
HAPPY READING
“Pak. Puter balik ya…” pinta Dika tiba-tiba.
“Baik Tuan…” meski sedikit terkejut, namun permintaan Dika tetap diiyakan.
“Loh kenapa?” tanya Rina yang juga terkejut dengan instruksi tiba-tiba suaminya.
“Rista sudah tiba di rumah sakit sekarang,” jawab Dika sembari menyimpan lagi ponselnya.
“Kok bisa?” tanya Rina setelah tegak tubuhnya.
Dika menggeleng tidak tahu. “Kita tanya setelah tiba di rumah sakit ya…”
Rina mengangguk. Kemudian ia perlahan memejamkan
mata setelah sebelumnya menyandar lagi kepalanya di bahu Dika.
“Kamu ngantuk ya?” tanya Dika sambil mengusap lembut surai pendek istrinya.
“Hm em…” ujar Rina dengan mata terpejam.
“Ya udah tidur gih…”
Dika sedikit bergerak agar tubuh Rina lebih nyaman bersandar di tubuhnya. Dan tak perlu menunggu lama, Rina sudah benar-benar memejamkan mata.
“Pak, berhenti sebentar kalau lewat minimarket ya,” ujar Dika pada sopirnya.
“Baik Tuan.”
Ternyata Dika meminta sopirnya untuk membelikan beberapa makanan dan minuman rasa buah kesukaan Rina. Sejak hamil Rina punya kebiasaan baru yaitu lapar saat bangun tidur. Untuk itu Dika ingin mempersiapkan sesuatu untuk istrinya makan sebelum Rina mengeluh lapar.
Dan mobil pun kembali berjalan dengan Rina yang masih terlelap dalam pelukan Dika. Sesekali ia juga meraba perut Rina yang mulai membuncit karena tengah mengandung anaknya. Usia kandungan Rina belum genap enam bulan, tapi sudak terlihat besar terlebih dari posisi seperti ini. Selain karena berat badan Rina yang bertambah secara signifikan, hal ini juga karena tinggi badan Rina yang mungkin sedikit rendah dari pada umumnya.
Namun Dika tak pernah mempermasalahkan perubahan penampilan istrinya. Dengan tubuh berisi dan perut membuncit seperti ini, Rina tetap terlihat cantik dan mempesona bagi Dika. Ia juga tak pernah mengeluh saat Rina gampang mengeluh dan banyak mau, karena hal ini juga semata karena ada benihnya yang tersemai di rahim Rina.
Dika meraih tissue dan mengusap cairan yang keluar dari sudut bibir Rina. Dia memang bukan putri yang cantik paripurna setiap saat, karena Rina adalah manusia biasa yang hidup di dunia nyata. Jika terkadang iler juga tak usil keluar, maka mulut menganga juga kerap menjadi pose Rina dalam tidurnya. Namun satu hal yang disyukuri Dika yaitu istrinya ini tak pernah tidur dengan mendengkur. Jadi ia yang pada dasarnya mengidealkan ketenangan saat malam bisa tetap tidur dengan nyenyak.
Hingga mereka tiba di rumah sakit, ternyata Rina belum bangun juga. Namun Dika tak mungkin membiarkan Rina tidur saja. Jalan satu-satunya yang bisa ia tempuh saat ini adalah dengan membangunkannya.
“Sayang, sayang…” panggil Dika dengan mengguncang tubuh istrinya pelan.
“Enngghhh…” Rina melenguh dan kian menyembunyikan wajahnya di ketiak suaminya.
Dika tertawa kecil melihat tingkah istrinya. Setelah melenguh bukannya segera membuka mata, Rina justru menyamankan posisinya dan lanjut memejamkan mata.
__ADS_1
“Sayang…” Dika kembali mengguncang dengan lembut tubuh istrinya.
“Bangunin aku kalau sudah sampai saja ya…” ujar Rina dengan suara malas dan serak khas orang yang baru kembali kesadarannya.
“Ini sudah sampai. Mobil kita sekarang sedang berhenti di depan lobi rumah sakit.”
Mata merem Rina terbuka seketika. Tak hanya itu, ia juga seketika punya kekuatan untuk menegakkan tubuhnya yang semula ambruk dalam dekapan Dika.
“Kok aku nggak kamu bangunin sih…” protes Rina sambil mengusap sudut bibir dan matanya secara bergantian. Ia kemudian mengambil tasnya untuk menemukan kaca di dalamnya.
“Udah cantik sayang,” kata Dika yang paham akan hal yang Rina khawatirkan.
“Iler sama belek pasti ada…” ujar Rina sambil memperhatikan baik-baik penampilannya.
“Udah aku bersihin tadi sebelum ninggalin bekas,” tutur Dika.
“Unch unch… manis banget sih.” Rina tersenyum lebar dan segera menimpan kembali cermin bulatnya.
Dika hanya balas dengan menggerakka alisnya.
“Ya udah, masuk yuk…”
Dengan menggandeng tangan suaminya, Rina berjalan beriringan dengan suaminya untuk menjenguk sang mertua. Sepanjang mereka berjalan semua staf dan pegawai menyapa dan menunduk hormat pada pasangan muda anak pemilik rumah sakit ini. Hingga akhirnya mereka tiba di ruangan tempat Rudi di rawat, mereka langsung membuka pintu yang nampak tertutup rapat.
