Zona Berondong

Zona Berondong
Khitan


__ADS_3

^^^Adakah yang pernah berhubungan dengan mereka yang berbeda keyakinan? ^^^


^^^Bagaimana akhir kisah kalian?^^^


...*HAPPY READING*...


Piknik di kebun strawberry, membuat Rista begitu girang saat ini. Untung saja sakit perut semalam tak berulah lagi, jika tidak pasti tak akan ada piknik seperti ini.


Santi dan Rudi hanya di tepi. Mereka melilih untuk berteduh dan menyaksikan anak-anak mereka bercanda ria di tengah kebun strawberry.


"Sayang, udahan yuk."


"Kamu istirahat aja dulu. Aku masih pengen di sini." Rina yang masih asik berjongkok dan mengamati setiap strawberry yang begitu segar sebelum dipetiknya.


Dika mendesah. "Aku tungguin deh, takut kamu ada yang nyulik."


Rina terkekeh.


"Nothing spesial on me. Jadi kamu tenang aja."


Dika berjongkok di samping Rina.


"You are the most important for me, jadi aku takut kamu ada yang bawa pergi lagi."


Rina menoleh dan mendapati Dika yang tengah menatap lekat dirinya. Dia diam saja saat Dika mendekatkan wajahnya.


Pluk


Spontan Dika mundur saat merasa ada sesuatu yang mendarat mulus di kepalanya. Sempat tertangkap, dan ternyata sebuah strawberry lah pelakunya.


"Maaf Kak, nggak sengaja."


Ucap Rista saat Dika memergoki keberadaannya.


"Ristaaaa," geram Dika dengan suara tertahan.


Rina menahan Dika yang hendak bangkit dan membuat perhitungan dengan adiknya. Ia menggeleng saat Dika menatapnya.


"Jangan terlalu keras ya sama mereka, mending kita saling jaga."


"Tapi Rista masih kecil, tak seperti kita..." ucapan Dika menggantung.


"Kita apa? Kita juga belum halal ngelakuin semuanya."


Dika melepaskan cekalan Rina dan langsung bangkit begitu saja.


"Dika..."


Rina meninggikan suaranya saat Dika berjalan pergi dari sana.


Dika hanya menggerakkan tangan seolah berkata semua baik-baik saja. Ia meneruskan langkah menuju tempat Dedi berada.


"Dika..."


Dedi gelagapan saat menyadari Dika yang berjalan ke arahnya bersama Rista.


"Aku tadi udah coba ngalihin pandangan Rista dan cegah dia ke sana tapi..."


Ucapan Dedi terhenti saat Dika meletakkan sebelah tangan di bahunya.

__ADS_1


"Maafin aku."


Dedi tak bereaksi. Maksud Dika apa sih?


"Harusnya aku nggak terlalu nyalahin kamu. Kita sama, dan harusnya kita saling mengingatkan, bukannya saling menyalahkan."


Kedua sudut bibir Dedi tertarik. Ia segera merangkul sahabatnya bersama dengan lengkung bahagia di wajahnya.


"Thanks a lot calon kakak ipar."


Spontan Dika mendorong tubuh Dedi.


"Sialan lu, berasa tua gua jadinya."


Keduanya berjalan meninggalkan kedua gadisnya yang masih asik dengan strawberry menuju pasangan dewasa yang terlarut dalam cinta.


***


Saat ini baru pukul 3 dan Dedi bersiap untuk menjalani pemeriksaan di rumah sakit milik Rudi Andika.


Apakan ada yang bertanya, Dedi menderita penyakit apa?


Kenapa harus menjalani pemeriksaan segala?


Jawabannya Dedi tak sakit apa-apa. Ini adalah salah satu syarat yang harus ia tempuh sebelum ia resmi berpindah keyakinan.


Tak ada yang mempermainkan Tuhan dalan cerita ini, hanya saja Dedi yang statusnya beragama namun selalu merasa hampa selama hidupnya. Sejujurnya ia sudah tak beragama untuk sekian waktu, untuk belajar dan mencari tahu jalan menuju Tuhan yang akan jadi tujuannya pulang.


Ia baru merasa hidup saat berkawan dengan Dika. Sahabatnya ini bukanlah sosok yang taat dalam agama, hanya saja sholat 5 waktu selalu ia jaga.


Dika tak pernah mengajaknya pindah agama hingga saat mulai dekat dengan Rista pun tak ada yang memintanya menanggalkan keyakinan yang sudah dianutnya.


Berkat dialog singkatnya dengan Rudi, ditambah dialog lanjutan dengan pak Min saat piknik tadi, membuat Dedi mantab untuk mengikuti keyakinan yang dianut sahabatnya.


