Zona Berondong

Zona Berondong
Dukungan 5%


__ADS_3

^^^Apa yang kalian lakukan di usia 17 tahun?^^^


^^^-Happy reading-^^^


"Jangan ngebut-ngebut..."


"Kamu juga hati-hati."


Rina melambaikan tangan sesaat setelah keluar dari mobil Dika. Dika memutar arah dan melesat untuk menuju tempat yang sama dengan Reno.


Asing, itulah yang Dika rasakan saat pertama kali menginjakkan kaki di kantor Reno. Bahkan ia sama sekali tak menyangka bahwa ia merupakan pemiliknya.


Setelah mengumpulkan segenap tekat dan keyakinan, akhirnya Dika membuka pintu dan keluar dari mobilnya. Nampak Reno sudah menyambutnya di depan bersama seluruh karyawan kantor cabang Surya Group yang bergerak di bidang jasa yang lebih dikenal dengan Surya Development. Ini adalah kali pertama pewaris tunggal CEO Surya Group mengunjungi mereka.


Dengan setelan jas berwarna hitam, dan didamping Edo dan Reno di sebelah kiri kanannya, Dika berjalan dengan mantab menuju Ruang rapat. Dia sengaja mengenakan masker, agar tak semua orang bisa memandang wajahnya.


"Silahkan Pak Restu..." Edo membukakan pintu untuk Dika. Reno dan para staff petinggi masuk setelahnya.


Saat semua sudah berada di dalam, Edo segera memutup pintu dan berjalan ke arah tempat Dika berada.


Edo mempersilahkan seluruh jajaran direksi untuk duduk, kemudian ia memperkenalkan Dika sebagai sebagai pewaris tunggal Surya Group.


Dika membuka maskernya dan berdiri menyapa semua yang ada di sana.


Kondisi ruang rapat yang semula tenang mendadak berisik. Meskipun tak sampai gaduh tapi suara bisik-bisik dan kasak-kusuk mulai terdengar. Seperti yang sudah Edo dan Reno prediksikan bahwa kemunculan Dika pasti akan menuai pro dan kontra.


"Maaf Pak Edo, sebelum rapat dilanjutkan, kami semua ingin tahu, apa basic pendidikan dari Pak Restu dan usianya saat ini. Nampaknya putra dari almarhum pak Hendro ini terlihat masih begitu muda."


Edo hendak menjawab pertanyaan dari salah seorang pemegang saham ini, namun gerakan tangan Dika berhasil membuatnya urung berbicara.


Dika menghela nafas dan mengumpulkan segenap keyakinannya. "Usia saya 17 tahun, dan sekarang saya duduk di bangku kelas 2 SMK."


Hampir semua yang berada di sana menatap remeh Dika. Mereka menertawakan kenekatan Dika yang memutuskan untuk maju menduduki kursi CEO.


"Aku nggak gila ya membiarkan sahamku berada di bawah pimpinan bocah yang aku yakin membuat proposal pun tak bisa," ucap seorang pemilik saham di sana.


"Benar sekali. Mana mungkin kamu sanggup bertanggung jawab untuk menghandle semua bagiannya, menyusun perencanaan, melakukan pelaksanaannya, dan mengawasi operasi perusahaan," sambung seorang lagi.

__ADS_1


"Apa kata dunia saat wajah publik Surya Group ternyata masih bocah ingusan."


Dan banyak lagi cemoohan dan hinaan yang dilontarkan pada Dika saat ini. Edo masih bisa bernafas saat melihat Dika tenang menghadapi semua kata-kata yang dilontarkan kepadanya. Berbeda dengan Reno, dia banjir keringat dingin melihat betapa banyak tekanan yang diterima anak muda yang bahkan usianya di bawah anaknya.


"Apakah saya sudah boleh berbicara." Tak ada emosi namun kata-kata Dika kali ini sarat akan sebuah keyakinan. Dan yang benar saja, ruangan menjadi senyap setelahnya.


"Silahkan katakan anak muda. Kebetulan ini menjelang akhir pekan, uang peninggalan papamu masih cukup hanya untuk sekedar malam mingguan, hahaha!" Gelak tawa bersahutan dalam ruangan.


Namun hal ini tak berlangsung lama, setelah Dika berhasil mempertahankan wajah tegasnya. Bak terkena sihir, ruangan ini kembali sepi.


