
Hai temen-temen.
Makasih ya yang udah ngekring Senja buat cepet-cepet update.
*HAPPY READING*
Hampir 30 menit Dika habiskan untuk mendengarkan ocehan Galih. Membahas tentang kerjasama yang Dika yakin hanya menguntungkan satu belah pihak saja. kemudian pria paruh baya ini juga mendelegasikan Hana untuk masuk kembali dalam perusahaanya.
Dika merasa dirinya tak dapat menunggu lebih lama lagi. Ia tak ingin lebih banyak untuk membuang waktunya untuk suatu hal yang sia-sia. Dia bangkit tanpa permisi dan Galih langsung menghentikan ucapannya.
“Beginikah tabiat pemimpin perusahaan selevel Surya Group. Dengan tidak sopan menginterupsi rekan bisnis yang belum selesai membahas rencana kerjasama.”
“Saya hanya tidak suka membuang waktu untuk suatu hal yang sia-sia. Permisi.”
Galih mengumpat dan menyumpah serapahi Dika.
“Anak muda. Jangan harap orang lain akan menghormatimu saat kamu tak bisa menghormati orang lain.”
Dika spontan menghentikan langkah dan menatap datar pria ini.
“Saya tak akan menghormati orang yang tak bisa menghormati dirinya sendiri.”
Dika meneruskan langkahnya tanpa memperdulikan lagi orang-orang yang masih ada di sana. Dia menatap lurus
kedepan seolah rotasi kehidupan berpusat padanya.
“Pa, Hana belum menyerah,” ujar Hana dengan penekana di setiap kata-katanya.
Galih diam mendengar ucapan Hana.
“Ijinkan Hana bermain dengan cara Hana.”
Galih menepuk bahu anaknya ini. “Papa tahu memang hanya kamu yang bisa Papa andalkan.”
3 orang ini meninggalkan Surya dengan perasaan tak senang. Mereka belum mau menerima kekalahan.
Restu Andika. Sekarang kamu boleh meremehkanku, tapi lihat saja nanti.
***
“Kamu tadi kenapa gak bangunin aku sih?” tanya Rina yang menyandarkan kepalanya di bahu Dika.
“Ada rapat sayang, tahu kan?”
Rina memainkan tangan di dada Dika. Dalam posisi ini ia dapat melihat wajah tegas Dika dengan sangat jelas. Wajah kamu masih imut, tapi mata kamu serem.
“Hi hi hi.”
Rina menutup mulutnya yang dengan lancang melepaskan tawa kecil seenaknya.
“Kamu kenapa?” tanya Dika sambil mencubit hidung Rina.
Rina menggeleng. “Aku cuma penasaran, kamu dulu dikasih makan apa sih sama mama?”
“Kenapa?”
“Kenapa-kenapa terus sih?” gerutu Rina karena Dika tak segera menjawab pertanyaannya.
“Emang ada pertanyaan lain yang lebih cocok?” tanya Dika dengan menatap mata Rina.
Tangan rina meraih rahang Dika dan menatap lekat wajah suaminya. Ini terlalu tegas untuk usia kamu yang begitu muda.
Dika sedikit menunduk untuk membalas tatapan Rina. Ia tersenyum dengan menatap lekat wajah istrinya.
“Ehm…” Rina berdehem. Ia berpaling untuk menghindari bibir Dika yang sedikit lagi menjangkaunya. Namun bukan Dika namanya jika menyerah begitu saja. Ia justru kian memajukan tubuhnya meski Rina masih berusaha menahan dadanya.
“Sayang…” rengek Rina. Ia kemudian menunjuk supir di hadapan mereka dengan matanya.
__ADS_1
“It’s never mind sayang. Kita kan suami istri.” Dika masih terus merangsek maju.
“Never mind buat kamu, tapi enggak buat aku,” Rina masih berusaha menahan suaminya.
“Masalahnya apa?”
“Masalahnya ini ada orang sayang. Dia bisa nggak fokus nyetirnya kalau kita kayak gini. Dan kita juga yang bakalan bahaya.”
Dika menyingkirkan kedua tangan Rina dan terus maju untuk meneruskan hajatnya. Dan lagi-lagi Rina harus pasrah karena tak mampu mencegah keinginan suaminya.
Entah sudah berapa kali Rina menepuk bahu Dika dada Dika, atau apa pun anggota badan suaminya. Tak mampu mengimbangi panjangnya nafas Dika sat laki-lakii ******* bibirnya. Namun bukannya dilepas, Dika kembali
menghajar istrinya dengan ciuman panjang setelah memberi kesempatan istrinya untuk menghirup udara.
“Hhhh, uhuk huk…”
Dada Rina naik turun. “Kamu kok biasa aja sih sayang?” ujar Rina di sela nafasnya yang tak beraturan.
“Apanya?” Dika kembali mendekatkan bibirnya. Rina yang lelah namun merasa tak bisa melawan hanya bisa pasrah dengan mata terpejam. Ia paham betul jika suaminya sulit dicegah saat sudah punya mau.
setelah cukup lama menunggu, Rina belum juga merasakan sesuatu yang hangat dan basah menyentuh bibirnya. Ia yang penasaran kemudian perlahan membuka mata.
Rina mendengus saat Dika justru meringis tepat di depan wajahnya. Dengan kesal ia mendorong dada Dika dengan kasar dan segera menegakkan tubuhnya.
“Masih mau nambah ya?” Dika sengaja menaik-turunkan alisnya untuk menggoda Rina.
