Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Melanggar Komitmen


__ADS_3

HAPPY READING


Jam pulang sudah tiba tentunya dibarengi dengan tuntasnya pekerjaan. Riza yang tengah berkemas tiba-tiba menghentikan gerakan tangannya kala menyadari kedua rekannya masih nampak tenang di masing-masing tempatnya.


“Kalian nggak pulang?” tanya Riza pada kedua rekannya..


“Mbak duluan aja, kita masih ada urusan,” ujar Rahma yang sebenarnya asal bicara. Sejujurnya ia tak tahu untuk apa ia menahan diri untuk pulang sekarang, padahal pekerjaan juga sudah beres semua. Hanya saja ia tak tega meninggalkan Elis sendiri karena ia yakin rekannya ini masih oleng karena patah hati.


“Jangan macam-macam ya kalian,” ujar Riza memperingatkan.


“Kita cuma dua macam Mbak. Dah Mbak pulang aja. Kasihan Bilqis nungguin,” balas Rahma.


Riza teridiam sejenak dan menatap kedua rekannya. Ada perasaan tak nyaman saat hendak meninggalkan mereka untuk pulang, namun ia tak mungkin juga terus mengawasi mereka berdua dan membiarkan anaknya terus menunggu ia di rumah.


Riza menghela nafas dan memutuskan. “Ya sudah aku duluan. Kalian juga cepat pulang dan istirahat...”


“Siap Mbak…”


Hanya Rahma yang menjawab sedangkan Elis hanya diam saja dan mengulas senyum tanpa makna. Melihat Riza berjalan menjauh, Rahma terus melambaikan tangan hingga Riza menghilang. Setelah tinggal tersisa mereka berdua, Rahma berjalan ke menghampiri rekan kerjanya yang masih di meja.


“Tell me. Sebenarnya kamu kenapa?” tanya Rahma pada Elis akhirnya.


Elis mengalihakan pandangannya sejenak dari pintu yang masih tertutup rapat sejak tadi. Ia saat sedang menoleh, tanpa sengaja ia bertemu pandang dengan Rahma. Hanya sejenak, sebelum ia kembali ke objek sebelumnya.


“Ey Nyet. Ditanya itu jawab.” Rahma menoyor bahu Elis dengan telunjuknya.


Elis menghela nafas dan kembali menatap Rahma. “Lu ngerasa aneh nggak sih?” tanyanya kemudian.


“Apanya yang aneh?” tanya Rahma yang belum punya clue tentang isi kepala rekannya.


“Hana sejak kembali dari makan siang tadi sama sekali tak keluar. Pak Andre juga melarang kita masuk, jadi beliau yang harus keluar masuk memberikan instruksi langsung. Kira-kira, apa yang sudah terjadi di dalam?”


Elis yang sejak tadi diam, sekali bicara menggunakan sebuah kalimat yang sangat panjang.

__ADS_1


Rahma terdiam. Ia tampak memikirkan semua yang baru saja Elis ucapkan.


“Dan satu lagi, saat beliau membuka dan menutup pintu, aku juga mendengar ada suara kunci yang diputar menyertai. Jika tak ada sesuatu yang ingin disembunyikan, masa iya harus seperti ini,” imbuh Elis saat otak Rahma masih sibuk berfikir.


Rahma menghela nafas. Sepertinya Rahma tengah menggunakan jiwa nujumnya untuk menerawang kejadian yang terjadi sebelumnya.


“Terus intinya apa?” Rahma menyerah akhirnya. Otak polosnya tak bisa mencerna setiap clue hasil investigasi Elis hari ini.


“Intinya aku penasaran dengan apa yang terjadi pada mereka di dalam,” ujar Elis mengatakan akar permasalahan yang berputar di kepalanya.


Rahma menggigit bibirnya. Tak puas dengan bibir, ia lantas menggigit ujung jarinya. “Masa iya?” tanya Rahma tanpa intro sebelumnya.


“Menurut kamu gimana?” Elis balas bertanya.


Rahma mengela nafas. Lehernya mendadak terasa lemas sehingga kepalanya tertunduk tak mampu tegak. Setelah terkumpul sejumlah kekuatan, ia kemudian mengangkat wajahnya untuk bertemu tatap dengan Elis. “Kalau pun iya, kita bisa apa? Bukankah hal semacamnya sudah biasa terjadi di kalangan atas?” Rahma meringis setelah menyelesaikan kalimatnya.


Elis menggeleng dan segera menutup rapat kedua telinganya. Tak hanya cukup sampai di situ, ia juga memejamkan matanya dengan rapat seakan menolak semua yang kini ia dengar atau pun ia lihat.


Tapi sepertinya semesta berkehendak lain. Saat Elis berusaha menolak semuanya, pintu yang sejak tadi tertutup malah terbuka. Dari dalam muncul Andre yang tengah membopong Hana yang terlihat memejamkan mata.


