Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Terimakasih Cinta


__ADS_3

Kapan Rina hamil?


Kenapa Andre dan Hana sering banget muncul?


Akan terjawab semua nanti ya.


Dian kemana?


Ada kok.


Masih inget sahabat Rina yang satunya kah? 


Hayo siapa? Tulis di komen ya.


HAPPY READING


“Rina kenapa?” Rudi yang sudah menunggu Dika langsung menghampiri menantu dan anak tirinya ini.


“Nggak tahu Yah. Tadi sebelum Dika rapat dia masih baik-baik saja, tapi setelah kembali dia sudah seperti ini.”


Rudi nampak berfikir. Ia kemudian mengusap punggung Dika.


“Kamu tenang saja. Rina sudah ditangani di dalam.”


Baru saja Dika hendak membuka mulutnya, ponselnya sudah berdering nyaring pertanda sebuah panggilan masuk dan meminta untuk segera dijawab.


“Maaf Yah…” ujar Dika sebelum berjalan meninggalkan Rudi.


Dika sibuk menerima telfon yang entah dari siapa. Namun jika dilihat dari ekspresinya, sepertinya ini tak jauh-jauh dari urusan pekerjaan.


Saat Rina diperiksa dan Dika sibuk dengan pekerjaannya, Rudi menghubungi seseorang untuk turut memeriksa kondisi menantunya. Tak berselang lama yang dipanggil pun datang. Jelas tidak ada seorang pun yang berani membantah jika orang nomor satu di rumah sakit ini sudah meminta. Dokter Halima yang merupakan dokter spesialis kadungan yang kini menangani Rina pun datang untuk memastikan kondisi wanita ini.


Dika menghampiri Rudi setelah menyelesaikan panggilannya.


“Rina belum selesai diperiksa ya?” tanya Dika dengan wajah tak tenang.


“Belum. Kamu sabar ya…”


“Kenapa bukan Ayah sendiri yang memeriksa?” tanya Dika sambil mengintip ke dalam.


Rudi menggeleng. “Akan sulit karena saat memeriksa itu harus tenang. Dan yang terbaring itu adalah anak saya, mana mungkin saya bisa tetap tenang melihat anak saya tidak baik-baik saja.”


Dika yang semula berdiri langsung duduk dan memegang kedua kepalanya.


“Yah…” panggil Dika tiba-tiba.


“Iya Nak.”


Dika menghela nafas. “Apa ada kemungkinan Rina hamil?” tanya Dika ragu-ragu.


Rudi tak bisa langsung menjawab. Ia sendiri Ragu terlebih lagi saat ini ia tak langsung memeriksa kondisi Rina. "Kemungkinan itu tetap ada, namun sebaiknya kamu jangan terlalu menunjukkan kalau kamu berharap.”


“Kenapa?”


“Karena itu sangat berpengaruh pada kondisi Rina.”

__ADS_1


Dika menghela nafas.


“Kamu sudah makan?”


“Sudah,” bohong Dika.


“Tapi bekal dari mama kamu banyak sekali, sayang kalau  tidak dihabiskan.” Rudi berkata seperti ini agar Dika mau makan. Ia yakin anak tirinya ini belum makan jadi ia menggunakan alasan Mamanya untuk membujuk.


Rudi bangkit dan diikuti Dika dari belakang, mereka menuju sebuah ruangan VVIP yang berada tak jauh dari sana.


“Kita makan di sini ya, sebentar lagi Rina juga akan dibawa kemari.”


Dika tak menjawab. Ia hanya mengikuti ayah tirinya tanpa suara.


“Ayah selalu bawa bekal setiap hari?” tanya Dika saat ayah tirinya mulai membuka makanan yang ia bawa dari rumah.


“Iya. Mamamu hobi sekali memasak sekarang.”


Dika mulai mengambil makanan untuk dirinya.


“Dulu mama tak seperti ini. Apa karena waktu aku dan Rista masih kecil?”


“Untuk pastinya kamu bisa tanya sama mama kamu.”


Dika menghela nafas. “Saya baru sadar kalau mama bisa masak bahkan saat kita sudah tak serumah.”


“Karena saya lah kelinci percobaan mama kamu, dan sekarang ini hasilnya. Dia mulai confidence dengan masakannya.”


"Kelinci percobaan? Berarti mama pernah masak nggak enak?"


"Ayah makan?"


Rudi kembali mengangguk. "Kenapa wajah kamu seperti itu?"


"Ayah cinta sama mama?"


"Apakah pertanyaan itu perlu untuk kami yang setua ini?"


Dika tertawa kecil. "Terimakasih sudah mencintai mama saya."


