan nugget yang sama dengan yang sedang Rina makan.
“Makasih. Aku takut bajuku nggak muat kalau tambah gendut,” kilah Hana untuk menyamarkan penolakannya.
“Apanya yang gendut, badan saja tinggal kulit sama tulang,” cibir Rina.
“Biar saja Non. Kalau Hana nggak mau, jatahnya kan bisa buat saya…”
“Dih kamu…” Rina sempat tertawa sebelum kembali menyuapkan nugeet pisang ke dalam mulutnya. Ini lah yang membuat Lili merasa sangat senang memiliki Nona seperti Rina. Meski ia majikan, ia tak segan untuk berbagi makanan dengan orang lain termasuk Lili yang hanya asistennya.
Setelah habis semua isinya barulah ketiga wanita ini melanjutkan perjalanannya. Sebenarnya Rina masih ingin mengajak Hana untuk terlebih dahulu mencari makan siang, namun Hana menolak dengan alasan ia harus segera kembali bekerja.
“Terimakasih banyak Rina,” ujar Hana saat tiba di depan tokonya.
“Sama-sama. Jangan lupa makan biar ada sekit lemak yang menyamarkan kerasnya tulang di badan kamu,” ujar Rina dengan senyum merekah sempurna.
Hana hanya menanggapi dengan senyum yang sama lebarnya sambil melambaikan tangan hingga mobil Rina menghilang di balik tikungan.
__ADS_1
“Gimana?” tanya Risma yang sudah menunggu Hana.
“Aman…” lirih Hana.
Hana memang memberi tahu pada Risma tetang keperluannya bersama Rina. Dan Risma dengan suka rela bersedia menyembunyikan hal ini dari semua rekan-rekannya.
“Udah sembuh?” tanya Risma dengan suara sama lirihnya.
“Ya belum lah, paling akan memudar dalam 2 atau tiga kali terapi.”
Keduanya segera kembali untuk melakukan pekerjaan yang harus mereka tangani sekarang.
***
Di kantor saat ini Dedi dan Andre sedang bersama Dika di ruangannya. Mereka bekerja sama untuk mendiskusikan bagaimana caranya proyek sebanyak ini bisa dengan lebih efektif dikerjakan. Sebenarnya tak ada masalah dengan Dika seandainya ia tak sering keluar mendampingi Rina. Namun saat ia bersama istrinya, ia jadi jarang bisa mengerjakan sendiri pekerjaannya. Sehingga jadi menumpuk seperti ini.
“Wah, kalau mereka bertiga berkumpul jadi adem ya mata
ini…” ujar Rahma saat baru saja Dedi lewat di hadapannya.
“Kenapa? Kamu naksir sama pak Dedi,” tebak Elis.
“Kalau pun iya nggak masalah kan?” jawab Rahma dengan kembali mengumpankan pertanyaan.
“Bukannya pak Dedi itu sudah sama Non Rista ya,” sambung Riza dari balik meja kerjanya.
“Itu dulu, tapi sekarang sepertinya mereka sudah tak berhubungan lagi,” jawab Rahma.
“Siapa bilang?” tanya Elis meyakinkan.
“Aku. Kamu nggak tahu apa, kalau kemarin mereka sempat bertemu, tapi keduanya terlihat cuek bahkan pak Dedi memilih untuk masuk ke ruangan pak Andre karena ada non Rista di ruangan pak Restu,” jelas Rahma.
“Masa iya?” Elis masih belum percaya keterangan temannya ini.
“Iya. Orang aku lihat sendiri,” jawab Rahma dengan yakin.
Elis menggeser kursinya, membawanya lebih “Kok kamu nggak cerita sih…”
“Ya ini cerita…” cuek Rahma sambil menatap pekerjaannya. Setelah selesai, ia kemudian menatap rekan kerjanya yang masih menatap dirinya seolah menantikan kalimat lain yang akan ia katakan. “Ya siapa tahu kita masih ada kesempatan dapat yang high quality kan ya...”
“Kita? Kamu aja. Aku mah nggak suka sama dokter.” Elis kembali ketempatnya bersama kursi yang tetap melekat di pantatnya.
“Terus kamu maunya siapa? Pak Andre…” sarkas Rahma.
Elis membuang muka seakan tak mendengar apa yang baru saja Rahma katakan.
Bersambung…
__ADS_1