Tanpa ada yang tahu sebelumnya, ternyata pak Min merupakan guru ngaji di kampung ini. Mendedikasikan ilmunya untuk membangun akhlaq para generasi penerus bangsa, sehingga tanpa sengaja bisa menuntaskan keraguan Dedi tentang islam.


Islam yang keras, islam yang kaku sama sekali tak ia temui saat ia melaksanakan proses menggali ilmu.


Hingga akhirnya Rudi mengajak semua segera pulang karena merasa niat baik ini sebaiknya disegerakan dan tak boleh ditunda lagi.


Rudi sendiri yang memimpin pemeriksaan Dedi dan jika terbukti Dedi belum di khitan, ia sendiri yang akan mengkhitannya.


Rudi memang belajar dan menguasai berbagai disiplin dalam ilmu kedokteran. Ia mempelajarinya sebagai wujud pelarian dari patah hati setelah berikrar merelakan Santi.


Rudi dan Dedi berjalan beriringan keluar dari ruang pemeriksaan.


Dika yang tak sabar menantikan proses ini segera menyambut ayah tiri dan sahabatnya itu.


"Gimana?" tanyanya tak sabar.


"Alhamdulillah, Dedi sedari awal sudah dikhitan, jadi langkah selanjutnya adalah ikrar."


Dika memeluk erat sahabatnya. Ia hanya menepuk pundaknya sesekali dan kembali mengeratkan pelukannya. Tak ada kata tak ada tawa, yang ada hanya bahagia.


"Sekarang biarkan Dedi membersihkan diri, saya akan mengabari jama'ah majelis dzikir agar bisa berkumpul magrib nanti. Tak apa kan kalau ikrarnya di masjid rumah sakit ini?"


Dedi hanya mengangguk.


"Terimakasih Om."

__ADS_1


Dan setelahnya, Dedi segera menuju ruangan Rudi untuk membersihkan diri dengan diantar oleh seorang staf rumah sakit.


"Restu, bisa saya bicara."


Di sana memang hanya tersisa mereka berdua. Mereka memang meminta Santi agar membawa Rina dan Rista untuk pulang dulu dan datang lagi setelah Rudi mengabari.


"Bisa."


"Apa kamu bahagia dengan keputusan Dedi?"


"Tentu."


Dika menghela nafas. "Sebenarnya saya sudah lama menyadari ketertarikan Dedi terhadap islam, hanya saja saya tak berani bertanya banyak."


"Kenapa?"


"Karena saya takut Dedi menanyakan hal yang saya sendiri tak tahu."


Meskipun berat, Dika harus dengan lapang mengakui bahwa dirinya bukan seorang muslim yang taat dan bahkan tak banyak tahu tentang agamanya.


Saat kecil, Hendro sangat sibuk bekerja dan Santi juga kurang memperhatikan soal agama, dan sering meninggalkan mereka bersama suster penjaga.


Tanpa Dika tahu, bahwa sebenarnya rumah tangga orang tuanya terguncang sejak lama.


"Dan baru hari ini saya sadar, bahkan Dedi yang belum mengikrarkan 2 kalimat syahadat saja jauh lebih banyak tahu tentang islam dari pada saya."


"Tidak ada kata terlambat."


"Maksud Ayah?"


"Mari kita sama-sama belajar, selagi masih ada usia, sebagai persiapan jika waktunya telah tiba."


Cemas mandadak mendera Dika.


"Papa..." ucapannya menggantung. Ia mencemaskan papanya yang telah tiada.


Rudi meletakkan sebelah tangannya di pundak Dika seakan tahu apa yang durisaukan anak tirinya.


"Doakan dia, karena hanya doa anak soleh yang bisa menyelamatkan setiap nyawa yang telah terpisah dengan raga."


"Saya tidak bilang Hendro meninggal dalam keadaan su'ul khotimah. Hendro orang baik tapi dunia sudah menyita sebagian besar waktunya untuk bekerja."


Dika terdiam. Berat memang untuk Rudi mengatakannya, tapi sepertinya Dika sudah mengerti maksudnya. Terbukti kepalanya bergerak mengangguk meskipun samar.


"Baiklah, sebenarnya saya tadi mau minta tolong."


"Apa yang bisa saya lakukan?"


"Tolong persiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan agar keyakinan baru Dedi tak hanya sah dimalam Islam tapi juga diakui negara."


"Harus sekarang."


"Kalau bisa sekarang, karena besok kalian harus kembali mengejar dunia." Kata Rudi dengan senyum lebarnya.


"Ayah sedang mengejek kami?"


"Tentu tidak anak muda."


Dika akhirnya segera pamit dan undur diri. Dia harus segera mengurus apa yang Rudi minta dan menjemput Rina beserta adik dan mamanya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2