"Terimakasih sudah menerima saya."


Rudi dan Dika perlahan memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Saat dua generasi ini mulai makan, tiba-tiba perawat masuk dengan mendorong Rina diatas brankar.


Dika langsung bangkit untuk melihat kondisi istrinya.


“Istri saya kenapa Sus?!” protes Dika saat melihat Rina seperti tak sadarkan diri.


“Kamu tenang saja. Anti nyeri yang diberikan padanya memberi efek kantuk jadi sekarang dia sedang tidur,” terang Rudi yang masih diam di tempatnya.


Dua perawat yang mengantarkan Rina mohon diri dan meniggalkan Rina bersama Dika dan Rudi di sana.


“Apa benar Rina baik-baik saja?” Tanya Dika setelah kembali duduk di dekat Rudi.


“Kalau kondisi Rina serius, dia tak mungkin di ruangan ini melainkan ke ruang perawatan intensif untuk dapat mendapat pemantauan dan perawatan lebih baik.”

__ADS_1


Dika diam dan menatap enggan makanannya.


“Biasanya kalau anaknya susah makan akan disuapi oleh ayah atau ibunya, jadi sekarang apa perlu saya menyuapi kamu?”


Dika tertawa dengan candaan Rudi. Meskipun cringe, tapi ini sudah prestasi luar biasa untuk ayah tirinya ini. Rudi tak banyak bicara, lebih suka diam dan mendengarkan, dan ikut keputusan apa pun yang dibuat. Itu lah Rudi. Ia juga heran kenapa dia dulu sangat membenci Rudi, padahal pria ini begitu pendiam dan tak banyak tingkah. Dan satu lagi, Rudi juga salah satu korban takdir, jadi kalau ditanya yang paling bersalah dalam masalah ini adalah takdir. Ah sudah lah, takdir tak pernah salah. Sudah tugas kita sebagai manusia untuk menerima dan menjalankan takdir apa pun yang ditetapkan untuk kita.


***


“Masih sakit?”


Hana menggeleng. “Lemes doang.” Hana menghela nafas dan menatap Andre yang duduk di sampingnya.


“Pandangin aja nggak apa-apa,” ujar Andre sambil menghisap gulungan tembakau yang diselipkan di sela jarinya.


Hana mendengus. “Aku cuma penasaran.”


Andre melempar putung rokoknya. “Penasaran soal apa?”


Hana memainkan jarinya dan menatap lurus kedepan. Menatap beberapa gedung yang tampak lebih menjulang dibanding dengan gedung-gedung di sekitarnya.


“Katanya penasaran, kok malah bengong?”


Andre lagi baik nih kayaknya. Batin Hana.


“Kenapa tak ada penghuni lain di lantai ini. Apa kamu nggak ngeri kalau cuma sendiri?”


“Siapa bilang sendiri, kan ada kamu sekarang.” Andre menjeda ucapannya dan menatap Hana yang duduk di sampingnya dengan kaki naik ke atas kursi. “Atau kamu takut saat sendiri?”


Hana menggeleng. “Tak ada space untuk takut di tempatmu ini, karena aku pernah berada di tempat yang jauh lebih menyeramkan dari ini.”


Andre mengernyit. “Belum ingin membicarakan sesuatu tentang kamu?”


“Kenapa? Apa kamu sedang mencari informasi tentang aku?”


“Off course, it should be.”


“Untuk apa?”


“Untuk…”


Baru saja Andre hendak menjawab, tiba-tiba ponselnya berdering.


Siapa yang menghubungi ponsel pribadiku saat ini? Batin Andre.


Ia menarik tangannya yang digunakan Hana sebagai sandaran. Ia kemudian bangkit untuk menjawab ponselnya. Saat Andre baru berdiri, terdengar suara bel dan pintu di ketuk secara bersahutan.


Merasa panggilan itu lebih penting, akhirnya Andre meminta Hana untuk membuka pintu. Ia yakin yang kini bertamu adalah pengantar makanan, jadi tak akan masalah jika Hana yang membukanya.


Hana bangkit dan berjalan ke depan, sementara Andre masih di kamar sambil menjawab panggilan.


“Setelah sebelumnya membiarkanku hampir mati kelaparan, sekarang malah memesan makanan saat aku masih merasa kenyang,” ujar Hana sebelum menarik handle pintu.


Hana terpaku melihat siapa yang berdiri di depannya, begitu pula orang itu. Saat dua orang ini sama-sama terpaku, Andre muncul dengan tergesa. Ia ikut terpaku juga karena ia terlambat untuk mencegah Hana membuka pintu.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2