
...*HAPPY READING*...
Seminggu sudah Rina bekerja di kantor bersama Dika. Dia juga mulai pandai bermuka dua, seolah bekerja untuk Dika, namun faktanya ia tengah berusaha mengejar mimpinya.
Gosip beredar luas makin luas. CEO Surya Group kini sudah menemukan tambatan hatinya. Hal ini karena Dika kedapatan beberapa kali berpegangan tangan atau berpelukan dengan Rina asisten pribadinya. Namun tak ada klasifikasi atau apapun yang dilakukan Dika. Ia ingin membiarkan semua orang berspekulasi, toh tidak akan ada pengaruhnya terhadap laju pertumbuhan perusahaannya.
Hal ini menimbulkan berbagai spekulasi di kalangan rekan bisnis dan kolega. Dika pun akhirnya dibuat pusing karena harus dicecar dan dikejar-kejar para pemburu berita.
Rina meletakkan ponselnya dengan kasar. Karena barusaja ia selesai membaca berita heboh yang muncul di beranda.
"Emang nggak bisa diperhalus apa kata-katanya, misal nih CEO Surya Group kini tak lagi sendiri, atau CEO Surya Group telah menemukan tambatan hati, atau apa lah. Kenapa harus ada kesan negatif terhadapku di setiap judul berita."
Dika hanya melirik Rina sekilas kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.
" Sayang, aku kudu gimana?"
Dika meletakkan pekerjaannya dan menatap dari jauh istrinya.
" Sudah 4 tahun Rin, lebih malah. Dan itu waktu yang cukup lama untuk menyembunyikan sebuah rahasia."
"Terus apa aku harus membatalkan ini semua."
Rina mengangkat 1 bendel kertas berisi gambar-gambar yang tengah dikerjakannya.
"Bagaimana perasaan kamu terhadap mereka?"
Rina menghela nafas.
"Mereka adalah hasil jerih payahku. Mereka adalah ciptaanku. Aku ingin menjadikannya sesuatu, sesuatu yang nyata. Dapat dilihat yang disentuh."
"Aku bahkan tak peduli akan terjual atau tidak, bahkan mungkin aku akan merasa sayang untuk menjualnya," lanjut Rina dengan tatapan menerawang.
"Kamu buat proposal. Dan bawa ke departemen pengembangan. Jika proposalmu berhasil kamu akan mendapat tim yang dipilih perusahaan."
"Apa bisa?"
"Bisa. Dengan begitu kamu juga menyumbang 1 cabang baru untuk perusahaan ini. Kamu tak perlu capek-capek berjuang secara mandiri."
"Karena selain melelahkan, waktu yang dibutuhkan juga akan lama."
"Aku ingin lebih tenang membawamu ke mana-mana."
Rina bangkit dan meninggalkan kursinya. Ia berjalan dan memeluk erat suaminya.
"Makasih sayang."
__ADS_1
"Berjuang keraslah untuk rumahtangga kita."
"Hmm."
Rina segera kembali ke meja kerjanya. Disana ia mulai serius menggarap proposal sesuai arahan Dika.
***
Akhir-akhir ini banyak sekali pemburu berita yang menjadi paparazi untuk Dika.
"Sayang, apa nggak mending aku pulang sendirian aja?"
"Nggak perlu."
"Lihat tuh diluar banyak wartawan."
"Ya biarin, itu pekerjaan mereka. Asalkan nggak banget-banget ganggunya."
"Sayang, aku mau keluar sebentar," lanjut Dika yang keluar begitu saja melewati Rina.
Rina penasaran, tapi pekerjaannya ta mungkin ditinggalkan. Ia kembali memusatkan konsentrasi pada laptop di hadapannya.
Setelah sekitar 15 menit, Dika pun kembali. Rina tersenyum dan Dika pun melakukan hal yang sama. Dan mereka pun kembali sibuk bekerja.
***
Rina sudah memperkenalkan diri dan mulai mempresentasikan Proposal yang telah ia susun selama berhari-hari.
"Perhiasan termasuk benda mewah yang harganya juga tidak murah. Hal ini mencakup bahan baku dan biaya produksi yang membutuhkan biaya yang tinggi. Apakah biaya yang tinggi itu bisa sebanding dengan profit yang bisa diperoleh perusahaan."