“Assalamu alaikum…” ujar keduanya.
Ternyata di dalam hanya ada Dedi yang sedang berbincang dengan Rudi.
“Lama Ded?” tanya Dika saat menjabat tangan sahabatnya ini.
“Lepas dari kantor tadi aku langsung ke sini,” jawab Dedi yang di susul dengan lepasnya jabatan kedua tangan pria tampan ini.
“Ayah gimana keadaannya?” tanya Dika setelah ia dan Rina mencium tangan Rudi secara bergantian.
“Baik sebenarnya. Hanya saja saya sesekali ingin merasakan fasilitas rumah sakit ini,” canda Rudi saat melihat raut khawatir dari anak tirinya.
“Alasan Ayah terlalu jauh dari gerbang akal Dika…” jawab Dika mencibir tanpa menanggalkan akal sehatnya.
Rudi tersenyum lebar mendengan balasan Dika.
“Dika tadi mau jemput Rista tapi katanya dia sudah lebih dulu ke sini. Apa dia sudah sampai?” tanya Dika sengaja tak membari alamat untuk siapa pertanyaannya.
“Dia sedang keluar sama mama kamu untuk mencari makan siang,” jawab Rudi.
“Oh…” Dika sengaja mencuri pandang ke arah Dedi dengan ekor matanya di akhir kalimatnya.
__ADS_1
“Ya sudah Om, karena sekarang sudah ada Dika dan Rina juga, jadi Dedi mau pamit dulu,” pamit Dedi karena dia memang sudah cukup lama berbincang dengan ayah tiri sahabatnya ini.
“Mau kemana lu? Gua dateng malah cabut,” sarkas Dika saat Dedi tengah mencium tangan Rudi.
“Saya ada jadwal operasi setengah jam lagi,” balas Dedi setelah sebelumnya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Setengah jam? Mana bisa on time. Otw rumah sakit kamu kudu makan satu jam paling enggak.”
“Dedi menggantikan operasi yang harus saya tangani,” timpal Rudi.
Dedi tersenyum menanggapi hal ini. Ia kemudian melanjutkan langkahnya untuk mohon diri. Sementara Dika masih bingung perihal apa yang berhasil merubah pikiran sahabatnya ini. Padahal jelas sekali tadi pagi Dedi benar-benar menolak permintaannya untuk hal ini.
“Itu tadi gimana caranya Yah?” tanya Dika selepas kepergian sahabatnya.
“Caranya apa?” tanya Rudi sembari membenahi posisinya.
“Ya itu bocah. Gimana ceritanya dia bisa mau gantiin Ayah, padahal tadi pagi Dedi kekeh menolak sampai akhirnya bertengkar dengan saya,” adu Dika.
“Assalamu alaikuuuummm….”
Belum sempat pertanyaan Dika mendapat jawaban, sudah datang sebuah salam yang langsung memenuhi ruangan. Tak perlu kaget siapa yang datang, karena dia adalah Rista, putri cantik keluarga kaya yang kehilangan cinta remajanya.
“Wa’alaikum salam…” serempak Dika, Rudi, dan Rina.
Dika menatap datar adiknya yang selalu riang ini. Kok pas banget dia muncul pas Dedi baru saja keluar. Apa sebenarnya mereka janjian untuk tak muncul di waktu dan tempat yang sama? Batin Dika menerka apa yang terjadi dengan adik dan sahabatnya.
Rista masuk dengan menenteng kantong di tangannya. Di belakang ada Santi yang tersenyum ramah pada anak dan menantunya yang baru tiba. Ia langsung menghampiri dan memeluk menantu kesayangannya setelelah sembelumnya sempat mencium tangan Rudi, suaminya.
“Gimana kabar kamu, sehat kan?” tanya Santi di tengah pelukannya dengan Rina.
“Alhamdulillah Ma. Tapi Rina jadi kayak bola bekel sekarang.” Rina memutar tubuhnya setelah sang mertua melepas rengkuhannya.
“Kenapa? Gendut gitu to maksudnya?” tanya Santi dengan menatap polah menantunya.
Rina kemudian mengangguk dengan sorot mata sendu.
Dan dalam waktu sekejab, Santi yang semula kalem berubah ganas saat menatap tajam Dika yang nampak bingung dan langsung garuk-garuk kepala.
“Mama kenapa?” tanya calon papa muda ini kepada mamanya.
“Kamu suka ngatain Rina, iya?!” tuduh Santi dengan tatapan siap membunuhnya.
Sudah garuk-garuk kepala, melongo pula mulutnya. Hilang sudah ketampanan paripurna yang dimiliki seorang Restu Andika.
Rina sebenarnya ingin buru-buru menjelaskan bahwa itu semua datang dari pikirannya dan sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan Dika. Suaminya ini bahkan sangat sabar dan pengertian terhadapnya. Tapi setelah melihat reaksi lucu suaminya, ia memilih diam sembari menahan tawa. Sudah terlalu biasa melihat Dika yang tampan, dan melihat wajah lain seperti ini nyatanya menyenangkan.
__ADS_1
Bersambung…