
...*HAPPY READING* ...
Rina mulai panik saat terhujani oleh tatapan tak menyenangkan dari begitu banyak orang. Ia tak bisa berfikir dan mulai menatap resah satu-satunya orang yang ia yakini akan melindunginya. Namun reaksi Dika masih tenang dan justru dengan santai menyandarkan tubuhnya. Rasanya Rina ingin segera menghilang saja dari sana karena saat ia tengah mempersiapkan kemunculannya malah terlebih dulu ada kejadian semacam ini yang harus dilaluinya. Sayangnya, Dika cukup erat memegang tangan Rina, sehingga ia tak bisa lari dari sana.
"Kalian ingin kami berbicara, atau cukup dengan mengambil gambar saja?"
Suasana mendadak hening saat Dika mulai membuka suaranya.
"Kalau kami diam saja sudah cukup, kami akan pergi saja dari sini sekarang juga."
Wajah Dika yang biasanya kaku dan minim ekspresi, hari ini terlihat rileks dan gampang sekali tersenyum. Jika saja tak ada rumor yang beredar, mungkin wajah tampan Dika yang akan menjadi highlight dan topik utama berita esok hari.
Para awak media itu mulai sibuk membuka list pertanyaan yang mereka punya dan memilih yang sekiranya relevan dengan acara namun bisa mengupas foto-foto yang sekarang sedang ditampilkan. Mereka takut salah bertanya, karena Dika bisa pergi begitu saja saat pertanyaan yang diajukan padanya tak sesuai dengan tema. Para awak media tentu tak ingin hal itu terjadi, karena kesempatan untuk bisa wawancara dengan Dika sangatlah langka.
Seorang wartawan wanita mulai berdiri dengan microphone di tangannya.
"Salamat malam Pak Dika. Bagaimana kabar anda?"
Dika tak langsung menjawab. Ia justru tersenyum membuat para wanita yang melihatnya serasa ingin pingsan seketika.
"Saya tidak suka basa-basi. Kalian tanyakan saja apapun yang ingin kalian ketahui. Jangan sampai menyusun opini seenak hati karena merasa tak ada kesempatan untuk konfirmasi."
Perempuan itu tergagap. Namun ia segera mengangkat microphonenya kembali.
"Bagaimana pendapat anda tentang gambar tadi?"
"Anda bertanya pada siapa? Kepada saya atau kepada wanita cantik di samping saya?"
Semua yang semula tak berani langsung menatap Rina, kini semua langsung menyorotnya.
"Kepada anda berdua."
Rina menggeleng saat Dika mempersilahkannya untu berbicara.
"Sepertinya wanita di samping saya takut jika harus berbicara di depan rekan-rekan media, jadi boleh kan kalau saya yang menjawab saja."
Dika menghela nafas.
__ADS_1
"Untuk foto, saya yakin teman-teman semua punya mata yang cukup bagus untuk melihat, dan yaa..., seperti yang anda lihat."
"Apa kah itu benar-benar anda?"
"Sesekali yang diwawancarai boleh ganti bertanya kan?"
Pertanyaan Dika mendapat hadiah anggukan.
"Menurut teman-teman yang digambar itu siapa, dan sedang apa?"
Suasana tenang menjadi riuh saat semua orang mulai berbicara sendiri mengungkapkan apa yang mereka lihat dan apa yang mereka pikirkan tentang foto-foto Rina dan Dika. Dika masih diam membiarkan semua mengungkapkan yang mereka pikirkan meskipun hal ini membuat yabg mendengar akan pusing sendiri.
"Apa ada yang bisa berbicara dengan lebih jelas?"
Semua mendadak diam. Masih wanita yang sama, ia mulai bersuara.
"Di beberapa foto anda terlihat mesra dengan Nona Rina Malinda. Kami berfikir ada berdua punya hubungan lain selain partner kerja."
Dika mengeluarkan smirk andalannya. Terlihat menyeramkan namun mempesona di waktu yang sama.
Sebagian dari mereka menunduk dan seperti percuri yang telah tertangkap basah.
"Maafkan isi kepala kami Pak Restu."
Dibelakang sana ada yang bersorak bahagia saat Rina menjadi objek pikiran kotor semua orang.
"Untuk apa dimaafkan, karena itu memang kenyataan."
Rina membulatkan mata tak percaya jika yang baru saja berbicara adalah suaminya.