"Begini, manusia terutama wanita ini susah lepas dari perhiasan. Selain untuk mempercantik diri, perhiasan juga punya peran untuk investasi. Saya yakin anda semua pasti punya perhiasan di rumah. Tanpa sadar anda sudah berinvestasi. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa membeli perhiasan itu tidak ada ruginya dan hal-hal seperti ini yang bisa kita katakan pada para customer nanti. "
Perdebatan panjang terus berlanjut. Dika masih memberi kesempatan pada istrinya untuk menghadapi semuanya sendiri. Kadang tak tega juga saat melihat Rina di serang sana-sini, tapi tidak akan kuat seseorang tanpa latihan dan tekanan berat dalam proses yang dilalui ya.
Tepuk tangan menjadi penutup rapat kali ini, dan kontrak kerjasama eksklusif antara Rina dan Surya Group siap segera ditanda tangani.
Nama Rina kembali diperbincangkan. Siapa sebenarnya wanita ini. Datang sesukanya sendiri, belum lama jadi asisten pribadi CEO sekarang sudah berubah lagi jabatannya.
"Aku iseng nyari di internet, kok gak ada satu pun informasi tentang Rina ini ya?" gumam Rahma sambil menscroll layar ponselnya.
"Ya lagian dia seterkenal apa sampai ada website yang memuat informasi tentang dia," timpal Elis.
"Ya sosmednya kah, pernah sekolah dimana, atau apa lah," kekeh Rahma.
"Ya siapa tahu di sosmed dia pakai nama alay yang susah dieja. Siapa tahu..., ya kan?"
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, Rina berada tak jauh dari mereka dan menangkap detail yang mereka bicarakan tentang dirinya. Berusaha bersikap sebiasa mungkin dan lewat begitu saja.
" Hai... "
Dua sekretaris ini gelagapan.
" Iya Bu Rina," jawab Rahma.
" Apa kalian tahu dimana pak Andre sekarang?"
"Pak Andre sedang ada pertemuan dengan client bersama Hana," jelas Rahma kemudian.
"Oh. Kalau begitu saya permisi dulu."
***
Rina harus berjuang keras saat ini. Ia benar-benar tak sanggup menyiksa suaminya seperti ini. Sejujurnya tak hanya Dika yang terbebani dengan disembunyikannya pernikahan ini, tapi dia sendiri juga sama.
Dengan tim baru yang dimilikinya, ia mulai membagi tugas dan menata semua. Membeli segala keperluan untuk produksi dan membenahi gedung untuk dijadikan kantor dan galery.
Santi dan Ririn sebenarnya gatal ingin turun tangan membantu Rina, namun Rina kekeh melarangnya. Sedikit lagi, tinggal sedikit lagi semua akan selesai. Ia tak peduli lagi akan seperti apa hasilnya, yang jelas ia hanya butuh berusaha semaksimal mungkin untuk mimpinya.
Rina melepas sepatu highheelsnya dan berselonjor kaki di atas lantai. Ia menyandarkan punggung pada tembok yang akan diganti catnya sebentar lagi. Saai itu juga Dika datang dengan sebuah mobil box yang mengikutinya di belakang.
"Ada pak Restu, ada pak Restu."
Semua yang merasa lelah segera bangkit agar nampak sibuk, kecuali Rina yang tak sadar karena terlalu sibuk dengan gadget di tangannya.
Rina merasa tiba-tiba tubuhnya terangkat dan melayang begitu saja. Semua pekerja menghentikan gerakannya saat melihat pemandangan tak biasa yang disuguhkan bosnya dan wanita cantik yang menangani proyek ini bersama mereka.
"Pak, turunin saya."
Rina berusaha meronta saat Dika menggendongnya. Karena tak ada hasil, akhirnya Rina memilih untuk menyembunyikan wajah di dada bidang suaminya.
"Perhatian semuanya!"
Dika mengambil atensi seluruh pekerja sambil menggendong Rina.
"Tolong kalian bekerja ekstra untuk proyek ini. Jika berhasil dan hasilnya memuaskan, saya akan memberi bonus pada setiap orang yang terlibat di dalamnya."
Dika kembali melangkah dengan gagahnya. Dan kembali berhenti di depan mobil Box yang datang bersamanya tadi.
" Saya bawakan kalian makan siang. Silahkan istirahat dan nikmati makanannya. "
Semua bersorak bahagia. Mereka serasa bernyawa saat CEO dinginnya tiba-tiba sebaik ini pada mereka. Mereka yang sering kali menatap sebelah mata pada Rina, kini yakin bahwa dia adalah wanita istimewa dimata bosnya.
__ADS_1
TBC