
HAPPY READING
Hampir dua bulan sudah acara petunangan terlewatkan. Andre sudah terbiasa berteman dengan sepi tanpa Hana. Ia sibuk kembali menjadi tangan kanan Dika, dan Hana yang kini memastikan diri sebagai peneruh Rahardja.
Andre sudah berhasil mengkonfirmasi dengan Rio yang seperti dugaannya bahwa ialah yang menyabotase ponsel Hana. Mengingat bagaimana terbatasnya pergerakan Hana dan orang yang bisa mendekat dengannya, sangat masuk akal jika pelaku berasal dari orang terdekat. Andre tak protes dengan sikap Rio setelah tahu alasannya. Menjaga jarak sementara waktu sebelum tiba di hari H pernikahan menjadi hal yang masuk akal terjadi antara ia dan Hana sekarang.
Dddrrrrttt ddrrrrttt dddrrrrrtt
Tiba-tiba Andre dikejutkan dengan ponsel pribadinya yang bergetar. Ternyata di sana ada pesan dari Dian yang jujur saja sudah cukup lama tak ia dapatkan.
“Tumben-tumbenan Dian Wa. Tapi isinya kok link live straming...” gumam Andre yang masih menunggu koneksi untuk menyambung ke alamat yang Dian kirimkan.
Degh!
Seketika Andre membelalakkan mata melihat siapa yang ada di dalam bingkai layar. Tangannya mengepal, dadanya seperti terhantam dengan kuat.
“Apa ini maksudnya,” geram Andre dengan suara tertahan.
Buru-buru ia mencari kontak calon istrinya untuk memastikan apa yang terjadi sebenarnya.
Tut… tut… tut… tututututut…
Hampir saja Andre membanting ponselnya, saat Hana tak menjawab panggilannya.
Tanpa mau lebih lama berdiam diri di sana, Andre segera keluar meninggalkan ruangannya dengan tergesa. Ia bahkan membiarkan jasnya tak terkancing karena saking buru-burunya.
Cklek!
Melihat ruang Andre pintunya dibuka dengan kasar, ketiga staf Andre hanya mampu memandang tanpa sepatah pun berkata. Beberapa saat selepas Andre pergi, barulah mereka sadar bahwa tidak ada jadwal mendesak hari ini yang harus Andre kejar seperti tadi.
“Kamu tahu sesuatu?” todong Rahma pada Elis yang nampak tak seterkejut ia.
Elis membeku sesaat sebelum ia menggelengkan kepala.
Rahma meletakkan berkasnya untuk dapat lebih dekat menatap rekannya. “Apa kamu sedang berusaha merahasiakan sesuatu?” desak Rahma lagi.
Elis menghela nafas. Jujur ia senang dengan kemungkinan Andre dan Hana bubar, namun melihat bagaimana selama ini Andre menolaknya, ia sudah enggan untuk nekat berusaha. Ia lantas menunjukkan berita yang beredar di media yang tak sengaja beberapa saat sebelumnya ia temukan. Berita tentang perjodohan calon penerus Rahardja dengan seorang eksekutif muda tapi bukan Andre yang disampaikan oleh Rio secara live.
“Astaga!” pekik Rahma dengan mata membulat sempurna dan mulut dibungkam seketika.
Riza yang semula berniat mengacuhkan kedua rekannya kini mulai terusik oleh rasa penasarannya.
“Ada apa sih?” tanya Riza begitu ia menghampiri Rahma dan Elis. Dengan tak sabar ia pun merebut ponsel Elis yang sekarang Rahma pegang.
“Haaaa… perang nggak tuh,” ujar Riza spontan
Diluar dugaan. Ternyata Riza juga menunjukkan reaksi yang sama. Rahma dan Elis pun kompak menunjukkan tatapan tak menyangka mereka.
