
HAPPY READING
“Cut, cut, cut…”
Semua mendesah lelah saat sekali lagi kalimat keramat ini diteriakkan. Ini sudah hampir dua jam dan belum ada satu adegan pun yang berhasil Hana loloskan.
“Ini yang harus dibenahi apanya lagi Pak?” tanya sutradara yang benar-benar kewalahan menghadapi Andre sekarang.
“Kenapa harus modelnya yang di shoot sedekat itu, ini kan iklan es krim bukan iklan orang,” kesal Andre yang benar-benar ingin membuat orang memukulnya sekarang.
Sayang tak ada yang berani melakukan itu, karena selain posisinya yang akan ternacam namun Andre yang penggemar olahraga berat juga bisa saja membuat mereka patah tulang.
Hana yang juga sudah merasa lelah dan kesal diwaktu yang bersamaan merasa kalau kelakuan Andre tak bisa ia diamkan. Sehingga ia merasa harus melakukan tindakan. Tak masalah sepertinya, toh semua juga sudah tahu jika Andre dan ia adalah sepasang kekasih.
“Semuanya, bagaimana kalau kita break sebentar,” ujar Hana tak bersambut oleh segenap crew yang sedang bekerja di sana.
Jelaslah mereka tak bisa memutuskan selama Andre yang masih seenaknya sendiri di sana. Hana tahu hal ini, ia lantas berjalan melewati beberapa orang dan berhenti di dekat kekasihnya.
“Sayang, break ya…” ujar Hana dengan meminta
“Hmm…”
Setelah menganggukkan kepala, Andre lantas bangkit meninggalkan tempatnya. Hana yang punya misi ingin cepat menyelesaikan proses shooting iklan ini pun segera mengikuti kemana perginya Andre saat ini. Ia sempat mengisyaratkan pada sutradara agar menunggu rencananya.
“Fffuuhhh… Gila, gila…”
“Udah sabar aja, namanya punya cewek cakep, pasti nggak akan mau buat dibagi.”
“Udah cakep pinter pula.”
“Nemu dimana coba…”
“Pak Andre juga bukan orang biasa yang nggak heran kalau dapat yang luar biasa…”
Selalu seperti ini. Hana memang ahlinya menjadi pusat perhatian terlebih saat Andre selalu merecokinya seperti sekarang.
Saat pintu studio terbuka, semua mendadak kembali pada posisi siaga. Semua crew awalnya ingin sedikit mengurangi ketegangan ototnya karena Andre sekarang harus tegang lagi ketika tiba-tiba muncul orang nomor satu di perusahaan ini. Ini sangat langka saat melihat Restu Andika meninjau langsung seperti ini, namun tak heran karena ini adalah projek yang digarap istrinya yang kini juga tengah datang bersamanya.
“Pak Restu, Nona Rina…”
Sapaan datang bertubi menghampiri pasutri ini.
“Sedang istirahat?” tanya Dika pada semua yang ada di sana.
“Iya Pak,” jawab sang sutradara.
“Sudah sampai mana?” tanya Dika lagi.
__ADS_1
Sutradara menelan ludah. Haruskah ia mengakui kalau Andre terus mengacau sehingga belum ada satu pun adegan yang lolos ia rekam.
“Hana kemana?” tanya Rina yang tak melihat keberadaan Hana.
“Nona Hana sedang bersama pak Andre,” jawab sutradara ini lagi.
Dika sedikit menunduk untuk menatap Rina yang sepertinya punya pikiran yang sama dengannya. Dika tersenyum pada Rina yang kini setengah tertawa. Tanpa ia sadari, hal ini membuat para wanita yang ada di sana harus memekik tertahan melihat kejadian langka dimana Dika tersenyum dengan mudahnya.
Sepertinya efek pemanasan gobal sedang muncul saat ini. Buktinya semua bisa menyaksikan kutub es sedang mencair sekarang.
Dika lantas menarik kursi dan meminta Rina untuk duduk di sana. “Kamu tunggu sini ya, aku coba ngomong sama Andre…”
“Nggak mau…”
“Terus gimana? Nggak akan selesai kalau Andre nggak ditangani.”
“Aku ikut.”
Dika tersenyum dan menyentuh puncak kepala istrinya. “Ayo…”
Tampilan keduanya sangat tidak serasi, tapi jujur membuat semuanya iri. Mungkin Rina memang punya kelebihan yang menutupi kekurangannya sehingga walau banyak orang yang beranggapan pasangan ini tak serasi, tapi Dika tetap nyaman dan tak terpengaruh sama sekali.
“Tadi Pak Andre pergi kemana?” tanya Dika pada semua orang yang ada di sana.
“Baliau tidak bilang…” kembali sutradara yang menjawabnya.
