
Hai, Hai.
Jangan lupa komen yang banyak pokoknya.
Kritik boleh, apa pun boleh.
HAPPY READING
“Dian?!” ujar Andre berlagak kaget, padahal ia sudah tahu siapa yang bertamu dari layar yang terhubung dengan kamera CCTV di depan pintu. Untuk itu ia tadi sebenarnya buru-buru keluar untuk mencegah Hana membuka pintu, namun sayangnya terlambat. Kini ia berjalan cepat melewati Hana dan segera membawa Dian masuk.
Ada sesak di dada Hana saat melihat perlakuan Andre untuk Dian. Ia merasa tak terima, namun ia bisa apa, karena tak ada status yang membuatnya diijinkan untuk merasa tak suka.
Lebih baik aku keluar. Batin Hana.
“Hana, tolong ambilkan Dian minum.”
Baru saja Hana ingin melangkahkan kakinya melewati pintu, tiba-tiba Andre memanggilnya. Mau tak mau Hana kembali masuk dan melakukan apa yang Andre minta.
“Kamu dari mana?” tanya Andre pada Dian.
“Aku tadi ke kantor kamu, tapi kamu nggak ada,” jawab Dian.
Hana muncul dengan nampan berisi air putih. Setelah meletakkan di atas meja, ia bangkit hendak pergi.
“Kamu mau ke mana? Di sini aja sama kita,” ujar Dian.
“Aku…”
“Kamu duduk sini,” potong Andre cepat.
Hana celingak-celinguk untuk mencari kursi kecil yang biasanya ada di sana. Setelah ketemu, ia menarik kursi itu untuk di duduki.
Ketiganya masih bertahan dalam diam, sebelum ponsel Andre berbunyi lagi.
“Kalian ngobrol aja dulu, aku mau angkat telfon.”
Andre beranjak meninggalkan Hana dan Dian di ruang tamunya.
“Hana sini…” Dian mengajak Hana untuk duduk di sebelahnya.
“Udah sini aja,” tolak Hana.
“Ayo sini…” Dian tak nyaman duduk di depan Hana. Ia tak ingin wajah kecewanya terlihat dengan jelas. Namun jika bersebelahan seperti ini, maka wajah tak enaknya akan sedikit tersamarkan.
“Di, kamu kok cantik banget sih?”
__ADS_1
Dian speechless mendengar pertanyaan random Hana. Jangankan Dian, Hana saja bingung kenapa dia bisa bertanya demikian.
“Aa…, kamu suka aneh deh. Kamu nggak lihat nih make up yang aku templokin setebel apa.”
Kedua wanita ini saling menatap, kemudian mereka tertawa berbarengan. Mereka menertawakan obrolan absurd yang entah untuk apa maksudnya.
“Tapi kamu memang cantik, aku yakin. Karena mau setebel dan sebagus apa pun make up nya, tak akan terlihat bagus kalau dasarnya nggak cantik.”
Dian tertawa mendengar pujian Hana. “Justru sekarang aku yang kagum sama kamu. Kamu bahkan percaya diri tampil di depan pacar kamu tanpa make up. Lihat lah, dengan bareface saja kamu begitu cantik, apa lagi kalau kamu memolesnya."
“Aku nggak bisa make up,” bohong Hana. Yang sebenarnya, ia sangat pandai mengaplikasikan berbagai jenis make up di wajahnya, hingga membuatnya nampak seperti orang lain jika tangan terampilnya sudah bekerja.
“Kayaknya kelamaan kerja bareng, tipe cewek ideal Andre jadi mirip sama bosnya.”
“Maksud kamu?” tanya Hana tak paham.
“Kamu sudah pernah ketemu sama bosnya Andre belum?”
“Ennggg…” Hana bingung harus menjawab apa. Bukan hanya pernah bertemu, tapi ia pernah bekerja di kantornya juga.
“Sudah lah. Palingan Andre emang niat ngumpetin kamu,” kata DIan tiba-tiba.
Iya, biar nggak ada yang tahu kalau dia udah tinggal sama musuh perusahaannya, lanjut Hana dalam hati.
Hana mengangguk paham. Oh, pantes Andre akrab banget sama Rina, ternyata mereka teman sekolah. Batin Hana.
“Nah Rina itu kalau suruh dandan malesnyaaaaa, nggak ketulungan. Ya untung dia cantik, tinggal pakai bedak dikit sama lipstick udah. Lha ini si Andre sekalinya bawa wanita, ternyata pedenya luar biasa tampil sepolos ini.”