***
Andre yang sudah mendidih kepalanya kini justru kembali mendapat kejutan kala melihat Hana yang pingsan sebelum selesai pers konferens. Pikirannya yang kalut membuat ia membelah kerumunan dan mengambil paksa Hana yang tak sadarkan diri dari pengkuan kakak tirinya. Setelah dapat, ia bangkit dan segera pergi.
Rio tak sempat mencegah. Ia bahkan mengikuti Andre yang kini berjalan dengan menggendong Hana yang pingsan.
__ADS_1
Niat awal Rio yang ingin Andre pergi dari adik tirinya, kini tak bisa mencegah kala pria yang sebenarnya berstatus calon suami Hana ini membawa Hana yang pingsan ke rumah sakit.
Lantas apa alasan Rio?
Entahlah. Andre mengesampingkan sejenak masalah yang satu ini, yang jelas kondisi Hana lebih penting sekarang.
Di rumah sakit, Andre dan Rio sama sekali tak saling sapa. Keduanya sama-sama khawatir dengan kondisi Hana yang masih diperiksa. Hingga akhirnya pintu yang sejak tadi tertutup rapat itu akhirnya terbuka.
“Bagaimana kondisi Hana?” tanya Andre dan Rio berbarengan.
Keduanya sempat sekilas saling pandang sebelum kembali menatap perawat yang berdiri di hadapan mereka.
“Untuk keluarganya bisa ikut saya, ada hal yang harus dokter sampaikan…” ujar perawat tersebut.
Tanpa ba-bi-bu Andre langsung melangkah melewati Rio.
“Kamu mau kemana?” cegah Rio sambil menahan bahu Andre.
“Aku mau mau tahu kondisi Hana,” ujar Andre dengan lugasnya.
“Yang boleh masuk hanya keluarga, dan kamu…” ujar Rio remeh.
Andre menghempaskan tangan Rio dari pundaknya. “Aku, calon suaminya,” ujar Andre dengan penekanan kuat di setiap katanya.
“Masih calon, jadi aku yang lebih berhak masuk ke dalam.”
Jelas Rio tak mau mengalah. Dan adegan adu tatap pun tak bisa terelakkan.
“Tapi kamu…”
“Maaf Tuan-tuan,” sela perawat yang berdiri diantara mereka. “Dokter masih harus memeriksa pasien lain,” lanjutnya menjelaskan.
Karena tak ada satupun dari keduanya yang mau mengalah, akhirnya perawat mengijinkan mereka masuk bersama.
Hana yang masih setengah sadar tersenyum melihat Andre. Ia mengacuhkan sang kakak yang karena kelakuannya membuat Hana shock bahkan hingga pingsan dan kondisinya seperti sekarang.
“Sayang, are you okay…,” tanya Andre dengan suara lembut. Sejenak ia lupa akan hal yang membuatnya emosi tadi, karena akhirnya ia menemukan penawar rindu yang menyiksanya.
Rio hanya bisa bersedekap dada melihat bagaimana binar bahagia yang dipancarkan adiknya saat bertemu dengan pria brengsek yang menjelma menjadi calon suaminya.
“I miss you…” lirih Hana dengan suara yang begitu lemah.
Andre menyambut dengan senyum bahagia, mendengar bahwa Hana juga merasakan yang sama. Perasaan ini mengalahkan murka dan gelisah yang mendera sebelumnya.
Sejenak sejoli ini saling tatap tanpa suara. Mereka masih mau memuaskan dahaga kerinduan mereka. Dengan lembut Andre mengusap bulir bening yang keluar dari sudut mata. Dari sini dia yakin bahwa Hana pun tak menghendaki yang terjadi padanya saat ini.
Berkali-kali Andre mencium sebelah tangan Hana yang tak terpasang infus mengacuhkan Rio yang nampak begitu tak rela.
“Keluarga Nona Hana bisa ikut dengan saya…”
Andre sempat menegakkan tubuh, namun melihat Rio berjalan untuk menemui dokter, Andre kembali merendahkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Hana.
“Aku cuma mau kamu.”
