Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Orang Baik


__ADS_3

Selamat hari natal buat yang merayakan.


HAPPY READING


Andre menjalankan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dika memang sudah pulang sehingga ia tak merasa sungkan untuk meninggalkan kantor sekarang. Ia tak sabar ingin segera menyusul Hana, karena wanita mengacuhkan panggilannya sejak tadi.


Andre yang kelimpuangan tak membuat ia kehabisan akal. Ia menghubungi sopir yang ia utus untuk mengantar Hana untuk mengetahui keberaddan wanitanya. Hal yang membuat Andre kian gusar adalah saat tahu yang Hana temui adalah seorang laki-laki.


“Apa yang kamu lakukan Hana?” geram Andre sambil mencengkeram erat setir mobilnya.


Ckkiittt!


“Sial!” Andre mengumpat saat ia harus menginjak remnya dengan kuat. Meski ia tengah buru-buru, namun akal sehatnya memaksa untuk untuk berhenti karena lampu merah yang menghadangnya sat ini.


Brrrmmmmm!!


Andre langsung melesat di detik pertama lampu menyala hijau. Saat ini menjelang jam 5, dan jika memang pertemuan dilakukan sejak jam 3, tentunya mereka sudah berbincang hampir dua jam lamanya. Kalau hanya membahas masalah kontrak yang menurut Andre sangat remeh ini kenapa harus memakan waktu yang sangat lama.


Di depan Planet Caffe, Andre memarkirkan mobinya dengan sembarangan. Ia tak peduli apakah ini akan mengganggu ketertiban atau mengganggu orang, yang jelas ia ingin segera masuk dan membawa Hana pergi dari sana.


“Andre…”


Andre mengedarkan pandangan ke berbagai arah saat ia merasa mendengar suara Hana yang memanggilnya. Hana yang sudah berada di dalam mobil akhirnya keluar dan langsung menghampiri kekasihnya.


“Kamu mau ngapain?” tanya Hana yang heran dengan kemunculan Andre yang tiba-tiba di sana.


Andre tak menjawab. Ia memegang bahu Hana dan menarik wanita ini ke dalam pelukannya. “Kamu nggap apa-apa?” tanya Andre setelah melepas pelukannya.


“Aku nggak apa-apa…” jawab Hana yang cukup bingung dengan sikap Andre yang aneh baginya.


Andre kembali menarik Hana ke dalam pelukannya. Hal ini membuat Hana sedikit sesak karena eratnya lengan Andre terhadap tubuhnya.


“Emangnya aku kenapa?” tanya Hana yang sama sekali


tak melawan apa yang dilakukan kekasihnya.

__ADS_1


Andre tak menjelaskan. Ia masih bertahan dalam pelukan. Saat ia merasa puas barulah ia lepaskan.


“Nggak apa-apa. Kita pulang ya…” ujar Andre kemudian.


Hana pasrah saat kemudian Andre membawanya masuk ke dalam mobilnya, meninggalkan sopir yang pasti juga akan mengikutinya.


Tanpa ada yang tahu, ada sepasang mata yang sejak tadi tak lepas memperhatikan Hana. Dia adalah Marshal. Semula ia ingin mengantar Hana, namun ditolak dengan alasan ia sudah ada yang mengantarkan. Saat diam-diam mengikuti wanita ini, ia harus dibuat takjub karena yang mengantarnya adalah seorang pria yang nampak hormat seperti sopirnya. Lebih heran lagi saat Marshal tahu mobil yang digunakan. Mobil putih berharga milyaran yang dapat dipastikan hanya orang kaya yang mampu memilikinya.


Nominal yang sedang Hana perjuangkan sangat tak menjanjikan yang bahkan tak cukup untuk biaya perawatan kendaraannya. Lantas motifasi Hana hal yang cukup sepele ini?


“Tulisannya bagus, uang ada, kenapa tak menggunakan biasa sendiri saja untuk publikasi?” guman Marshal yang tadi sempat berbicara dengan Hana akan cita-citanya menjadi penulis dengan banyak karya.


“Ah, sudahlah…” Marshal dengan motor sportnya berjalan meninggalkan Planet caffe. Ia ingin pulang karena ia sungguh lelah akhir-akhir ini.


***


Setelah melalui sebuah perjuangan panjang, akhirnya Hana dapat meredakan kekesalan Andre. Caranya bagaimana? Ya sudah jelas dengan olah raga yang kini menjadi favorit Andre bersama Hana.


Pagi ini pasangan non halal ini menyambut pagi dengan senyum bahagia. Bahagia yang hanya kamuflase karena sebenarnya ada gelisah yang sudah taken kontrak di sudut hati kecil mereka. Namun nikmatnya bahagia semu ini berhasil membuat keduanya mengesampingkan ketakutan yang mereka rasakan.


