
Good pagi selama morning.
Senja datang.
HAPPY READING
“Mampir bentar yuk,” ajak Dian begitu Andre menghentikan mobil di depan rumahnya.
“Nggak usah Di, kita langsung aja,” jawab Hana karena Andre terlihat kesal dan enggan bersuara.
“Langsung kemana?” goda Dian.
“Ya mulangin Hana lah,” sahut Andre dari depan.
Dari belakang, Hana hanya bisa gigit jari mendengar ucapan Andre.
“Ck… Hana mampir yuk, atau sekalian nginep sini. Aku curiga Andre malam ini nggak bakal biarin kamu pulang.”
“Emm. Makasih. Lain kali aja ya?” tolak Hana halus.
“Ya ampun, kamu kalem banget sih.”
“Ehm.” Tawa Dian langsung pudar saat Andre berdehem dengan keras.
“Iye, iye, gua turun.”
Dian sempat menyenggol bahu Hana sebelum ia keluar dari mobil Andre. “Tuh jinakin cowok kamu. Noh matanya udah mau copot.”
“Hana pindah depan,” ketus Andre dari balik kursi kemudi.
Hana dan Dian keluar dari dua pintu yang berbeda.
“Beneran nggak mampir?” tanya Dian lagi.
“Makasih Di…”
“Hanaaaa.”
Mendengar suara Andre, kedua wanita sempat saling memandang sebelum keduanya tertawa. Hana segera membuka pintu dan masuk ke dalam mobil, sementara Dian segera berjalan masuk ke rumahnya. Ia sempat menoleh sesaat sebelum mobil Andre menghilang di tikungan.
Andre, semoga kamu bahagia. Aku tak akan menganggu kalian. Mungkin ini saatnya aku merasakan berada di posisimu. Menunggumu dan merengkuhmu saat kamu jatuh nanti.
***
“Kenapa Diam?” tanya Andre begitu Andre selesai memarkirkan mobilnya.
“Aku boleh bicara ya?”
Andre mengangkat tangannya, melewati telinga Hana dan menelusupkan jemarinya di sela rambut panjang wanitanya.
“Apa aku boleh menganggap ucapan mu tadi sungguh-sungguh?” tanya Hana lagi.
__ADS_1
Tangan Andre perlahan turun menyusuri rahang dan berhenti lagi di dagu lancip Hana.
Hana sama sekali tak berkata. Ia hanya menatap Andre dengan pandangan penuh tanya.
Andre menghela nafas dan menurunkan tangannya. Ia melepas sabuk pengamannya sebelum lanjut melepas sabuk pengaman Hana juga.
“Ayo masuk…”
Andre dan Hana keluar dari pintu yang berbeda. Andre berjalan menghampiri Hana yang diam di tempatnya kemudian berjalan beriringan masuk ke dalam. Mereka bertahan dalam diam, hingga keduanya tiba di depan pintu apartemen.
“Aku angkat telefon sebentar,” pamit Andre saat terdengar dering dari ponselnya.
Andre menyerahkan kartu akses ke pada Hana sementara ia mengambil jarak beberapa langkah untuk menerima telefon dari seseorang. Hana menerima kartu itu dan menggunakannya untuk masuk ke dalam.
Di ruang tamu, ia langsung disambut dengan banyak paperbag yang saat mereka pergi tadi belum ada di sana. Ia penasaran juga dengan apa isinya, namun karena merasa tak punya hak untuk mencari tahu, akhirnya ia melewatinya begitu saja dan langsung masuk ke kamar Andre. Di dalam ia segera ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya dari make up yang dikenakannya tadi.
Selepas membersihkan diri, Hana merasa bingung harus berbuat apa. Ia ingin tidur, tapi matanya sama sekali belum mengantuk. Ingin menonton televisi, tapi ia takut jika Andre masuk dan kembali menjadi dia yang asli. Malam ini begitu manis, ia benar-benar tak ingin segera bangun jika ini ternyata mimpi.
Hana berjalan pelan melewati ranjang yang menjadi saksi hari-hari panasnya dengan Andre. Ia menarik pintu yang menghubungkan kamar ini dengan balkon. Hana memeluk tubuhnya saat dinginnya udara malam menerpa tubuhnya. Ia berjalan menuju pagar dan berpegangan di sana. Ia menikmati indahnya langit malam dengan pikiran berkelana.
“Mama, aku tahu kamu sudah tak ada lagi di dunia ini, tapi kenapa aku merasa begitu rindu?”
“Siapa yang kamu rindukan?”
Andre tiba-tiba muncul dari belakang, dan tanpa permisi langsung memeluk Hana begitu saja. Ia merendahkan tubuhnya dan menyandarkan bahunya di pundak Hana.