Semua menelan ludah saat Dika mengucapkan hal tersebut dengan santainya. Mereka tak habis pikir, mengapa Dika bicara seperti itu. Bukankah dengan begitu ia sama saja dengan menghancurkan karirnya sendiri yang kini tengah bersinar.
"Baiklah, saya akan memberi sebuah bonus gambar untuk kalian. Saya harap kalian tak lupa mengabadikan momen ini."
Andre tahu apa yang harus ia lakukan. Dan sedetik kemudian muncullah gambar Rina dan Dika saat mereka baru saja melangsungkan pernikahan.
Hana pasti sudah jatuh pingsan jika saja sekarang ia tak sedang duduk di kursi. Sementara Andre terlihat puas sekali melihat reaksi perempuan ini.
__ADS_1
"Apakah foto ini terlihat bagus?"
Rina menutup mulutnya saat melihat apa yang suaminya perbuat.
Dika tersenyum lembut ke arah Rina dan mengangkat tangan Rina yang digenggamnya ke atas meja.
"Dia adalah istri saya, yang selama ini memilih untuk bersembunyi karena tak siap tersorot media."
"Setelah bertahun-tahun menunggu, baru sekarang ini dia mau menunjukkan dirinya sebagai orang dekat saya. Dan perkenalkan ini adalah Nona Rina Malinda, istri saya yang saya sangat cintai."
Semua orang berhenti bergerak. Sepertinya untuk sekian detik bernafas saja mereka lupa caranya.
"Terimakasih untuk orang yang sudah punya waktu luang untuk mendapatkan foto saya di berbagai tempat. Dan untuk Rina, terimakasih selama ini sudah setia dan selalu mendukung saya."
Dika membawa Rina mendekat dan mencium puncak kepalanya. Rina sempat menitikkan air mata saat ingat bagaimana dia dulu sempat menolak Dika. Ternyata pria ini sungguh dapat melindunginya. Ia menyesal kenapa harus menunggu selama ini untuk berani mengakui pernikahan mereka. Padahal Dika pasti tak akan diam jika sampai ada yang menyakitinya.
Semua bersorak dan bertepuk tangan.
Semua ternyata mudah. Yang membuat sulit itu adalah pikiran kita sendiri. Ternyata menjadi istri seorang Restu Andika tidak semenyeramkan yang Rina kira. Mungkin ia terlalu banyak menonton drama dan membaca novel, jadi ia takut terhadap sesuatu yang belum pasti terjadi.
Rina dan Dika melanjutkan sesi wawancara terkait hubungan mereka dan bisnis yang baru saja mereka mulai. Rina mulai berani bersuara setelah melihat sendiri tanggapan positif dari para media. Ia dan Dika menjawab dengan apik pertanyaan-pertanyaan yang diberikan pada keduanya. Sesekali tertawa dan saling memuji.
Hubungan keduanya manis sekali, setidaknya itulah komentar pertama yang berhasil mereka dengar secara langsung. Sementara diakhir sesi wawancara, nampaknya masih ada lagi kejutan yang ingin Dika berikan.
"Saya harap kalian tak bubar dulu, masih ada satu lagi kejutan yang akan sayang jika anda lewatkan."
Wajah ramah Dika dalam sekejap berubah gelap. Perasaan Rina langsung tak enak saat melihat perubahan suaminya yang begitu mendadak.
"Saya sangat mencintai keluarga saya, istri saya, mama saya, adik saya, ayah saya, dan semua orang dekat saya yang selalu ada bagaimanapun kondisi saya. Jadi saya tidak akan pernah melepaskan siapapun yang berani mengusik mereka."
"Namun sepertinya ada yang merasa hebat dengan mau mencoba bermain dengan saya. Saya benar-benar salut dengan keberanian anda."
Dika menunjukkan potongan video CCTV yang menunjukkan bagaimana Hana mendorong Rina dan menguncinya di toilet kantor. Setelahnya ia menunjukkan rekaman percakapan Hana dengan orang-orang suruhannya untuk memata - matai dirinya dan Rina, terakhir ia meminta Andre untuk membawa Hana yang sudah menundukkan kepala ke hadapan para awak media.
Rina masih sulit mempercayai hal ini. Bagaimana Dika bisa tahu ini semua?
TBC
__ADS_1