“Kamu beneran nggak ikut?” tanya Andre yang kini berusaha menganggu tidur kekasihnya.


Apa Hana tidak cantik dengan posturnya yang sekarang?


Sebenarnya cantik dan benar-benar cantik. Bahkan Hana dengan keseluruhan penampilannya bisa dikatakan proporsional. Mungkin jika dia bersedia terjun di industri hiburan, mungkin ia akan menjadi idaman merki tanpa prestasi yang gemilang.


Namun bukan itu yang Andre inginkan. Ia hanya tak ingin Hana abai akan kesehatannya hanya demi menjaga bentuk tubuhnya cantik seperti sekarang, Andre ingin Hana percaya diri dan nyaman dengan apa adanya dirinya, sehingga ia ingin membuat Hana tahu bahwa bagaimana pun keadaannya, Andre tak akan merubah perasaannya.


Andre mencium puncak kepala Hana sebelum menarik sesuatu untuk menutupi tubuh polosnya. Ia segera bangkit dan meninggalkan Hana yang masih enggan meninggalkan kasur lembutnya.


Andre sudah terbiasa rutin berolahraga karena ia sadar pekerjaannya tak mengijinkan ia untuk berkeringat membuang para lemak jahat, sehingga ia harus berusaha ekstra untuk tetap sehat. Apa gunanya semua kesuksesan yang ia capai jika ia tak punya tubuh yang sehat untuk menikmati.


Dengan mengenakan training dan hoodie berwarna putih, Andre memacu langkahnya dengan cepat menyusuri jalanan yang masih temaram. Tak ada satupun sapa yang dialamatkan kepadanya karena selain keberadaan hoodie yang menutupi kepalanya, ia juga mengenakan headset di telinganya sebagai taman sepanjang perjalannya.


Setelah 30 menit berlari, Andre merasa tubuhnya sudah basah terbanjiri. Keringat yang banyak sekali keluar menandakan bahwa lelah mulai menyapa tubuhnya.

__ADS_1


“Kenapa nggak ada yang jual air sih…” Gerutu Andre setelah capek mengedarkan pandangannya.


Entah siapa yang menaruh kursi panjang di tempat itu, yang jelas Andre bersyukur ia bisa istirahat di sana. Ia memang belum lama tinggal di daerah ini sehingga ia masih belum tahu benar daerah sini.


Andre mendongak saat ada botol yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


“Barangkali mau minum?” tawar seorang pemuda yang sepertinya juga sedang lari pagi.


“Eh… Tidak usah repot-repot,” tolak Andre.


“Nggak apa-apa. Sepertinya kamu sedang lelah dan tidak membawa minum.”


Sekali lagi Andre menatap pria ini. “Beneran nggak apa-apa?” Mau terus-terusan nolak tapi nyatanya Andre sangat membutuhkan air ini sekarang.


“Nggak apa-apa,” ujar pria ini meyakinkan.


“Habis loh ini nanti.” Ujar Andre setelah botol itu pindah ke tangannya.


“Nggak apa-apa, rumahku juga tidak jauh dari sini. Tidak akan mati kalau harus pulang saat kehausan,” ujar pria ini.


“Kamu, tinggal di kompleks…” Andre menunjuk area kompleks yang ditempatinya. Jujur ia lupa apa nama kompleksnya karena sungguh ia tak pernah begitu peduli tentang hal-hal semacam ini.


“Enggak. Aku tinggal di luar kompleks mewah ini,” jelas pria ini lagi.


Andre menanggalkan rasa sungkannya dan membuka botol itu dengan segera. Ia menenggak air di dalamnya dengan rakus.


“Ya udah, aku duluan,” pamit pemuda bertubuh kurus dengan rambut di kuncir. Wajahnya dihiasi bulu tipis yang dibiarkan alami membuat penampilannya macho alami.


“Thanks Bro!!!” teriak Andre sembari mengangkat botol  yang isinya telah habis diminumannya.


Pemuda itu hanya menggerakkan tangan dan berlari terus melanjutkan larinya. Andre sejenak memperhatikan botol yang telah habis isinya.


“Baik sekali. Syukur lah aku tinggal di daerah yang masih ada orang baiknya.”


Oh jadi dia tinggal di sini? Berarti ada kemungkinan pacarnya akan sering ke mari.

__ADS_1


Pri yang baru saja Andre temui adalah Marshal. Marshal cukup mengenali Andre setelah pertemuan singkatnya tempo hari. Berbada dengan Andre. Ia sepertinya tak tahu sama sekali siapa pria yang tadi memberi minum kepadanya.


Bersambung…


__ADS_2