Hana menoleh menatap wajah Andre yang tepat berada di sampingnya sejenak, sebelum kembali melempar pandangan jauh ke depan.
“Apa kamu tak ingin mencoba mencari tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya saat itu?”
Hana memutar tubuhnya seketika membuat Andre harus menegakkan tubuhnya karena kehilangan tempat menyandarkan kepalanya.
“Apa kamu tahu caranya?” tanya Hana penasaran.
Andre mengangguk.
“Beritahu aku.”
Andre melepaskan tubuh Hana. “Ikut aku.”
Hana mengekori Andre yang berjalan memasuki kamarnya. Andre berhenti di depan meja kerja yang jarang disentuhnya dan mulai menyalakan laptop yang ada di sana. Dia mengklik
sana-sini sebelum menunjukkan deretan tulisan kepada Hana.
“Ini apa?” tanya Hana sambil menaril laptop Andre ke hadapannya.
“Kamu baca.”
Andre bangkit dan mempersilahkan Hana untuk duduk di tempatnya. Sementara ia berjalan menuju pintu dan menutupnya.
Wajah cantik Hana menegang kala membaca deretan tulisan berukuran kecil itu. Ia juga nampak menutup mulutnya dan menggeleng kecil sesekali dengan mata tetap fokus pada layar di sana.
__ADS_1
“Kamu dapat ini dari mana?” tanya Hana setelah selesai membaca semua isinya.
“Sengaja nyelidikin?”
“Buat?”
“Buat tahu siapa kamu.”
Hana membeku sesaat. “Apa lagi rencanamu untuk menghukumku?”
Andre mengajak Hana untuk berdiri dan berjalan keluar dari kamarnya. Andre masih diam saat keduanya sudah sama-sama duduk di kursi ruang tamu hunian mereka.
“Hana, aku mencintaimu…”
Spontan Hana menoleh dan langsung disambut mata tajam Andre yang terlah berhasil melumpuhkannya ini. Namun tak seberapa lama sebelum akhirnya ia memutus kontak dengan memalingkan lagi wajahnya.
Hana, kamu harus kuat. Meskipun dalam hati kamu sudah menyerah, tapi di depan Andre kamu tak boleh terlalu sering terlihat lemah.
Andre memaksa wajah Hana untuk kembali menatap ke arahnya.
“Hana, apa kamu tak percaya padaku?” tanya Andre sungguh-sungguh.
Mata yang semula jernih itu perlahan berkaca-kaca. "Sekarang bayangkan saja seandainya kamu ada di posisiku, apa mungkin kamu akan percaya jika berada di posisi seperti ini?” tanya Hana dengan mata memerah menahan air yang siap meluncur kapan saja.
“Hana, look at me. Look at my eyes deeply, and you'll see my honesty.”
Di mana aku bisa menemukan kejujuran. Semua masih abu-abu, dan aku tidak dapat menemukan kejujuran di mata seperti yang biasa aku baca di novel romance. Kepala Hana sempat menggeleng sebelum ia mengalihkan pandangannya.
“Aku tak tahu apakah kejujuran itu masih ada atau tidak di muka bumi ini.” Hana menjatuhkan kepalanya. Ia menunduk untuk menumpahkan air mata yang tak mampu ditahannya.
Andre menangkup wajah Hana dan mengangkatnya lagi. Hana menurut saja karena dengan Andre ia tak mungkin bisa menang saat ingin melawan. Meskipun enggan, ia tetap harus beradu pandang dengan Andre dengan jarak yang sangat dekat seperti ini.
“Hana, aku tidak bohong tentang hal yang aku katakan tentangmu di depan Dian tadi. Apa kamu sama sekali tak melihat kesngguhanku?”
Hana bingung, haruskah ia jujur atau lebih baik ia berlagak keras hati saja. Jujur, ia masih takut jika ini hanya permainan Andre saja.
“Hana, apa aku perlu membuatmu hamil dan menunjukkan padamu bagaimana aku menginginkan kehidupan yang lahir dari rahim kamu?”
Tubuh Hana menegang.
“Andre, berapa persen aku bisa percaya padamu?” tanya Hana dengan bibir bergetar menahan tangisnya.
“Percayalah Hana. Jika kamu masih belum bisa mempercayaiku, setidaknya percayalah jika aku benar-benar mencintaimu.”
Hana langsung menghambur ke pelukan Andre, Andre pun langsung membalas dengan sama eratnya.
“Kita memang terjebak dalam situasi yang tak mudah. Aku yakin hubungan yang akan kita jalani juga pasti akan susah, tapi setidaknya mari kita saling percaya jika cinta ini memang ada."
"Aku mencintaimu Hana.”
Bersambung…
__ADS_1