Andre tak menggubris sama sekali Rahma yang sepertinya ingin bertanya. Ia terus berjalan melewati kedua stafnya yang terlihat antara segan dan penasaran. Tujuannya hanya satu, yaitu segera pulang.


“Aw, aw, aw, awhh…” Rintih Elis yang sebenarnya sudah tak cukup punya tenaga namun malah mendapat serangan tiba-tiba. Elis nyengir saat ia harus menerima semua ini.


Elis lelah harus menahan semuanya. Memendam perasaan dalam waktu lama, dan langsung terhempas saat baru diungkapkan. Namun ia harus tetap tersenyum dan dan dilarang lelah untuk alasan apa pun. Karena kehidupan tak hanya berputar masalah hati.


Rahma sebenarnya tak berniat menyiksa Elis. Hanya saja ia salah tingkah, terkejut, bingung dan entah apa lagi yang ia rasakan bercampur jadi satu. Hal ini membuatnya membutuh kan pelampiasan yang malangnya hanya ada Elis yang harus menerima semuanya.


Otak kedua wanita ini dipenuhi tanda tanya. Hana yang semula nampak baik-baik saja, kenapa tiba-tiba seakan tak berdaya. Pakaian yang dikenakan pun berganti warna, dan mereka bisa menduga bahwa itu adalah paket yang hampir dibuka Elis sebelumnya.


“Aduh otakku, aduh otakku…” Kini Rahma tak lagi memukuli Elis karena ia sadar betul kondisi sahabatnya. Tapi kepala yang merupakan asset yang harus ia jaga justru jadi pelampiasannya sebagai gantinya.


“Masa iya sih Lis, adduuhhh…” kembali Rahma meracau.

__ADS_1


Elis tak mau mendengar lagi. Sepertinya sekarang adalah waktunya pulang. Ia segera menyambar tasnya dan pergi begitu saja. Sontak hal ini membuat Rahma panik dan segera berlari untuk mengejar Elis yang terlebih dahulu pergi darinya.


Andre tak ingin membuang waktu. Ia benar-benar langsung pulang sekarang. Karena ulahnya, Hana dibuat kelelahan hingga akhirnya terlelap seperti sekarang. Entah berapa ronde ia habiskan dalam permainan kali ini, yang jelas ia tak memberi kesempatan Hana untuk sekedar menjeda diri.


Setelah Andre melepaskan semua yang selama ini ditahannya, barulah ia membebaskan Hana. Wanita ini hanya punya sedikit daya untuk membersihakan diri, selanjutnya Hana tertidur seperti orang mati.


“Kamu harus lebih sering olahraga sayang…”  Andre tertawa kecil setelah mengakhiri ucapannya. Ia sempat mencium tangan Hana sebelum kembali focus pada kemudinya.


Setibanya di rumah, Andre langsung membawa Hana masuk. Ia di sambut bibi dan orang-orang yang bekerja di rumahnya.


“Ya ampun, itu Nona kenapa?” tanya bibi yang melihat Andre masuk dengan menggendong Hana.


“TIdak apa-apa Bi, hanya lelah sampai ketiduran. Dan saya tidak tega untuk membangunkan.”


Bibi berjalan terlebih dahulu untuk membantu Andre membukakan pintu kamar. Hari ini Andre menambah 3 orang lagi asisten untuk membantu bibi, karena ia dan Hana akan tinggal di sana dalam waktu lama, sehingga akan dirasa kurang kalau hanya ada bibi seorang yang mengurus semuanya.


“Apa Den Andre sudah makan malam?” tanya bibi setelah Andre membaringkan Hana.


“Apa Bibi sudah memasak makanan?” Alih-alih menjawab, Andre memilih untuk mengumpankan pertanyaan kembali.


“Akan segera saya buatkan.”


“Bibi istirahat saja, sekalian ajari mereka semua peraturan dan kebiasaan di rumah ini. Biar saya delivery dan kalau sudah datang tolong nanti antar ke sini.”


“Baik Den.” Bibi menerima perintah Andre tanpa bertanya.


“Sekarang Bibi bisa keluar, saya mau istirahat…”


“Baik Den, Bibi permisi…”


Bibi segera pergi dan menutup pintu setelah ia keluar.


Andre melanggar semua komitmen yang sudah ia sepakati dengan Hana. Semalam keduanya berhasil tidur terpisah namun kini ia merasa akan lebih praktis jika mereka tidur di kamar yang sama. Mereka sebelumnya juga sudah sepakat untuk tinggal terpisah namun beda kamar saja Andre tak bisa apa lagi beda rumah.

__ADS_1


Entahlah bagaimana mereka selanjutnya, semoga kewarasan segera kembali pada mereka yang mulai gila.


Bersambung…


__ADS_2