"Saya tahu keberadaan anda semua sangat berharga untuk keberlangsungan perusahaan, namun perlu anda semua tahu bahwa saya tidak butuh orang yang tak menghargai saya." Dika menatap satu persatu wajah jajaran direksi yang ada di sana.


Edo tersenyum tipis, sementara Reno nampak takjub dengan apa yang baru saja Dika lakukan. Jika dia berada di posisi Dika dengan usia yang sama, mungkin sejak tadi dia sudah pee di celana.


"Saya tahu kemampuan saya, jadi saya tak mungkin maju jika memang saya tak bisa."


Kembali Dika menatap wajah-wajah yang sebelumnya memandang remeh dirinya.


"Saya tidak akan duduk di posisi terdepan sebelum saya pantas berada di sana. 1 tender akan saya dapatkan segera. Jika tidak, silahkan kalian cabut saham dari perusahaan ini."


Kata-kata itu diamini oleh beberapa orang di sana.


"Saya sebagai pemilik 5% saham siap mendukung Pak Restu." Entah mengapa Reno merasa perlu menggunakan power 5% miliknya. "Saya yakin kemampuan dan ketekunan almarhum pak Hendro mengalir dalam darah Pak Restu."


Semua berhasil kembali diam. Tak ingin membuang kesempatan, Dika kembali membuka suara.


"Kurang dari setahun." Dika menghela nafas. "Jika anda tidak puas dengan kinerja saya, seperti yang sudah saya ucapkan, saya tidak akan mempersulit jika ada yang berniat menarik saham."


Keraguan jelas sekali terpancar dari pandangan setiap orang yang ada di sana. Namun hal ini tak lantas membuat mereka berani bersuara. Entah mengapa, tatapan anak muda ini berhasil mengintimidasi mereka.


"Apa masih ada lagi yang ingin ditanyakan?"


Tidak seorang pun menjawab pertanyaan yang dilontarkan Dika.


"Jika tidak ada, Pak Edo tolong bisa ditutup."


Edo segera menjalankan perintah Dika. Sel telah itu semua meninggalkan ruang rapat. Di sana sekarang tersisa Dika, Edo, dan Reno.

__ADS_1


Reno menjatuhkan lengannya di atas meja dan memijit kepalanya yang terasa pening.


"Mas Restu butuh sesuatu?" tanya Edo.


"Tidak Om, terimakasih."


"Bagaimana perasaanmu Dik?" tanya Reno yang masih memijit pelipisnya.


"Awalan yang cukup menegangkan ya Om." Dika meraih benda kotak di sakunya.


"Itu...?" Reno yang kaget menunjuk rokok yang berada di tangan Dika.


"Sesekali Om, saat kayak gini cuma ini yang bisa merilekskan saya."


"Nggak apa-apa sih, maksudnya saya juga minta..." Reno meraih rokok itu dan menyalakannya.


Ketiganya tertawa dan mengendurkan sejenak syaraf mereka yang beberapa lalu sempat tegang.


"Sepertinya Pak Reno dan Mas Restu sudah cukup akrab...?" tanya Edo saat melihat Reno dan Dika bercanda.


Reno menatap Dika yang sedang bercengkerama dengan asap. "Saya selalu menganggapnya anak kecil, sebelum tahu bahwa dia adalah pemilik perusahaan tempat saya bekerja." Reno meletakkan sebelah tangannya di bahu Dika.


"Apa hanya itu?" tanya Edo.


"Selebihnya saya tidak tahu." Reno tertawa dan memindah tangannya dari bahu Dika.


"Rahardja." Gumam Dika lirih, namun masih bisa di dengar oleh Reno dan Edo yang sama-sama dalam kondisi diam.


"Ada apa Mas dengan Rahardja?" tanya Edo saat tak ada kata lanjutan yang diucapkan Dika.


"Saya hanya penasaran, apa itu perusahaan yang sempat Om Edo ceritakan waktu itu?" tanya Dika yang kembali fokus setelah menghabiskan rokoknya.


"Pemiliknya adalah Galih Rahardja. Dia punya tangan kanan bernama Eko Santoso? Perusahaan ini berkembang pesat akhir-akhir ini Mas, dan jangkauannya hampir menyaingi Surya."


Dika mengangguk paham. Tiba-tiba sebuah nama melintas di kepalanya. Rio. Kamu akan menyerang dari arah mana? Ia teringat ancaman Rio. Namun ia belum tahu sedikitpun informasi tentangnya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2