
Nothing to say, 😂
Cie galau, 🤗
Apa ya?
Bocil yang suka rewel.
...*H A P P Y R E A D I N G*...
"Kalian nggak lagi marahan kan?" tanya Rina saat melihat Dedi dan Rista yang sejak tadi hanya diam saja.
"Nggak kok..." jawab Dedi yang tengah menyetir sambil bertukar senyum dengan Rista. "Eh, kok kamu pucet?" tanya Dedi begitu melihat ada yang berbeda dengan gadisnya.
Rina memajukan tubuhnya agar dapat menjangkau dahi Rista. "Nggak panas tapi."
"Sakit perut..." gumam Rista.
Dedi langsung menepikan mobilnya. "Rin gimana nih. Ke dokter ya." Dia yang bertanya kemudian dijawab sendiri terus main jalan lagi aja tanpa nunggu orang lain bersuara.
Dedi langsung memacu mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.
"Ded, pelan dikit jalannya. Bahaya." Rina coba memperingatkan Dedi.
"Tapi Rista sakit Rin."
Dedi terus memacu mobilnya membawa Rista menuju rumah sakit milik Rudi yang yang berada tak jauh dari lokasi mereka.
"Ded, Rista nggak apa-apa. Jangan bikin kita semua bahaya dengan cara kamu berkendara."
"Nggak apa-apa kamu bilang. Dia lemas dan pucat seperti itu kamu bilang nggak apa-apa!?" Dedi yang dilanda panik tak bisa mengontrol emosinya saat merasa Rina mengabaikan keselamatan Rista.
"Ded, dengerin aku deh. Rista itu cuma..."
"Lu diem atau gue lempar keluar!?" potong Dedi cepat sebelum Rina menyelesaikan ucapannya.
Tak ada pilihan untuk Rina selain diam. Sebenarnya ia begitu tersentuh dengan besarnya perhatian Dedi pada Rista. Namun cara Dedi mengendarai mobil benar-benar membuatnya takut kehilangan nyawa.
Pantesan Dedi sama Dika sahabatan, mereka dari luar sama-sama kalem, tapi kalau udah emosi mendadak serem. Batin Rina.
Rina segera meraih ponselnya dan mengetikkan pesan untuk Dika. Dia hanya say hi, tanpa memberitahu apa yang ingin disampaikannya. Setelah pesan dikirim, ternyata hanya masuk dan tak kunjung dibaca. Saat melihat waktu online, ternyata Dika sudah tidak on lebih dari 1 jam.
"Om, Rista sakit dan kita hampir sampai di rumah sakit Om."
Rina terkejut karena Dedi tiba-tiba bersuara. Sepertinya dia sedang menghubungi dokter Rudi.
"Dia pucat dan lemas Om."
"..."
"Baik Om. Terimakasih."
Dedi kembali meletakkan ponselnya dengan sesekali menatap cemas ke arah Rista.
"Sayang, tahan dulu ya. Kita sebentar lagi nyampe."
Sebenarnya Rina kasihan melihat Rista, namun jadi geli melihat reaksi Dedi yang menurutnya berlebihan.
Tak berapa lama mereka sudah sampai di rumah sakit. Di sana sudah ada beberapa perawat yang stand by dengan brangkar untuk membawa Rista. Dengan setengah berlari Dedi bersama beberapa perawat Rista menuju UGD dimana Rudi sudah menunggunya di sana.
__ADS_1
"Ini tadi kenapa?" tanya Rudi yang menahan Dedi di depan pintu UGD.
"Rista cuma bilang sakit perut Om, terus dia pucet. Abis itu makin ke sini makin lemes," jujur Dedi terkait kondisi Rista.
"Oke, kamu tunggu di sini."
Rudi menghilang bersama pintu yang tertutup.
"Nih." Rina menyodorkan air mineral kepada Dedi yang baru saja duduk tak jauh darinya.
"Nggak, makasih." Tolak Dedi tanpa menatap Rina.
"Kamu tenang ya..."
"Mana bisa tenang Rin," jawab Dedi dengan tak santai.
Rina mengalah kali ini. Tak berselang lama Rudi keluar.
Dedi langsung bangkit dan menghampiri Rudi. "Gimana keadaan Rista Om?!"
Rudi tersenyum menatap Rina dan Dedi bergantian. "Rista nggak apa-apa, dia sudah saya kasih pereda nyeri."
"Rista nggak sakit parah kan Om?"
"Kamu tenang ya, tiap perempuan akan mengalami hal ini, hanya saja reaksi tubuhnya yang tak sama masing-masing orang."
Dedi tak paham maksud Rudi.