“Puas kamu.” Ketus Rina.
“Belum. Di hotel depan kita mampir bentar ya. Mau ngecek kualitas room-servicenya.”
Rina menggeleng cepat. “Kan udah janji sama dokter.”
“Ya kan bisa di reschedule sayang.”
“Nggak enak sayang, nggak sama dokternya doang tapi sama ayah juga. Pasti sekarang ayah udah nungguin kita.”
rina menghela nafas. “Aku tahu benar apa yang ada di kepala kamu."
“Sebagai istri yang baik emang harus tahu.”
Rina tersipu dan menenggelamkan wajahnya di dada Dika.
Hotel yang dimaksud adalah hotel milik Rudi. Jadi tak heran kata-katanya terdengar bosy saat mengejak Rina untuk ke sana.
Rina mengamit lengan Dika dan menyandarkan kepalanya di sana.
“Makanya, sekarang kita ke rumah sakit ya, sebagai istri yang baik, aku pengen memastikan kondisiku cukup baik sebelum memutuskan untuk mengandung keturunanmu.”
Dika mengusap puncak kepala Rina sebelum sebuah dering ponsel menginterupsinya.
“Siapa?” tanya Rina saat Dika masih menandangi ponselnya.
“Dedi. Aku angkat dulu ya.”
Rina mengangguk karena di saat yang sama ponselnya juga bergetar.
Dika menatapnya seolah bertanya. Rina tak menjawab tapi memilih untuk menunjukkan sebuah nama yang muncul di sana.
“Kok pas banget ya, hihihi,” bisik Rina pada Dika yang sudah menempelkan ponsel di telinganya.
Ia kemudian melakukan hal yang sama.
“Kak Rina, miss you!” pekik Rista di seberang sana.
“Miss you too cantik. Belum ada rencana buat pulang kamu?” tanya Rina yang sudah cukup lama tak bertemu dengan adik iparnya ini.
“Belum bisa Kakak. Sebentar lagi kan ujian.”
__ADS_1
“Oh iya, kamu udah kelas tiga ya. Udah decide mau lanjut di mana?” tanya Rina sambil menatap keluar jendela.
“Ennggg…, jangankan universitasnya, jurusannya saja aku belum tahu mau ambil apa.”
“Kok bisa sih? Tinggal dikit lagi padahal.”
Sebuah helaan nafas terdengar di seberang sana. “Mama pengen aku ambil jurusan kaya kakak, tapi aku gak suka. Mending fashion desain aja, tapi aku juga nggak begitu suka.”
“Kamu pikirin apa yang kamu suka, kita semua pasti bakal dukung kamu,” ujar Rina menyemangati.
“Makasih Kak. Oh iya, kakak lagi dimana ini?”
“Kita lagi perjalanan ke dumah sakit.”
“Siapa yang sakit?” suara Rista terdengar panik.
“Nggak ada Ris. Kakak cuma mau periksa kandungan aja.”
“Kakak hamil?!” girang Rista di seberang sana.
“Belum, ini masih mau program, doain ya.”
Mereka terus melanjutkan obrolannya, bahkan saat Dika dan Dedi sudah menyelesaikan panggilannya.
“Ris, udah dulu ya, kita udah sampai di rumah sakit ini.”
“Oke Kakak. Kalau calon keponakan Rista sudah ada jangan lupa kasih kabar ya," ujar Rista antusias.
"Pasti. Kamu hati-hati di sana, bye."
Rina menyimpan ponselnya dan tersenyum manis pada suaminya yang sudah nampak kesal karena Rina mengacuhkannya.
“Ngobrolin apa sih kalian?” tanya Dika sambil menanggalkan jas.
“Buanyak. Intinya dia bingung mau lanjut kuliah apa,” jawab Rina sambil membantu Dika melepaskan dasinya.
Setelah sopir memarkirkan mobil, Dika masih bertahan di dalam karena ia sedang melipat lengan kemejanya hingga sesiku.
“Harus banget ya?”
“Apa Rin?” Dika balik bertanya karena mendapati wajah yang menatap cemberut karena tak suka.
“Harus banget gitu penampilannya?”
“Emang ada yang salah?” tanya Dika sambil memperhatikan penampilannya dari atas ke bawah.
“Salah! Salahnya kamu terlalu keren kalau kayak gini,” ketus Rina sambil melipat tangan di dada.
“Masalahnya kalau pakai jas itu panas sayang. Kalau ada aku malah pengen pakai kaos oblong sekarang.”
Rina mendengus. “Berasa jalan sama berondong kalau kamu kayak gitu penampilannya.”
Dika merapikan rambut Rina dan menyelipkannya di belakang telinga.
“Emang iya kan? Sampai kamu mati-matian pengen mutusin aku dulu.”
Rina menggigit pipinya, antara malu dan salah tingkah. Kenapa harus bawa-bawa dulu sih.
“Nggak usah blushing. Saya paham kalau menolak pesona saya itu sangat sulit direalisasikan.”
Nah kan narsisnya kumat. Racau Rina dalam hati.
“Buruan keluar yuk, mau sampai kapan ngedekem di mobil yang udah berhenti," ajar Rina karena khawatir Dika akan terus menggodanya.
Dika tertawa kecil melihat mood swing istrinya yang berubah cepat sekali. Sebentar-sebentar nagmbek, sebentar-sebentar manis, sebentar-sebentar perhatian, sebentar-sebentar galak, entahlah.
Untung cinta, jaadi nggak masalah mau gimana pun juga.
__ADS_1
TBC