Dika diam sejenak. Ia menarik lagi sebuah kursi dan ikut duduk di sana.
Dika menarik ponselnya dan menunjukkannya pada Rina. Dan beruntung karena tak lama Andre menjawab panggilannya.
Tak lama berselang, Andre sudah kembali bersama Hana. Dika nampak melakukan diskusi singkat sebelum shooting akhirnya bisa dilanjutkan.
Dika benar-benar harus menunggui di sana karena jika dia pergi pasti Andre akan berulah lagi. Dan setelah petang menjelang akhirnya seluruh rangkaian pembuatan iklan berhasil diselesaikan termasuk photo shoot untuk keperluan banner dan cover.
Semua memang terburu-buru, karena Rina ingin launching dilakukan dalam minggu-minggu dekat ini. Hana yang sebenarnya mampu juga bisa diajak bekerja sama untuk segera menyelesaikannya. Dan sekarang ia punya waktu untuk persiapan pengerjaan produksi pertama yang juga akan dikeluarkan sejak peluncuran.
“Thanks ya Han. Nggak ngerti deh kalau nggak ada kamu,” ujar Rina pada asisten sementaranya ini.
“I’m nothing without you,” ujar Hana disertai tawa.
Kedua wanita ini saling memeluk sesaat.
“Ayo sayang…”
Khawatir Rina akan kelelahan, Dika lantas segera mengajaknya pulang.
“Kita kemana sekarang?” tanya Andre yang kini tinggal berdua bersama Hana.
__ADS_1
“Aku pengen makan,” ujar Hana cepat.
“Ayo, mau makan di mana?” Andre menyambut gembira keinginan kekasihnya.
“Hot pot enak kali ya…” gumam Hana.
“Kenapa kamu tiba-tiba pengen makan yang begituan?”
“Pengen aja.”
“Tapi hotpot nggak asik kalau cuma berdua,” ujar Andre menyatakan pendapatnya.
“Aku hubungi Dian ya…” Hana meminta ijin.
Wajah Andre langsung berubah. “Kenapa Dian? Kamu mau ketemu sama Ken?”
Hana mendengus. “Ya udah nggak usah makan, kita pulang.”
“E tunggu-tunggu. Aku juga mau.” Baru saja ia senang Hana ingat makan sekarang malah mau ngambek lagi. Penyakit lambungnya mulai membaik, masa iya harus kambuh karena Hana ngambek seperti ini.
“Di resto Chinese Dian pasti ada hot pot kan? Itu lebih praktis dari pada kita harus belanja sendiri padahal aku nggak paham bener bumbunya apa.”
“Oh…”
Akhirnya Hana menjelaskan maksud dibalik keinginannya menghubungi Dian tadi. Andre pun hanya ber-oh ria setelah mendengar alasan kekasihnya.
“Lagian kamu kenapa sih? Aku tu nggak punya kenangan sama Ken. Bukan hanya sama Ken, aku bahkan belum pernah pacaran sebelum kenal sama kamu,” gerutu Hana karena merasa Andre sering kali salah sasaran soal ia dengan Ken.
“Kalau kamu masih dendam masalah Ken yang punya niat bawa aku ke Beijing, itu bahkan belum selesai disampaikan. Dan lagi itu hanya alternative karena Ken tak mau dijodohkan. Kalau aku yang dibawa, mungkin akan lebih mudah untuknya mengakhiri semua karena ia tahu jelas saat itu aku hamil anak siapa.”
Selalu seperti ini saat Hana harus menyinggung masalah kehamilan yang pernah dialaminya. Meski itu adalah aib, tapi kehidupan yang pernah ada tetaplah anugerah yang tak terkira nilainya. Sehingga saat kehamilan itu berakhir sebagai kekangan, ada rasa sedih yang tak bisa ia hindarkan.
“Maafkan aku sayang…”
Hana pasrah saja saat Andre memeluknya. Ia bahkan membalas pelukan itu dengan tak kalah hangatnya.
“Aku tak akan pernah membuat kamu seperti saat itu lagi. Maafkan aku…” ujar Andre sekali lagi.
“Hmm… jangan suka marah lagi ya…” pinta Hana sungguh-sungguh.
Andre melepas rengkuhannya sebelum ia mendaratkan kecupan dipuncak kepala.
“Yang gagal tadi malam apa bisa dilanjutkan?”
Hana membulatkan mata. “Aku mau ke tempat Dian sekarang…”
Klik!
__ADS_1
Hana segera memasangkan seatbelt di tubuhnya dan menatap lurus ke depan. Andre menghargai usaha kekasihnya, untuk itu ia segera melakukan hal yang sama dan lanjut menjalankan mobilnya.
Bersambung…