Hanya Hana meringis mendengan penuturan Dian tenatng dirinya. Sebenarnya ia juga ingin dandan, hanya saja waktu itu Andre hanya menyuruhnya membeli skincare tanpa satu pun alat make up yang biasa dipakainya. Sebagai tawanan dia kan nggak mungkin banyak tingkah. Ia pun harus rela tampil dengan mata sipit, alis yang samar hidung yang tak cukup sedap dipandang dan bibir yang terlihat pucat.
Tiba-tiba Andre datang dan duduk di satu kursi yang masih tersisa.
“Udah akrab aja kalian. Lagi ngobrolin apa?”
Andre langsung ceria saat ada Dian. Mungin rasa cinta yang dimaksud itu adalah rasa cita untuk tubuhku, bukan diriku. Batin Hana
Hana berusaha menarik kedua sudut bibirnya. Ia berusaha menampilkan senyum terbaiknya di hadapan Andre dan Dian.
“Ini tadi kita lagi bahas printilan cewek. Aku kagum sama Hana yang pede kamu bawa ke sini tanpa make up,” ujar Dian dengan senyum yang sama lebar dengan Hana.
Andre menutup bibirnya yang nyaris tertawa. Untung tadi Hana sudah sempat mandi, coba Dian kesini agak pagi, ia pasti akan menemukan Andre dan Hana yang kondisinya lebih mengenaskan.
Diam-diam Andre membandingkan dua wanita di hadapannya. Yang satu menawan dengan berwajah segar lengkap dengan riasan yang menyempurnakan penampilannya, yang satu lagi wajahnya terlihat lelah dan tanpa sentuhan make up sedikitpun yang justru membuatnya kian ****.
Apakah wajah asli Hana memang seperti ini, atau dia hanya terlalu lelah karena kegilaanku?
__ADS_1
Andre menyemburkan tawa dalam hati. Tanganna masih stand by di depan mulut karena bibirnya melengkung tanpa bisa dicegah.
“Iya Ndre iya, aku tahu Hana cantik, sebegitunya terpesona samapi lupa kalau di sini ada orang juga,” ujar Dian menggoda.
Andre hanya mengangkat alis dan mulai mengambil gilingan tembakau yang berada tak jauh darinya. Belum juga dinyalakan, tiba-tiba Dian merebutnya.
“Jangan ngerokok ih, aku nggak suka.”
Andre mengurungkan niatnya dan kembali menyimpan rokoknya.
Hana membulatkan mata tak percaya. Hanya dengan seperti itu Andre sudah menurut? Coba kalau itu tadi aku yang bilang, pasti ia tak akan pernah peduli. Ujar Hana dalam hati.
“Kok disimpan, buang aja. Kalau disimpan nanti kamu bakal ngerokok lagi.”
Tanpa ragu Dian mengambil bungkus rokok berbentuk kotak itu dan membuangnya ke tempat sampah. Setelah itu ia kembali duduk di dekat Hana.
Andre masih tak bereaksi sama sekali melihat Dian yang seperti ini.
Coba kalau aku yang gitu, pasti sudah dilempar dari jendela. Batin Hana tak terima.
“Kamu tadi ngapain ke sini?” Andre mengulang lagi pertanyaan ini. Entah mengapa ia merasa tak nyaman dengan kemunculan Dian saat ini.
“Aku tadi sebenarnya mau nyamperin Rina, terus kata staf kamu dia sakit dan sudah diantar pulang sama Dika. Pas aku nanyain kamu, ternyata hari ini kamu nggak masuk kerja, jadi aku ke sini buat mastiin kalau kamu nggak lagi sakit juga.”
“Tunggu, kamu bilang Rina sakit?” tanya Andre cepat
Dian mengangguk.
“E mau ke mana?” tanya Dian saat Andre tiba-tiba bangkit lagi.
Andre tak menjawab Dian karena saat ini ia sudah menempelkan ponsel di telinga. Di saat yang sama terdengar bel berbunyi.
“Bentar ya,” pamit Hana pada Dian. Ia berdiri untuk membuka pintu.
“Udah dibayar belum Pak?” tanya Hana pada kurir pengantar makanan yang datang mengantarkan pesanan Andre.
“Belum Non,” jawab laki-laki berperawakan sedang itu.
“Tunggu sebentar ya Pak.”
Hana melebarkan pintunya dan berlari ke dalam. Ia segera masuk ke kamar Andre tanpa mengetuk pintu dan keluar tak lama kemudian dengan membawa uang di tangan. Ia sejenak lupa jika ada Dian di sana karena ia tak ingin kurir itu menunggu terlalu lama. Ia tak punya apa-apa jadi harus minta uang kepada Andre untuk membayar makanan tadi.
Tanpa Hana sadari, Dian terpaku dengan seribu tanya. Sudah sejauh mana hubungan Andre dengan wanita ini?
Bersambung…
__ADS_1