"Rista hanya nyeri datang bulan kan Om...?" tanya Rina hati-hati karena ia masih sedikit takut akan ancaman Dedi yang hendak melemparnya tadi.
Rudi mengangguk.
"Sekali lagi lu..."
Nah kan ngamuk lagi. Batin Rina takut-takut.
"Rista nyeri haid Dedi. Dan itu biasa dialami perempuan." Rudi yang paham kepanikan sahabat anak tirinya ini segera menjelaskan.
"Jadi semua perempuan gini tiap bulan?" tanya Dedi yang sesekali menatap tak enak pada Rina.
"Ya nggak selalu. Aku tadi sebenarnya mau ngajak kamu mampir ke apotik buat beli pereda nyeri..."
"Kenapa nggak ngomong?!" protes Dedi.
"Ya gimana mau ngomong, orang baru mangap aja udah mau dilempar dari mobil," ucap Rina sambil memandang ke sembarang arah.
Rudi tertawa dengan tingkah anak-anak muda di depannya. "Ya udah, saya tinggal dulu ya..."
"Bisa kita masuk dan lihat Rista Om?" tanya Dedi.
"Bisa, saya tadi sudah minta Rista dipindahkan ke kamar rawat, biar bisa istirahat. Sus..." Rudi memanggil seorang suster.
"Iya Dokter..."
"Tolong antarkan mereka ke kamar Nona Rista."
"Baik Dokter."
"Saya tinggal dulu," pamit Rudi pada Dedi dan Rina.
"Iya Om. Terimakasih."
"Saya yang terimakasih sama kalian." jawab Rudi sebelum berjalan meninggalkan Dedi dan Rina.
"Mari Mbak Mas, bisa ikuti saya," ucap perawat itu dengan ramah setelah Rudi pergi dari hadapan mereka.
Mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit hingga perawat itu berhenti di depan sebuah pintu. Begitu pintu dibuka, nampak Rista yang berbaring menghadap jendela. Ditangan ya terpasang infus dan tubuhnya tertutup selimut sebatas perut.
__ADS_1
"Ta..." Dedi masuk begitu saja meninggalkan Rina di ambang pintu.
"Makasih Sus," ucap Rina pada suster yang mengantar mereka.
"Sama-sama Mbak. Saya permisi."
Rina segera menutup pintu setelah suster itu pergi. Dia segera duduk di sofa, mencoba memberi ruang pada Dedi dan Rista. Ia mengambil ponsel dari tas dan hendak menghubungi mamanya.
Baru saja ponsel dipegang, sudah ada panggilan yang berdering kencang.
"Halo..."
"Halo Rin, kamu udah di rumah?" tanya Dika yang menjadi dalang berderingnya ponsel Rina.
"Belum. Kita masih di Rumah Sakit?"
"Rumah Sakit? Siapa yang sakit?" tanya Dika.
"Rista. Tapi..."
"Rumah Sakit mana?" tanya Dika dengan tak sabar.
Rina mendengus. "Kenapa kalian hobi banget motong omongan orang."
"Sayang, jangan main-main deh Rumah Sakit mana?"
"Ck." Rina berdecak. "Aku nggak bakal bilang kalau kamu nggak tenang," ketus Rina.
"Rin, adik aku kenapa?"
"Pak Restu, bisa tenang nggak? Kalau enggak lebih baik saya matikan sambungan telfon ini," ucap Rina dengan jengah.
"Rin, kamu."
"Saya matiin nih..."
"Oke-oke...." terdengar deru nafas Dika yang tak biasa.
"Rista nyeri haid, dan tadi Dedi nyaris lempar aku dari mobil pas aku mau ngasih tahu dia."
"Apa, Dedi kurang ajar sama kamu?!" Dika kembali terdengar emosi.
Rina menepuk jidatnya. Astaga. Ada apa dengan mereka hari ini.
"Dika, udah dulu ya telfon ya aku mau pulang."
Bip
Rina berjalan mendekati Rista setelah ia mematikan begitu saja sambungan telfonnya. "Ta, aku balik dulu ya."
"Yah, jangan dong. Bisa digorok gua sama Dika..." cegah Dedi.
"Tenang aja, aku bakal jelasin kok..."
"Kak, kata papa Rudi cuma nunggu infus habis abis itu boleh balik kok, tunggu bentar ya..." pinta Rista.
"Udah nggak apa-apa, kamu temenin Rista aja?"
"Terus Kakak gimana?"
"Udah tenang aja. Aku balik dulu ya."
"Nanti kabarin kita ya kalau ada apa-apa," putus Dedi.
"Oke."
Rina segera meninggalkan kamar tempat di mana Rista sedang beristirahat. Dia sempat melambaikan tangan sebelum menghilang di balik pintu
__ADS_1
TBC