__ADS_1
Kembali Hana berucap lirih dengan air mata yang meluncur kembali.
“Sssttt.”
Andre meletakkan telunjuknya di depan bibir Hana, saat kekasihnya ini mau kembali bicara. Sejujurnya ia bahagia mendengar kalimat ini meluncur dari sana, namun ia tak tega melihat bagaimana Hana yang terlihat begitu lemah tanpa daya.
“I know how fou feel Baby. That’s why I’ll be here for you.”
Dengan bibir bergetar, Hana membiarkan air matanya meluncur deras. Meski Andre terus menyeka, namun air mata itu sepertinya tak mau tetap nyata kehadirannya.
“Aku nyusul Rio ya, biar tahu keadaan kamu…,” pamit Andre setelah sebelumnya ia mencium kening Hana.
Namun Hana justru menggeleng dan menahan tangan Andre. “Aku takut tidak bisa bertemu kamu lagi,” ujar Hana dengan susah payah meski tangisnya sudah mereda.
“Tapi Rio lama sekali. Aku benar-benar khawatir sama kamu.”
Meski Andre sudah membujuk, tapi Hana juga lebih gigih menahan. Akhirnya Andre menyerah dan memilih bertahan.
Keduanya belum tertarik untuk membuka obrolan. Saling memandang nampaknya menjadi metode transfer energy agar daya mereka penuh kembali.
Saat siluet Rio muncul dari balik pintu, Andre segera bangkit dan dari posisinya semula.
“Bagaimana kondisi Hana?” tanya Andre segera begitu Rio berhenti tak seberapa jauh dari dia.
Rio nampak menghela nafas. Sepertinya ada yang ia tahan tapi Andre tak tahu itu apa. Akhirnya Andre berinisiatif untuk mendekat setelah sebelumnya meminta Hana sejenak melepaskannya.
“Apa ada yang serius?” tanya Andre lagi.
Air muka Rio berubah seketika. Yang semula terlihat bimbang kini mendadak memerah dan berapi-api. Jelas Andre kian dibuat tak mengerti dengan situasi ini.
Apakah Andre gentar?
Tentu tidak. Ia malah kian mendekat karena begitu ingin tahu kondisi Hana.
Bugh!
“Aaaaa!!!!” Hana memekik kencang.
Andre seketika tersungkur karena bogem mentah yang Rio berikan tanpa aba-aba padanya. Sementara Hana yang ingin sekali membantu Andre masih kesulitan untuk sekedar menegakkan tubuhnya.
“B*ngsat kamu\, br*ngsek!”
Rio terus menghujani Andre dengan pukulan dan hantaman meski Hana histeris dan memohon agar Rio berhenti. Sederas umpatan yang ia berikan, begitu juga dengan serangan dari tangan dan kakinya.
Hingga akhirnya ada beberapa perawat yang datang karena mendengar keributan. Tentu tak bijak jika rumah sakit menjadi arena perkelahian seperti ini. Bahkan security pun di datangkan barulah Rio bisa dihentikan.
Apa Andre tak mampu melawan Rio?
Tentu tidak. Ia sangat mampu jika hanya melumpuhkan papa muda anak tiga ini, tapi ia masih sibuk menerjemahkan situasi yang tengah dihadapinya ini. Ia yakin ada sesuatu yang tak beres, tapi otak cerdasnya belum mampu menemukan jawaban. Sehingga ia memilih untuk diam dan membiarkan Rio menumpahkan kesalnya. Toh ini tak seberapa baginya.
Setelah Rio berhasil ditenangkan barulah Andre tahu ada hal besar yang menjadi anugerah untuknya namun bencana besar untuk keluarga Raharja dan mungkin keluarganya juga. Tapi tak apa. Bukankah setiap cahaya terang datang dengan gelap di sisi yang berlawanan? Dan mereka selalu datang bersama tanpa dapat dipisahkan.
Bersambung…
__ADS_1